Kalurahan Ambarketawang Laksanakan Program Vaksinasi COVID-19

Jajaran Pemerintah Kalurahan Ambarketawang Kapanewon Gamping Kabupaten Sleman telah menjalani vaksinasi COVID-19 dosis pertama guna mendorong pembentukan kekebalan tubuh agar terhindar dari penularan COVID-19. Kegiatan yang bertempat di area Balai Kalurahan Ambarketawang, Sleman ini dilakukan oleh petugas medis Puskesmas Gamping I, Sabtu (6/3/2021).

Kegiatan Vaksinasi diikuti oleh Lurah Ambarketawang, Sumaryanto beserta perangkatnya, dan Kepala Padukuhan di wilayah Ambarketawang yang secara keseluruhan berjumlah 30 orang. Turut hadir dalam proses vaksinasi tersebut Panewu Gamping sekaligus Ketua Gugus Tugas Penanganan COVID-19, Ikhsan Waluyo yang aktif langsung memantau program vaksinasi.

Lurah Ambarketawang, Sumaryanto menuturkan bahwa dirinya bersedia menjalani penyuntikan vaksin ini karena pemberian vaksin merupakan salah satu upaya yang dinilai paling efektif untuk mengatasi pandemi COVID-19 yang masih terus berlangsung.

“Selain menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker dengan benar, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, serta menjaga jarak dan menghindari kerumunan, kita perlu menjalani vaksinasi untuk melengkapi upaya pencegahan virus corona dan  mendorong terbentuknya kekebalan kelompok dalam masyarakat,” tutur Sumaryanto.

Ditambahkan juga bahwa dampak vaksinasi ini tidak hanya untuk sektor kesehatan saja, namun juga berdampak pada sektor ekonomi dan sosial.  Sumaryanto berharap, jika sebagian besar masyarakat sudah memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik untuk melawan penyakit COVID-19, maka kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat bisa kembali seperti sediakala.

Di sela-sela pengawasan proses vaksinasi, Kepala Puskesmas Gamping I, drg. Isah Listiyani selaku penanggungjawab kegiatan menginformasikan dari 30 peserta vaksinasi di Amabarketawang ini, keseluruhannya lolos dalam pemeriksaan awal sebelum vaksin disuntikkan. Selaini itu, juga tidak ada kejadian ikutan pasca vaksinasi.

“Masyarakat tidak perlu khawatir mengenai efek samping vaksin COVID-19 karena program vaksinasi merupakan upaya pemerintah dalam memutus mata rantai penularan COVID-19. Alhamdulillah, semua peserta di Kalurahan Ambarketawang telah menjalani penyuntikan vaksin dan semua kondisinya sehat sehingga tidak ada yang memerlukan perhatian khusus sampai saat ini,” kata drg. Isah. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Pemanfaatan Sampah Organik dengan Beternak Lalat BSF

Bumdes Banyu Gotro Rumpoko Kalurahan Banyuraden bekerjasama dengan komunitas Dharma Laku menggelar kegiatan pelatihan pemanfaatan sampah organik menggunakan metode beternak lalat Black Soldier Fly (BSF) yang dilaksanakan di area Wisata Perahu Dayung Belik Serut Banyuraden Kapanewon Gamping, Sabtu (6/3/2021) sore.

Pelatihan dihadiri oleh Direktur Bumdes Banyu Gotro Rumpoko, Murdiyanto didampingi Pembina Komunitas Dharma Laku, Samastha. Selain itu, pelatihan diikuti oleh pegiat pemberdayaan masyarakat, Kelompok Wanita Tani, dan tokoh masyarakat.

Kegiatan dibuka dengan sambutan Direktur BUMDes Banyu Gotro Rumpoko, Murdiyanto yang berharap dengan pelatihan ini, dapat membuat lingkungan menjadi bersih dan memperoleh tambahan pendapatan yang sangat menguntungkan bagi warga masyarakat.

“Terinspirasi dari masalah sampah demi menggapai impian untuk menjadikan sampah sebagai produk yang bermanfaat dan bernilai jual maka perlu adanya pelatihan terkait hal tersebut,” tutur Murdiyanto.

Murdiyanto juga mengharapkan komitmen dari Instruktur Budidaya Maggot, Aldera Arif bersama Abdul Karim dari Komunitas Milisi Lalat Hitam untuk bersedia membimbing peserta pelatihan praktik membudidayakan maggot (larva lalat) ini, mulai dari persiapan lokasi, pembuatan infrastruktur yang meliputi kandang lalat, tempat penetasan, tempat pembesaran, tempat pembibitan, serta proses penetasan telor lalat BSF menjadi maggot siap jual hingga pemasarannya.

Sementara itu, dalam paparannya, Aldera Arif menjelaskan mengenai Lalat BSF. Ia menyebutkan, dari 800 jenis lalat yang ada di muka bumi, BSF dengan nama latin Hermetia illucens merupakan jenis lalat paling beda karena BSF adalah lalat yang tidak bersifat patogen atau tidak membawa agen penyakit.

