Public Speaking sebagai Salah Satu Cara untuk Mengaktualisasikan Diri

Sleman – Bagi generasi milenial, kemampuan berbicara di depan publik (Public Speaking) saat ini memiliki posisi penting, karena percaya diri untuk tampil di depan publik merupakan bagian dari cara dan gaya hidup mereka untuk mengaktualisasikan diri.

Hal tersebut yang mendasari KOKAM Gamping bekerja sama dengan Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, dan AMM Trihanggo Gamping menggelar Latihan Dasar Public Speaking “Bagaimana Cara Agar Percaya Diri?” di Gedung Madrasah Diniyyah Muhammadiyah Ar Rohman, Baturan, Trihanggo, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Minggu (12/9/2021).

“Fasilitas kegiatan ini adalah ilmu bermanfaat, wawasan baru, sertifikat, dan relasi anyar yang positif,” ujar Noviatoro, salah satu panitia mengenai manfaat pelatihan yang diikuti oleh 30 orang Anggota AMM, PM, dan NA Gamping.

Pelatihan sendiri menghadirkan Respati Agus Sasangka, Anggota DPRD Kabupaten Sleman sebagai Keynote Speaker, dan Yunda Eka Annisa Sari, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi UAD sebagai narasumber.

Respati pada kesempatan tersebut mengatakan bahwa kemampuan berbicara di depan umum saat ini sangat penting untuk dimiliki. “Kemampuan berbicara di depan umum, serta kepribadian dalam berpidato masing-masing pribadi menjadi kunci dalam bagaimana memerankan dirinya sebagai komunikator profesional,” ungkapnya.

Sementara itu, Yunda Eka Annisa Sari menyampaikan bahwa salah satu kunci kesuksesan seseorang ditentukan dari kemampuannya dalam berkomunikasi. Ia juga mengatakan kemampuan publik speaking dapat membantu seseorang untuk mengaktualisasikan dirinya dengan tampil di depan khalayak dengan percaya diri dan meyakinkan.

Untuk itu, lanjut Eka, latihan untuk berbicara di depan umum sangat penting untuk dilakukan, agar dapat membangun kepercayaan diri dengan proses, ketekunan, keberanian, dan kesungguhan.

“Dengan latihan ini semoga dapat menjadi jembatan untuk bersama-sama membentuk pribadi yang percaya diri,” imbuh Yunda.

Yunda juga memberikan beberapa tips dan trik dalam melatih kemampuan public speaking yaitu dengan banyak membaca buku, dan melatih intonasi suara. (Arief Hartanto)




Warga Prambanan Jalani Vaksinasi Massal

Prambanan – Kabupaten Sleman terus mempercepat pemberian vaksin COVID-19 untuk masyarakat. Salah satunya adalah vaksinasi massal yang di Kapanewon Prambanan pada Sabtu (11/9/2021).

Vaksinasi diselenggarakan di dua tempat, pertama di Halaman Gereja Tyas Dalem Macanan yang menyediakan kuota vaksin untuk 1400 peserta yang terdiri dari Jemaat gereja dan warga di Kapanewon Prambanan dan Berbah.

Pelaksanaan vaksinasi kedua dilakukan di Muhammadiyah Boarding School (MBS) di Kalurahan Bokoharjo yang menyelenggarakan vaksinasi selama dua hari, yaitu Sabtu (11/9/2021) dan Minggu (12/9/2021) untuk orang yang terdiri dari santri, ustaz, ustazah, keluarga santri, dan masyarakat di sekitar MBS.

Panewu Prambanan, Rasyid Ranadi Sosiawan mengapresiasi para panitia dan masyarakat yang berpartisipasi dalam vaksinasi ini. Ia berharap dengan vaksinasi, kondisi dapat kembali normal, terutama di sektor ekonomi. “Dengan adanya percepatan vaksin ini, diharapkan ekonomi masyarakat segera pulih,” ujarnya. (Ori Fatmawati/KIM Prambanan)    




Polres Sleman Bekerjasama dengan Kalurahan Caturtunggal Vaksinasi Massal Warga

Depok – Polres Sleman bersama Kalurahan Caturtunggal melaksanakan vaksinasi massal Covid-19 di GOR Klebengan, Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Minggu (12/9/2021). Vaksinasi ini digelar untuk mendukung program percepatan vaksinasi nasional dengan sasaran warga yang berdomisili di Kalurahan Caturtunggal.

Warga cukup antusias mengikuti vaksinasi yang digelar di GOR Klebengan ini. Hal ini terlihat dari antrean di gerai vaksinasi yang cukup panjang sejak pagi. Namun kegiatan vaksinasi dapat berjalan lancar, aman, dan sesuai standar penerapan protokol kesehatan yang ketat dengan kehadiran peserta diatur dalam tujuh sesi.

