Pendampingan Generasi Muda Menghadapi Peredaran Gelap Narkoba

Depok – Kalurahan Condongcatur telah dicanangkan sebagai Desa Bersinar oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) RI sejak tahun 2018 lalu. Imbas dari itu, mereka pun masif melakukan aksi Program Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Hasilnya, berdasarkan hasil pemetaan Kawasan Rawan Narkoba di DIY oleh BNNP DIY, Kalurahan Condongcatur yang sebelumnya berstatus Waspada saat ini turun menjadi status Siaga per 16 Februari 2021.

Desa Bersinar adalah desa atau kalurahan yang mempunyai kesadaran untuk melindungi masyarakatnya dari bahaya narkoba. Diharapkan Desa Bersinar menjadi wadah yang mengakomodir masyarakat untuk bersama bergerak mencegah penyebaran dan penyalahgunaan narkoba di lingkup terkecil suatu daerah.

Saat ini BNNK Sleman bersama Pemerintah Kalurahan Condongcatur sedang menginisuasi rintisan Padukuhan Bersinar di Padukuhan Kayen dan Padukuhan Gandok. Salah satu upayanya melalui pendampingan generasi muda terhadap peredaran gelap narkoba yang dilaksanakan di Kantor Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Kamis (27/5/2021).

Reno Candra Sangaji, Lurah Condongcatur menyampaikan bahwa Padukuhan Kayen dan Padukuhan Gandok dijadikan padukuhan rintisan berdasarkan hasil pemetaan. “Tempat-tempat yang rawan digunakan untuk peredaran narkoba adalah angkringan, kos-kosan tanpa ada induk semang, kafe, dan tempat tongkrongan anak-anak muda,” ujar Reno di hadapan peserta yang berasal dari Karangtaruna Bhaktiloka Condongcatur dan pemuda pemudi Padukuhan Gandok dan Padukuhan Kayen.

Sementara itu Eko dari Jogja Care House menyampaikan bahwa mengapa orang menggunakan narkoba itu dikarenakan lifestyle (gaya hidup) dan kecanduan. “Tahap awal penggunaan narkoba itu adalah karena rasa ingin tahu, tidak PD (percaya diri), kebutuhan sosial, tuntunan untuk penyakit kronis, dan ada tekanan dari orang lain,” jelas Eko. Adapun Kepala BNNK Sleman AKBP Siti Alfiah menekankan kepada para satgas P4GN di kalurahan untuk aktif memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya narkoba dan memberikan informasi ke BNN terkait adanya penyalahgunaan narkoba.(Wasana/KIM Depok)




Melestarikan Budaya Jawa dengan Latih MC Bahasa Jawa

Depok – Guna melestarikan budaya dan bahasa Jawa, Paguyuban Panatacara Sleman (PPS) Kapanewon Depok menggelar sarasehan Dasar-dasar Public Speaking dan Pamedharsabda (orang yang berbicara di depan publik) di Gedung Wacana Loka, Kompleks Kantor Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Selasa (25/05/2021).

Praktisi MC (master of ceremony) Teguh Subroto dan Rio Wahyusandy menjadi narasumber dalam acara yang dihadiri para anggota paguyuban MC dari 3 kalurahan yang ada di Kapanewon Depok ini.

Aris Cahyadi, Ketua PPS Kapanewon Depok menerangkan bahwa paguyuban yang didirikan tahun 2019 ini memiliki tujuan melestarikan budaya Jawa dan sebagai ujung tombak wadah budaya. “Tahun 2021 ini kita sudah menyusun program kerja antara lain memberikan pemahaman tata cara upacara adat seperti kelahiran, upacara tradisional, pernikahan, ngunduh mantu, dan latihan tembang,” tutur Aris.

Untuk mewujudkan hal ini pengurus dan anggota rajin berkoordinasi dengan kelompok kesenian dan kebudayaan seperti paguyuban kethoprak dan paguyuban macapat. “Untuk itu kami mohon dukungan pemerintah Kapanewon Depok dan 3 kalurahan,” imbuhnya.

Panewu Depok Abu Bakar membuka acara sarasehan ini mengatakan dalam sambutannya bahwa PPS diharapkan bisa merangkul generasi muda. “PPS ini dibentuk tahun 2019 di Kantor Kapanewon Depok, saya harap tahun ini bisa berkembang, bisa diikuti generasi muda,” tutur Abu.

