Gali Masalah Pengelolaan Aduan Warga, Kominfo Gelar Lokakarya LAPOR SLEMAN

Kabupaten Sleman merupakan salah satu dari enam daerah percontohan dalam Proyek Kerja Sama KemenPANRB, UNDP, dan KOICA dalam Peningkatan Kapasitas Sistem Pengelolaan Pengaduan Pelayanan Publik Nasional (SP4N) LAPOR!. Sebagai bagian dari proyek tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman berupaya mengidentifikasi berbagai masalah yang menjadi hambatan dalam pelayanan LAPOR SLEMAN.

Hal tersebut menjadi pokok pembahasan dalam acara Lokakarya Identifikasi Masalah, Tujuan, Strategi, dan Rencana Kerja Peningkatan Kemampuan Pengelolaan LAPOR SLEMAN dalam Penanganan Pengaduan Publik yang diadakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Sleman pada Jumat (12/3/2021).

Bertempat di Sleman Smart Room Dinas Kominfo Kabupaten Sleman, acara tersebut mengundang perwakilan dari berbagai lini masa, yaitu Info Cegatan Jogja, Ombudsman RI, UI-CSGAR, Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Yayasan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN), Inspektur Inspektorat Kabupaten Sleman, Kepala Bagian Organisasi Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, serta para Pejabat Penghubung LAPOR SLEMAN.

Chasidin, salah satu Asisten Ombudsman RI Perwakilan DI Yogyakarta, menyebutkan bahwa SP4N-LAPOR! sendiri memungkinkan masyarakat untuk menyampaikan keluhan dan permasalahan pelayanan publik yang dihadapi. Selain itu, sistem tersebut juga bisa menjadi wadah bagi masyarakat untuk berpartisipasi dan menyalurkan aspirasi. Dengan begitu, penyelenggara pemerintahan bisa mengetahui kelemahan dan kekurangan agar mampu melakukan perbaikan ke depannya.

Hingga kini, SP4N-LAPOR! telah terhubung dengan 34 Kementerian, 96 Lembaga, dan 493 pemerintah daerah di Indonesia, termasuk Pemerintah Kabupaten Sleman.

Eka Suryo Prihantoro, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman, menyampaikan bahwa jumlah aduan yang diterima Pemerintah Kabupaten Sleman sejak 2014 hingga 2020 terus mengalami peningkatan. “Pada tahun 2020, ada sebanyak 3506 aduan masuk dengan rata-rata respon selama 3 hari,” imbuh Eka.

Eka juga menyampaikan bahwa lebih dari 90 persen aduan telah terselesaikan sepanjang tahun 2020.

Seluruh aduan tersebut diterima melalui 12 kanal, yaitu kanal SP4N-LAPOR! (website , aplikasi, dan SMS 1708), aplikasi LAPOR SLEMAN, website LAPOR SLEMAN, e-mail, website Pemkab Sleman, fanpage Facebook Pemkab Sleman, Twitter Pemkab Sleman, Instagram Pemkab Sleman, SMS gateway, hotline COVID-19, call center Pemkab Sleman, dan datang langsung ke Dinas Kominfo Sleman.

Dari semua kanal aduan, media sosial Instagram Pemkab Sleman adalah kanal yang paling banyak digunakan oleh masyarakat untuk melapor pada tahun 2020, yaitu sebesar 28 persen dari total aduan. Sementara aduan terbanyak untuk tahun 2020 adalah seputar penanganan COVID-19 dan layanan kesehatan.

Yanto Sumantri selaku perwakilan Info Cegatan Jogja turut menyampaikan bahwa salah satu kanal aduan, yaitu aplikasi LAPOR SLEMAN, masih perlu perbaikan untuk pelayanan aduan yang lebih maksimal.

