IKM Sleman Salurkan Bantuan APD untuk Relawan COVID-19

Sleman – Industri Kecil Menengah (IKM) yang tergabung dalam Rumah Kreatif Sleman (RKS) binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman menyalurkan donasi untuk Tim Pemulasaran/Disinfektan (Tim Cong) BPBD Sleman pada Rabu (4/8/2021). Donasi diserahkan oleh Gigih, perwakilan RKS kepada Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo bertempat di Pendopo Parasamya Kantor Sekretariat Daerah Sleman.

Donasi tersebut merupakan hasil dari kumpulan 26 IKM binaan RKS, berupa Alat Pelindung Diri (APD), produk hasil olah IKM, serta uang senilai Rp ,000, -. Penyerahan donasi bertujuan agar dapat membantu meringkan beban para relawan dan anggota Tim Cong dalam mengerjakan tugasnya.

“Ini nanti kami dedikasikan untuk Tim Relawan agar di pergunakan dengan baik, mudah-mudahan ini dapat membantu, saya kira ini tidak dilihat dari rupiahnya, tetapi dari kepedulian teman-teman UKM ,”  ungkap Mae Rusmi, Kepala Dinas Perindag Sleman pada saat penyerahan.

Sebagai bentuk kepedulian, lanjut Mae, IKM juga berinisiatif untuk tidak hanya memberikan bantuan bernilai rupiah saja, melainkan juga dengan produk olahan dari IKM, yaitu terdiri dari Camilan, Minuman kesehatan, Lauk-pauk, dan Masker.

“Memang jumlahnya tidak begitu banyak, namun yang sedikit ini mudah-mudahan bermanfaat,” tambah Mae.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo pada kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi dan berterimakasih kepada IKM Kabupaten Sleman karena telah peduli kepada relawan COVID-19.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada IKM, walaupun dalam keadaan seperti ini, masih peduli, semoga bantuan ini dapat bermanfaat. Harapan saya kedepan semoga IKM dan masyarakat di Kabupaten Sleman dapat bergerak juga dan berpartisipasi,” ungkap Kustini. (Rep Rahayu)




Inovasi Pengolahan Salak Pondoh di Lereng Gunung Merapi

Sleman – Dusun Kemiri yang berada di Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, merupakan salah satu daerah penghasil komoditas unggulan salak pondoh di Kabupaten Sleman. Namun salak pondoh dihargai terlalu rendah, tidak sebanding dengan biaya penanamannya. Hal tersebut yang menjadi alasan Kelompok Wanita Tani Kemiri Edum di Lereng Merapi, berinovasi untuk dapat meningkatkan nilai jual dari salak pondoh.

Rini Handayani (47) salah satu anggota dari Kelompok Wanita Tani Kemiri Edum yang berinovasi mengolah salak pondoh menjadi manisan dengan label “Sarisa Merapi”. Rini telah menggeluti bisnis manisan salak ini sejak tahun 2016.

Manisan salak pondoh tersebut terbuat dari salak asli dengan tingkat kematangan maksimal 70% yang telah di rendam dengan air gula kemudian dikemas secara higienis dengan mesin modern. Dalam satu cup berisi 2 salak yang telah dipotong menjadi 2 bagian lalu diberi air gula yang telah direbus.

Rini mematok harga manisan salak pondohnya sebesar Rp. dengan isi satu paknya ada 6 cup. Untuk harga, Rini mematok menjadi dua, yaitu untuk pengecer sebesar Rp. dan untuk konsumen sebesar Rp. .  Hal itu dilakukan menurut Rini agar para pengecer lebih merasa dihargai.

“Kami ada dua harga, untuk reseller dan harga konsumen karena kami gak akan merusak harga reseller jadi sebagai reseller merasa dihargai, untuk manisan salak harga konsumen Rp. , kalau reseller untuk manisan salak ,” ujar Rini di rumah produksinya di Dusun Kemiri, Sleman, Selasa (3/8/2021)

Sebelum pandemi, Rini menaruh produknya di toko oleh-oleh dan bandara. Ia juga membuka ruang produksinya untuk para tamu sebagai edukasi pembuatan manisan salak pondoh sekaligus bentuk promosi dan pemasarannya dalam bentuk oleh-oleh. Namun saat pandemi ini, Rini hanya memasarkan melalui media online seperti marketplace dan media sosial.

Sebelum pandemi Rini membeberkan bahwa omzet yang didapatkannya selama satu bulan dapat mencapai hingga 200 juta, namun mengalami penurunan ketika pandemi terjadi.

“Omzet sebelum pandemi, kami hampir mencapai 200 juta per bulan, tapi di pandemi satu bulan itu apalagi PPKM itu kita hanya bisa menjual apa yang kita produksi kemaren-kemaren itu kita hanya omzet sekitar 5 jutaan,” ujar Rini Handayani.

