Bangkitkan Ekonomi Lokal, Kapanewon Mlati Gelar Pasar Lebaran

Untuk meningkatkan potensi lokal yang berada di daerah Mlati, Pemerintah Kapanewon Mlati menggelar Pasar Lebaran dan Pasar Murah yang bertajuk Semarak Pasar Lebaran UMKM Kapanewon Mlati yang dibuka pada Selasa (4/5/2021) di Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman. Pembukaan Pasar Lebaran yang akan berlangsung hingga Rabu (5/5/2021) ini dihadiri langsung oleh Bupati Sleman, didampingi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sleman, Kepala PT Bank BPD Cabang Sleman, dan Kepala Baznas Sleman. Selain itu, hadir pula Panewu Kapanewon Mlati, Muspika Kapanewon Mlati, Lurah se-Kapanewon Mlati, dan beberapa tamu undangan.

Panewu Mlati, Yakti Yudanto menyebutkan bahwa Pasar Lebaran dan Pasar murah ini diadakan sebagai bentuk upaya mengangkat UMKM, khususnya yang berada di Mlati setelah mengalami keterpurukan selama masa pandemi COVID-19. “Semoga dengan digelarnya acara ini dapat memotivasi UMKM di wilayah Kapanewon Mlati untuk terus bergeliat,” ujar Yakti pada Selasa (4/5/2021).

Bersamaan dengan kegiatan ini juga dilakukan penyerahan paket sembako bagi fakir miskin dari PT Bank BPD DIY Cabang Sleman, UPK PNPM Mandiri Perdesaan, dan Baznas Sleman sebanyak 300 paket, dengan masing-masing lembaga tersebut memberikan sebanyak 100 paket.

Pada Pasar Lebaran ini juga disediakan paket penurunan harga sembako berupa gula merah, gula pasir, beras, minyak goreng dan telur dengan penurunan harga antara dari harga pasaran. Paket ini diperuntukkan untuk masyarakat umum di Kapanewon Mlati.

Selain itu, juga diserahkan santunan untuk anak yatim yang berasal dari Kapanewon Mlati, UPK PNPM Mandiri Perdesaan, Batik Alusan, TPK Kapanewon Mlati, Baznas Sleman dan dari donatur lainnya. Santunan diperuntukkan bagi 180 anak yatim di Kapanewon Mlati dengan santunan senilai Rp ,- untuk masing-masing anak.

Paket bantuan diserahkan secara simbolis oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo berupa sembako dan santunan bagi anak yatim kepada perwakilan penerima dari masing-masing kalurahan yang ada di Kapanewon Mlati. Selanjutnya paket dan santunan di serahkan ke kalurahan untuk didistribusikan kepada penerima secara langsung.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan ini. Ia berharap kedepannya dapat terus terjalin sinergisitas antara Pemerintah Daerah dan UMKM untuk meningkatkan ekonomi, terutama dengan gerakan Borong Bareng produk UMKM Sleman yang digaungkan.  

“Dengan gerakan borong bareng yang menjadi program Kabupaten Sleman diharapkan mampu menggugah UMKM untuk terus bergerak dan berproduksi,” terangnya

Pasar lebaran yang digelar oleh Kapanewon Mlati ini sendiri diikuti oleh total 44 UMKM di Kapanewon Mlati yang dibagi menjadi 33 stand UMKM, dengan rincian 9 stand fashion, 3 stand kerajinan, 18 stand kuliner, 1 stand sembako, dan 1 stand daging beku. Selain itu, ada juga stand dari Bank BPD DIY Capem Mlati. (Yoko Erwe/KIM Mlati)




Perkuat Semangat Literasi, KIM Sukoharjo Luncurkan Gerakan “Rabu Berkarya”

Sebagai upaya merumuskan hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengukuhkan kiprah KIM sebagai salah satu agen diseminasi informasi yang terpercaya, KIM Kalurahan Sukoharjo menggelar rapat koordinasi pada Jumat (30/4/2021) di Aula Kalurahan Sukoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman.

