Kepala Dinkes Sleman Ajak Masyarakat Tingkatkan Kesadaran Keamanan Pangan

Sleman – Dalam rangka meningkatkan kesadaran keamanan pangan serta mengantisipasi perubahan pola hidup dan pola konsumsi masyarakat termasuk generasi muda agar dapat mengenali, memilih, dan mengonsumsi pangan yang aman, bermutu, dan bergizi, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menggelar seminar Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Keamanan Pangan yang dilaksanakan di Crystal Lotus Hotel Yogyakarta, Rabu (29/9/2021).

Seminar yang juga dapat disaksikan secara virtual melalui kanal youtube Sleman TV dan Promkes Sleman ini menghadirkan narasumber dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Daerah Istimewa Yogyakarta, Evi Andriyani dan Sekretaris jurusan gizi Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta, Weni Kurdanti.

Acara dibuka secara langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr. Cahya Purnama sekaligus sebagai Keynote Speaker dengan peserta seminar dari sejumlah perwakilan organisasi dari unsur Saka Bhakti Husada, Karang Taruna, Duta Kesehatan Remaja, Saka Kominfo, Saka Wisata, Saka Bhayangkara, Angkatan Muda Muhammadiyah, Banser, Forum Anak, serta Forum Kelompok Informasi Masyarakat yang ada di wilayah Kabupaten Sleman.

Sebagai pemantik diskusi, dr. Cahya Purnama menjelaskan bahwa pangan yang aman adalah makanan yang tidak membuat orang menjadi sakit, melainkan makanan yang membuat orang menjadi sehat. Menurutnya, pangan yang aman yaitu makanan yang tidak tercemar bahan berbahaya, tidak merugikan, tidak mengganggu, tidak membahayakan kesehatan, serta sesuai ajaran agama dan budaya.

“Jenis bahaya yang diakibatkan dengan adanya makanan yang tercemar bahan berbahaya antara lain bahaya biologis, bahaya fisik, dan bahaya kimia. Adapun permasalahan utama keamanan pangan adalah cemaran fisik dan mikroba karena rendahnya kondisi higiene dan sanitasi, juga cemaran kimia karena kondisi lingkungan yang tercemar limbah industri,” sambung dr. Cahya.

Dirinya juga mengharapkan masyarakat untuk mewaspadai terhadap penyalahgunaan bahan pengawet yang dilarang digunakan untuk pangan seperti formalin, rhodamin B, boraks, methanol yellow, serta penggunaan bahan tambahan pangan yang melebihi batas maksimal yang diijinkan. Hal ini bisa terjadi pada aneka jajanan kekinian yang berupa pangan siap saji maupun pangan olahan kemasan.

Ditambahkan bahwa perlu peningkatan kesadaran keamanan pangan yang harus dilakukan oleh pemerintah yang berwenang memastikan keamanan pangan dan mutu pangan sebagai regulator, masyarakat sebagai konsumen yang memiliki hak untuk mendapatkan pangan yang aman, berkualitas, dan bermutu, serta pengusaha pangan selaku produsen yang menjamin keamanan pangan dan mutu pangan.

“Upaya keamanan pangan harus dilakukan dari hulu melalui pendampingan berupa sertifikasi, registrasi, dan standarisasi. Dilanjutkan pada tahap distribusi dengan melakukan pemantauan peredaran, sampling makanan, dan penarikan produk. Sampai pada tataran masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat, layanan konsumen, dan komunikasi, informasi, edukasi seperti yang dilaksanakan sekarang,” tegas dr. Cahya (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




BKAK Mlati Hapus Sisa Pinjaman Warga yang Meninggal Karena COVID-19

Mlati – Kasus COVID-19 yang meningkat pesat pada periode Juni – Agustus 2021 menyebabkan dampak yang besar terhadap kondisi perekonomian masyarakat yang melemah, bahkan mengalami kelumpuhan. Untuk membantu menanggulangi dampak tersebut, Unit Pengelolaan Kegiatan (UPM) Badan Kerja Sama Antar Kalurahan (BKAK) Kapanewon Melati membuat kebijakan penghapusan pinjaman terhadap para pemanfaat yang telah meninggal dunia karena terpapar Pandemi COVID-19.