Tak hanya dari pihak LAPOR SLEMAN saja, pengelolaan pengaduan selama ini memang mendapati berbagai hambatan dari masyarakat sendiri. Ditambahkan oleh Chasidin, beberapa di antara kendala tersebut adalah sikap apatis masyarakat yang tidak yakin bahwa aduannya akan diselesaikan, kekhawatiran masyarakat akan terganggunya keamanan dan kenyamanan jika melapor, tidak mengetahui saluran aduan, serta kendala lain seperti geografis, waktu, biaya, dan sebagainya.

Dalam acara tersebut, Chasidin juga turut menyampaikan saran untuk perbaikan layanan LAPOR SLEMAN. Beberapa di antaranya adalah komitmen yang kuat dari pimpinan instansi, mekanisme pengelolaan dan penyelesaian pengaduan yang efektif, kompetensi SDM pengelola pengaduan yang baik, serta partisipasi masyarakat melalui sosialisasi.




KIM Sebagai Penggerak untuk Angkat Potensi Lokal

Salah satu fungsi utama KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) adalah KIM diharapkan dapat menjadi penggerak masyarakat dalam mengangkat potensi lokal, khususnya yang terdapat di kapanewon. Posisi KIM yang dekat dan dijalankan langsung oleh masyarakat, membuat anggota KIM memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai potensi daerah yang ada di sekitar mereka.

“Sehingga KIM harus dapat bimbingan, agar dapat memasarkan produk-produk lokal sehingga bisa terkenal,” ujar Siti Wahyu Purwaningsih, Panewu Kapanewon Ngemplak ketika menghadi acara Forum KIM Sembada Sleman di Kandang Kebo, Ngaliyan, Widodomartani, Ngemplak, Sleman, Sabtu (13/3/2021).

Hal ini juga disejalan dengan pendapat Ketua KIM Sembada, Suripto yang menuturkan bahwa KIM memang memiliki kesempatan untuk menginformasikan potensi yang berada di daerah mereka. Sehingga ia berharap agar KIM dapat terbentuk sampai ketingkat kalurahan, sesuai dengan Perbup Nomor 51 tahun 2019 yang berbunyi bahwa KIM dapat dibentuk sampai ke tingkat  kalurahan.

“Oleh karena itu kami hadir di sini untuk memberikan semangat kepada Kapanewon untuk membentuk KIM tingkat Kalurahan, sehingga setiap Kalurahan di Kabupaten Sleman ini sudah punya KIM masing-masing agar dapat menunjukkan bukti bahwa masing-masing Kalurahan mempunyai potensi yang bisa diangkat dan diberitakan kepada masyarakat,” ujar Suripto.

Suripto juga mengingatkan agar KIM untuk dapat memiliki AD/ART agar seluruh kegiatan KIM baik di tingkat kapanewon maupun kalurahan bisa tertata. Sehingga, semua KIM di Sleman ini bisa melembaga dan mempunyai kekuatan hukum, walaupun belum semuanya aktif.

“Yang terpenting setiap kegiatan masyarakat dapat tersampaikan informasinya melalui Mediacenter Kominfo Sleman,” terang Suripto. (KIM Pakembinangun/Asrori Wardan)




Memasyarakatkan Aksara Jawa melalui Perangkat Digital

Ngemplak – Hari Bahasa Ibu Internasional yang diperingati pada tanggal 21 Februari lalu rupanya menjadi momentum bagi Taman Baca Masyarakat (TBM) Wijaya Kusuma untuk mengadakan kegiatan pelatihan aksara Jawa dengan mengusung tema Digitalisasi Aksara Jawa di Padukuhan Karanganyar, Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, Minggu (14/3/2021).

Didukung Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, pelatihan ini diikuti oleh peserta yang terdiri dari masyarakat umum mulai dari ibu rumah tangga, pelajar, mahasiswa dan pegiat literasi.

Hastuti Setyaningrum, Ketua TBM Wijaya Kusuma sekaligus penyelenggara kegiatan menyampaikan bahwa tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk mengajak masyarakat untuk mau mengenal serta melestarikannya. “Aksara Jawa tidak hanya dipandang sebagai mata pelajaran di sekolah saja namun lebih dari itu, sebagai sebuah budaya yang melekat dan dipergunkan sehari-hari dalam kehidupan di masyarakat terutama keluarga,” tuturnya.

