Panewu Gamping Yang Baru Terima Audiensi dengan Organisasi Masyarakat

Gamping – Usai resmi menjabat sebagai Panewu Kapanewon Gamping, Sarjono menerima audiensi perwakilan pengurus dari Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Pararta Guna, Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang ada di wilayah Kapanewon Gamping, Kamis (23/9/2021) pagi.

Dalam perbincangannya, Ketua KIM Pararta Guna, Adnan Iman Nurtjahjo menyampaikan beberapa informasi terkait keberadaan KIM dan memperkenalkan struktur kepengurusannya serta kegiatan-kegiatan yang sudah dilaksanakan dalam kurun waktu hampir dua tahun masa pandemi Covid-19 di wilayah Kapanewon Gamping.

“Fungsi KIM pada dasarnya sama dengan fungsi kelompok masyarakat lainnya, hanya ditambah dengan fungsi di bidang pengelolaan informasi dan komunikasi. Yang utama KIM merupakan jembatan bagi anggota kelompok untuk bertukar informasi dengan sesama anggota KIM, pihak terkait, dan masyarakat pada umumnya, serta menjadi wahana informasi komunikasi secara vertikal dengan pemerintah secara timbal balik,” ucap Adnan dihadapan Panewu Gamping.

Hal senada disampaikan oleh Ketua FKUB Kapanewon Gamping, KH. Nasrulloh yang telah melakukan kegiatan dalam rangka membangun dan memelihara serta memberdayakan umat beragama untuk kerukunan dan kesejahteraan bagi seluruh pemeluk agama khususnya di wilayah Kapanewon Gamping.

Di sisi lain, Ketua FKDM Kapanewon Gamping, Djoko Purwono mengajukan permohonan pembaruan Surat Keputusan (SK) kepengurusan yang telah habis masa berlakunya agar diterbitkan SK kepengurusan yang baru kepada Panewu Gamping sebagai dasar untuk melakukan kegiatan dalam memelihara keamanan dan ketertiban serta mampu mendeteksi gangguan keamanan di wilayah kapanewon Gamping sebelum terjadi konflik maupun bencana alam.

Panewu Gamping, Sarjono menyambut baik terhadap apa yang sudah disampaikan oleh pengurus KIM Pararta Guna, FKUB dan FKDM dan berharap kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan dapat berkesinambungan sehingga dapat dirasakan manfaatnya sesuai dengan bidangnya masing-masing. Pihaknya siap memfasilitasi segala keperluan organisasi agar program kerja yang telah ditetapkan dapat berjalan dengan baik.

“Pemerintah Kapanewon Gamping tentunya siap mendukung dan memfasilitasi segala keperluan pengurus organisasi KIM Pararta Guna, FKUB dan FKDM dalam menjalankan tugas dan fungsinya sesuai bidang masing-masing. Seperti halnya penerbitan SK kepengurusan yang baru bagi FKDM karena telah habis masa berlakunya,” tutur Sarjono.

Ia juga berharap semua komponen masyarakat dapat saling bekerjasama dan koordinasi guna ikut berpartisipasi membantu segala hal yang berkaitan dengan pembangunan dan kemajuan di wilayah Kapanewon Gamping yang sudah diprogramkan, serta pengurus dan anggota organisasi dapat menjalankan tugas pokok dan fungsinya sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku. *(Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Peringati HUT Ke-76, PMI Kapanewon Depok Gelar Donor Darah

Guna memenuhi stok darah di Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sleman, PMI Kapanewon Depok menggelar aksi donor darah. Kegiatan tersebut digelar pada Jumat (24/09/2021) di Pendopo Kapanewon Depok dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Ke-76 Palang Merah Indonesia yang jatuh pada 17 September 2021.

Kegiatan tersebut didukung oleh PMI Kabupaten Sleman, Korps Suka Rela (KSR), dan Palang Merah Remaja (PMR) di unit-unit sekolah. Sebelum melakukan donor darah, para calon pendonor akan melalui serangkaian proses screening kesehatan seperti tekanan darah, cek darah untuk mengetahui kadar hemoglobin, tinggi badan, berat badan, riwayat penyakit yang sedang atau sudah diderita, dan lainnya.

“Kami menargetkan 70 orang pendonor. Jika ada penyintas COVID-19, dua minggu sejak dinyatakan sembuh bisa ikut donor,“ tutur Endro, Ketua PMI Kapanewon Depok.

