Panewu Cangkringan Apresiasi Warga yang Taat Pajak

Panewu Cangkringan, Suparmono mengapresiasi warga Cangkringan yang taat dalam memenuhi kewajiban mereka dalam pelunasan awal PBB. Hal tersebut disampaikannya dalam Evaluasi Intensifikasi Penagihan PBB P2 yang digelar di Rumah Makan Moro Lejar, Kapanewon Cangkringan, Kamis (17/6/2021).

Menurut Suparmono, kesadaran warga dalam lunas awal PBB tersebut merupakan hasil kerja sama antara warga dan perangkat kalurahan yang saling mengingatkan mengenai kewajiban masing-masing.

“Semoga bisa menjadi contoh dalam kebaikan, termasuk dalam pelunasan PBB ini,” ungkap Suparmono.

Hal senada juga disampaikan oleh Lurah Argomulyo, Danang Hendri Bintoro. Ia menggarisbawahi peran para dukuh yang berperan besar dalam kegiatan pembayaran PBB secara kolektif, sehingga pelunasan pajak dapat dicapai lunas awal.

Kusniati, Kepala Bidang Penagihan dan Pengembangan BKAD Kabupaten Sleman menyebutkan ada 8 kalurahan di seluruh Sleman yang lunas awal PBB.

“5 kalurahan berasal dari Cangkringan. Untuk itu saya mengucapkan terimakasih untuk peran seluruh warga dan perangkat kalurahan,” ucap Kusniati.

Ia berharap, prestasi yang dicapai oleh Kapanewon Cangkringan ini dapat diikuti oleh seluruh kalurahan dan kapanewon yang berada di Kabupaten Sleman.

“BKAD masih akan terus memperbaharui data wajib pajak sehingga nantinya akan didapati data dengan akurasi yang mendekati sempurna, oleh karena itu peran dari seluruh warga, Dukuh, Lurah, dan Panewu sangat diharapkan, agar semua bisa tercapai target,” tambahnya. (Marman/KIM Cangkringan)




KIM Harus Paham Karakteristik Jurnalistik Online Sebelum Menulis Berita

Guna meningkatkan kompetensi Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) sebagai corong komunikasi bagi masyarakat khususnya dalam meningkatkan keahlian teknis yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai kanal media sosial dan pembuatan konten positif, maka Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, khususnya Direktorat Tata Kelola dan Kemitraan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menyelenggarakan kegiatan bimbingan teknis (Bimtek) bagi KIM dengan tema “Transformasi Menuju KIM Digital” yang diselenggarakan secara virtual melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting, Kamis (17/6/2021).

Kegiatan Bimtek diikuti oleh 223 orang perwakilan KIM Kabupaten/Kota yang berasal dari 34 Provinsi di Indonesia termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta yang diwakili oleh KIM Sembada Kabupaten Sleman yang telah lolos registrasi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.

Hadir sebagai narasumber yakni Content Creator Youtuber Indonesia, Thomas Herda bersama Direktur Konten PT. Trans Digital Media (Detik Network) sekaligus mantan pembaca berita TV nasional, Alfito Deannova Gintings, dan Wicaksono Ndoro Kakung selaku Communication and Social Media Consultant.

Salah satu materi bimtek tentang penulisan jurnalistik online yang dipaparkan Alfito Deannova Gintings. Ia mengatakan sebelum menulis pegiat KIM harus mengetahui karakteristik jurnalistik online terlebih dahulu diantaranya berita selalu update dan aktual serta bisa diberitakan saat kejadian berlangsung atau beberapa detik setelah peristiwa, berita dapat disebar dan diakses kapan saja, dimana saja, 24 jam nonstop, baik berita lama maupun baru, berupa ratusan halaman terkait satu sama lain yang bisa dibuka sendiri, menyajikan gabungan teks, gambar, audio, video, dan grafis sekaligus, serta pembaca yang lebih luas selama terjangkau koneksi internet plus perangkat computer dan gadget.

“Karakteristik media dan kebiasaan membaca online membuat tulisan harus disajikan secara ringkas, lugas dan nyaman dimata pembaca, sehingga teknik penulisan untuk media online atau media digital berbeda dengan menulis untuk media konvensional. Perbedaan ini disebabkan karena perbedaan medium dan cara atau kebiasaan pembaca,” tegas Alfito.

Selain itu pengguna media online membaca secara cepat, utamanya karena faktor daya tahan mata atau ketahanan membaca di depan monitor terbatas, ada juga isu soal biaya yang dikeluarkan untuk beli quota.