Rio Wahyusandy yang menjadi narasumber pertama menyampaikan materi tentang dasar-dasar public speaking. Menurutnya, materi ini penting agar bisa meningkatkan kepercayaan diri para pembawa acara ketika bertugas. ‘Selain itu agar fasih berbicara dengan baik dan benar, dan banyak yang merasakan keuntungan ketika menguasai publik speaking,” jelas Aris.

Teknik 4W yakni wicara (artikulasi), wirama (intonasi), wiraga (sikap), dan wirasa (penjiwaan) menjadi salah satu teknik ketika berbicara di depan publik dengan Bahasa Jawa.

Sementara itu, Teguh Subroto, narasumber lainnya menambahkan bahwa public speaker setidaknya punya bekal gendhung, yaitu berani dan percaya diri. Selanjutnya gandhang, yaitu berhati-hati ketika berbicara, terlihat oleh pendengar, dan jelas tutur katanya.

“Selain itu juga perlu gendheng, antara lain tidak menyinggung perasaan orang lain sehingga bisa menyakiti perasaan orang lain dan tidak mengemukakan kekurangan orang lain maupun yang punya acara,” jelasnya. Selain itu juga perlu memiliki kemampuan dalam hal gendhing, yakni antara lain sesuai dengan tata bahasa dan sastra, bisa melagukan tembang, dan mengerti gendhing Jawa.(Andri Afriyanto/KIM Depok)




Adaptasi Kelompok Tari Badui Nglengis di Masa Pandemi

Pandemi COVID-19 yang berlangsung hampir dua tahun telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk bidang seni.  Sampai saat ini masih terdapat sejumlah pertunjukan seni yang terpaksa tertunda. Tak terkecuali pada kesenian Tari Badui di Dusun Nglengis, Banyurejo, Tempel.

Kesenian Badui Nglengis yang bernama Badui Sabilul Muslimin ini merupakan tari tradisional yang berisi selawat Nabi. Seni yang pada mulanya sebagai sarana penyebaran syiar Agama Islam, hingga berkembang sebagai sarana hiburan dan media memupuk bakat pemuda ini seakan bertiarap.

Suryanto, Koordinator Badui Nglengis mengakui bahwasanya sejak awal pandemi berlangsung semua kegiatan kesenian langsung dihentikan total. Keputusan tersebut dipilih sebagai bentuk ketaatan masyarakat setempat kepada aturan pemerintah agar tidak membuat kerumunan.

“Memang beberapa kali kita diminta, cuma karena faktor kesehatan kita tunda. Semua vakum karena lebih mengedepankan 5M prokes,” ujarnya ketika mengisi Acara Pentas Seni Atraksi Event Khusus Danais di Taman Kaliurang, Kabupaten Sleman, Selasa (25/5/2021).

Pentas Seni Atraksi Event Khusus Danais dalam Rangka Hari Jadi Kabupaten Sleman ke-105 yang digelar Dinas Pariwisata Sleman di Taman Kaliurang kali ini seakan membawa angin segar kembali pada Kesenian Tari Badui Nglengis untuk kembali berkreasi.

“Sejak mulai pandemi baru kali ini kita tampil lagi. Alhamdulillah sebagai pelaku seni kita cukup senang karena punya media untuk menampilkan potensi seni lagi,” ungkap Suryanto.

Secara konsep umum pementasan, Badui Nglengis minimal melibatkan 16 pemain yang saling berpasangan dan berbaris. Mengingat melibatkan pemain banyak, di era new normal kali ini rencana adaptasi pementasan mulai disesuaikan.

Suryanto mewakili kelompok kesenian Tari Badui Sabilul Muslimin menuturkan siap menyesuaikan dengan aturan protokol kesehatan selama pandemi jika melakukan pementasan kembali.

“Kalau pengurangan jumlah pemain tidak mempengaruhi gerakan. Yang terpengaruh itu pola lantai, karena beberapa lagu memiliki pola lantainya kita set khusus, seperti setting latihan perang. Tapi kita akan menyesuaikan dengan situasi kedepan,” terang dia.

Guna mendukung pelaku kesenian untuk berkarya kembali di pementasan, dukungan semua lapisan masyarakat amat diperlukan. Sejalan dengan itu, Suryanto berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah.

