Pengembangan Ponpes untuk Mencetak Generasi Terbaik

Depok – Lurah Condongcatur secara simbolis melakukan pemasangan pertama bata ringan pembangunan Gedung Tahfidzul Qur-an Sekolah Tinggi Ilmu Alquran di Pondok Pesantren (Ponpes) Wahid Hasyim, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Selasa (29/6/2021).

Dalam sambutannya Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji menyampaikan bahwa Ponpes Wahid Hasyim adalah pencetak generasi umat terbaik dengan santri-santrinya yang banyak berasal dari seluruh wilayah Indonesia. “Pengembangan dan pembangunan pondok harus didukung di tengah gencarnya pembangunan bangunan komersil lainnya seperti hotel, kos-kosan dan lainnya. Pondok pesantren yang ada di wilayah Condongcatur ini dapat sebagai penyeimbang,” kata Reno.

Jumlah santri Ponpes Wahid Hasyim saat ini sudah mencapai 2600 santri yang berasal dari berbagai daerah, namun karena pandemi Covid-19 mereka belajar via daring dari tempat asalnya masing-masing.

Sementara pengasuh Ponpes Wahid Hasyim KH. Jalal Suyuthi memohon doa restu semoga pembangunan ini senantiasa diberi kelancaran sehingga tahun ajaran baru nanti seiring kedatangan para santri proses pembangunan sudah dapat dinikmati dan bisa digunakan untuk kegiatan pendidikan dan kajian Alquran.

“Kami juga mempunyai harapan bahwa pondok yang dinamakan Daarul Quran ini nantinya sebagai tempat asrama bagi para santri penghafal Alquran untuk tingkatan perguruan tinggi sehingga para santrinya dapat memberikan manfaat untuk masyarakat dan mampu menerapkan ajaran perintah menomorsatukan Allah dan membuat orang lain terhormat,” ujar KH. Jalal.

Ponpes Wahid Hasyim ini sudah berdiri sejak 11 Maret 1977. Wahid Hasyim adalah sebuah nama yang diberikan oleh KH. Abdul Hadi As-Syafii sebagai pendiri.

Untuk mendukung tujuan ponpes yang bertujuan mewujudkan santri yang mempunyai intelektualitas keagamaan yang luas dan juga berdedikasi tinggi dengan didasari akhlaqul karimah, pada 12 Oktober 1994, ponpes ini resmi berbadan hukum dengan dibentuknya Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim.

Ponpes Wahid Hasyim merupakan lembaga pendidikan Islam modern berbasis penanaman akhlaqul karimah, program tahfidz Alquran, pengembangan kemampuan berbahasa asing (Arab-Inggris), dan pengembangan keterampilan penguasaan Kitab At-Turats (Kitab Kuning).

Dengan misi menyelenggarakan pendidikan formal dan non formal, melaksanakan pengabdian melalui pembinaan keagamaan dan pemberdayaan ekonomi santri dan masyarakat, sebagai lembaga pendidikan dan sosial kemasyarakatan Wahid Hasyim kini menjadi salah satu institut pendidikan modern dan sosial keagamaan terkemuka di Yogyakarta. (Wasana/KIM Depok)




Angka Positif COVID-19 Meningkat, Bupati Sleman Ajak Masyarakat “Sesarengan Jogo Sleman”

Dalam dua minggu terakhir, kasus positif COVID-19 di Kabupaten Sleman mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Kenaikan angka penularan ini terjadi salah satunya disebabkan dengan masih maraknya berbagai aktifitas kegiatan di tengah-tengah masyarakat. Berangkat dari fenomena tersebut, Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo membuat Gerakan “Sesarengan Jogo Sleman”. Melalui gerakan ini, mengimbau masyarakat Sleman untuk berada di rumah saja selama satu minggu.