“Membaca teks di media online juga bukan membaca dalam pengertian membaca di media cetak, tapi lebih memindai. Mata pembaca menyapa lebih dulu tampilan teks dan akan memilih yang paling menarik untuk dibaca. Saat memindai, sekitar 80% memindai dari kiri atas ke kanan, lalu gambar, grafis, dan desain. Yang 20% lagi membaca kata demi kata, judul, anak judul, kutipan, teks boks, serta huruf tebal, miring, dan huruf berwarna,” terang Alfito. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Sosialisasi Bhinneka Tunggal Ika Tumbuhkan Toleransi Masyarakat

Dalam rangka menggerakkan dan mewujudkan kehidupan bersama yang rukun dan damai tanpa membedakan Suku, Ras, Agama (SARA) dan Golongan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) DIY menggelar kegiatan sosialisasi Bhinneka Tunggal Ika dengan tema ‘Pemahaman Nilai-Nilai Bhinneka Tunggal Ika Dalam Bingkai Keistimewaan DIY’ yang dilaksanakan di Ruang Rapat Lantai II Kantor Kapanewon Gamping, Selasa (15/6/2021).

Sosialisasi Pilar kebangsaan ini dihadiri oleh Kepala Sub Bidang Ketahanan Sosial Budaya Bakesbangpol DIY, Markus Suardiman, Dosen Universitas Kristen Duta Wacana, Retno Dwi Hastuti, serta Kepala Jawatan Keamanan Kapanewon Gamping, Harley Joshua.

Dalam paparannya, Markus Suardiman menjelaskan bahwa DIY merupakan salah satu daerah istimewa di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki masyarakat dengan berbagai latar belakang agama, suku, dan budaya. Sehingga rasa kebhinnekaan Tunggal Ika dinilai sangat penting untuk terus dipupuk dan aplikasikan dalam setiap sendi-sendi kehidupan.

“Tujuan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah mempersatukan bangsa Indonesia, mempertahankan kesatuan bangsa, meminimalisir konflik atas kepentingan pribadi atau kelompok serta mencapai cita-cita negara Indonesia,” lanjut Markus.

Menurut Matkus, seringkali interaksi dari keberagaman tersebut menimbulkan gesekan-gesekan di tengah masyarakat ditambah dengan pesatnya intensitas komunikasi global tidak jarang gesekan-gesekan tersebut berujung pada konflik horisontal yang bersifat SARA dan memunculkan berbagai potensi konflik di Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Adapun cara menyikapi keberagaman adalah dengan menerapkan toleransi. Karena toleransi merupakan cara menghargai dan menerima perbedaan atas berbagai perilaku, budaya, agama, dan ras yang ada di dunia ini. Selain itu, toleransi adalah keniscayaan bagi bangsa majemuk dengan berbagai latar belakang suku, agama dan ras seperti Indonesia,” imbuhnya.

Hal senada juga dikemukakan oleh Retno Dwi Hastuti dalam materinya praktek Bhinneka Tunggal Ika dalam memperkuat persatuan Indonesia bahwa nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara antara lain toleransi, gotong royong, kerukunan, dan keadilan. Hal ini perlu dipupuk dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat sebagai kearifan local guna menangkal ancaman ke-Bhinneka Tunggal Ika-an.

“Ancaman yang menimbulkan perpecahan berupa sentimen identitas (SARA), perbedaan pandangan politik, konflik kepentingan, kesenjangan social dan ekonomi, serta penggunaan teknologi komunikasi yang tidak bijak,” tegas Retno. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Pemilihan secara e-Voting Aman dan Cepat

Ngaglik – Untuk meningkatkan pemahaman terhadap tatacara pemungutan suara secara e-voting, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Sleman menggelar sosialisasi dan simulasi e-voting Pemilihan Lurah Serentak tahun 2021.
Sosialisasi dan simulasi ini dilaksanakan secara maraton di 35 kalurahan yang tersebar di 17 kapanewon di wilayah Kabupaten Sleman.

Pemilihan lurah secara elektronik tahun ini akan dilakukan di 35 kalurahan, setelah sebelumnya sebanyak 49 kalurahan sukses pertama kali menggelar acara yang sama pada 20 Desember 2020 lalu.

Agung Indarto, Kepala Bidang Pengembangan Kelembagaan dan Aparatur Kalurahan Dinas PMK Sleman menyatakan dari sisi kerahasiaan pemilihan lurah secara e-voting ini dijamin aman karena yang dicantumkan di struk pilihan hanya hari dan tanggal saja sedangkan jam berapa tidak ada.

