Stok Berkurang Selama Pandemi, PMI Dorong Masyarakat Aktif Donor Darah

Sleman – Selama pandemi COVID-19 melanda, jumlah pendonor darah rutin di Kabupaten Sleman mengalami penurunan. Tercatat stok darah di Palang Merah Indonesia (PMI) Sleman hingga hari ini hanya tersedia 65 kantong dari empat golongan darah. Sementara itu, kebutuhan darah bagi pasien cukup besar dengan jumlah rata-rata 50 hingga 75 kantong per hari.

Guna mencukupi kebutuhan stok darah, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dinas Kesehatan, dan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sleman terus bekerjasama mengajak masyarakat untuk terlibat aktif mendonorkan darah. Bertempat di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Donor Darah Massal tersebut juga digelar dalam rangka Hari Bakti Dokter Indonesia dan Hari Kebangkitan Nasional, Jumat (28/5/2021).

Tunggul Birowo selaku panitia kegiatan dari IDI Sleman, menyampaikan bahwa donor darah massal yang kembali diaktifkan ini mendapat antusias cukup tinggi dari masyarakat. “Dari Google Form yang telah kami sebarkan di WA dan media sosial ada 68 orang, baik dari tenaga kesehatan, ASN, maupun masyarakat umum,” ujarnya.

Walaupun jumlah pendonor cukup banyak, namun calon pendonor harus melalui tahap screening dengan pegukuran Hemoglobin (Hb), berat badan, dan tensi terlebih dahulu. Menurut Sutiman, Teknis Unit Donor Darah (UDD) PMI Sleman, sejumlah pendonor gagal karena permasalahan Hb.

“Kebanyakan yang tidak bisa donor karena Hb-nya kurang, tadi ada yang cuma 11,5 dan 11,7. Padahal standarnya 12,5 sampai 17,” ucap Sutiman.

Teri (33) menjadi salah satu calon pendonor yang gagal karena Hb hanya 11,5, padahal ia telah menantikan kegiatan donor darah ini. “Sebenarnya ingin donor, karena udah rutin ada jadwal. Tapi ternyata tidak bisa, mungkin karena kelelahan,” pungkasnya.

Meskipun begitu, jumlah pendonor yang lolos tahap screening lebih besar dari jumlah pendonor gagal. Tercatat sebanyak 57 kantong darah terkumpul dari 84 total pendonor, dengan jumlah pendonor yang gagal ada 27.

Meski hanya setengah dari standar pemasukan darah PMI, jumlah tersebut telah melampaui target awal kegiatan yang sebesar 40 kantong.

“Alhamdulillah sekali kami bersyukur, karena kalau target dari panitia 40 kantong,” tutur Suraji, Staff Pengerahan dan Pelestarian Donor Darah Sukarela (P2D2S) PMI Sleman.

Ia turut berharap adanya peningkatan partisipasi masyarakat mengingat kebutuhan darah terus besar tiap saat.

“Inginnya pendonor sebanyak mungkin. Jadi harapannya kegiatan ini bisa berjalan rutin, sehingga kebutuhan di Sleman terpenuhi. Soalnya kami mencanangkan 2500 kantong perbulan bisa tercapai,” pungkas Suraji. (Rep Afiqa)




Pendampingan Generasi Muda Menghadapi Peredaran Gelap Narkoba

Depok – Kalurahan Condongcatur telah dicanangkan sebagai Desa Bersinar oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) RI sejak tahun 2018 lalu. Imbas dari itu, mereka pun masif melakukan aksi Program Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Hasilnya, berdasarkan hasil pemetaan Kawasan Rawan Narkoba di DIY oleh BNNP DIY, Kalurahan Condongcatur yang sebelumnya berstatus Waspada saat ini turun menjadi status Siaga per 16 Februari 2021.

Desa Bersinar adalah desa atau kalurahan yang mempunyai kesadaran untuk melindungi masyarakatnya dari bahaya narkoba. Diharapkan Desa Bersinar menjadi wadah yang mengakomodir masyarakat untuk bersama bergerak mencegah penyebaran dan penyalahgunaan narkoba di lingkup terkecil suatu daerah.

Saat ini BNNK Sleman bersama Pemerintah Kalurahan Condongcatur sedang menginisuasi rintisan Padukuhan Bersinar di Padukuhan Kayen dan Padukuhan Gandok. Salah satu upayanya melalui pendampingan generasi muda terhadap peredaran gelap narkoba yang dilaksanakan di Kantor Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Kamis (27/5/2021).

Reno Candra Sangaji, Lurah Condongcatur menyampaikan bahwa Padukuhan Kayen dan Padukuhan Gandok dijadikan padukuhan rintisan berdasarkan hasil pemetaan. “Tempat-tempat yang rawan digunakan untuk peredaran narkoba adalah angkringan, kos-kosan tanpa ada induk semang, kafe, dan tempat tongkrongan anak-anak muda,” ujar Reno di hadapan peserta yang berasal dari Karangtaruna Bhaktiloka Condongcatur dan pemuda pemudi Padukuhan Gandok dan Padukuhan Kayen.

Sementara itu Eko dari Jogja Care House menyampaikan bahwa mengapa orang menggunakan narkoba itu dikarenakan lifestyle (gaya hidup) dan kecanduan. “Tahap awal penggunaan narkoba itu adalah karena rasa ingin tahu, tidak PD (percaya diri), kebutuhan sosial, tuntunan untuk penyakit kronis, dan ada tekanan dari orang lain,” jelas Eko. Adapun Kepala BNNK Sleman AKBP Siti Alfiah menekankan kepada para satgas P4GN di kalurahan untuk aktif memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya narkoba dan memberikan informasi ke BNN terkait adanya penyalahgunaan narkoba.(Wasana/KIM Depok)