Lebih lanjut Endro menuturkan bahwa PMI Sleman kini bisa menerima donor darah plasma konvalesen. Bagi para penyintas COVID-19 yang ingin mendonorkan plasma darahnya, harus dibuktikan dengan hasil tes PCR dan dan dinyatakan sembuh. “Setidaknya 2 bulan sejak hasil PCR negatif atau sembuh,” imbuh Endro.

Sementara itu, Subiyantara, Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Depok, yang ditemui saat memantau jalannya aksi donor darah, menyampaikan bahwa agenda jemput bola donor darah di 17 kapanewon ini perlu diapresiasi dalam rangka memenuhi kebutuhan kantong-kantong darah. Ia juga menyebutkan bahwa dirinya rutin mendonorkan darahnya.

“Kebetulan saya baru 1 bulan yang lalu donor, jadi belum bisa ikut donor lagi di Kapanewon Depok,” tutur Subiyantara.

Agung Nugraha, salah satu pendonor, mengatakan bahwa agenda seperti ini patut didukung. “Saya kebetulan rutin donor, dan sudah beberapa kali ini ikut di Kapanewon Depok. Saya berharap semoga target bisa terpenuhi,” jelasnya. (Andri/KIM Depok)




Melihat Penyimpanan Benda Pusaka di Kampung Literasi Pakem

Pakem – Keberadaan benda pusaka seyogianya harus dilestarikan. Selain menjadi bukti perkembangan sejarah di Indonesia, melestarikan benda pusaka merupakan bentuk  penghormatan terhadap leluhur. Hal tersebut yang melatarbelakangi salah satu anggota Kampung Literasi Pakem (KALIPA) membuat Pawon Kalipa, sebuah tempat kuliner yang juga menjadi tempat untuk melesetarikan dan menyimpan benda pusaka.

Budi Sarjono, salah satu pengurus di Pawon Kalipa menuturkan, ide pembuatan tempat penyimpanan benda pusaka yang berada di Kampung Literasi Pakem (KALIPA) ini berawal dari Dhiah Ayu Wartaningsih, salah satu tokoh spiritual yang tergabung dengan Kalipa.

“Mbak Dhiah waktu itu mendapatkan hibah titipan berupa pusaka, tapi tidak tahu mau disimpan di mana,” ujar Budi saat ditemui di Kampung Literasi Pakem yang berada di Padukuhan Kregen Pakemgede, Kalurahan Pakembinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, Kamis (23/9/2021).

Dhiah kemudian berdiskusi dengan Budi dan melakukan perhitungan lahan yang ada. Dari sana, Dhiah kemudian berinisiatif untuk membuat sebuah tempat yang memang khusus digunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka yang ada.

“Ketika mengukur tanah, ada kelebihan yang bisa dijadikan tempat pusaka,” ujar Budi lagi.

Saat ini, Pawon Kalipa telah memiliki beberapa simpanan benda pusaka, di antaranya adalah beberapa gamelan Pelog Slendro, Wayang Kulit, dan Tosan Aji. Pada Kamis (23/9/2021), Pawon Kalipa juga menerima hibahan pusaka dari Banyuwangi, Jawa Timur berupa gamelan yang dipercaya sudah ada sejak era Majapahit, wayang, dan keris.

Budi juga menuturkan, nantinya di Kalipa ini juga akan dibangun museum sepeda yang akan memamerkan beberapa sepeda yang dinilai memiliki sejarah, seperti Sepeda Bung Karno, Sepeda Ade Irma Suryani, Sepeda Presiden Jokowi yang digunakan ketika kampanye di Kridosono, dan Sepeda Hamengkubuwono 6 dan 7.

“Nanti ini bisa menjadi bagian destinasi wisata, terutama untuk anak-anak,” imbuh Budi. (Rep Rahayu)




Hidup Pintar di Dunia Digital

Sleman – Dalam rangka mewujudkan masyarakat cakap digital, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menyelenggarakan kegiatan literasi digital secara virtual menggunakan aplikasi Zoom Cloud Meeting, Rabu (22/9/2021).

Kegiatan yang dipandu oleh Lovenia Viona Gultom menghadirkan Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Komputer Universitas Pancasila, Muhamad Rosit sebagai narasumber. Pada kesempatan tersebut, Rosit mengupas materi tentang menjaga keamanan digital yang dirasa sangat penting karena semua hal di lingkungan masyarakat saat ini menuntut untuk lebih pintar dan cerdas dalam menghadapi era digital.