“Alat pemungutan suara e-voting ini bekerja dengan offline, tidak terhubung dengan internet, sehingga kekhawatiran terhadap data yang direkayasa atau dibajak oleh pihak tertentu tidak akan terjadi,” kata Agung saat memberikan sosialisasi pemilihan lurah secara elektronik di Aula Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Senin (14/06/2021).

Agung pun mengungkapkan dari segi rekapitulasi suara lebih cepat dan praktis karena perolehan suara masing-masing calon lurah langsung dicetak dan dalam
hitungan menit perolehan suara masing-masing kontestan sudah bisa diketahui. “Pada hari itu juga sudah bisa diketahui dan ditetapkan siapa calon lurah terpilih. Dengan kata lain e-voting lebih cerdas, praktis, cepat dan akurat,” jelas Agung.

Seandainya listrik mati pada saat pemungutan suara di TPS telah disediakan UPS (Uninterruptible Power Supply) yaitu alat untuk cadangan listrik yang bisa bertahan sekitar 10-15 menit sehingga komputer akan terus menyala pada saat UPS bekerja. Di masing-masing TPS juga akan disediakan genset yang bisa dipakai sebagai tenaga listrik cadangan.

Dalam sosialisasi ini, semua peserta yang juga merupakan calon pemilih dan terdiri dari beberapa unsur seperti perwakilan karang taruna, PKK, lansia, dan tokoh masyarakat diperkenankan untuk mencoba alat pemungutan suara e-voting tersebut.

Agung berharap agar semua elemen masyarakat yang hadir pada sosialisasi ini berperan aktif untuk menyebarluaskan tatacara pemungutan suara e-voting kepada masyarakat agar pemilihan lurah serentak tanggal 22 Agustus 2021 nanti berjalan dengan sukses. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Daerah Harus Sadar Wisata untuk Kembangkan Sektor Wisata

Sebuah daerah harus memiliki kesadaran akan potensi yang dimiliki. Hal tersebut yang disampaikan oleh Endang Widyanti, Akademisi dari STIE Pariwisata API Yogyakarta pada saat memberikan materi mengenai Pembinaan Desa Wisata di Dusun Cibuk Kidul, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Selasa (15/6/2021).

Salah satu potensi wisata yang dimiliki oleh Dusun Cibuk Kidul adalah potensi pengembangan Mina Padi. Menurut Endang, Cibuk Kidul mempunyai banyak kelebihan dalam menjaga kualitas lingkungan dan menghasilkan padi dengan kualitas organik. Hal tersebut termasuk potensi Cibuk Kidul sebagai desa wisata berbasis Mina Padi.

“Sebagai desa wisata haruslah mempunyai potensi dan keunikan dalam kehidupan dan tradisi masyarakat. Potensi keunikan inilah yang merupakan daya tarik wisata yang khas,” ujar Endang.

Dalam mengembangkan desa wisata seperti Cibuk Kiduk ini juga kata Endang harus dilakukan secara berkelanjutan dengan membentuk keharmonisan semua pihak, yaitu masyarakat lokal, wisatawan, dan pelaku usaha.

“Partisipasi, dukungan masyarakat dan masyarakat sebagai Host (tuan rumah) maupun sebagai Guest (wisatawan) menuju pada konsep sadar wisata yang harus dijalankan,” ungkap Endang.

Terbentuknya sadar wisata nantinya akan mendukung terciptanya Sapta Pesona yang dibuktikan dengan peningkatan kunjungan wisata, kegiatan pariwisata yang tumbuh, dan peningkatan peluang kerja.

Endang juga menggarisbawahi mengenai efisiensi manajemen dalam mengembangkan sebuah daerah wisata. “Diharapkan adanya pengelolaan sumberdaya yang efisien dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan,” jelas Endang lagi.

Manajemen tersebut harus memperhatikan produk wisata seperti atraksi, aksebilitas (sarana), amenitas (fasilitas pendukung), dan kelembagaan untuk sukses mengembangkan sebuah daerah wisata.

“Selain unsur Panthelix seperti kerja sama antara akademisi, media, pemerintah, industri, dan komunitas,” tutur Endang.

Sementara itu, Nyoman Rai Savitri, Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Usaha Pariwisata menyebutkan bahwa sebuah desa wisata harus siap memberikan sesuatu yang unik dan khas dari daerahnya. “Karena banyak sekali desa wisata yang produknya sama. Ini yang menjadi permasalahan karena tidak menjual sesuaitu yang khas dan unik,” ungkap Savitri.

Savitri juga mengharapkan desa wisata dapat berkolaborasi dengan BUMDes yang telah berdiri, seperti menjadikan tempat wisata sebagai salah satu unit desa wisata. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)