Pada kesempatan ini, turut hadir Hadi Subronto selaku Lurah Sukoharjo dan Suripto selaku Ketua Forum KIM kabupaten Sleman.

Dalam sambutannya, Hadi Subronto berharap anggota KIM dapat berperan dalam menyebarkan berita tentang kegiatan dan program yang ada di lingkungan Kalurahan Sukoharjo.

“Pemerintah Kalurahan Sukoharjo berkomitmen untuk terus mendukung keterbukaan informasi di tingkat masyarakat. Salah satu dari wujudnya adalah penyediaan sarana wifi gratis di setiap padukuhan, optimalisasi website milik Kalurahan serta rencana pembuatan buletin bulanan Kalurahan. Dalam hal ini, anggota KIM tentunya mempunyai posisi yang sangat strategis sebagai mitra kritis berbagai program diseminasi informasi yang ada,” imbuhnya.

Sementara dalam pengantar diskusi rakor, Dita Hendri, Ketua KIM Sukoharjo secara spesifik mengingatkan kembali mengenai pentingnya literasi dalam kehidupan masyarakat.

“Ingatan kolektif manusia itu bersifat sangat pendek. Sebagian dari kita belum tentu hafal nama dari ayah kakek buyut kita, bahkan mungkin kita bisa jadi sudah lupa apa yang kita makan sepekan yang lalu. Oleh karenanya sangat strategis untuk mendokumentasikan hal-hal penting melalui bahasa lisan, tulisan, foto, video maupun media dokumentasi yang lain, sehingga apa yang terjadi hari ini pun akan lebih mudah dilacak di masa mendatang,”ujarnya.

Menyambung hal tersebut, dalam sebuah diskusi kemudian forum menyepakati untuk menggalakkan literasi digital dengan meluangkan waktu menghasilkan satu karya setiap hari Rabu.

Karya-karya tersebut bisa berupa tulisan, berita, foto ataupun video mengenai hal- hal yang cukup penting untuk diketahui khalayak ramai. Karya tersebut nantinya akan di seleksi menjadi konten di media milik Kalurahan, media milik KIM Kalurahan, maupun media-media lain yang terafiliasi. Forum kemudian menyepakati gerakan tersebut sebagai “Rabu Berkarya” bagi semua anggota KIM Kalurahan Sukoharjo.

Menanggapi gagasan gerakan “Rabu Berkarya”, Suripto, Ketua Forum KIM Kabupaten Sleman berpesan kepada semua yang hadir untuk tetap mengedepankan etika-etika jurnalisme dalam berkarya.

“Karya yang baik tentunya adalah karya yang bisa dikonfirmasi kembali kebenarannya, bukan berita bohong, asumsi, hoaks, atau bahkan hanya demi kepentingan politik praktis. Rabu Berkarya adalah terobosan yang perlu kita dukung dan sukseskan bersama, jangan takut menulis, jangan takut berkarya untuk menyampaikan hal-hal baik yang memungkinkan orang lain mendapat kemanfaatan dari apa yang kita tulis atau kita buat,”pungkas Suripto. (DHI/KIM Sukoharjo)




Gerakan Mahasiswa Peduli Terus Galakkan Kepedulian Terhadap Sesama

Semangat untuk berbagi harus ditumbuhkan sejak awal. Sejak muda, rasa kepedulian terhadap sesama harus sering dikobarkan. Hal tersebut yang menjadi landasan Komunitas Gerakan Mahasiswa Peduli terlibat dalam aktivitas sosial membantu masyarakat dan lingkungan sekitar mereka.

Beberapa diantaranya adalah seperti kegiatan pendistribusian paket bantuan alat penerangan untuk korban bencana Merapi di Cangkringan, pendistribusian paket bantuan kebutuhan dapur untuk korban bencana di Kalimantan Selatan, pengembangan TPA di Kapanewon Ngaglik, dan bantuan pangan untuk masyarakat jalanan di wilayah Sleman.

