Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Pengikat Persatuan Bangsa

Bangsa Indonesia yang memiliki berbagai macam adat, budaya, suku, agama, dan ras dapat terikat menjadi kesatuan, yang didasari oleh semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Rasa kesatuan yang dimunculkan dari semboyan tersebut, dapat memperkokoh bangsa Indonesia dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
“Bhinneka Tunggal Ika saat ini harus dipahami sebagai upaya untuk memupuk jiwa nasionalisme, untuk menumbuhkan dan memperkokoh kesatuan bangsa,” ungkap Panewu Anom Seyegan, Djoko Mulyanto pada acara Sosialisasi Bhinneka Tunggal Ika di Ruang Rapat Lantai 2 Kantor Kapanewon Seyegan, Sleman, Selasa (23/3/2021).
Djoko berpendapat, bahwa memahami Bhinneka Tunggal Ika, berarti lebih mendahulukan kepentingan umum dari pada kepentingan diri sendiri. “Karena kita harus mengedepankan keteladanan dan dapat menjadi contoh dalam penerapan semboyan tersebut,” ujarnya lagi.
Djoko juga mengajak semua elemen masyarakat dapat menjaga rasa persatuan di masyarakat, supaya dapat menjaga keamanan dan kedamaian di lingkungan masyarakat, terutama di Kapanewon Seyegan.
Hal senada juga dituturkan oleh Andhika Djalu Sembada, seorang akademisi di bidang Pendidikan Pancasila. Andhika menegaskan bahwa Bhineka Tunggal Ika itu merupakan unsur pengikat yang dapat melahirkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa, sehingga dapat menjadi pilar kokohnya NKRI.
Menurut Andhika yang juga bertindak sebagai narasumber dalam sosialisasi, Bhinneka Tunggal Ika dapat dijabarkan menjadi 4 karakter, yaitu religious, nasionalisme, mandiri, dan gotong-royong.
“Keempat karakter tersebut sudah dimiliki oleh bangsa Indonesia bahkan sudah menjadi kearifan lokal yang tumbuh subur di masyarakat,” ungkap Andhika di depan para peserta sosialisasi yang terdiri dari beberapa lembaga yang ada di Seyegan, seperti Forum Anak, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), KUA, Polsek, BPKal, PKK, Karang Taruna, Perwakilan Kapanewon, Pamong Kalurahan, dan Tokoh Masyarakat.
Andhika menambahkan bahwa hal yang dapat menjadi permasalahan dalam pemahaman Bhinneka Tunggal Ika adalah tingginya sentimen kedaerahan yang masih sering muncul di tengah masyarakat. “Karena ego yang tinggi, sehingga sentimen kedaerahan tersebut sering menjadi sumber masalah,” tutur Andhika.
Menurut Andhika, hal tersebut dapat diatasi dengan mengintrospeksi diri sendiri, serta menanamkan integritas yang bersumber pada kejujuran, kebenaran, komitmen moral, keadilan, tanggung jawab, dan sikap saling menghargai martabat individu.
Acara sosialisasi Bhinneka Tunggal Ika sendiri merupakan acara yang diadakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY menggunakan dana keistimewaan tahun 2021. Ali Zamroni, perwakilan Kesbangpol DIY menyebutkan bahwa kegiatan ini juga dilakukan sebagai bentuk deteksi dini potensi konflik yang terjadi di masyarakat.
“Kesbangpol DIY akan berkoordinasi dengan Kepolisian, TNI, institusi terkait, dan akan bersinergi dengan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) untuk menjalin koordinasi dan komunikasi aktif untuk memberikan sosialisasi dan pendidikan politik kepada masyarakat, ormas, dan orsos,” jelas Ali. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)