Menurut Muhamad Rosit, terdapat lima hal yang harus diperhatikan pengguna media sosial (Medsos) supaya pintar di ruang digital, yakni harus bisa mengakses, mencari, menyaring, memanfaatkan, dan mendistribusikan informasi yang ada di internet secara bijak agar berguna bagi masyarakat luas dan tidak tersangkut dengan pelanggaran hukum.

“Selain itu, sebagai pengguna Medsos juga harus memperhatikan jejak digitalnya karena rekam atau bukti yang ditinggalkan setelah beraktivitas di internet berpotensi untuk dicari, dilihat, disalin, dicuri, dipublikasi, dan diikuti orang lain. Bahkan, jejak digital dapat membentuk citra diri seseorang dan dapat merugikan diri sendiri,” tegas Rosit.

Adapun cara merawat jejak digital antara lain dengan mengatur privasi di perangkat dan akun medsos sesuai dengan target unggahan konten atau foto, menggunakan kombinasi yang kuat untuk kata sandi, menghapus aplikasi yang tidak dipakai, menggunakan akun berbeda untuk berbagai keperluan, pekerjaan, pendidikan, dan belanja, serta selalu update sistem operasi dan antivirus.

Rosit juga memberikan beberapa Tips untuk menjaga keamanan digital yaitu cerdas dalam menggunakan internet, tidak mengunggah informasi sensitif seperti nomor KTP, PIN, kata sandi, alamat rumah, nomor ponsel, dan tanda tangan. Selanjutnya membuat kata kunci (Password) yang kuat dan tidak membagi kepada orang lain, mengaktifkan verifikasi dua langkah (Two-step verification), serta bijak berinternet dan jangan mudah terpancing konten negatif apalagi menyebarkannya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Jelang Dibuka, Destinasi Wisata di Sleman Harus Memenuhi Syarat

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman terus melakukan uji coba terhadap operasional destinasi wisata di Kabupaten Sleman pada masa PPKM level 3 ini. Salah satunya adalah uji coba yang dilakukan di Destinasi Wisata Merapi Park yang berada di Jalan Kaliurang KM 22,5, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, (23/9/2021). Uji coba tersebut dilakukan langsung oleh Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa bersama Dinas Pariwisata DIY.

Danang Maharsa menyebutkan tempat wisata yang akan melakukan uji coba persiapan pembukaan harus memenuhi persyaratan, seperti memiliki sertifikat Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan (CHSE), penyediaan kode batang (barcode), dan pengelola sudah divaksin.

“Ada beberapa syarat tertentu agar bisa destinasi wisata ini yaitu salah satunya harus mengantongi sertifikasi CHSE yang dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata di pusat dan juga sudah memiliki barcode untuk akses peduli lindungi dan selanjutnya juga harus dan semua pengelola yang ada di destinasi wisata ini sudah melakukan vaksinasi,” ujar Danang.

Danang menuturkan bahwa persyaratan tersebut dibuat agar keamanan para wisatawan itu terjamin. “Ini merupakan syarat yang harus di penuhi oleh destinasi wisata jika ingin mengadakan pembukaan percobaan, karena juga ini bagian dari pada rasa aman dan kepastian oleh pengunjung bahwa destinasi wisata ini memang sudah memenuhi syarat untuk dibuka,” tambahnya.

Uji coba destinasi wisata sendiri dilakukan untuk meningkatkan kembali sektor pariwisata yang terdampak akibat pandemi COVID-19, sehingga dapat menaikan kembali perekonomian dan pemasukan daerah.

Kemudian, untuk memudahkan pengunjung maka juga telah disediakan sistem aplikasi bernama Visiting Jogja yang dapat diakses pengunjung untuk melihat semua informasi destinasi wisata yang telah dibuka dan daya tampungnya.

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo menjelaskan bahwa Pemerintah DIY sedang mengupayakan penyederhanaan aplikasi Visiting Jogja yang akan disatukan dengan Peduli Lindungi agar pengunjung tidak perlu mengakses 2 sistem aplikasi.

“Saat ini kami berupaya untuk mesimplifikasikan  sistem yang ada Visiting Jogja dan peduli lindungi, harapan kami bisa ada 1 aplikasi nanti Visiting Jogja sudah mau meng-cover Peduli Lindungi  terintegrasi di dalamnya sehingga wisatawan tidak repot untuk 2 aplikasi kemudian dari pengelolaan juga nanti ada,” jelas Singgih. (Rep Nikke)