Hasan Rahmat Kamil, salah satu penggagas komunitas ini menyebutkan bahwa Gerakan Mahasiswa Peduli (GPM) rutin menggelar kegiatan yang bersifat sosial, termasuk dalam hal mengisi bulan ramadan kali ini.

“Di bulan Ramadhan ini, GMP telah menjalankan beberapa progam diantaranya pengajaran santri TPA Masjid Al Muhtadin Ngaglik Sleman, berbagi makan takjil kepada orang jalanan, kajian bersama donatur, dan program mengajar ke TPA Al Amin, Clapar, Kokap, Kulonprogo bersama komunitas .,” terang Hasan, Minggu (2/5/2021).

Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Komunitas GMP adalah bakti sosial dan buka bersama yang digelar pada Minggu (2/5/2021) di Panti Asuhan Baitul Qowwam, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, bekerja sama dengan Sop Empal Maspur, Komunitas Bagiin, dan Kebab Baba Rafi.

GMP sendiri merupakan komunitas mahasiswa yang bergerak di bidang sosial dengan tujuan meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan, terutama yang terdampak bencana. Berdiri pada 15 Desember 2020, GMP juga aktif menjebatani para donatur yang ingin berbagi kepada sesama.

Komunitas yang berdiri atas inisiasi Hasan Rahmat Kamil, Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bersama rekannya Husein Faisal Ridho dari Universitas Islam Indonesia Ini telah memiliki 27 anggota yang berasal dari berbagai kampus di DIY, seperti UGM, UNY, UPN Veteran, UII, STIE YKPN, Amikom, dan Sanata Dharma. (Arief Hartanto)




Kekandhangan Banyuraden Gelar Ngaji Satwa Guna Menjaga Lingkungan Sungai

Komunitas Kekandhangan Banyuraden Kapanewon Gamping menggandeng Yayasan Wahana Gerakan Lestari Indonesia (Wagleri) menyelenggarakan sarasehan bertajuk Ngaji Satwa di Kekandhangan Cokrowijayan, Sabtu (1/5/2021) sore. Sarasehan tersebut diadakan sebagai bentuk kepedulian dalam menjaga kelestarian lingkungan sungai.

Sarasehan yang dipandu oleh Hanif Kurniawan dari Komunitas Kampung Satwa tersebut menghadirkan narasumber Ketua Yayasan Wagleri, Susilo Irwanjasmoro dihadiri sebanyak 20 pegiat lingkungan dan pecinta satwa, serta pegiat sosial masyarakat yang berasal dari Destana Sidomoyo, Forum Pengurangan Resiko Bencana Gamping, Yayasan Shioux, Jogja Free Flight, Geplakan Siap Siaga, Dharma Laku, serta KIM Pararta Guna Gamping.

Dalam diskusinya, Susilo Irwanjasmoro menyampaikan hanya sedikit orang yang benar-benar tergerak untuk menjaga lingkungan hidup. Sebagai tempat tinggal semua makhluk hidup yang ada di muka bumi, termasuk manusia, hewan, dan tumbuhan selayaknya lingkungan hidup untuk dijaga kelestariannya karena lingkungan hidup yang buruk bisa membuat manusia, hewan, dan tumbuhan tak dapat bertahan hidup.

Menurutnya, keberadaan sungai dan air merupakan sumber kehidupan. Untuk itu diperlukan pemeliharaan dan pengelolaan secara serius. Selain pemerintah, komunitas penggiat sungai memiliki peran yang cukup strategis untuk memberdayakan masyarakat yang hidup di sekitarnya.

“Di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat tiga sistem sungai yakni Sistem Opak di bagian timur, Sistem Progo di bagian tengah, dan Sistem Serang di bagian barat. Sungai Code dan Sungai Winongo memiliki spesifikasi yang berbeda-beda. Kondisi tersebut memungkinkan terbentuknya forum atau komunitas di masing-masing sungai karena persoalannya tidak sama antara sungai satu dengan lainnya, mulai dari pemanfaatan, pencemaran maupun budaya masyarakat sekitar,” ungkap Irwan.