“Dengan melakukan budi daya BSF maka masyarakat akan memperoleh tambahan pendapatan dari penjualan telur BSF maupun larva atau biasa disebut maggot. BSF tidak sekadar mampu meningkatkan pendapatan warga, tetapi juga sebagai salah satu solusi untuk menangani sampah. Sebab, pada saat fase larva sebanyak 1 kg larva BSF akan mampu mengurai 1 kg sampah organik,” jelas Arif.

Di sisi lain, Arif mengungkapkan pengembangan maggot sebagai bahan baku alternatif pakan ikan dan ternak lainnya butuh ketekunan dan edukasi kepada masyarakat terkait sampah organik sebagai media utama budi daya maggot. Salah satu yang harus dilakukan adalah sumber sampah organik yang berasal dari sampah rumah tangga harus dipilah terlebih dahulu antara sampah organik dan anorganik.

“Kualitas maggot tergantung dari bahan baku media budi daya yang digunakan. Maggot dapat diproduksi dalam waktu singkat dan tersedia dalam jumlah yang melimpah sepanjang waktu. Yang terpenting maggot aman bagi ikan dan hewan ternak lainnya karena bukan pembawa penyakit, dan mengandung nutrisi utamanya protein tinggi yang dibutuhkan hewan,” terang Arif . (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Puluhan Pegawai di Kapanewon Gamping Jalani Vaksinasi COVID-19

Puluhan pegawai di lingkungan Pemerintah Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman menjalani Vaksinasi COVID-19 yang dilakukan oleh petugas medis Puskesmas Gamping I di Ruang Rapat lantai II Kantor Panewu Gamping, Kamis (4/3/2021) pagi.

Menurut Kepala Puskesmas Gamping I sekaligus Penanggungjawab kegiatan Vaksinasi di Gamping, drg. Isah Listiyani yang mendampingi Vaksinator Hanik Susilowati, kegiatan vaksinasi kali ini diadakan untuk para pegawai di Kapanewon, karena dalam bertugas mereka berhadapan secara langsung dengan masyarakat.

“Setelah menerima penyuntikan vaksinasi diharapkan dapat menambah kekebalan tubuh dan memutus mata rantai penyebaran COVID-19 bagi pegawai di lingkungan Pemerintah Kapanewon Gamping dalam menjalankan tugas melayani masyarakat,” ungkap Isah.

Dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan penularan COVID-19, satu per satu pegawai yang datang langsung diperiksa oleh petugas medis. Para penerima vaksin harus melalui proses skrining awal berupa pemerikasaan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyakit penyerta, pengecekan tekanan darah, dan pernah atau tidak terkonfirmasi COVID-19. Dalam kesempatan ini, dari 53 peserta vaksinasi, terdapat 4 peserta yang tidak lolos skrening awal dikarenakan memiliki tekanan darah yang tinggi.

“Vaksin yang digunakan merupakan vaksin produksi Biofarma,” ujar Isah lagi

Isah menambahkan, vaksin bekerja tanpa membuat orang sakit. Selanjutnya orang yang telah divaksinasi terlindung dari penyakit dan tidak dapat menyebarkannya, sehingga akan memutus rantai penularan COVID-19 dan membentuk Herd Immunity atau kekebalan kelompok. Apabila sebagian besar penduduk telah divaksinasi, diharapkan menurunkan jumlah keseluruhan virus yang dapat menyebar ke seluruh populasi.

“Hal ini membantu memastikan bahwa kelompok-kelompok rentan yang tidak dapat diimunisasi tetap aman,” tambah Isah

Adapun Lembaga di lingkungan Pemerintah Kapanewon Gamping yang mengikuti vaksinasi COVID-19 diantaranya Unit Pengelola Kegiatan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, Program Keluarga Harapan, Pendamping Desa, Balai Penyuluhan Keluarga Berencana, termasuk Kelompok Informasi Masyarakat Pararta Guna Kapanewon Gamping.

Usai mengawasi jalannya pelaksanaan vaksinasi bagi jajarannya, Panewu Anom Gamping Trisno Sunardi menyampaikan apresiasi kepada jajaran Puskesmas Gamping I yang telah melayani dengan baik kegiatan ini. “Bahwasanya setelah menjalani vaksinasi dari hasil observasi 30 menit semua peserta dalam kondisi sehat,” ujar Trisno

Trisno juga berharap dengan semakin banyaknya pemberian vaksin bagi penduduk Indonesia, maka herd immunity bisa segera tercapai. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Perlunya Penguatan Fungsi Deteksi Dini bagi FKDM

Dalam rangka pembinaan kelembagaan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), maka Pemerintah Kapanewon Gamping khususnya Jawatan Keamanan menggelar kegiatan penguatan fungsi deteksi dini bagi pengurus dan anggota FKDM. Acara dilaksanakan di Ruang Rapat Lantai II Kantor Panewu Gamping, Kamis (4/3/2021).

