Pasien COVID-19 Lebih Disarankan untuk Jalani Isolasi Terpusat

Sleman – Banyaknya pasien yang meninggal dunia ketika menjalani isolasi mandiri menjadi permasalahan tersendiri dalam rangka memerangi pandemi COVID-19. Menurut catatan BPBD Kabupaten Sleman, sampai hari Jumat (6/8/2021), tercatat lebih dari 200 warga meninggal ketika menjalani isolasi mandiri. Salah satu penyebabnya adalah tidak terpantaunya keadaan pasien isoman oleh tenaga kesehatan, sehingga ketika saturasi menurun, penanganan tidak segera diberikan.

Hal ini yang menjadi catatan penting Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan ketika mengunjungi vaksinasi massal di Gedung Setda Kabupaten Sleman, Jumat (6/8/2021).

Luhut tegas mendorong pasien COVID-19 di Kabupaten Sleman yang menjalani isolasi mandiri agar menjalani masa karantina di Isolasi Terpusat (isoter).

“Ibu Kustini, Bupati Sleman sudah cerita bahwa ada 6 ribu di Sleman yang terinfeksi. Sekarang (shelter) baru terisi 234, jadi harus sebanyak mungkin dibawa ke isoter, supaya tidak menulari lagi karena disini penularan agak tinggi,” jelas Luhut didampingi Gubernur DIY, dan Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo.

Luhut meminta kontribusi semua pihak (stakeholder), mulai dari Pemda, TNI, Polri, tokoh masyarakat, tokoh agama agar dapat mendorong pasien COVID-19 menjalani masa karantina di shelter isolasi terpadu.

Selain mengenai isoter, Menkomarvers Luhut juga meminta proses vaksinasi di Kabupaten Sleman dipercepat. Menurut catatan Dinkes Sleman, hingga 4 Agustus 2021, vaksinasi dosis pertama di Kabupaten Sleman telah mencapai warga atau 40,2%. Sedangkan dosis kedua mencapai warga atau 16,4%.

“Jadi nanti Ibu Bupati targetnya dinaikin 4 kali dari sekarang kita mau sampai bisa mungkin per hari. (Stok) vaksin tidak ada masalah, saya sudah singgung,” ujar Luhut.

Luhut menegaskan, dalam waktu dekat ada 70 juta dosis vaksin yang akan datang. Diproyeksikan 2,3 juta orang bisa disuntik vaksin per harinya.

Pada kesempatan terpisah, Wakil Ketua Komisi D DPRD Sleman, Raudi Akmal juga menyoroti tentang risiko menjalani isolasi mandiri. Ia mengatakan bahwa isolasi mandiri di rumah dinilai tidak efektif, karena potensi penularan kepada anggota keluarga maupun tetangga malah lebih tinggi.

“Jika pasien isolasi di rumah nanti tidak tertangani dengan baik, tapi ketika mereka menjalani isolasi secara terpusat maka akan mudah dalam pengawasan pasien. Karena saat ini kasus meninggal karena isolasi mandiri cukup mengkhawatirkan jadi harus diambil tindakan cepat dan tepat,” ujar Raudi Akmal. (Harjito Sangaji/KIM Moyudan)




Kalurahan Sukoharjo Gelar Vaksinasi COVID-19 Massal untuk Warga

Sukoharjo – Pemerintah Kalurahan Sukoharjo bekerja sama dengan beberapa lembaga seperti IDI, IBI, Polres Sleman, Polsek Ngaglik, dan Puskesmas Ngaglik II menggelar Vaksinasi Massal di Halaman Kantor Kalurahan Sukoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Kamis (5/8/2021).

Lurah Sukoharjo, Hadi Subronto mengatakan penyelenggaraan vaksinasi massal ini sebagai salah satu upaya untuk menekan laju peningkatan kasus positi COVID-19 di Kabupaten Sleman, khususnya di Kalurahan Sukoharjo.

