Pasar Lebaran, Peluang Pasar UMKM di Kabupaten Sleman

Pandemi COVID-19 sangat memukul kondisi usaha para pelaku UMKM. Guna menindaklanjuti hal tersebut, bertepatan menyambut Hari Idulfitri 1442 Hijriah, Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sleman akan menyelenggarakan Pasar Lebaran dengan tema “Ayo Borong Bareng Produk UMKM Sleman” pada 29 April – 2 Mei 2021 di Area Garden Sleman City Hall (SCH). Pasar Lebaran ini akan dibuka mulai pukul – mengikuti jam buka mall.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Sleman, Pustopo mengungkapkan tujuan diadakannya Pasar Lebaran ini untuk memfasilitasi UMKM memasarkan produk, sekaligus mengajak dan menumbuhkan minat masyarakat membeli produk UMKM binaan Pemkab Sleman.

Sebanyak 100 stand akan disediakan untuk mengisi kegiatan tersebut, dimana peserta yang ikut memeriahkan berasal dari 141 UKM yang tergabung dalam Forum Komunikasi (Forkom) UMKM 17 kapanewon se Sleman dan Komunitas Perupa Sleman. “141 UKM terdiri dari produk fashion dan craft sejumlah 98, kuliner sejumlah 39, dan pameran tanaman hias,” ungkap Pustopo saat jumpa pers di Pendopo Parasamnya Setda Sleman, Selasa (27/4/2021)

Selain meningkatkan konsumsi masyarakat pada produk lokal, kesempatan ini juga dimanfaatkan sebagai momen penjualan sembako murah. Hal tersebut dikarenakan selama pandemi dan jelang lebaran harga sembako dan pangan kerap mengalami kenaikan harga. Oleh sebab itu, keberadaan sembako murah ini dirasa menajdi daya tarik masyarakat untuk datang dan membeli produk.

“Untuk menghadirkan orang datang, kami jual sembako murah. Yang pertama adalah gula pasir nanti maksimal beli 2kg dengan harga perkilo , nanti perharinya kita siapkan 1,5 kwintal. Yang kedua ada beras kemasan 2,5kg harga , perhari disiapkan 2 kwintal. Kita juga jual minyak goreng 2L seharga dengan persediaan 160L perhari. Kemudian telur ayam perkilo ,” ujar Pustopo.

Lebih lanjut, Pustopo menuturkan bahwa guna menarik minat pengunjung, perhelatan ini nantinya juga akan diisi dengan beragam rangkaian kegiatan. Diantaranya ialah aneka perlombaan bagi anak-anak berupa lomba mewarnai bagi siswa TK, fashion show usia 4-7 tahun, dan menyanyi usia 6-13 tahun, hingga lomba untuk Aparatur Sipil Negara (ASN). Terdapat pula program Talkshow dan Live Music yang dapat dinikmati sembari ‘Ngabuburit’.

Berbeda dari tahun sebelumnya, Pasar Lebaran kali ini rencananya juga dilaksanakan secara online. Dengan begitu, masyarakat memiliki kesempatan lain untuk terlibat dalam kegiatan tersebut. “Kami juga akan menyelenggarakan Pasar Lebaran dengan sistem daring tanggal 29 April – 21 Mei. Harapannya kalau tidak sempat bertransaksi tanggal 29 April – 2 Mei, masyarakat bisa mengakses produk UMKM secara daring,” tutur Pustopo.

“Sistem pameran online ini, pembeli bisa langsung berkomunikasi dengan pejual,” tambah Endah Sri Widiastuti selaku Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM Sleman.

Terkait rangkaian kegiatan pendukung Pasar Lebaran, Endah menuturkan bahwa kuis ASN diamksudkan guna semakin membuka pengetahuan, begitu pula dengan kelas Anggrek. “Kita akan mengadakan Kuis Kita Berani antar OPD untuk menguak dan mengajak ASN agar lebih peduli potensi Sleman. Kemudian baik ASN maupun masyarakat diharapkan ikut kelas merawat, bisnis, dan hidroponik anggrek,” tuturnya.