Kegiatan dibuka dengan sambutan Panewu Anom Gamping, Trisno Sunardi yang didampingi Kepala Jawatan Keamanan, Harley Benyamin Joshua yang menyampaikan pesan kepada peserta rapat agar bekerja seperti layaknya intelijen yang berfungsi sebagai pemberi informasi kepada pemangku wilayah terkait potensi ancaman keamanan, gejala atau peristiwa yang membahayakan warga masyarakat. “Agar dapat ditindaklanjuti dalam upaya pencegahan dan penanggulangan secara dini,” ungkapnya.

Jalannya diskusi implementatif yang dipandu oleh Ketua FKDM Gamping, Djoko Purwono bersama Wakil Ketua FKDM Gamping, Adnan Iman Nurtjahjo tersebut berlangsung lancar dengan tetap menerapkan protokol kesehatan penanganan COVID-19. Acara diskusi sendiri dihadiri oleh 23 tokoh masyarakat yang mewakili Kalurahan Trihanggo, Kalurahan Nogotirto, Kalurahan Banyuraden, Kalurahan Ambarketawang, dan Kalurahan Balecatur.

Wakil Ketua FKDM Gamping, Adnan Iman Nurtjahjo yang juga bertindak sebagai narasumber mengajak segenap pengurus dan anggota FKDM Gamping untuk memiliki sikap sensitif atau peka terhadap tanda-tanda adanya bahaya dan ancaman dalam masyarakat. Selain itu, pengurus juga harus selalu proaktif untuk mendengar dan melihat, serta lebih inklusif dengan cara memperluas pergaulan, pun memperbanyak referensi bacaan guna melakukan deteksi dini dan cegah dini di lapangan sebelum kejadian berlangsung, sehingga ancaman dan gangguan dapat diatasi.

“Sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 tahun 2018 tentang kewaspadaan dini di daerah bahwa, kewaspadaan dini adalah serangkaian upaya atau tindakan untuk menangkal segala potensi ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG) dengan meningkatkan pendeteksian dan pencegahan dini. Sedangkan FKDM merupakan wadah bagi elemen masyarakat yang dibentuk dalam rangka menjaga dan memelihara kewaspadaan dini masyarakat,” tegas Adnan.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua FKDM Gamping, Djoko Purwono bahwa FKDM di Kapanewon bertugas mencari, mengumpulkan mengoordinasikan dan mengomunikasikan data serta informasi dari berbagai sumber mengenai potensi, gejala, atau peristiwa timbulnya ATHG. Nantinya, data serta informasi tersebut akan direkomendasikan kepada Panewu sebagai bahan kebijakan yang akan disampaikan kepada Bupati, untuk menyusun yang berkaitan dengan pendeteksian dini dan pencegahan dini terhadap ATHG di Kapanewon. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Warga Minggir Gelar Do’a Lintas Agama untuk Keselamatan Bersama

Sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk terhindar dari bencana, warga Dusun Keliran, Sendangagung, Minggir, Sleman adakan Do’a Bersama Lintas Iman, Kamis (4/3/2021).

Kegiatan yang diadakan di pinggir Sungai Progo ini diikuti oleh warga dari berbagai agama seperti Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan Budha. Selain itu, acara juga dihadiri oleh Anggota DPR RI Komis X, My Esti Wijayanti, dan berbagai elemen masyarakat seperti Relawan Jaringan Komunikasi Mandiri (JKM), Bhabinkamtibmas Sendangagung, dan Babinsa Koramil Minggir.

Do’a bersama lintas agama ini diprakarsai oleh Sukardi Siratmaja, seorang tokoh kebudayaan di Kapanewon Minggir. Menurutnya, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperat kerukunan antar iman dalam menjaga kelestarian alam, dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar terhindar dari bencana alam.

“Tema yang diambil adalah Wakdul Lih Simbah, yang bermakna warga peduli lingkungan hidup sing manembah,” ungkap Sukardi.

Prosesi permohonan do’a sendiri dilakukan oleh masing-masing pemuka agama, yaitu Durmo Suprihatin sebagai perwakilan Agama Katolik, Uti Suprapti Mangir perwakilan Agama Hindu, Totok Tejamano perwakilan Agama Budha, Sunowo perwakilan Agama Kristen Protestan, dan Solikhin sebagai perwakilan Agama Islam.

Inti dari permohonan masing-masing pemuka agama tersebut adalah meminta perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa agar terhindar dari segala mara bahaya , bencana, serta diberikan kebahagiaan, kesejahteraan dan keselamatan.

Pada kesempatan tersebut dilakukan pula kegiatan penanaman pohon perindang di sekitar Sungai Progo, sebagai bentuk pelestarian alam lingkungan di sekitar sungai. (Daris/KIM Minggir)