“Untuk menjaga daya tahan tubuh , agar badan tetap sehat dan kuat bagi warga Sukoharjo pada khususnya, maka ada kurang lebih 8% dari anggaran desa untuk kegiatan PPKM dianggarkan untuk warga masyarakat Sukoharjo baik yang domisili maupun yang sudah resmi menjadi warga Sukoharjo untuk divaksin semua tidak terkecuali,”ujar Hadi saat meninjau pelaksanaan vaksin.

Vaksinasi massal kali ini diikuti oleh total 1000 orang peserta, sesuai dengan jatah vaksin yang tersedia.

“Untuk hari ini,mendapatkan jatah vaksin 1000,padahal yang sudah mendaftar dan menunggu antrian sudah ada 1500 orang yang sudah masuk data,dan masih banyak lagi yang belum didata,” ungkap Hadi.

Hadi juga mengatakan bahwa sebelumnya, Kalurahan Sukoharjo sendiri telah melaksanakan vaksinasi untuk pralansia dan lansia dengan jumlah 600 orang, dan juga untuk para Kader PKK dan lembaga yang telah dilaksanakan pada 29 Juli 2021.

“Alhamdulillah semua berjalan lancar tanpa halangan yang berarti,” ujar Hadi lagi.

Sementara itu Kepala Puskesmas Ngaglik II, Trisni Nur Andayani mengatakan bahwa vaksinasi saat ini memang sangat dibutuhkan guna mempercepat terbentuknya herd immunity di tengah masyarakat.

“Sebetulnya vaksin sudah dimulai sejak bulan Maret 2021, sasarannya dari nakes, guru, dan seterusnya. Dan sampai saat ini sasaran kita adalah untuk masyarakat,” ungkap Trisni.

Setiap faskes di Kabupaten Sleman, lanjut Trisni, telah berusaha untuk mempercepat pemberian vaksin untuk masyarakat agar dapat lebih aman di tengah pandemi yang masih berlangsung saat ini.

“Setiap puskesmas mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, tergantung SDM yang ada. Karena memang harus dibagi pelaksanaan vaksin di Puskesmas sendiri dan di tempat-tempat di luar puskesmas seperti di halaman Kalurahan Sukoharjo saat ini. Untuk pelaksanaan vaksin pada hari ini Puskesmas menerjunkan 6 personil dari Puskesmas,” jelas Trisni.

Sementara itu, para warga Kalurahan Sukoharjo juga menyempatkan diri untuk memberikan pengalaman mereka ketika divaksin.

“Sempat deg-deg-anjuga, karena takut. Tapi alhamdulillah vaksin sudah terlaksana. Semoga bisa tetap sehat,” ujar Sri Rejeki, salah seorang warga Padukuhan Yapah yang mengikuti vaksinasi massal sembari memperlihatkan kartu vaksin miliknya. (SWPR/KIM Sukoharjp)




Film Animasi Siswa MAN 4 Sleman Raih Juara 3 Lomba Film Pendek Animasi Islam

Sleman – Film animasi ‘Demam Korea’ karya siswa-siswi MAN 4 Sleman (MANESA) meraih juara 3 Islamic Animated Short Movie Competition atau Lomba Video Animasi Pendek Islam.

Lomba yang diselenggarakan Bidang Penerangan Agama Islam dan Pemberdayaan Zakat Wakaf (Penais Zawa) Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY ini mengusung tema besar “Aku Milenial Aku Sadar” dengan tiga pilihan sub tema : Milenial Sadar Halal, Milenial Sadar Gaul (No Free Sex, No rugs) dan Milenial Sadar Ibadah (ibadah sunnah rosul dalam perilaku).

Film animasi pendek ‘Demam Korea’ produksi SINEMMA (Sineas Muda Manesa) MAN 4 Sleman sendiri mengusung sub tema Milenial Sadar Halal. Tim produksi terdiri Ridho Rizqullah (XI PK 2), Fipta Auliya Al Jamik (XI IPS 2) dan Putri Kannisa (XI IPS 2).  