Kendati akan dilaksanakan pada masa pandemi virus COVID-19, Dinas Koperasi dan UKM telah berkoordinasi dengan Satgas dan satpam SCH untuk melakukan screening prokes pengunjung di pintu masuk maupun lokasi pelaksanaan. (Rep Afiqa)




Peringati Hari Jadi Sleman, Baznas Salurkan 105 Paket Sembako untuk Warga Cangkringan

Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Sleman yang ke-105, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sleman menyalurkan bantuan sebanyak 105 paket bingkisan sembako untuk fakir masikin dan anak yatim di Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Senin (26/4/2021). Kegiatan pemberian bantuan dihadiri langsung oleh Panewu Cangkringan, Ketua Baznas Sleman, dan Panitia Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sleman ke-105.

Panewu Cangkringan, Suparmono mengapresiasi kegiatan bakti sosial yang dilakukan dalam rangka memperingati hari jadi Sleman ini. Menurutnya kegiatan ini sangat tepat dilaksanakan, mengingat kondisi masyarakat yang masih merasakan dampak pandemi COVID-19.  “Sederhana, tapi sangat bermakna,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Umum Kabupaten Sleman, Suyudi yang mewakili Ketua Panitia Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sleman ke-105 menyampaikan bahwa kegiatan bakti sosial bekerja sama dengan Baznas ini merupakan agenda yang dilakukan untuk merayakan hari jadi Sleman pada tahun 2021. Kegiatan ini berbeda dengan perayaan hari jadi sebelum pandemi melanda, dimana peringatan dilakukan secara meriah.

“2 tahun sebelumnya dilaksanakan secara meriah dengan menghadirkan 60 sampai 80 bergodo. Untuk tahun ini dilaksanakan secara sederhana dengan bakti sosial yang di dukung oleh Baznas Sleman,” teran Suyudi.

Beberapa kegiatan lainnya yang akan dilakukan untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Sleman pada tahun ini antara lain adalah jamasan tombak pusaka, pemasangan spanduk, dan pengibaran bendera merah putih dan rontek-rontek (bendera kecil) selama 4 hari pada periode 14-17 Mei 2021 oleh warga Sleman. Selain itu, ada juga kegiatan doa bersama yang akan dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 2021 di Pendopo Parasamya Setda Sleman, dengan peserta 80 orang berpakaian adat jawa, dan tetap akan mematuhi protokol kesehatan.

Baznas Sleman sendiri rencananya akan membagikan total paket sembako untuk warga miskin di Kabupaten Sleman, dengan rincian 14 Kapanewon masing-masing akan mendapatkan 100 paket sembako, dan 3 Kapanewon akan mendapaktakan masing-masing 150 paket sembako. Selain bantuan untuk warga miskin, Baznas juga akan menyalurkan bantuan untuk rois sebanyak paket, santunan anak yatim, serta bantuan operasi katarak untuk 40 orang warga Sleman.

Baznas Sleman juga terus melakukan beberapa upaya untuk memulihkan ekonomi yang terdampak pandemi COVID-19. Kriswanto, Ketua Baznas Sleman menjelaskan ada 5 program dari Baznas yang dapat diakses oleh masyarakat. Pertama adalah Sleman Produktif, yaitu program bantuan modal usaha bagi fakir miskin dengan sistem kelompok. Program kedua adalah program Sleman Sehat, yaitu bantuan untuk fakir miskin yang berhutang sementara menderita kanker stadium 4, cuci darah, dan sakit selama 3 hari.