Gerakan ini juga sekaligus mengedukasi kepada masyarakat untuk menahan diri dari segala aktifitas sekunder maupun tersier. Gerakan “Sesarengan Jogo Sleman” merupakan problem solving dari evaluasi penularan dan penyebaran virus COVID-19 di Bumi Sembada. Masyarakat dinilai masih melakukan aktifitas yang tidak terlalu mendesak dan sering berkerumun.

Apalagi tingkat kesadaran masyarakat untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap aktifitas juga mengalami penurunan. Hal ini semakin memicu timbulnya penularan yang lebih massif dan tidak dapat dikendalikan.

“Tentu kita berharap jika ada keperluan yang sangat mendesak dan harus keluar, agar masyarakat tetap memakai prokes dengan ketat. Disiplin pakai masker, disiplin menjaga jarak dan disiplin mencuci tangan,” terang Kustini ketika ditemui di Kantornya yang berada di Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman, Senin (28/6/2021)

Melalui gerakan ini, Kustini Sri Purnomo meminta Panewu, Lurah, Tokoh Masyarakat, Kader Karang Taruna hingga PKK bisa membantu mensosialisasikan gerakan “Sesarengan Jogo Sleman” sekaligus memberikan contoh. Dengan kepemimpinan yang tepat dan gerakan gotong royong ini, diharapkan penyebaran virus covid-19 bisa dihentikan.

Gerakan “Sesarengan Jogo Sleman” juga selaras dengan Surat Nomor 443/01746 perihal Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Lingkungan Perkantoran yang baru saja diterbitkan. Dalam surat tersebut, mengatur semua pembatasan aktifitas kegiatan dan layanan yang semula lebih sering secara tatap muka, kemudian dioptimalkan melalui online.

Aktifitas seperti rapat, seminar. sosialisasi. bimtek, diklat dan sejenisnya agar dilaksanakan secara daring. Pelayanan umum juga akan dioptimalkan secara online dan jam pelayanan dibatasi. Ketentuan kegiatan dan layanan tersebut dilaksanakan hingga tanggal 30 Juli 2021 mendatang. (Humas Sleman)




Kasus COVID-19 di Kabupaten Sleman Alami Lonjakan di Bulan Juni

Sleman – Kasus COVID-19 di wilayah Kabupaten Sleman terus mengalami kenaikan. Lonjakan jumlah kasus COVID-19 di Sleman pada bulan Juni 2021 mencapai kasus positif. Jumlah tersebut mengalahkan jumlah kasus pada pada bulan Januari 2021 yaitu sekitar kasus.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman, Joko Hastaryo dalam konferensi pers yang diselenggarakan secara daring menjelaskan bahwa lonjakan kasus COVID-19 yang tinggi pada bulan Juni 2021 ini melenceng dari prediksi yang telah diperkirakan.

“Ini (lonjakan kasus COVID-19) diprediksi sama seperti yang terjadi pada sebelumnya yaitu puncak kasus COVID-19 pada bulan Januari 2021 dengan jumlah kasus sekitar kasus. Antisipasi telah dipersiapkan dari mulai penambahan fasilitas penanganan COVID-19 di Rumah Sakit dan lainnya sesuai rekomendasi pusat. Namun kenyataanya, lonjakkan kasus di bulan Juni ini lebih tinggi dari bulan Januari bahkan hampir dua kali lipat,” jelasnya dalam jumpa pers yang dilakukan secara daring via Aplikasi Zoom Meeting, Senin (28/6/2021).

Joko menuturkan, penyebab adanya lonjakan kasus COVID-19 di Kabupaten Sleman seperti ini telah diprediksi sebelumnya, yaitu pengaruh adanya libur lebaran selama 5 hari. Joko menilai pada libur lebaran atau cuti bersama tersebut, sebagian masyarakat memanfaatkannya untuk bepergian dan tidak diam di rumah. Hal tersebut menurut Joko menjadi salah satu penyebab melonjaknya kasus positif di Sleman.

“Penyebab lain dari adanya lonjakan ini pada kenyataannya aktivitas masyarakat tidak menurun bahkan cenderung meningkat. Semua aktivitas tersebut akan sangat berkaitan dengan peningkatan kasus COVID-19,” ujar Joko.

