Lestarikan Seni Budaya di Tengah Pandemi, Paguyuban Ketoprak Tri Manunggal Rutin Gelar Latihan

Paguyuban Ketoprak Tingkat Kapanewon Depok, Tri Manunggal, rutin menggelar latihan jelang Festival Ketoprak Tingkat Kabupaten. Festival tahunan tersebut digelar Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman pada 18-26 September 2021 yang diikuti seluruh kapanewon di Kabupaten Sleman.

Guna menyiapkan festival tersebut, Paguyuban Ketoprak Tri Manunggal sebagai kontingen Kapanewon Depok menggelar latihan intensif yang dipusatkan di Gedung Pertemuan PKK Komplek Kantor Kapanewon Depok. Pelaksanaannya sendiri, Kapanewon Depok akan tampil Jumat (24/09/2021) kloter 2 atau pukul .

“Sehubungan dengan masih PPKM, pihak panitia mengeluarkan kebijakan dengan membatasi jumlah pemain dan pengrawit gamelan, maksimal 25 orang,” terang Yatiman, Pelatih Kethoprak Tri Manunggal saat di sela-sela latihan pada hari Minggu (19/09/2021).

Yatiman menjelaskan, pada saat pentas tidak boleh ada penonton. Penonton dapat melihat secara daring melalui kanal Youtube Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman.

“Dalam rangka regenerasi, juga diatur masalah umur pemain, maksimal 40 tahun,” imbuh Yatiman.

Upaya pelestarian kesenian tradisional tersebut patut diapresiasi, terlebih selama pandemi tidak ada aktivitas yang berkaitan dengan pentas seni budaya maupun sosial kemasyarakatan.

“Sebenarnya, kami sudah menyiapkan naskah baru kethoprak sejak bulan Juni, namun adanya PPKM membuat latihan terhenti. Terlebih adanya pembatasan pemain dan durasi, akhirnya diputuskan memakai naskah lama yaitu ‘Pangeran Timur’ yang sudah pernah dipentaskan,” ujar Suroso, Staf Jawatan Sosial Kapanewon Depok selaku tim pendamping kontingen.

Ia menjelaskan bahwa untuk pentas kali ini, paguyuban berkolaborasi dengan pengrawit gamelan Ngesti Laras dari Kalurahan Condongcatur, Depok, Sleman.

“Besok Selasa (21/09/2021) kita latihan gabungan dengan tim pengrawit dan menghitung durasi main, semacam gladi kotor sebelum pentas,” imbuh Suroso. (Andri Afriyanto/KIM Depok)




Memasyarakatkan Aksara Jawa melalui KIM

Sleman – Sejalan dengan digagasnya DIY sebagai Kota Hanacaraka, Forum Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Sembada Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan (Kundha Kebudayaan) DIY menggelar seminar Literasi Aksara Jawa: Sejarah, Mitologi, dan Sastra secara virtual pada Sabtu (18/9/2021). Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan FKIM Sembada Sleman untuk memasyarakatkan Aksara Jawa kepada warga Sleman, khususnya generasi muda.

“Hal ini juga sekaligus upaya untuk mendorong penggunaan Aksara Jawa secara luas,” ungkap Nuradi Indrawijaya, salah satu anggota FKIM Sembada Sleman.

Materi seminar sendiri disampaikan langsung oleh Setya Amrih Prasaja, Founder Komunitas Aksara Segajagung dan Filolog Kandha Kebudayaan DIY. Dalam penyampaiannya, Setya menyoroti minat generasi muda Jawa dalam memahami Aksara dari Negara lain dibandingkan Aksara Jawa.

“Tidak sedikit generasi muda kita bisa membaca Aksara Kanji dari Jepang ataupun Hangeul dari Korea, tetapi tidak bisa membaca Aksara Jawa. Bagi mereka, Aksara Jawa dianggap kuno dan tidak mudah dipelajari karena Aksara Jawa susah diakses secara digital,” kata Setyo.

Oleh karena itu, Setyo menegaskan bahwa eksistensi Aksara Jawa juga harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, yaitu melalui teknologi digital agar lebih mudah diakses oleh siapa saja.

“Melalui platform digital tersebut akan mempermudah akselerasi Literasi Aksara Jawa untuk dikenal di tingkat Internasional, sehingga Sastra dan Literasi Jawa ini dapat diakui di tingkat Internasional seperti halnya Aksara Jepang, Korea, China, dan juga Arab,” imbuh Pria yang juga merupakan Guru Bahasa Jawa ini.

Jika dilihat dari sejarahanya, tulisan Jawa menurut Setyo merupakan turunan dari Aksara Kawi, yang merupakan pengembangan dari Aksara Pallawa yang digunakan untuk menulis terjemahan Bahasa Sansekerta. “Aksara tersebut kemudian mengalami perkembangan yang dikenal dengan Carakan atau Aksara Jawa,” ungkap Setyo.