Semangat Rini tidak pernah pudar untuk terus mengembangkan bisnisnya. Selain manisan, salak pondoh juga diolah Rini menjadi produk Dodol Salak dan Sari Salak.

Walaupun omzet menurun drastis saat ini, Rini percaya produk yang dijualnya sangat berkualitas dan mampu bersaing dengan produk lainnya. (Rep Nikke/Rahayu)




Melihat Kurikulum Berbasis Religi dan Budaya di SD Muhammadiyah Semingin

Moyudan – Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang disusun setiap sekolah merupakan dokumen penting penyelenggaraan kependidikan. Dilaksanakannya review merupakan upaya untuk mendapatkan pembahasan berupa saran, pendapat, masukan, maupun kritik untuk perbaikan.

“Dalam menyusun kurikulum, penting bagi sekolah mengutamakan sikap budi pekerti kesantunan dan karakter peserta didik, tidak cukup pada kecerdasan melulu. Draft kurikulum ini dibuat normatif, kami mengapresiasi upaya Kepala Sekolah dan guru-guru memajukan sekolah serta review kurikulum ini,” tegas Mundiharto, Pengawas SD saat menjadi nara sumber Review KTSP SD Muhammadiyah Semingin di Kapanewon Moyudan, Selasa (03/08/2021).

Kegiatan dilaksanakan secara terbatas dengan prokes ketat, hanya dihadiri 10 orang terdiri pengawas, kepala UPT, 3 perwakilan komite, Dikdasmen Muhammadiyah Moyudan dan perwakilan orang tua. Siti Haryanti, Kepala UPT Moyudan mengapresiasi terselenggaranya review di tengah keterbatasan karena pandemi serta semua menaati prokes.

“Sekolah memang perlu memaparkan kurikulum agar warga sekolah memahami pengaturan maupun rencana sekolah pada tahun ajaran 2021/2022. Selamat atas berbagai prestasi yang diraih selama ini,” lanjut Haryanti.

Eny Purwaningsih, Kepala SD Muhammadiyah Semingin melaporkan tahun ajaran 2021/2022 sekolah yang dipimpinnya memperoleh 28 peserta didik sehingga semua ada 100. Ia memaparkan beban kurikulum, visi misi, kriteria ketuntasan minimal, serta program unggulan. Berbagai upaya peningkatan mutu dilakukan sekolah melalui jalinan kerjasama dengan berbagai pihak, masyarakat, rumah tahfidz, hingga perguruan tinggi.

“Kerja sama dengan UAD misalnya, berupa dua kali pelatihan bagi guru-guru SD Muhammadiyah Semingin dalam memanfaatkan IT,” ujar Eny.

Eny menambahkan bahwa SD Muhammadiyah Semingin juga akan mendapatkan guru-guru dari Program Sekolah Kampus Mengajar Kemendikbud Ristek. Dengan mendapatkan guru dari program Kampus mengajar diharapkan mutu pendidikan di sekolah tersebut semakin meningkat.

Meski pandemi, lanjut Eny, sekolah tetap mengikutsertakan siswanya berbagai lomba secara daring bahkan meraih kejuaraan. Prestasi terbaru pada Lomba Angklung DIY-Jateng, 3 sisiwinya meraih juara III. Sebelumnya sekolah juga pernah meraih juara kerawitan dan olah raga tingkat kecamatan.

SD Muhammadiyan Semingin sendiri memiliki program Pengembangan diri extrakurikuler wajib yakni Kepanduan Hizbul Wathon (HW) untuk siswa kelas 1 hingga kelas 6, Baca Tulis Qurán, dan Bahasa Inggris. Extrakurikuler pilihan juga ada meliputi kerawitan, drum band, tari, angklung dan olah raga.

Dalam bidang pendidikan karakter dan keagamaan, SD Muhammadiyan Semingin menanamkan toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokrasi dan semangat kebangsaan dan cinta tanah air dengan upacara bendera rutin, dan menyanyi Indonesia raya dan Sang Surya setiap pagi yang dipimpin satu dirijen siswa. Selain itu, Anak juga dibiasakan bersalaman dengan guru-guru, masuk kelas dengan pengawasan, dibiasakan mendahulukan kaki kanan dengan berdoa, wajib salat dhuha agar terbiasa, salat zuhur berjamaah, dan tadarus rutin.

“Pembiasaan spontan, ketika ada anak melakukan hal yang kurang baik langsung ditegur dan diberikan nasehat secara humanis dengan pendekatan hati ke hati. Guru juga memberikan keteladanan dalam bepakaian, bertutur kata, berperilaku sopan dan kesantunan,” lanjut Eny.