Hastuti menambahkan bahwa selama ini aksara Jawa hanya dilihat sebagai sebuah warisan budaya saja, namun belum nampak upaya yang sungguh-sungguh untuk mengembangkan dan membudayakannya lagi. “Pelatihan ini diharapkan menjadi satu cara agar aksara Jawa dapat dijaga dan tidak punah oleh peadaban modern,” lanjutnya.

Setya Amrih Prasaja, filolog dari Dinas Kebudayaan DIY yang menjadi narasumber dalam pelatihan ini juga mengatakan bahwa aksara Jawa masih dipandang sebelah mata dan belum bisa menjadi tuan rumah. “Berbeda dengan aksara Cina, Korea, dan Jepang yang sudah dikenalkan sejak dini pada generasi muda. Aksara Jawa baru dikenalkan sejak anak belajar di sekolah dasar, bahkan kurikulum sekolah juga belum bisa mengakomodir aksara Jawa maupun pendidikan budaya Jawa pada umumnya,” imbuh Amrih.

Menurut Amrih pada pelatihan ini peserta diberikan metode belajar yang praktis serta tepat guna agar dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga tidak ketinggalan jaman dan bisa menjadi pelajaran yang disukai karena menyenangkan. Metode belajar yang menyenangkan dan sesuai perkembangan jaman akan membuat siapa saja yang belajar menjadi berminat untuk menyukainya. “Bukan menjadi momok pelajaran yang paling ditakuti dan dihindari,” ujarnya.

Pelatihan Aksara Jawa berbasis digital ini mempergunakan teknologi digital sebagai perangkat pembelajarannya. Materi pelatihan yang diberikan meliputi pengenalan aksara Jawa, mulai dari cerita Aji Saka, periodisasi aksara Jawa, hingga paugeran aksara Jawa dari segi tata tulis.

Penyajian materi digital membahas tuntas terkait unicodisasi aksara Jawa agar bisa dipergunakan dan diaplikasikan pada komputer maupun gawai berbasis android.
Peserta dibekali sarana aplikasi software yang akan memudahkan penulisan aksara Jawa pada perangkat komputer maupun gawai. Tak kalah menariknya pelatihan ini juga memberikan cara bagaimana memanfaatkan aplikasi whatsapp menggunakan aksara Jawa. (Nuradi/KIM Ngemplak)




Gelar Raker, FKIM Sembada Siap Lakukan Audiensi dengan Perangkat Daerah

Pengurus Forum Kelompok Informasi Masyarakat (FKIM) Kabupaten Sleman gelar rapat kerja bulan Maret 2021 bersama pemangku wilayah Kapanewon Ngemplak yang dilaksanakan di Home Stay Kandang Kebo, Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Sleman, Sabtu (13/3/2021).

Pertemuan yang dilakukan untuk saling bertukar informasi dan saling belajar antar anggota Forum KIM Sembada ini dihadiri oleh Panewu Ngemplak, Siti Wahyu Purwaningsih, Komandan Koramil Ngemplak yang diwakili Pelda Sihono, Ketua FKIM Sembada Suripto, serta 20 pegiat KIM yang berasal dari 12 Kapanewon se-Kabupaten Sleman.

Raker sendiri dipimpin langsung oleh Ketua FKIM Sembada, Suripto dan dipandu oleh Sekretaris FKIM Sembada, Adnan Iman Nurtjahjo, dengan pembahasan mengenai rencana audiensi FKIM Sembada dengan Perangkat Daerah di Kabupaten Sleman, sebagai bentuk koordinasi informasi.

Pada rapat tersebut juga ditetapkan tiga instansi pemerintah Kabupaten Sleman yang dijadikan sasaran audiensi oleh FKIM Sembada, yaitu Dinas Pemuda dan Olah Raga, Dinas Kesehatan, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, dengan masing-masing instansi akan diikuti oleh tiga pegiat KIM dari Kapanewon yang berbeda.