Atas prestasinya, Tim SINEMMA memperoleh trophy dan Uang Pembinaan Rp ,00 yang diserahkan langsung oleh Masmin Afif, Kepala Kanwil Kemenag DIY, didampingi oleh Uswatun Hasanah Kepala Seksi Seni Budaya Islam, Musabaqoh Alqur’an dan Hadits Bidang Penais Zawa. Penyerahan berlangsung di Ruang Rapat 1 Lantai 1 Kanwil Kemenag) DIY Kamis (5/08/2021).

“Selamat dan semangat berkarya lagi,” Masmin Afif mengapresiasi dan menyemangati.

Nira Intan Sari, Guru sekaligus pembimbing tim mengatakan ide cerita film ini diambil dari kegemaran para generasi Z terhadap makanan korea yang saat ini banyak beredar di Indonesia.

“Film ‘Demam Korea’ ini bercerita tentang ajakan untuk berhati-hati memilih makanan Korea. Makanan asal Korea kini banyak digemari kaum Gen Z lewat K-POP atau drama Korea. Beredar secara luas juga makanan-makanan tersebut. Jadi harus dipastikan kehalalannya dulu sebelum membeli atau mengonsumsi makanan asal Korea tersebut,” jelas Nira Intan Sari.

Nira juga mengungkapkan bahwa juara 1, 2 dan 3 berhak mewakili DIY di ajang serupa untuk tingkat nasional.

“Alhamdulillah, semoga dapat memberikan pengalaman anak-anak dalam melakukan syi’ar agama Islam,“ ujar Nira.

Sementara itu, Ridho Rizqullah, Ketua Tim Produksi Film Demam Korea dalam keterangan tertulisnya menyampaikan harapannya agar film animasi pendek ini bermanfaat dan menginspirasi teman-teman Gen Z untuk terus semangat mempelajari agama Islam.

“Dengan adanya film ini, semoga teman-teman semakin melek akan halal haram khususnya dalam hal makanan,” harap Ridho.

Ucapan selamat bermunculan dari para guru dan pegawai MANESA yang tergabung di WA grup MANESA.

Salah satunya Dwi Astuti Handayani guru Bahasa Inggris. “Selamat untuk tim lomba film, MANESA meraih juara. Congratulation,” ucapnya.

Sementara Mohammad Yusuf, Kepala MANESA, mengapreasiasi dan memberikan two thumbs emoticon. “Kami sangat bangga dan akan terus mendukung para siswa peraih prestasi. MANESA Berpacu Dalam Prestasi,” lanjutnya.

Seluruh guru dan pegawai turut serta menuliskan ucapan selamat atas kesuksesan tim yang mampu meraih kejuaraan. (Edy/KIM Moyudan)




IKM Sleman Salurkan Bantuan APD untuk Relawan COVID-19

Sleman – Industri Kecil Menengah (IKM) yang tergabung dalam Rumah Kreatif Sleman (RKS) binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman menyalurkan donasi untuk Tim Pemulasaran/Disinfektan (Tim Cong) BPBD Sleman pada Rabu (4/8/2021). Donasi diserahkan oleh Gigih, perwakilan RKS kepada Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo bertempat di Pendopo Parasamya Kantor Sekretariat Daerah Sleman.

Donasi tersebut merupakan hasil dari kumpulan 26 IKM binaan RKS, berupa Alat Pelindung Diri (APD), produk hasil olah IKM, serta uang senilai Rp ,000, -. Penyerahan donasi bertujuan agar dapat membantu meringkan beban para relawan dan anggota Tim Cong dalam mengerjakan tugasnya.

“Ini nanti kami dedikasikan untuk Tim Relawan agar di pergunakan dengan baik, mudah-mudahan ini dapat membantu, saya kira ini tidak dilihat dari rupiahnya, tetapi dari kepedulian teman-teman UKM ,”  ungkap Mae Rusmi, Kepala Dinas Perindag Sleman pada saat penyerahan.