Kliwon Suhirman, Ketua BKAK Kapanewon Mlati menuturkan, penghapusan pinjaman ini merupakan wujud kepedulian UPK-BKAK Mlati terhadap anggota pemanfaat yang meninggal karena COVID-19. Menurut data, ada 4 anggota BKAK Mlati yang meninggal dunia karena COVID-19 pada periode Juni – Agustus 2021, dengan total sisa pinjaman sebesar  Rp. , -. Sisa pinjaman para anggota yang telah meninggal  tersebut dihapus per Kamis (30/9/2021).

“Saat ini kami menghapuskan pinjaman dari ibu-ibu pemanfaat SPP yang telah meninggal karena COVID-19. Kami mewakili lembaga turut berduka cita. Hari ini kami mengundang Bapak/Ibu ahli waris beserta pengurus kelompok sekalian untuk penandatangan penghapusan pinjaman,” ujar Kliwon saat Penandatanganan Penghapusan Pinjaman di BKAK Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Kamis (30/9/2021).

Kliwon mengatakan, BKAK akan memanfaatkan dana cadangan risiko dan kumpulan penjamin risiko pinjaman untuk menutupi penghapusan tersebut. Harapannya, dengan penghapusan pinjaman ini, para ahli waris tidak lagi terbebani dengan tanggungan pemanfaat di UPK.

“Dengan ditandatanginya surat penghapusan pinjaman ini, maka lunas semua kewajiban almarhumah. Semoga hal yang kecil ini dapat memperingan beban keluarga almarhumah,” imbuh Kliwon. (Yoko Erwe/KIM Mlati)




Memilih Pangan Aman dan Bergizi bagi Generasi Muda

Dalam rangka mewujudkan keamanan pangan bagi generasi muda, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman menyelenggarakan Seminar Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) Keamanan Pangan bagi Generasi Muda di Hotel Crystal Lotus Sleman pada Rabu (29/09/2021).

Weni Kurdanti, narasumber dari Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, menyampaikan bahwa diperlukan adanya persiapan kualitas generasi muda bagi kemajuan Indonesia.

“Generasi ini adalah generasi  yang harus dipersiapkan kualitas nya untuk menyambut Indonesia emas 25 tahun mendatang dengan perencanaan yang matang baik untuk pendidikan, kesehatan maupun ketrampilannya,” imbuh Weni Kurdanti.

Menurut hasil sensus penduduk 2020 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Indonesia pada September 2020 adalah 270,20 juta jiwa, dengan komposisi penduduk didominasi oleh generasi milenial dan generasi Z dengan jumlah masing-masing yaitu 25,87 persen dan 27,94 persen.

Dari data tersebut, dapat diartikan bahwa keberadaan generasi milenial dan generasi Z memegang peranan penting dan memberikan pengaruh pada perkembangan Indonesia saat ini dan masa yang akan datang.

Menurut penelitian, lanjut Weni, generasi milenial dan generasi Z adalah generasi yang sangat akrab dengan teknologi informasi. Banyak kemudahan didapatkan dari media online, market place, media sosial, media elektronik (televisi), media cetak, maupun iklan di pinggir jalan.

Hal tersebut, menurut Weni, sangat berpengaruh terhadap pola belanja terutama aneka makanan baik yang siap saji maupun produk makanan olahan.

Beragam promosi penyajian, harga yang terjangkau, dan tempat yang nyaman kadang membuat mereka tidak menyadari bahwa makanan yang dikonsumsi memiliki kalori, kadar gula, garam, dan lemak yang tinggi namun rendah serat yang akan mengganggu kesehatan seperti diabetes, penyakit jantung, darah tinggi, obesitas, hingga malnutrisi.