Dalam perkembangannya, Aksara Jawa banyak dikenal dari Dongeng Ajisaka. Dalam dongeng dikisahkan Aji Saka mengungkapkan rasa penyesalan dan kelalaiannya atas kisah tragis yang dialaminya dengan sebuah kalimat yang akhirnya menjadi gabungan suku kata dalam Aksara Jawa.

“Susunannya adalah Ha Na Ca Ra Ka (ada urusan), Da Ta Sa Wa La (saling berselisih pendapat), Pa Dha Ja Ya Nya (sama-sama sakti), Ma Ga Ba Ta Nga (sama-sama menjadi mayat),” terang Setyo.

Aksara Jawa juga menurut Setyo mempunyai filosofi yang tinggi, di mana Aksara tersebut merupakan gambaran konsep Sangkan Paraning Dumadi (Asal dan Tujuan Hidup), yaitu menunjukkan adanya pencipta (Tuhan), ciptaan (manusia), dan tugas yang diberikan kepada manusia.

“Dalam masing-masing hurufnya juga mengandung makna luhur di dalamnya. Nilai-nilai yang terkandung senantiasa mengajarkan manusia untuk selalu ingat akan pencipta dan menjaga keseimbangan hidup antara manusia maupun alam semesta,” ungkap Setyo.

Dinas Kebudayaan DIY sendiri, lanjut Setyo, telah melakukan berbagai cara untuk lebih memasyarakatkan Aksara Jawa di masyarakat, diantaranya menyusun Perda yang memasukkan Aksara Jawa sebagai salah satu kurikulum sekolah, baik di tingkat SD, SMP, maupun SMA.

“Sehingga menjadi kewajiban bersama untuk melestarikan Bahasa, Sastra, dan Tulisan Jawa. Saya berharap komunitas KIM juga dapat memulai sosialisasi lewat lembaga masing-masing,” tutup Setyo. (Suripto/Upik Wahyuni/KIM Ngaglik)




Pariwisata Menjadi Salah Satu Sektor yang Paling Terdampak saat PPKM

Sleman – Sektor parwisata menjadi salah satu sektor yang paling terdampak terhadap pemberlakukan PPKM di Kabupaten Sleman. Hal tersebut dikarenakan banyaknya pihak yang terlibat dalam kegiatan wisata, sehingga ketika dilakukan penutupan, dampaknya cukup signifikan.

“Karena kebijakannya (pembatasan wisata) dampaknya ke UMKM, ada kuliner, perjalanan (transportasi), hotel, ada banyak pekerja yang terlibat di sektor wisata,” ujar Eka Priastana Putra, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman saat menghadiri Pengukuhan Pengurus Jogja Travel Community di Rumah Dinas Bupati Sleman, Sabtu (18/9/2021).

Namun di tengah kondisi tersebut, Eka mengajak masyarakat untuk tetap bersyukur dan optimis menghadapi segala keterbatasan yang terjadi.

“Kita harus bersyukur bahwasanya saat-saat yang kritis ini kita masih bisa bertahan,” imbuh Eka.

Sektor wisata sendiri diakui Eka saat ini masih belum menjadi prioritas seperti sektor pendidikan. Namun, dirinya menuturkan di tengah keterbatasan itu, Dinas Pariwisata Sleman terus berupaya agar kondisi sektor pariwisata di Sleman dapat kembali normal kembali, agar masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas mereka seperti sedia kala.

“Kalau di PPKM Level tiga dan empat itu kan tidak boleh dibuka destinasi wisata, namun kami mengupayakan bahwa destinasi ini tetap bisa buka dengan prokes (protokol kesehatan),” tutup Eka. (Rep Rahayu)




Pemkab Sleman Berikan Bantuan Kepada Lansia yang Tinggal di Rumah Tak Layak Huni

Sleman – Dari balik masker yang dipakainya, raut wajah Mbah Saliyah tampak bahagia saat dikunjungi Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo di rumahnya yang berada di Guyangan Kajor, Kalurahan Nogotirto, Kapanewon Gamping, Minggu (19/9/2021) siang. Dengan ramah, perempuan yang sudah memasuki usia senja itu melayani obrolan dengan Kustini sembari membuat anyaman ketupat bersama tetangganya.

Kunjungan Kustini ke rumah Mbah Saliyah kali ini, berdasarkan dari sejumlah aduan di media sosial twitter Sabtu (18/9/2021). Dalam aduan tersebut, dituliskan jika perempuan berusia 77 tahun itu hidup dengan kondisi yang jauh dari kata layak dan membutuhkan bantuan.

“Berdasarkan informasi yang saya dapat sabtu kemarin, hari ini langsung saya respon dengan mengunjungi kediaman mbah Saliyah untuk memastikan kondisi beliau. Dan ternyata laporan itu benar,” jelas Kustini.

