Manfaatkan Lahan Pekarangan untuk Budi Daya Tanaman Holtikultura

Budi daya tanaman hortikultura memanfaatkan lahan perkarangan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan dan ketahanan pangan keluarga. Hal tersebut yang menjadi alasan utama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi D.I. Yogyakarta mengadakan bimbingan teknis pada anggota Kelompok Tani Ngudi Rejeki, Jumat (11/6/2021).

Bertempat di Sekretariat Kelompok Tani Ngudi Rejeki, Ngaggrung Lor, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, kegiatan bimtek yang diikuti oleh 25 anggota kelompok Tani Ngudi Rejeki tersebut menghadirkan narasumber dari Dinas Pertanian DIY. Selain itu, kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Hanum Rais, Anggota DPRD DIY.

Bimtek sendiri memberikan beberapa materi penting mengenai pengembangan tanaman hortikultura. Materi yang diberikan antara lain meliputi strategi peningkatan produksi tanaman hortikultura (sayuran dan buah-buahan), kebijakan pengembangan holtikultura di DIY, dan dukungan anggaran pengembangan tanaman holtikultura.

Pelaksanaan Bimtek mendapatkan reaksi positif dari para peserta. Edy, seorang anggota kelompok tani yang menjadi peserta menuturkan bahwa pelaksanaan bimtek ini dapat menambah pengetahuan dan inovasi baru para petani. Ia juga berharap agar anggota dewan yang hadir dapat lebih memperhatikan para petani di Sleman.

“Semoga kedepannya ada solusi dan langkah konkret demi kemajuan pertanian di Sleman,” ujar Edy.

Sementara itu, Hanum Rais memberikan apresiasinya atas pelaksanaan Bimtek yang diadakan oleh Dinas Pertanian DIY ini. Ia berharap bimtek yang diadakan ini dapat meningkatkan kemampuan dan kapasitas petani dalam mengembangkan skill dan kemampuan mereka.

“Demi peningkatan kesejahteraan serta untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitas penyuluh pertanian dalam transfer teknologi kepada petani sehingga dapat bekerja secara profesional dan mandiri,” ungkap Hanum.

Pada kesempatan tersebut, Hanum juga menyerahkan bantuan secara simbolis berupa bibit buah alpukat, cabai, terong, pare, sawi, media tanam, serta pipuk kepada perwakilan Kelompok Tani Ngudi Rejeki. (Arief Hartanto)




Konservasi Burung Hantu Bantu Basmi Hama Tikus di Cancangan

Hama tikus menjadi salah satu musibah yang tak dapat terhindarkan para petani dalam mengelola pertanian. Sebagai predator alami tikus, burung hantu dapat berperan penting dalam keberhasilan hasil pertanian dengan mencegah dan menanggulangi hama tikus yang melanda.

Para petani di Dusun Cancangan, Wukisari, Cangkringan, Sleman yang bekerjasama dengan Rapor Club Infonesia (RCI) telah membuktikan keberhasilan pertanian dengan penggunaan burung hantu dalam membasmi hama tikus.

Lim Wen Sin, Wakil Ketua RCI sekaligus Koordinator Program Burung Hantu Sahabat Petani mengatakan, program yang dimulai pada 2013 ini dimaksudkan guna melindungi populasi burung hantu Serak Jawa (Tyto alba javanica) yang digunakan sebagai pemburu tikus.

“Jenis Tyto alba dipilih karena dari literatur dan riset kita tahun 2009, 90 sampai 95% makanan utamanya adalah tikus. Sekenyang apapun, mereka masih menyempatkan memburu tikus,” jelasnya ditemui di Kawasan Studi dan Konservasi Burung Hantu Serak Jawa di Dusun Cancangan, Kabupaten Sleman. Jumat (11/6/2021).

Di lahan seluas 11 sampai 12 Hektare secara adminsitarasi itu, 11 pasang burung hantu tinggal di 14 sarang yang disediakan. Burung hantu yang berjumlah 11 pasang tersebut berhasil menangani hama tikus hingga seluas 47 Hektare sawah warga.

Setiap tahunnya, kata Lim, kerap masuk burung hantu yang memerlukan evakuasi. Baru-baru ini terdapat buruh hantu dari Pleret yang lemas. Dalam perawatan dan penangkaran burung hantu hingga memiliki keturunan memakan lebih dari 4 jutaan yang berasal dari dana pribadi anggota.

Lim mengaku berbagai macam kendala dihadapi dalam mengurus konservasi ini. Mulai dari perburuan, lokasi, dan penggunaan racun tikus. Pasalnya, penggunaan racun kerap turut serta meracun predator alami tikus seperti burung hantu, ular, dan musang.

“Yang jelas perburuan dari wilayah lain. Kemudian kesulitan daerah lain untuk mereplikasi karena kebiasaan masyarakat bergantung dengan subsidi pupuk dari Pemerintah. Lalu lokasi yang berundak, tapi untuk itu kita sudah mengatasinya dengan memasang sarang dengan tinggi 5m ke atas dengan jarak antar sarang lebih dekat,” ungkapnya.

Rencananya, Lim ingin menyosialisasikan burung hantu sebagai predator alami membunuh tikus sawah di daerah lain secara lebih masif. Ia menargetkan, pada tahun ini penggunaan tiang kayu untuk sarang akan diganti penuh dengan besi. Selain itu, reuse lemari pendingin juga menjadi rencananya mengganti sarang burung hantu.

Lebih lanjut, terkait adanya mitos Jawa bahwa burung hantu melambangkan keburukan dan petaka, ia lebih memilih acuh. “Kalau kita simpulkan iya membawa petaka, tapi buat siapa dulu. Sebutan burung hantu itu Gondol Nyawa, nyawa tikus apa orang. Kita lebih mencoba positif, setelah ada manfaatnya ternyata tifak ada apa-apa,” ujar Lim.