Berikutnya program ketiga Sleman Cerdas yaitu bantuan untuk anak sekolah tingkat SD dan SMP. Keempat, ada program Sleman Peduli dengan memberikan bantuan bedah rumah tidak layak huni, dan bencana alam. Program kelima dari Baznas ada program Sleman Taqwa, yaitu program bantuan kegiatan ibadah seperti renovasi musala ataupun masjid, dan bantuan untuk anak yatim.

“Saat ini yang aktif pengumpul zakat baru dari ASN. Kedepannya diminta kepada semua Pamong Kalurahan se-Kabupaten Sleman untuk ikut peduli dalam kegiatan pengumpulan zakat,” tambah Kriswanto.

Kegiatan diakhiri dengan penyerahan bantuan paket sembako secara simbolis kepada penerima manfaat yang diwakili oleh 5 Pamong Kalurahan di Kapanewon Cangkringan. (KIM Cangkringan/Mujiyanta)




Peran KIM dalam Mengedukasi PHBS Bagi Masyarakat

Pemerintah Kabupaten Sleman membuat program kebijakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan menyelenggarakan sosialisasi bagi Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) yang digelar di Gedung Sekretariat Daerah lantai III, Senin (26/4/2021).

Kegiatan sosialisasi dibuka secara langsung oleh Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Iriansya dihadapan 60 orang pegiat informasi yang tergabung dalam Forum Kelompok Informasi Masyarakat Sembada.

Dalam sambutannya, Iriansya menuturkan bahwa sosialisasi PHBS terhadap KIM di wilayah Kabupaten Sleman ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sarana pengalaman belajar dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku melalui pendekatan pimpinan, dan pemberdayaan masyarakat sehingga dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dalam rangka menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat di semua tataran baik rumah tangga, keluarga, tempat kerja maupun fasilitas umum lainnya.

“Sumberdaya manusia yang berkualitas dan sehat merupakan faktor penentu dalam upaya meningkatkan produktivitas pembangunan guna mendukung upaya mewujudkan visi pembangunan di bidang kesehatan yang membutuhkan kesadaran masyarakat akan pola hidup yang sehat oleh karena itu melalui sosialisasi ini diharapkan KIM dapat mendorong dan menanamkan kepada masyarakat di sekitarnya untuk melakukan pola hidup bersih dan sehat,” tutur Iriansya.

Sosialisasi program kebijakan PHBS menghadirkan narasumber Sutantri selaku Director Muhammadiyah Steps dan Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang mengupas tentang upaya pengurangan faktor resiko penyakit tidak menular. Serta narasumber yang lain, Notowati Dwi Vitasari selaku Penyuluh Kesehatan Masyarakat Muda Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman yang memahas tentang pengendalian penyakit komorbid untuk mencegah COVID-19.

Menurut Sutantri, tantangan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing adalah kematian penduduk usia 30 – 70 tahun yang disebabkan oleh penyakit tidak menular, prevalensi stunting, prevalensi merokok remaja laki-laki usia dibawah 18 tahun yang terus meningkat, serta penggunaan Narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (Napza).

Ia menambahkan bahwa rokok mengandung zat yang sangat berbahatya bagi tubuh manusia yakni nikotin yang bersifat racun dan dapat mengakibatkan kecanduan atau adiksi, TAR yang dapat menyebabkan penyakit kanker, serta karbon monoksida yang dapat menurunkan kadar oksigen dalam darah.

“Selain itu, rokok dapat menyebabkan Stunting pada anak atau mengalami hambatan pertumbuhan badan dan otak dibandingkan anak lain seusianya karena malnutrisi. Orangtua yang merokok sehingga asap rokok terpapar pada anak, maka penyerapan zat gizi termasuk vitamin C dan B kompleks menjadi kurang maksimal. Hal inilah yang memicu tubuh anak menjadi stunting,” tegas Tantri. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Masyarakat

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di masyarakat memerlukan kerja sama dari berbagai pihak. Hal tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Sleman mengadakan sosialisasi kepada Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) se-Kabupaten Sleman. Harapannya, sosialisasi tersebut dapat dijadikan sumber informasi dan bahan diskusi di masyarakat oleh KIM.