Dari obrolan singkatnya bersama Kustini, mbah Saliyah menuturkan bahwa ia tinggal bersama adiknya dengan status warga sleman (ditinggal meninggal suami). Di usianya yang tak lagi sekuat dulu, Mbah Saliyah masih mengais rezeki dengan membuat anyaman ketupat dan mendapat upah Rp per hari.

Sehari-hari mbah Suliyah menempati gubuk yang hanya berukuran kurang dari 2 Meter persegi. Fasilitas rumahnya pun tidak layak, di mana di dalamnya tidak ada kakus, sehingga Mbah Saliyah harus pergi ke sungai di seberangnya untuk membersihkan diri.

“Mbah Saliyah ini memang sendiri di sini tapi ada adik kandungnya. Mbah Saliyah ditinggal suami (meninggal) sudah lama. Mengetahui kondisi Mbah Saliyah, kami dari Pemkab Sleman membantu beliau,” jelas Kustini.

Setelah berbincang 20 menit, Kustini lantas menyampaikan bahwa Pemkab Sleman akan segera membenahi rumah yang ditempat mbah Saliyah. Selain bantuan rehab, Kustini melalui Dinas Sosial juga memberikan bantuan peralatan rumah dan kebutuhan pribadi.

“Mbah Saliyah juga akan kami masukkan dalam program Asistensi Lanjut Usia Terlantar (ASLUT). Dimana setiap bulannya beliau akan menerima Rp. 150 ribu. Semoga semua bantuan ini bisa meringankan beliau untuk menjalani masa tuanya,” terang Kustini.

Bagi Kustini, Mbah Saliyah dan orang lansia lainnya adalah contoh dari warga yang harus diperhatikan oleh Pemkab Sleman dan masyarakat sekitar. Untuk itu, orang nomor satu di Kabupaten Sleman ini meminta masyarakat untuk tidak segan melaporkan kondisi masyarakat yang memang membutuhkan bantuan.

“Dengan media sosial ini, kita (pemerintah) merasa sangat terbantu. Insyallah semua problem atau laporan akan segera kita respon dengan tinjauan,” tegas Kustini.

Usai penyerahan bantuan, Mbah Saliyah dengan suara terbata-bata menyampaikan rasa terima kasihnya. Ia berharap Kustini terus mau terus turun ke masyarakat untuk melihat dinamika sosial yang ada.

“Saya matur nuwun, ibu sudah mau memperhatikan saya. Tetap semangat Bu turun ke bawah. Insyallah jalan jenengan barokah dan selalu diberikan kelancaran,” tambah Saliyah. (Humas Sleman)




Baznas Sleman Gelar Operasi Katarak Gratis untuk Masyarakat

Sleman – Sebagai upaya meningkatkan kesehatan mata masyarakat di Kabupaten Sleman, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Persatuan Dokter Mata Indonesia (PERDAMI) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito Yogyakarta menyelenggarakan program Kegiatan Pemerikasaan dan Operasi Katarak Gratis untuk Masyarakat, dengan skrining awal dilakukan di Serambi Masjid Agung Dr. Wahidin Soedirohoesodo Sleman, Sabtu (18/9/2021).

Ketua Baznas Kabupaten Sleman, Kriswanto mengungkapkan skrining awal ini diikuti oleh calon peserta operasi katarak yang berjumlah 67 peserta. “Hari ini Baznas Sleman mengadakan kegiatan screening untuk calon peserta operasi katarak, ada 67 calon yang hadir pada kesempatan pagi hari ini, itu hasilnya belum tahu nanti menunggu,” ujar Kriswanto.

Pada skrining ini, lanjut Kriswanto, para peserta akan melewati beberapa tahapan pemeriksaan untuk menentukan kondisi mata peserta dan bagaimana penanganan selanjutnya. “Jadi tahapannya yang datang ini nanti akan di periksa dulu apakah betul katarak atau non katarak, kalau sudah katarak kemudian ditetes mata kemudian suruh nunggu 15 menit kemudian diperiksa menggunakan alat untuk mengetahui perluasan dari katarak itu,” jelasnya.

Salah satu warga yang mengikuti pemeriksaan awal dalah Sutrisno (65). Menurut pendampingnya, Sutrisno menderita katarak yang sudah berukuran 1,60 dan telah melakukan beberapa pengecekkan, sebagai persiapan untuk dapat melakukan operasi katarak yang rencananya akan dilakukan pada tanggal 25 September.

“Punya katarak udah 1,60 mata kanan kirinya, cek semuanya dari cek gula darah, cek tensi, cek mata dan belum berpengaruh karena baru ditetes, operasinya besok tanggal 25 di Sardjito,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa berharap dengan dengan adanya kegiatan ini dapat mengurangi gejala penyakit katarak pada masyarakat Kabupaten Sleman.

“Mudah-mudahan dengan bekerja sama operasi katarak ini bisa menurunkan gejala penyakit katarak yang saat ini dialami oleh warga Kabupaten Sleman,” jelas Danang. (Rep Nikke)