Sejalan dengan itu, Adi (85) sebagai salah satu petani dusun Cancangan pun tak sedikitpun khawatir dengan adanya mitos itu. Justru penggunaan metode burung hantu dalam membasmi tikus ini dinilai cukup efektif.

“Terkait mitos oleh para petani justru ditanggapi dengan baik. Dengan burung hantu ini dikatakan 90% berhasil membasmi tikus,” pungkasnya. (Rep Afiqa)




Panen Bawang Merah di Wilayah Perkotaan

Depok – Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Makmur Condongcatur yang beranggotakan Kelompok Wanita Tani (KWT) dan kelompok tani se-Condongcatur melaksanakan panen perdana bawang merah yang ditanam di persawahan Padukuhan Pondok, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Jumat (11/6/2021).

Panen perdana bawang merah ini merupakan hasil sekolah lapang dan dicoba dibudidayakan di beberapa padukuhan di Condongcatur yaitu Pondok, Kayen, Sanggrahan dan Kaliwaru oleh Kelompok Wanita Tani (KWT). Dari empat padukuhan tersebut, bawang merah yang ditanam di Padukuhan Pondok menjadi yang pertama dipanen.

Kalurahan Condongcatur bisa disebut sebagai wilayah perkotaan. Kawasan permukimannya tergolong wilayah padat penduduk karena dipenuhi perguruan tinggi dan kos-kosan. Meski demikian, budidaya tanaman bawang merah terbukti cukup mudah dibudidayakan dan cocok ditanam di wilayah Condongcatur.

Bawang merah atau brambang (bahasa Jawa) memiliki nama latin Allium Cepa Var Ascalonium merupakan tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai penguat rasa/bumbu masakan. Selain untuk bumbu masak, tanaman ini juga dapat dimakan mentah, juga sebagai obat tradisional. Kulit umbinya dapat dijadikan zat pewarna dan daunnya dapat digunakan sebagai penyedap rasa.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji berharap bawang merah ini dapat dikembangkan di Condongcatur yang tanahnya cukup akomodatif untuk jenis tanaman ini. “Ke depan dapat menjadi salah satu alternatif tanaman petani selain padi dan jenis palawija yang lain sehingga hasilnya dapat menambah kesehahteraan para petani sesuai nama Gabungan Kelompok Tani Condongcatur yaitu Gapoktan Tani Makmur Condongcatur,” ujar Reno saat memimpin panen perdana ini.

Setelah seremonial acara memanen bawang merah selesai dilanjutkan dengan acara tumpengan sebagai sujud syukur kepada Tuhan, dan dilanjutkan makan bersama di areal persawahan Padukuhan Pondok yang masih asri dan dialiri air yang masih jernih. (Wasana/KIM Depok)




Donor Darah Berikan Banyak Manfaat

Donor darah memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Dengan mendonorkan darah, kita dapat memastikan kondisi kesehatan tubuh kita. Hal tersebut yang ditegaskan oleh Titin Sulistiyaningsih, Sekretarin Palang Merah Indonesia (PMI) Kapanewon Moyudan pada kegiatan donor darah yang digelar PMI Moyudan, bekerja sama dengan PMI Kabupaten Sleman di Pendopo Kapanewon Moyudan, Kamis (10/6/2021).

Selain untuk memastikan kesehatan, donor darah juga dapat meningkatkan produksi darah dalam tubuh, membakar kalori, membuat pikiran lebih stabil, dan sejumlah manfaat lainnya. “Setetes darah yang didonorkan juga akan menyelamatkan sejuta jiwa,” ungkap Titin.

Donor darah sendiri merupakan agenda rutin yang diadakan oleh PMI Kapanewon Moyudan.

“Merupakan agenda rutin tiga bulanan, untuk agenda berikutnya akan direncanakan pada tanggal 10 September 2021,” ujar Titin.

Dari catatan PMI Moyudan, minat pendonor di wilayah kapanewon Moyudan pada setiap event donor darah cukup bagus. Untuk donor darah kali ini calon pendonor yang mendaftar sejumlah 69 orang. Dari jumlah tersebut 52 orang dinyatakan memenuhi syarat untuk mendonorkan darahnya, dan setiap pendonor diambil sekitar 300 cc. (Edy-KIM Moyudan)




Kader PKK Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul Pelajari Peran Kader di Condongcatur

Depok – Balai Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Yogyakarta melaksanakan pelatihan kepada kader PKK dari Kabupaten Bantul, Gunungkidul dan Kulonprogo. Mengakhiri pelatihan, peserta pelatihan pun dibawa kunjungan lapang di Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Jumat (11/6/2021).

“Tujuan kunjungan lapangan ini adalah untuk studi banding terkait pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro dan peran PKK dalam PPKM Mikro. Harapannya semua elemen kelembagaan dapat turut andil dalam penanganan Covid-19 termasuk PKK,” ujar ketua rombongan, Dwi Herawati.

Pada kunjungan ini dilaksanakan diskusi dengan poin pembahasan kebijakan pemerintah kapanewon dan kalurahan dalam pencegahan dan penangulangan Covid-19 serta penerapan PPKM Mikro di kalurahan.

Rombongan kunjungan lapang sejumlah 30 peserta ini juga datang ke Condongcatur untuk mempelajari peran kader PKK dalam pencegahan dan penanganan Covid 19, penyampaian informasi, edukasi, dan pelaporan PPKM Mikro, serta implementasi pelaksanaan program pokok PKK di Kalurahan Condongcatur. Kegiatan diakhiri dengan kunjungan ke posko Desa Tangguh Bencana.(Beti/KIM Depok)