“Kami secara khusus meomohon perhatian pada masyarakat, pelaku seni lain, terlebih pemerintah. Kami juga berharap ada tawaran pementasan lagi kedepannya,” pintanya. (Rep Afiqa)




Margoagung Dipercaya Menjadi Pilot Project Puspaga Sleman

Kalurahan Margoagung yang berada di Kapanewon Seyegan terpilih menjadi salah satu Kalurahan yang menjadi Pilot Project Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Kabupaten Sleman. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Sumarni, Kepala Seksi Pemenuhan Hak Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sleman dalam Bimbingan Teknis Rencana Kerja Puspaga di Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan, Senin (24/5/2021).

Sumarni menyebutkan bahwa Margoagung sebagai Pilot Project Puspaga memiliki potensi sumber daya manusia dan konsistensi untuk tugas layanan konseling, salah satu hal penting yang harus diperhatikan sebagai Puspaga. Selain konseling, Sumarni juga menyebutkan bahwa daerah Pilot Project juga harus mempersiapkan fasilitas lainnya seperti tempat konseling, perangkat administrasi, sarpras, dan papan nama.

“Yang segera disiapkan adalah jadwal layanan, jadwal pertemuan rutin pengurus, dan mengoptimalkan kelompok binaan yang sudah terbentuk yaitu kelompok keluarga 2P (Pelopor dan Pelapor),” ujar Sumarni.

Puspaga sendiri menurut Sumarni adalah skrining awal permasalahan keluarga, sehingga Puspaga memiliki wewenang untuk memberika rujukan kepada klien ke UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).

“Puspaga diibaratkan sebagai vitamin yang menjaga agar tidak terlanjur sakit. Puspaga adalah pemantik dengan semangat gercep dalam penanganan permasalahan di masyarakat,” terang Sumarni.

Pada kesempatan tersebut juga diberikan Modul Pengasuhan kepada para peserta Bimtek. Nantinya, para peserta juga akan dibekali dengan simulasi pengasuhan anak.

Sementara itu, Djarwo Suharto, Lurah Margoagung menyambut baik dipercayanya Margoagung sebagai daerah Pilot Project Puspaga Kabupaten Sleman. Djarwo menambahkan agar kesempatan ini dapat dimanfaatkan secara maksimal, dan dapat mengoptimalkan dana yang tersedia. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Dispora Sleman Gelar Pelatihan Dekorasi Manten bagi Pemuda Margodadi

Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Sleman mengadakan pelatihan Dekorasi Manten Bagi Pemuda di Balai Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan. Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari yaitu Kamis (20/5/2021), Jumat (21/5/2021), dan Senin (24/5/2021) tersebut diikuti oleh 25 peserta dari perwakilan Karang Taruna Dusun yang berada di Kalurahan Margodadi.

Panewu Seyegan, Budi Pramono yang membuka kegiatan pelatihan menyatakan bahwa pelatihan ini merupakan realisasi salah satu usulan dari Musrenbang Kapanewon Seyegan, yang terdapat dalam Pagu Usulan Partisipasi Masyarakat (PUPM), sehingga dasarnya adalah kebutuhan.

“Artinya dengan kegiatan yang diusulkan tersebut bagaimana kita mengasah jiwa kewirausahaan sehingga pasca pelatihan diharapkan ada tumbuh jiwa entrepreneur untuk memasuki dunia industri,” ujar Budi.

Keterampilan yang didapat dari pelatihan yang diadakan menurut Budi dapat dimanfaatka untuk membantu orang lain.

Sementara itu, Kepala Dispora Kabupaten Sleman, Agung Armawanta yang datang pada acara pelatihan berharap para peserta dapat mengambil dan menularkan ilmu yang didapat dari pelatihan yang diadakan, sebagai seorang profesional.

“Karena untuk menjadi profesional tidak harus menguasai banyak hal, tapi cukup satu atau dua hal yang dikuasai dengan baik,” ungkap Agung.

Pelatihan sendiri menghadirkan dua narasumber dari penyuluh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman, yaitu Marsaid dan Wayan Putu Sari.

Materi yang disampaikan juga beragam, seperti mengenal berbagai macam dekorasi mantn, dan praktik pembuatan penjor, pajagen, kembar mayang, dan tarub.

Terakhir, narasumber juga memberikan evaluasi terhadap hasil dari hasil karya para peserta pelatihan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)