Sebagai bentuk kepedulian, lanjut Mae, IKM juga berinisiatif untuk tidak hanya memberikan bantuan bernilai rupiah saja, melainkan juga dengan produk olahan dari IKM, yaitu terdiri dari Camilan, Minuman kesehatan, Lauk-pauk, dan Masker.

“Memang jumlahnya tidak begitu banyak, namun yang sedikit ini mudah-mudahan bermanfaat,” tambah Mae.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo pada kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi dan berterimakasih kepada IKM Kabupaten Sleman karena telah peduli kepada relawan COVID-19.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada IKM, walaupun dalam keadaan seperti ini, masih peduli, semoga bantuan ini dapat bermanfaat. Harapan saya kedepan semoga IKM dan masyarakat di Kabupaten Sleman dapat bergerak juga dan berpartisipasi,” ungkap Kustini. (Rep Rahayu)




Inovasi Pengolahan Salak Pondoh di Lereng Gunung Merapi

Sleman – Dusun Kemiri yang berada di Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, merupakan salah satu daerah penghasil komoditas unggulan salak pondoh di Kabupaten Sleman. Namun salak pondoh dihargai terlalu rendah, tidak sebanding dengan biaya penanamannya. Hal tersebut yang menjadi alasan Kelompok Wanita Tani Kemiri Edum di Lereng Merapi, berinovasi untuk dapat meningkatkan nilai jual dari salak pondoh.

Rini Handayani (47) salah satu anggota dari Kelompok Wanita Tani Kemiri Edum yang berinovasi mengolah salak pondoh menjadi manisan dengan label “Sarisa Merapi”. Rini telah menggeluti bisnis manisan salak ini sejak tahun 2016.

Manisan salak pondoh tersebut terbuat dari salak asli dengan tingkat kematangan maksimal 70% yang telah di rendam dengan air gula kemudian dikemas secara higienis dengan mesin modern. Dalam satu cup berisi 2 salak yang telah dipotong menjadi 2 bagian lalu diberi air gula yang telah direbus.

Rini mematok harga manisan salak pondohnya sebesar Rp. dengan isi satu paknya ada 6 cup. Untuk harga, Rini mematok menjadi dua, yaitu untuk pengecer sebesar Rp. dan untuk konsumen sebesar Rp. .  Hal itu dilakukan menurut Rini agar para pengecer lebih merasa dihargai.

“Kami ada dua harga, untuk reseller dan harga konsumen karena kami gak akan merusak harga reseller jadi sebagai reseller merasa dihargai, untuk manisan salak harga konsumen Rp. , kalau reseller untuk manisan salak ,” ujar Rini di rumah produksinya di Dusun Kemiri, Sleman, Selasa (3/8/2021)

Sebelum pandemi, Rini menaruh produknya di toko oleh-oleh dan bandara. Ia juga membuka ruang produksinya untuk para tamu sebagai edukasi pembuatan manisan salak pondoh sekaligus bentuk promosi dan pemasarannya dalam bentuk oleh-oleh. Namun saat pandemi ini, Rini hanya memasarkan melalui media online seperti marketplace dan media sosial.

Sebelum pandemi Rini membeberkan bahwa omzet yang didapatkannya selama satu bulan dapat mencapai hingga 200 juta, namun mengalami penurunan ketika pandemi terjadi.

“Omzet sebelum pandemi, kami hampir mencapai 200 juta per bulan, tapi di pandemi satu bulan itu apalagi PPKM itu kita hanya bisa menjual apa yang kita produksi kemaren-kemaren itu kita hanya omzet sekitar 5 jutaan,” ujar Rini Handayani.

Semangat Rini tidak pernah pudar untuk terus mengembangkan bisnisnya. Selain manisan, salak pondoh juga diolah Rini menjadi produk Dodol Salak dan Sari Salak.

Walaupun omzet menurun drastis saat ini, Rini percaya produk yang dijualnya sangat berkualitas dan mampu bersaing dengan produk lainnya. (Rep Nikke/Rahayu)