Ia menambahkan juga mengenai perlunya suaka ikan dalam sistem sungai guna melestarikan populasi jenis ikan air tawar tertentu di masing-masing sistem sungai. Hal ini bisa terwujud jika sudah dilakukan riset untuk mengIdentifikasi dan menginventarisasi potensi berupa keadaan umum perairan dan keanekaragaman hayati, kealamiahan, keterkaitan ekologis, keterwakilan, keunikan, produktifitas, daerah ruaya, habitat ikan langka, daerah pemijahan ikan serta daerah pengasuhan, data sosial budaya dan ekonomi yang meliputi tingkat dukungan masyarakat serta kebijakan pemerintah daerah yang menunjang penetapan kawasan konservasi perairan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Restorasi Mangrove Berdampak Positif Bagi Pertumbuhan Ekonomi dan Ketahanan Pangan

Dalam upaya pemulihan dan pelestarian mangrove yang tepat dalam mendukung target pengurangan emisi, sekaligus berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi, pariwisata, dan ketahanan pangan maka Social Investment Indonesia (SII) menyelenggarakan diskusi secara daring menggunakan Aplikasi Zoom Cloud Meeting bertajuk Restorasi Mangrove Guna Mendukung Pembangunan Rendah Karbon di Indonesia, Jumat (30/4/ 2021) sore.

Narasumber yang hadir yakni Onrizal, Ph.D, Dosen sekaligus peneliti pada Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara yang membahas keberadaan mangrove dalam menyerap karbon sebagai upaya pencegahan perubahan iklim, Yuli Gunawan selaku Senior Manager Corporate Community PT. Badak Natural Gas Liquefaction yang memaparkan tentang konservasi mangrove, serta I Nyoman Suryadiputra selaku Senior Advisor organisasi nirlaba global Wetlands International Indonesia yang mengupas tentang konsep rehabilitasi mangrove untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan sosial.

Diskusi tentang pembangunan rendah karbon yang dipandu oleh Fajar Kurniawan ini diikuti 300 partisipan yang terdiri dari para akademisi, birokrasi, pegiat lingkungan, lembaga swadaya masyarakat, termasuk kelompok informasi masyarakat yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Sebagai pemantik diskusi, Managing Partner Social Investment Indonesia, Fajar Kurniawan menyampaikan bahwa mangrove merupakan salah satu solusi berbasis alam bagi pembangunan berkelanjutan yang dapat menyimpan dan menyerap karbon jauh lebih banyak dibanding hutan tropis. Di samping itu, pembangunan rendah karbon menempatkan tujuan ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim) sebagai dasar utama untuk mendukung Sustainable Development Goals.

Hal tersebut dikuatkan oleh peneliti dari fakultas kehutanan Universitas Sumatera Utara, Onrizal bahwa restorasi mangrove harus berbasis ilmiah dengan mengintegrasikan aspek ekologi, sosial, ekonomi, dan kelembagaan.

“Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Murdiyarso (2015) mangrove memiliki kapasitas penyimpanan karbon yang tinggi.  Pemanfaatan hutan untuk keperluan yang bersifat destruktif seperti pengambilan kayu juga tidak bisa dihindari karena kayu juga merupakan kebutuhan dari manusia. Sedangkan disisi lain, pohon hidup dapat menyerap dan menyimpan cadangan karbon yang akan semakin meningkat dari waktu ke waktu seiring dengan laju pertambahan biomassanya,” ungkap Onrizal.

Senior Advisor Wetlands International Indonesia, I Nyoman Suryadiputra memberikan percontohan model tambak sylvo-fishery dapat dipadukan dengan kegiatan wisata alam dan kegiatan perekonomian lainnya, seperti budi daya kerang, budi daya tanaman hortikultura di pematang tambak, serta lomba mancing di dalam tambak, sehingga kolam yang dihijaukan memiliki nilai tambah ekonomi. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)