Untuk itu, generasi muda perlu dibekali dengan pengetahuan dan informasi yang memadai akan keamanan pangan yang beredar di masyarakat serta informasi nilai dan kandungan gizi pada pangan yang dikonsumsi.

“Untuk keamanan pangan dalam kemasan pilihlah produk pangan dengan terlebih dahulu melakukan cek KLIK (kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa). Periksa apakah kemasan masih utuh atau tidak rusak, perhatikan labelnya apakah produk memiliki kandungan yang aman dan tidak berbahaya, pastikan produk memiliki ijin edar dari BPOM, terakhir cek tanggal kedaluwarsanya,” papar Weni.

Selain itu, Weni menambahkan, perlu diperhatikan kandungan gizi dari makanan dan minuman yang dikonsumsi karena akan menentukan status kesehatan seseorang.

“Makan tidak asal kenyang, tetapi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan menjaga kesehatan tubuh,” kata Weni.

Karenanya, Weni mengatakan bahwa perlu diketahui tentang konsep “Piring Makanku” yang merupakan contoh penyajian dalam sekali makan.

Konsep tersebut menganjurkan adanya karbohidrat, protein, lemak, dan mineral seimbang dalam satu porsi makanan atau disebut gizi seimbang. Dalam satu porsi sajian, sayur, dan buah adalah separuh bagian piring dan separuh bagian piring lainnya dapat diisi dengan karbohidrat dan protein.

Selain makan dengan gizi seimbang, diharapkan para generasi muda juga melakukan kegiatan fisik minimal 30 menit per hari.

Di hadapan para generasi muda Kabupaten Sleman yang terdiri dari perwakilan berbagai organisasi, Weni menyampaikan bahwa masa remaja adalah masa pertumbuhan yang membutuhkan pangan bergizi untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

Terakhir, ia berharap bahwa generasi muda dapat menjadi bagian dari upaya untuk menyampaikan pesan keamanan pangan baik kepada sesama teman, keluarga maupun lingkungan masyarakatnya. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




DPK Sleman Serahkan Hibah Router WiFi Kepada Perpustakaan Kalurahan

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Sleman menyerahkan 12 router WiFi kepada 12 perpustakaan kalurahan pada Rabu (29/9/2021) di Selasar Gedung Perpustakaan Kabupaten Sleman.

Kepala DPK Sleman, Sri Wantini, menyampaikan bahwa hibah tersebut merupakan bantuan pengembangan dan pemeliharaan layanan perpustakaan elektronik Kabupaten Sleman yang bersumber dari APBD Kabupaten Sleman tahun anggaran 2021.

DPK Sleman memiliki layanan Sleman One Search (SOS) yang dapat digunakan oleh masyarakat pemustaka dalam memperoleh informasi digital  tentang koleksi buku yang ada di setiap perpustakaan di lingkungan Kabupatan Sleman seperti halnya perpustakaan kalurahan.

Menurut Sri Wantini, penyerahan bantuan router WiFi bagi 12 perpustakaan kalurahan anggota SOS dimaksudkan agar perpustakaan dapat lebih memanfaatkan jaringan internet dalam memberikan layanan kepada pemustaka.

“Bagaimana mengoptimalkan layanan digitalisasi perpustakaan serta pemanfaatan prasarana hibah jaringan internet secara berkesinambungan yang dilaporkan penggunaannya kepada kantor DPK Kabupaten Sleman setiap akhir tahun,” pungkas Sri Wantini.

Dari 12 perpustakaan kalurahan yang mendapatkan bantuan tersebut, satu diantaranya merupakan perpustakaan yang memiliki kategori desa mandiri gemar membaca, yaitu Perpustakaan Kalurahan Widodo (Widodomartani).