Sosialisasi PHBS tersebut dihadiri oleh 60 orang dari KIM se-Sleman di Aula lantai 3 Sekretariat Daerah (Setda) Kantor Bupati Sleman, Senin (26/4/2021). Turut hadir Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat Sleman, Kepala Sub Bagian (Kasubbag) Kesehatan Sosial dan Tenaga Kerja Sleman, serta narasumber dari Director Muhammadiyah Steps dan Penyuluh Kesehatan Masyarakat Muda Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman.

Pada kesempatan tersebut, Kasubbag Kesehatan Sosial dan Tenaga Kerja Sleman, Agairul menjelaskan maksud sosialisasi ini guna meningkatkan kesadaran masyarakat untuk hidup bersih dan menghindari penyakit.

“Tujuan kegiatan ini yang pertama adalah meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemampuan, dan kemauan masyarakat agar bersama melakukan cara-cara sehat dalam rangka mencegah, memelihara pola hidup dan lingkungan sehat baik di rumah maupun masyarakat. Yang kedua mampu menjaga dan mengurangi jangkauan penyakit dan masalah Kesehatan lain,” jelasnya.

Adanya PHBS ini penting, sebab perilaku hidup sehari-hari yang buruk dapat menjadi faktor peningkatan risiko terjangkit penyakit tidak menular.

Director Muhammadiyah Steps yang juga Dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sutantri mengungkapkan bahwa jumlah kematian akibat penyakit tidak menular semakin bertambah, terdapat 26 dari 100 total kasus.

“Penyebab kematian tertinggi di Indonesia tahun 2019 disebabkan stroke, jantung, diabetes, sirosis, tuberkolosis, paru kronik, dan diare akibat perilaku buruh seperti tekanan darah tinggi, pola makan salah, dan tembakau atau rokok,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa di DIY angka kematian akibat rokok menempati posisi kedua secara nasional dengan jumlah 128 kasus.

Selain berisiko menimbulkan penyakit jantung, stroke, dan diabetes, perokok konvensional maupun elektrik ternyata lebih beresiko menderita atau tertular COVID-19 karena merusak saluran pernafasan. “Perokok lebih berisiko 14 kali terinfeksi Covid dibanding bukan perokok. Penderita Covid yang merokok juga 2,4 kali lebih berpotensi masuk kategori berat,” tambah Sutantri.

Kesadaran perilaku sehat dalam pola makan, aktivitas fisik, dan tidak merokok menjadi indikator menentukan derajat kesehatan.

“Makan buah sayur harusnya 5 porsi, 3 porsi sayur 2 porsi buah atau sebaliknya. Selama puasa, buah dapat dijadikan cemilan saat malam, buka, dan sahur. Aktivitas fisik sebisa mungkin diterapkan sesuai FITT (frekuensi, intensitas, time, tipe). Frekuensinya 4 sampai 7 kali perminggu dengan intensitas menegah atau sedang. Tipenya boleh jogging, walking, cycling dengan waktunya 30-60 menit,” tutur Notowati Dwi Vitasari, selaku Penyuluh Kesehatan Masyarakat Muda Dinkes Sleman.

Sebagai upaya peningkatan PHBS dan pengurangan risiko penyakit, Notowati menghimbau adanya pencegahan dan pengendalian melalui cek kesehatan secara rutin, rajin aktivitas fisik, istirahat yang cukup, dan mengelola stress. “Cek berkala untuk mengukur tekanan darah, gula dara, indeks masa tubuh, lingkar perut, dan pengadaan kawasan bebas rokok,” imbau Notowati. Tak lupa, ia juga menekankan agar tetap menerapkan perilaku Cita Mas Jajar (cuci tangan pakai sabun, memakai masker, dan jaga jarak). (Rep Afiqa)




AiKite, Startup Peduli Lingkungan Karya Mahasiswa UII Yogyakarta

Permasalahan air, lingkungan, dan sosial masyarakat saat ini merupakan permasalahan serius yang tengah dihadapi oleh dunia, termasuk Indonesia. Mulai dari ketersediaan air bersih, pengelolaan sampah, potensi bencana hingga sanitasi yang buruk masih menjadai problema yang belum terselesaikan. Jika dibiarkan, tentunya akan memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia.