“Setelah pengurus FKIM Sembada berkonsultasi dengan pejabat Dinas Kominfo Kabupaten Sleman beberapa waktu lalu maka ada arahan untuk melakukan audiensi dengan Dinas Pemuda dan Olahraga karena Pemerintah Kabupaten Sleman akan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Daerah (PORDA) Daerah Istimewa Yogyakarta ke XVI tahun 2022,” kata Suripto.

Ia juga menambahkan perlunya peran pegiat KIM ikut menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan program pendataan keluarga yang akan dilaksanakan pada tanggal 1 April hingga 31 Mei tahun 2021 oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana.

Sementara itu, Panewu Ngemplak, Siti Wahyu Purwaningsih menyampaikan dukungannya terhadap keberadaan KIM di wilayah Sleman.

Pada kesempatan tersebut, Siti juga menyosialisasikan program vaksinasi COVID-19 bagi penduduk Kabupaten Sleman khususnya yang sudah berusia lanjut agar tidak takut dan bersedia menjalani vaksinasi untuk memutus rantai penyebaran virus.

Menurutnya, program pemberian vaksinasi COVID-19 ditujukan agar menurunnya angka kesakitan dan angka kematian akibat COVID-19. Meskipun tidak 100% bisa melindungi seseorang dari infeksi Virus Corona, vaksin ini dapat memperkecil kemungkinan terjadinya gejala yang berat dan komplikasi akibat COVID-19, serta untuk mendorong terbentuknya kekebalan kelompok karena ada sebagian orang yang tidak bisa divaksin karena alasan tertentu.

“Lansia termasuk yang didahulukan atau menjadi prioritas karena memiliki risiko lebih tinggi untuk menjadi fatal. Namun, sebelum dilakukan penyuntikan vaksin harus melewati beberapa prosedur yang diberikan vaksinator berkaitan dengan kondisi fisik, dan tambahan pertanyaan bagi lansia,” ungkap Siti. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Cegah DBD dengan Program Si Wolly Nyaman

Dalam rangka pengendalian dan pencegahan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), Kabupaten Sleman melalui Dinas Kesehatan Sleman mengadakan Sosialisasi dan Advokasi Program Si Wolly Nyman di Joglo Amarta Kalurahan Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Senin (15/3/2021).

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Puskesmas Ngaglik 1 bekerja sama dengan World Misquito Program (WMP) Yogyakarta, yang diikuti oleh Kader dan Perangkat Kalurahan Sinduharjo.

Kepala puskesmas Ngaglik 1, Khamidah Yuliati mengatakan bahwa kegiatan Sosialisasi dan Advokasi Program Si-Wolly Nyaman Wolbachia dilakukan untuk pencagahan DBD di tahun 2021. Ia juga menambahakan kegiatan ini akan di sosialisasikan di setiap kalurahan di Kabupaten Sleman.

Sementara itu, Hendra prasojo dari Puskesmas Ngaglik 1 selaku narasumber dalam sosialisasi menerangkan bahwa si wolly nyaman adalah program pengamanan DBD dengan pelepasan nyamuk aedes aegypti yang disertakan dengan bakteri wolbachia di suatu wilayah. Nantinya nyamuk tersebut diharapkan dapat berkembang biak menjadi nyamuk dewasa, dan berkembangbiak dengan nyamuk lokal sehingga keturunnya menjadi nyamuk ber-Wolbachia yang memberikan perlindungan bagi warga dari DBD.

“Program ini tidak mengubah program yang sudah berjalan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang sudah dilakukan oleh masyarakat,” imbuh Hendra.

Acara sosialisasi kemudian ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama sebagai bukti untuk menyukseskan program si Wolly Nyaman di Kalurahan Sinduharjo, Ngaglik, Sleman (KIM Ngaglik/SPN)