Jadwal Baru Pemilihan Lurah Serentak: 12 September 2021

Ngaglik – Hari pemungutan suara peilihan lurah serentak se-Kabupaten Sleman yang semula dijadwalkan 22 Agustus 2021, telah ditunda dan ditetapkan menjadi 12 September 2021. Ini disampaikan Kepala Bidang Pengembangan Kelembagaan dan Aparatur Kalurahan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan Kabupaten Sleman, Agung Endarto saat rapat koordinasi pemilihan urah serentak yang dilakukan secara virtual, Rabu (28/7/2021).

Di hadapan para Panitia Pemilihan Lurah se-Kabupaten Sleman, Agung menyampaikan jadwal baru rangkaian tahapan pemilihan lurah yang sebelumnya ditunda. Ujian tertulis calon lurah bagi kalurahan dengan bakal calon lebih dari 5 orang akan dilakukan 3 Agustus 2021, bimbingan teknis panitia tingkat kalurahan tentang panduan KPPS pada 9 dan 11 Agustus 2021, pelatihan KPPS 12-29 Agustus 2021. Selanjutnya, undian nomor urut calon lurah 30 Agustus 2021, kampanye calon lurah 6-8 September 2021, dan masa tenang 9-11 September 2021.

“Pembekalan dan deklarasi pemilihan lurah damai yang semula 2 Agustus 2021 menjadi ditiadakan,” kata Agung. Agung menjelaskan, penundaan pemilihan lurah ini didasarkan pada Surat Menteri Dalam Negeri nomor 141/3351/BPD tentang Penundaan Pelaksanaan Pilkades Serentak dan PAW Pada Masa Perpanjangan Penetapan PPKM Level 4, Keputusan Bupati Sleman nomor 44/ tentang Penetapan Hari dan Tanggal Pemungutan suara Pemilihan Lurah Serentak Tahun 2021 serta Keputusan Kepala Dinas PMK nomor 018/ tanggal 27 Juli 2021 mengenai Perubahan Tahapan Pemilihan Lurah Serentak Tahun 2021.

Setelah pemilihan dilakukan, jadwal selanjutnya adalah penetapan calon lurah terpilih 12 September 2021, penyampaian calon lurah terpilih kepada Badan Permusyawaratan Kalurahan 12 September 2021, penyampaian nama calon lurah terpilih kepada Bupati melalui Panewu 13 September 2021, dan pelantikan lurah terpilih 16 September 2021.

Pada pemilihan lurah serentak tahun ini, ada 4 kalurahan dengan bakal calon lurah lebih dari 5 orang yaitu Kalurahan Trihanggo,  Trimulyo, Sendangadi, dan Margomulyo. Bakal calon lurah ini akan diseleksi menjadi 5 calon saja melalui ujian tertulis yang akan dilaksanakan 3 Agustus 2021 mendatang di Aula Unit 1 Pemkab Sleman. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Eksistensi Pengrajin Wayang di Tengah Kemajuan Zaman

Sleman – Keberadaan wayang sebagai salah satu kearifan lokal tanah Jawa terus tergerus oleh zaman. Padahal, wayang sebagai kebudayaan asli Jawa memiliki posisi yang dekat dengan masyarakat. Banyak masyarakat yang memanfaatkan wayang untuk berbagai macam tujuan, seperti untuk hiburan dan media pembelajaran norma dan nilai dalam kehidupan. Sehingga, keberadaan wayang harus dilestarikan sebagai salah satu bentuk identitas asli Indonesia.

Adalah Martaya (50) seorang seniman dari Banjarsari, Kalurahan Sukoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman yang masih terus menjaga kelestarian wayang sebagai kebudayaan asli dari Jawa ini. Martaya adalah seorang pengrajin wayang yang masih bertahan sampai saat ini.

Membuat wayang adalah hobi Martaya dari kecil. Martaya mendapatkan pengetahuan tentang tata cara pembuatan wayang dari Ayahnya. Martaya mengatakan, wayang yang Ia buat pada awalnya hanya untuk kepentingan koleksi pribadi saja.

“Saya menyimpannya dari beberapa tahun yang lalu sebagai koleksi,” ujar Martaya ketika ditemui di rumahnya yang sekaligus menjadi tempat produksi wayangnya pada Rabu (28/7/2021).

Namun, saat melihat banyak relasinya yang berminat untuk membeli wayang yang dibuatnya, Martaya tertarik untuk menjadikan hobinya tersebut sebagai peluang bisnis. Hingga pada tahun 2010, Martaya mulai menekuni bisnis kerajinan wayang ini.

Wayang yang dibuat oleh Martaya berasal dari kulit kerbau asli yang sudah dikeringkan terlebih dahulu. Ia mendapatkan kulit tersebut dari para pengepul kulit kerbau dari daerah Imogiri. Martaya memilih kulit kerbau sebagai bahan dasar wayangnya karena ketahanan kulit kerbau yang lebih bagus dari pada kulit sapi.

“Kulit kerbau lebih tahan lama dan lebih elastis dari pada kulit sapi,” tukas Martaya.

Untuk memproduksi satu buah wayang, Martaya membutuhkan waktu hingga 7 hingga 10 hari, tergantung ukuran dan tingkat kerumitannya desainnya. Harga wayang buatan Martaya juga beragam, dimulai dari kisaran 1 juta hingga 5 juta rupiah.

“Sekali produksi bisa membuat 2 hingga 4 wayang dalam satu bulan tergantung permintaan,” ujar Martaya

Martaya juga membeberkan bahwa Ia memproduksi wayang hanya berdasarkan pesanan dari pelanggan, tidak menjual wayang langsung jadi. Para pelanggan biasanya harus memesan terlebih dahulu mengenai wayang yang ingin dibeli.

“Saya membuat wayang sesuai permintaan customer (pelanggan), ada juga yang sudah digambar oleh customer, jadi saya tinggal mengukir dan mewarnainya saja,” beber Martaya.

Wayang yang dibuat oleh Martaya saat ini sudah dikenal di beberapa kota di luar Yogyakarta, bahkan hingga luar negeri. Hal tersebut kata Martaya dibantu oleh promosi yang dilakukan oleh para pelanggannya, baik secara langsung maupun melalui media sosial.

“Sekarang apalagi melalui Facebook itu keluar Jogja juga, kemarin Tulungagung, Tangerang, Bogor, Semarang, luar negeri juga ada ke Kanada, Belanda, tapi itu melalui dosen UGM yang pesen,” ungkap Martaya.

Martaya berharap para pengrajin wayang dapat terus bertahan di tengah kemajuan zaman saat ini. Ia juga menuturkan keinginannya untuk mewariskan keahliannya sebagai pengrajin wayang kepada anak-anaknya.

“Saya juga mengajarkan ini kepada anak laki-laki saya agar dapat meneruskan usaha ini nantinya,” pungkas Martaya. (Rep Rahayu/Nikke)