Untuk menggelorakan literasi, setiap 15 menit sebelum pembelajaran, siswa dan guru diwajibkan membaca buku non mata pelajaran. Disediakan pojok baca dengan mural bagus dan menarik agar peserta didik semakin tertarik dan berminat membaca. Dijadwalkan pula Hari Kunjung Perpustakaan untuk memaksimalkan fasilitas di perpustakaan, diberikan Buku Kontrol Baca untuk memantau apakah anak sudah membaca atau belum.

Dalam pendidikan budaya dan bahasa, SD Muhammadiyah Semingin rutin mengadakan hari budaya dan memeriahkan bulah bahasa dengan mengadakan berbagai lomba seperti menulis puisi dan menghafal Pancasila.

Lingkungan sekolah juga berupaya membiasakan peserta didik untuk melestarikan budaya lokal dengan pembiasaan berbahasa Jawa setiap hari Sabtu, kegiatan karawitan, serta berpakaian dan membawa makanan tradisional Jawa setiap Kamis Pahing dan Hari Jadi Sleman.

Sekolah juga mengadakan pendidikan sosial dan kewirausahaan dengan market day, serta bersosialisasi dengan masyarakat, misalnya saat ada warga dekat meninggal siswa diajak takziah praktek salat jenazah.

”Semua itu diakukan untuk memberikan layanan terbaik bagi seluruh peserta didik agar kelak terwujud pribadi santun, berakhlaq mulia, cerdas berkarakter menjadi kebanggan orang tua dan masyarakat,” tegas Eny.

Ngadi Susilo dari Dikdasmen Muhamadiyah Moyudan memberikan masukan dan dukungan agar SD Muhammadiyah Semingin tetap berfokus mengoptimalkan Kepanduan Hizbul Wathan.

Sementara Zamahsari, Ketua Komite mengapresiasi dan menyarankan agar sekolah terus mengikutsertakan siswa dalam berbagai kejuaraan tingkat regional hingga nasional. Ia menegaskan komite mendukung penuh semua upaya yang dilakukan sekolah.

Kegiatan diakhiri dengang penyerahan buku Belajar Men(g)uangkan Gagasan dari Anggota Komite Edy Suparyanto untuk pengawas, Kepala UPT dan Kepala Sekolah. Edy berharap penyerahan buku itu bisa memaku dan menggelorakan literasi di sekolah tersebut. (Edy/KIM Moyudan)




Upaya Memperkuat Rantai Pasokan Industri Kosmetik di Tengah Pandemi

Sleman – Maraknya sektor industri yang lesu di tengah pandemi COVID-19 tak berlaku bagi industri kosmetik, rempah, dan herbal. Banyaknya warga yang melaksanakan kegiatan di rumah menyebabkan adanya waktu lebih  untuk merawat diri. Hal ini ditengarai sebagai salah satu pemicu tren permintaan produk perawatan tubuh, wajah, kosmetik dan herbal.

Kondisi tersebut dapat menjadi alasan terjadinya peningkatan produksi di sektor industri kosmetik, sehingga harus didukung secara maksimal, terutama oleh pemerintah.

“Pemerintah berkomitmen untuk mengawal IKM agar memperoleh pasokan bahan baku berkualitas dari dalam negeri,” ungkap Rudy Arman Sinaga dari Direktorat Jendral Industri Kecil dan Menengah Kimia, Sandang, Kerajinan, dan Industri Aneka Kementerian Perindustrian RI, dalam acara Sosialisasi Temu Bisnis IKM 2021 yang berlangsung secara virtual via aplikasi Zoom Meeting pada Selasa (3/8/2021).

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian, lanjut Rudy melakukan berbagai upaya untuk menciptakan sinergi rantai pasokan industri kosmetik. Diantaranya dengan program restrukturisasi teknologi. IKM yang membeli alat baru untuk mengolah produk kosmetiknya, akan diganti pembiayaan 25-40% dari harga beli alat.

Selain itu, melalui pendataan dan assessment dari peserta webinar, akan dilanjutkan dengan pengawalan Focus Grup Discussion (FGD) hingga tercapainya kesepakatan kerja sama antara supplier dan industri.

Berbagai permasalahan diuraikan oleh para peserta webinar, mulai dari kesulitan memperoleh informasi mengenai cara mengurus izin CPKB (Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik) oleh Badan POM, izin edar, sertifikat halal, teknologi pengolahan produk hingga marketing.

Seperti yang disampaikan oleh salah satu peserta webinar, Nurbaini atau akrab disapa Poppy Karim. Fashion desainer sekaligus pemilik usaha kosmetik tersebut menyampaikan bahwa selain kesulitan memperoleh informasi mengenai pemasok yang berkualitas, dirinya juga masih mengimpor banyak bahan baku untuk kosmetiknya. 