Hal tersebut yang mendorong Sofi Latifah Nuha Anfaresi, seorang mahasiswi Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia (UII) mendirikan AiKite, penyedia jasa pengelolaan air bersih yang aman bagi masyarakat Indonesia. Bersama adiknya, Sayyid Anfaresi yang merupakan mahasiswa Teknik Informatika UII, mahasiswi yang telah menyelesaikan studinya pada awal tahun 2021 ini membentuk AiKite, sebuah startup sosial yang membantu mengatasi permasalahan lingkungan dengan memberikan edukasi serta analisis terhadap pengelolaan air, dan pemeliharaan lingkungan.

“Ada sekitar 80 juta masyarakat Indonesia yang belum mendapatkan akses air bersih dan layak.  ditambah data dari Badan Pusat Statistik 2018 bahwa masih terdapat selisih 32 juta jiwa penduduk yang belum memperoleh akses air minum layak, dan 67 juta jiwa penduduk belum terlayani akses sanitasi layak. Hal tersebut yang mendorong saya untuk mengembangakan usaha startup sosial bernama demi tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs),” terang Nuha yang juga merupakan CEO dari AiKite ini pada Sabtu (24/4/2021).

AiKite, berasal dari bahasa Bangka Ai dan Kite, yang berarti air kita, merupakan startup yang bergerak di bidang sosial dan masyarakat dengan fokus pada edukasi dan pengembangan pengelolaan air untuk masyarakat desa dengan memberikan solusi terhadap masalah air, sanitasi dan higiene kepada masyarakat daerah yang telah ditargetkan. Dimulai dengan memberikan edukasi, sosialisasi kepada masyarakat, melakukan analisis air secara langsung, membantu mengatasi pencemaran air, dan memberikan dampak yang baik untuk lingkungan di daerah mereka masing-masing sehingga kehidupan masyarakat diharapkan menjadi lebih sejahtera di masa yang akan datang melalui pengelolaan air, sanitasi dan hygiene yang baik.

AiKite juga pernah bekerja sama dengan berbagai lembaga sosial yang concern terhadap permasalahan air lainnya, diantaranya, Young Water Solutions, Aquafin Belgium, GIN Austria, IECT Germany, Temasek, CEWAS Switzerland, University of Cambridge, Singapore International Foundation, Kemenpora Indonesia dan sebagainya.

Salah satu proyek utama yang dilakukan AiKite di Indonesia adalah dengan membuat agenda Period of Impact, sebuah proyek yang memiliki agenda berupa kegiatan sosial yang memiliki fokus untuk berkontribusi dalam memberikan solusi terhadap masalah air, sanitas, dan hygiene kepada masyarakat daerah yang telah ditargetkan. Agenda sendiri dimulai dengan memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai penyediaan air bersih, dengan menganalisisi air secara langsung, membantu mengatasi pencemaran air yang memberikan dampak bagi lingkungan sehingga kehidupan masyarakat di masa yang akan datang dapat lebih sejahtera

Salah satu daerah yang dipilih menjadi lokasi dari proyek ini adalah Pulau Bungin, sebuah pulau yang terletak di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Pulau Bungin sendiri dinobatkan sebagai pulau paling padat di dunia, dimana dengan luas yang hanya 8,5 hektare, ada KK yang menempati pulau tersebut.