Sementara 11 perpustakaan lainnya masih berstatus sebagai rintisan desa gemar membaca program dari DPK Sleman, yaitu Perpustakaan Generasi Sukoharjo Cerdas (Sukoharjo), Perpustakaan Sumber Ilmu (Balecatur), Perpustakaan Pustaka Karta (Sidokarto), Perpustakaan Pustaka Widya (Margokaton), Perpustakaan Pena (Sumberharjo), Perpustakaan Mentari (Sumberrahayu), Perpustakaan Banyu Pustaka (Banyuraden), Perpustakaan Banyurejo (Banyurejo), Perpustakaan Caturharjo (Caturharjo), Perpustakaan Tirtoadi (Tirtoadi), dan Perpustaan Umbulmartani (Umbulmartani). 

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Bambang Nursinggih, didampingi Nuradi Indra Wijaya selaku Ketua GPMB Kabupaten Sleman juga menyerahkan sejumlah buku tematik berbahasa Jawa dalam rangka meningkatkan minat baca masyarakat Sleman.

“Minat membaca adalah suatu gerakan, salah satunya dengan menyediakan buku-buku berbahasa Jawa yang lekat dengan keseharian masyarakat seperti dongeng dan karya sastra lainnya,” ungkap Bambang. (Nuradi-KIM Ngemplak)




Himpaudi Depok Ikuti Workshop K-13 PAUD

Depok- Dalam rangka peningkatan kapasitas pengajar PAUD di Sleman, Himpaudi Kapanewon Depok mengikuti workshop Kurikulum-13 (K-13) bermuatan Science, Technology, Engineering, Art, dan Mathematics (STEAM) berbasis Higher Order of Thinking Skill (HOTS), di Twin Asri, Tridadi, Sleman pada Rabu (29/09/2021).

Kegiatan yang digelar oleh Bagian Kurikulum Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sleman tersebut diikuti oleh 17 kapanewon dengan tiga pendidik PAUD non formal di tiap Kapanewon. Acara tersebut dibuka oleh Kepala Disdik Sleman, Ery Widaryana, yang memberikan arahan terkait kebijakan Disdik di bidang pembinaan PAUD dan Dikmas.

Beberapa materi disampaikan oleh Kabid PAUD dan Dikmas, praktisi pendidikan dari UNY, serta Himpaudi DIY mengenai peningkatan kompetensi pendidik dalam mendesain model pembelajaran yang bermuara dalam menyusun tugas HOTS yang bermuatan STEAM.

Tujuan dari model tersebut adalah agar siswa terbiasa mengerjakan soal kontekstual yang memerlukan penalaran sederhana, problem solving, serta konsep berfikir yang holistik dan komperhensif sesuai dengan umur dan perkembangan anak usia dini.

Ketua Himpaudi Kapanewon Depok, M. Fatkhurrahman Masykur, menyampaikan bahwa kegiatan workshop tersebut diharapkan membuka wawasan baru dan mindset pendidik PAUD untuk dapat diimplementasikan tiap Lembaga PAUD yang ada di Kapanewon Depok.

Selain itu, kegiatan tersebut juga diharapkan dapat dijadikan wahana untuk sharing, networking, dan berbagi ilmu antar pendidik.

“Kegiatan ini sangat berguna bagi guru PAUD maupun orang tua, karena dengan menggunakan pembelajaran pendekatan  STEAM ini orang tua dapat memanfaatkan barang yang ada di sekitar dan menghemat biaya yang dikeluarkan,” pungkasnya.

Dalam kegiatan tersebut ditampilkan pula inovasi media bermain serta pembelajaran anak didik PAUD oleh Himpaudi Kapanewon Depok berupa material seperti kancing, manik-manik, biji rotan, biji kamboja, tutup botol, stik es krim, sedotan, dan lainnya yang disusun sebagai cendera mata yang menarik.

Media pembelajaran yang dipamerkan tersebut melatih soft skill serta daya kreatifitas anak dalam merangkai sesuatu. Unsur STEAM berbasis HOTS melalui metode pembelajaran ini secara tidak langsung akan terstimulus pada anak, walau dengan model bermain seperti dunia anak-anak usia dini. (Ari Sutanti/KIM Depok)