“Saya masih impor essential oil dan bubuk ekstrak,” ungkap Poppy.

Oleh karena itu, Kemenperin juga berkomitmen untuk menyediakan akses bagi supplier dan pemilik industri untuk dapat berdiskusi dan mengungkapkan kebutuhan masing-masing. Menekan impor serta meningkatkan kualitas, kuantitas dan kontinuitas pemasok bahan baku lokal menjadi fokus dari program ini. Langkah awal yaitu dengan pengumpulan data bagi supplier dan pelaku usaha.

Bagi masyarakat yang tidak sempat mengikuti webinar namun memiliki produk yang merupakan bahan baku industri kosmetik, dapat mengikuti pendataan tersebut. Diantaranya yaitu produsen minyak atsiri atau essential oil seperti minyak nilam, cengkeh, sereh wangi. Juga produsen herbal, ekstrak tanaman, virgin coconut oil dan sebagainya. Pengumpulan data pemasok bahan baku industri kosmetik dan pelaku usaha dapat melalui paling lambat 4 Agustus 2021 pukul WIB. (Lena Lailasari/KIM Gamping)




Temu Bisnis IKM sebagai Awal Sinergi Industri Kosmetik Dalam Negeri

Sleman – Adanya kesulitan dalam mempertemukan industri hulu dan hilir di bidang kosmetik menjadi tujuan awal diselenggarakannya Sosialiasi Temu Bisnis IKM Kosmetik 2021 oleh Kementerian Perindustrian RI, Selasa (3/8/2021).

Acara yang digelar secara virtual melalui aplikasi Zoom webinar ini diikuti oleh 200 orang peserta yang bergerak di bidang kosmetik dari berbagai kota di Indonesia, mulai dari suplier minyak atsiri, rempah, ekstrak, industri kosmetik, dan turunannya.

Ratna Utarianingrum, Direktur Industri Aneka dan Industri Kecil dan Menengah Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kementerian Perindustrian RI ketika membuka sosialisasi menyoroti kondisi industri kosmetik di dalam negeri saat ini yang masih banyak mengimpor bahan baku. Padahal banyak produsen dalam negeri yang juga memiliki kualitas bersaing yang dapat dipergunakan.

Bahan baku atsiri seperti minyak nilam misalnya, beberapa produsen kosmetik mengaku mendapatkan pasokan dari luar negeri atau impor. Selain kualitas yang baik, juga lengkap memiliki CoA (Certificate of Analysis) dan MSDS (Material Safety Data Sheet). Padahal Indonesia merupakan penghasil minyak atsiri terbesar di dunia. Bahkan bubuk ekstrak tanaman pun masih diimpor oleh sebagian industri tersebut. 

“Sosialisasi ini menjadi awal untuk rangkaian kegiatan yang bertujuan menciptakan sinergi antara produsen dengan industri kosmetik,” ungkap Ratna.

Ratna mengatakan nantinya peserta yang mengikuti webinar ini akan didata mulai dari kebutuhan produksi hingga output yang sudah dihasilkan selama ini. Data tersebut akan diolah untuk menentukan formulasi webinar selanjutnya.

Perihal impor bahan baku ini juga digarisbawahi oleh Rudy Arman Sinaga dari Ditjen Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian RI.

Menuru Rudy, permasalahan industri kosmetik saat ini adalah 70-90% bahan baku kosmetik masih impor, banyaknya produk ilegal, investasi yang tinggi, zonasi industri serta persaingan dengan produk kosmetik impor. Padahal Indonesia memiliki potensi yang cukup tinggi di dunia kosmetik.

“Sebanyak jenis tanaman obat-obatan berasal dari Indonesia dimana 350 jenis tanaman sudah dimanfaatkan dalam industri herbal,” ujar Rudy

Permintaan kosmetik yang cenderung stabil bahkan meningkat, kata Rudy, menandakan bahwa industri ini mengalami tren positif di tengah pandemi COVID-19. Tren kosmetik pria dan anak-anak, permintaan produk kosmetik halal berbahan alami atau herbal menjadikan industri kosmetik menjadi perhatian pemerintah untuk dibina lebih lanjut.

Lebih lanjut, Rudy mengatakan bahwa kedepannya akan dilaksanakan serangkaian webinar untuk mengawal sinergi antara supplier bahan baku dan industri. Bagi pelaku usaha yang hendak mendaftarkan diri silahkan untuk mengisi data di

“Setelah pendataan dan assessment, kami juga bertujuan hingga tercapai kesepakatan kerja sama antara IKM dan pemasok,” ungkap Rudy. (Lena Lailasari/KIM Gamping)