Di samping itu, lonjakan kasus COVID-19 yang tinggi ini juga sangat berpengaruh kepada sejumlah Rumah Sakit yang berada di wilayah Kabupaten Sleman yang menangani kasus COVID-19.

Direktur RSUD Sleman, Cahya Purnama menuturkan bahwa kapasitas ruang penanganan bagi kasus COVID-19 telah terisi hingga 95 persen. Bahkan, RSUD Sleman sempat menutup layanan IGD bagi penanganan COVID-19 dikarenakan kapasitas yang terbatas akibat adanya lonjakan tersebut.

“Dikarenakan keterbatasan kapasitas, layanan IGD bagi penanganan Covid-19 sempat ditutup. Namun untuk pelayanan poli dan lainnya masih dibuka,” jelasnya.

Cahya mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya untuk melakukan penambahan kapasitas bagi layanan COVID-19.

“Kami akan upayakan (penambahan kapasitas), rencana akan membuka satu bangsal untuk penanganan COVID-19. Namun tentunya hal tersebut tidak mudah karena harus dipertimbangkan untuk SDM-nya,” ungkap Cahya.

Lonjakan kasus COVID-19 ini menurut Cahya juga berpengaruh kepada pemenuhan kebutuhan oksigen. Dalam kondisi normal, RSUD Sleman menghabiskan 40 tabung oksigen setiap harinya. Saat ini, kebutuhan tabung oksigen di RSUD Sleman mencapai 90 sampai 100 tabung per-harinya.

“Saat ini kebutuhan oksigen dipenuhi dari hari ke hari. Artinya setiap hari kami mencari untuk ketersediaan oksigen di RSUD Sleman. Secara umum ketersediaan masih mencukupi,” ungkapnya.

Hal senada diutarakan oleh Direktur RSUD Prambanan, Isa Dharmawidjaja yang turut serta sebagai narasumber dalam konferensi pers yang diselenggarakan secara daring.

Dalam kesempatan tersebut, Isa menjelaskan bahwa untuk memenuhi kebutuhan peggunaan oksigen di RSUD Prambanan, pihaknya memakai dua sampai tiga vendor penyedia untuk mengisi ketersediaan oksigen.

Isa menyebut secara umum ketersediaan oksigen di RSUD Prambanan masih mencukupi untuk satu minggu ke depan. Sementara untuk kapasitas penanganan COVID-19, Isa mengungkapkan bahwa kapasitas ruang di RSUD Prambanan bagi penanganan COVID-19 telah terisi 100 persen.

“Adanya lonjakan kasus Covid-19 cukup membuat kondisi di RSUD Prambanan ramai (permintaan penanganan COVID-19). Sehingga kami mengalami kendala keterbatasan tempat,” katanya.

Adanya lonjakan COVID-19 diakui Isa mengharuskan pihaknya menerapkan strategi lain. Isa menuturkan adanya perubahan fungsi dari beberapa ruangan di RSUD Prambanan yaitu ruang IGD non-COVID19 menjadi ruang isolasi COVID-19. Sementara ruang poli dirubah menjadi IGD penanganan Covid-19. Adapun IGD non-COVID19 dipindah ke dalam tenda yang disiapkan terpisah dari lokasi penanganan COVID-19.

Sementara itu Ketua PERSI (Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indoneisa) DIY dr. Darwinto, SP.B (onk) yang juga menjadi narasumber dalam jumpa pers ini mengemukakan pentingnya shelter isolasi mandiri di setiap Kalurahan, sebagai langkah untuk mengatasi meningkatnya angka positif COVID-19.

“Pendirian shelter dapat dilakukan secara gotong-royong masyarakat, karenq gotong-royong merupakan budaya bangsa kita yang masih dijunjung tinggi sampai saat ini. Ini tanggung jawab bersama perlu kepedulian bersama dan kesadaran yang tinggi untuk mengatasinya,” ujar Darwinto.