Adaptasi Kelompok Tari Badui Nglengis di Masa Pandemi

Pandemi COVID-19 yang berlangsung hampir dua tahun telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk bidang seni.  Sampai saat ini masih terdapat sejumlah pertunjukan seni yang terpaksa tertunda. Tak terkecuali pada kesenian Tari Badui di Dusun Nglengis, Banyurejo, Tempel.

Kesenian Badui Nglengis yang bernama Badui Sabilul Muslimin ini merupakan tari tradisional yang berisi selawat Nabi. Seni yang pada mulanya sebagai sarana penyebaran syiar Agama Islam, hingga berkembang sebagai sarana hiburan dan media memupuk bakat pemuda ini seakan bertiarap.

Suryanto, Koordinator Badui Nglengis mengakui bahwasanya sejak awal pandemi berlangsung semua kegiatan kesenian langsung dihentikan total. Keputusan tersebut dipilih sebagai bentuk ketaatan masyarakat setempat kepada aturan pemerintah agar tidak membuat kerumunan.

“Memang beberapa kali kita diminta, cuma karena faktor kesehatan kita tunda. Semua vakum karena lebih mengedepankan 5M prokes,” ujarnya ketika mengisi Acara Pentas Seni Atraksi Event Khusus Danais di Taman Kaliurang, Kabupaten Sleman, Selasa (25/5/2021).

Pentas Seni Atraksi Event Khusus Danais dalam Rangka Hari Jadi Kabupaten Sleman ke-105 yang digelar Dinas Pariwisata Sleman di Taman Kaliurang kali ini seakan membawa angin segar kembali pada Kesenian Tari Badui Nglengis untuk kembali berkreasi.

“Sejak mulai pandemi baru kali ini kita tampil lagi. Alhamdulillah sebagai pelaku seni kita cukup senang karena punya media untuk menampilkan potensi seni lagi,” ungkap Suryanto.

Secara konsep umum pementasan, Badui Nglengis minimal melibatkan 16 pemain yang saling berpasangan dan berbaris. Mengingat melibatkan pemain banyak, di era new normal kali ini rencana adaptasi pementasan mulai disesuaikan.

Suryanto mewakili kelompok kesenian Tari Badui Sabilul Muslimin menuturkan siap menyesuaikan dengan aturan protokol kesehatan selama pandemi jika melakukan pementasan kembali.

“Kalau pengurangan jumlah pemain tidak mempengaruhi gerakan. Yang terpengaruh itu pola lantai, karena beberapa lagu memiliki pola lantainya kita set khusus, seperti setting latihan perang. Tapi kita akan menyesuaikan dengan situasi kedepan,” terang dia.

Guna mendukung pelaku kesenian untuk berkarya kembali di pementasan, dukungan semua lapisan masyarakat amat diperlukan. Sejalan dengan itu, Suryanto berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah.

“Kami secara khusus meomohon perhatian pada masyarakat, pelaku seni lain, terlebih pemerintah. Kami juga berharap ada tawaran pementasan lagi kedepannya,” pintanya. (Rep Afiqa)




Margoagung Dipercaya Menjadi Pilot Project Puspaga Sleman

Kalurahan Margoagung yang berada di Kapanewon Seyegan terpilih menjadi salah satu Kalurahan yang menjadi Pilot Project Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Kabupaten Sleman. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Sumarni, Kepala Seksi Pemenuhan Hak Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sleman dalam Bimbingan Teknis Rencana Kerja Puspaga di Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Senin (24/5/2021).

Sumarni menyebutkan bahwa Margoagung sebagai Pilot Project Puspaga memiliki potensi sumber daya manusia dan konsistensi untuk tugas layanan konseling, salah satu hal penting yang harus diperhatikan sebagai Puspaga. Selain konseling, Sumarni juga menyebutkan bahwa daerah Pilot Project juga harus mempersiapkan fasilitas lainnya seperti tempat konseling, perangkat administrasi, sarpras, dan papan nama.

“Yang segera disiapkan adalah jadwal layanan, jadwal pertemuan rutin pengurus, dan mengoptimalkan kelompok binaan yang sudah terbentuk yaitu kelompok keluarga 2P (Pelopor dan Pelapor),” ujar Sumarni.

Puspaga sendiri menurut Sumarni adalah skrining awal permasalahan keluarga, sehingga Puspaga memiliki wewenang untuk memberika rujukan kepada klien ke UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).

“Puspaga diibaratkan sebagai vitamin yang menjaga agar tidak terlanjur sakit. Puspaga adalah pemantik dengan semangat gercep dalam penanganan permasalahan di masyarakat,” terang Sumarni.

Pada kesempatan tersebut juga diberikan Modul Pengasuhan kepada para peserta Bimtek. Nantinya, para peserta juga akan dibekali dengan simulasi pengasuhan anak.

Sementara itu, Djarwo Suharto, Lurah Margoagung menyambut baik dipercayanya Margoagung sebagai daerah Pilot Project Puspaga Kabupaten Sleman. Djarwo menambahkan agar kesempatan ini dapat dimanfaatkan secara maksimal, dan dapat mengoptimalkan dana yang tersedia. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Dispora Sleman Gelar Pelatihan Dekorasi Manten bagi Pemuda Margodadi

Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Sleman mengadakan pelatihan Dekorasi Manten Bagi Pemuda di Balai Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan. Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari yaitu Kamis (20/5/2021), Jumat (21/5/2021), dan Senin (24/5/2021) tersebut diikuti oleh 25 peserta dari perwakilan Karang Taruna Dusun yang berada di Kalurahan Margodadi.

Panewu Seyegan, Budi Pramono yang membuka kegiatan pelatihan menyatakan bahwa pelatihan ini merupakan realisasi salah satu usulan dari Musrenbang Kapanewon Seyegan, yang terdapat dalam Pagu Usulan Partisipasi Masyarakat (PUPM), sehingga dasarnya adalah kebutuhan.

“Artinya dengan kegiatan yang diusulkan tersebut bagaimana kita mengasah jiwa kewirausahaan sehingga pasca pelatihan diharapkan ada tumbuh jiwa entrepreneur untuk memasuki dunia industri,” ujar Budi.

Keterampilan yang didapat dari pelatihan yang diadakan menurut Budi dapat dimanfaatka untuk membantu orang lain.

Sementara itu, Kepala Dispora Kabupaten Sleman, Agung Armawanta yang datang pada acara pelatihan berharap para peserta dapat mengambil dan menularkan ilmu yang didapat dari pelatihan yang diadakan, sebagai seorang profesional.

“Karena untuk menjadi profesional tidak harus menguasai banyak hal, tapi cukup satu atau dua hal yang dikuasai dengan baik,” ungkap Agung.

Pelatihan sendiri menghadirkan dua narasumber dari penyuluh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman, yaitu Marsaid dan Wayan Putu Sari.

Materi yang disampaikan juga beragam, seperti mengenal berbagai macam dekorasi mantn, dan praktik pembuatan penjor, pajagen, kembar mayang, dan tarub.

Terakhir, narasumber juga memberikan evaluasi terhadap hasil dari hasil karya para peserta pelatihan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)