Padatnya penduduk yang menempati Pulau Bungin menimbulkan berbagai macam permasalahaan kesehatan, dimulai dengan terbatasnya sanitasi, dan sulitnya memperoleh air bersih. Hampir semua sumur yang dimiliki oleh warga menghasilkan air asin, sehingga warga tidak berani menggunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi ataupun mencuci.

“Pulau Bungin ini unik, dengan tingkat kepadatan tertinggi di dunia, pulau ini masih dapat bertahan dengan baik. Akan tetapi sayang, dari segi penyediaan air dan sanitasi masih sangat kurang, perlu ada trigger untuk menyatukan peran pemerintah dan masyarakat sehingga desa ini bisa lebih sejahtera,” ungkap Nuha.

Masyarakat Pulau Bungin sendiri memanfaatkan air PDAM dari desa tetangga Marente untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Namun, ketersediaan air PDAM tersebut hanya cukup untuk kebutuhan 200 KK dari total KK warga Pulau Bungin, sehingga ketersediaan air tidak mencukupi. Hal tersebut menyebabkan para warga Pulau Bungin menjadi kesulitan untuk menjaga sanitasi mereka, terutama untuk BAB dan cuci tangan sebelum makan, yang mempengaruhi kesehatan masyarakat.

“Air di sini susah, biasanya kita kalau buang hajat harus ke laut dulu karena di rumah juga tidak ada jamban, belum lagi kalau malam hari kita pergi ke laut pakai lampu cuma untuk buang hajat,” terang seorang warga Pulau Bungin, Khadijah (50).

Selain ketersediaan air bersih, sampah juga menjadi permasalahan yang harus diselelasikan di Pulau Bungin. Tidak tersedianya tempat pembuangan akhir sampah, serta kebiasaan warga membuang sampah sembarangan karena minimnya tempat sampah, mengakibatkan banyaknya sampah berserakan di bawah kolong maupun di depan rumah. Bahkan, sebagian masyarakat Pulau Bungin ada yang langsung membuang sampah ke laut, sehingga sampah menjadi menumpuk.

Melalui kegiatan Periode of Impact, AiKite berusaha memberikan bantuan dan solusi terhadap permasalahan sanitasi dan ketersediaan air yang dihadapi oleh masyarakat Pulau Bungin. Lima orang perwakilan AiKite, yakni Nuha, Hida, Ainun, Ainur, dan Ajwad memberikan edukasi dasar mengenai air, sanitasi, dan hygiene terhadap anak-anak dan masyarakat di Pulau Bungin selama 7 hari, dari 11 April-18 April 2021.

Selain memberikan edukasi, dijalankan juga program instalasi filter air, yaitu kegiatan yang bertujuan membantu masyarakat mengelola air secara baik, dan meningkatkan akses masyarakat terhadap air bersih. Masyarakat lokal turut berpartisipasi dalam pembangunan dan perakitan sistem pengelolaan air dalam program ini. Selain itu, dibentuk pula komunitas pengelolaan air bersih Pulau Bungin yang bertanggung jawab terhadap pengoperasian dan pemeliharaan instalasi filter air sehingga manfaat dari filter air dapat diperoleh secara berkelanjutan.

Kepala Desa Bungin, Jaelani memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kegiatan yang dilakukan oleh AiKite ini. Menurutnya kegiatan ini memberikan dampak positif bagi masyarakat Pulau Bungin.

“Teman-teman ini membawa dampak yang positif baik kepada adik-adik sekolah dasar dan masyarakat setempat. Sangat berkesan di hati kami walaupun hanya beberapa hari saja benar-benar membawa dampak positif terhadap masyarakat kami terutama di lingkungan kami pertama terkait dengan sampah juga,” ujar Jaelani. 

Sementara itu, Ule, seorang warga berterimakasih atas edukasi mengenai air dan sanitasi yang diberikan kepada masyarakat di Pulau Bungin. (Hidayatun Nafiah/Ilmu Komunikasi UII)