Kanit Binmas Polsek Bulaksumur, AKP. Budi Yuwono mengatakan sasaran vaksinasi kali ini adalah masyarakat umum yang berdomisili di Kalurahan Caturtunggal dengan kuota sebanyak orang. Peserta mendaftar melalui dukuh dan telah dilakukan perekapan oleh Kalurahan Caturtunggal.

Sementara Lurah Caturtunggal, Agus Santoso pada kesempatan yang sama menyampaikan vaksinasi di Kalurahan Caturtunggal ini akan semakin memudahkan warganya dan mahasiswa yang tinggal di Caturtunggal dapat ikut vaksin. “Setelah pada 23 Agustus 2021 lalu juga dilakukan vaksinasi kerjasama Pemerintah Kalurahan bersama dengan Korem 072 Pamungkas, hari ini vaksinasi kami lakukan dengan kerjasama bersama Polres Sleman,” jelasnya.

Lebih lanjut ia berharap dengan adanya vaksinasi ini dapat menciptakan herd immunity dan menekan dampak penyebaran Covid-19 khususnya di wilayah Caturtunggal.(Danang/KIM Depok)




Percepat Vaksinasi, Puskesmas Depok 2 Jemput Bola Kepada ODGJ dan Penyandang Disabilitas

Depok – Sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo saat mengunjungi sentra-sentra vaksinasi di DIY beberapa hari lalu agar Pemerintah Kabupaten/Kota melakukan upaya percepatan vaksinasi, Puskesmas Depok 2 pun mengambil langkah jemput bola agar segera tercapai herd immunity (kekebalan komunal). Pada jemput bola ini, tim vaksinator Puskesmas Depok 2 menyasar kelompok Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan penyandang disabilitas.

“Tim sudah bergerak di lapangan sejak hari Rabu, Kamis dan Jumat,” jelas Sri Mujianto, Kepala UPT Puskesmas Depok 2 saat melakukan jemput bola vaksinasi di wilayah Padukuhan Dabag, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Minggu (12/9/2021).

Di wilayah Dabag ini, tim berhasil menyasar 7 orang dengan rincian 4 orang ODGJ, 1 orang penyandang disabilitas, dan 2 orang dari pihak keluarga pendamping atau orang tua.

Sri Mujianto mengaku sebenarnya pihak Puskesmas sudah mengundang kelompok sasaran, tapi partisipasi rendah. “Untuk itu kami sweeping ke padukuhan,” jelas Sri Mujianto.

Dalam menyambangi padukuhan di wilayah Kalurahan Condongcatur untuk jemput bola vaksinasi ini, tim vaksinator didampingi Dukuh dan Kader.

Sri Mujianto menyampaikan bahwa kegiatan ini dilakukan dalam rangka mempercepat capaian vaksinasi dan tak hanya bagi masyarakat yang mempunyai keterbatasan akses seperti ODGJ, orang berkebutuhan khusus, dan penyandang disabilitas.
“Jika ada orang tuanya atau keluarganya belum divaksin, maka sekalian kita vaksin,” imbuh Sri Mujianto.(Andri Afriyanto/KIM Depok)




DPRD DIY: Anak Berkebutuhan Khusus Berhak Peroleh Pendidikan Setara

Seyegan – Penyebaran Sekolah Luar Biasa (SLB) yang tidak merata di DIY, sarana prasarana SLB yang belum optimal, serta anak berkebutuhan khusus secara konstitusi berhak memperoleh pendidikan yang sama dan setara, menjadi beberapa alasan penting yang mendasari diperlukannya Perda terkait penyelenggaraan pendidikan khusus. Raperda Penyelenggaraan Pendidikan Khusus bagi anak berkebutuhan khusus itu kini tengah digodog di DPRD DIY.

Sadar Narima, anggota DPRD DIY mengutarakan ketika anak berkebutuhan khusus tidak dapat bersekolah di sekolah luar biasa atau SLB karena berbagai alasan misalnya jaraknya jauh, maka ABK dapat bersekolah di sekolah inklusi. “Sekolah inklusi adalah tempat di mana anak-anak berkebutuhan khusus dapat belajar bersama dengan anak-anak reguler lainnya. Namun, anak berkebutuhan khusus tetap didampingi oleh guru pendamping selama kegiatan belajar mengajar,” kata Sadar saat melakukan Public Hearing di Balai Dusun Barak I, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Sabtu (11/9/2021).

Ditambahkan Sadar, salah satu tujuan pendidikan inklusif ialah memberi ruang untuk murid berkebutuhan khusus dengan sekolah memberikan ruang yang sama untuk belajar baik bagi murid berkebutuhan khusus maupun yang tidak. Lewat sekolah inklusi, mereka bisa belajar tentang perbedaan sejak sedini mungkin dan memahami bahwa semua anak sama dan memiliki hak untuk belajar yang setara terlepas dari kondisi fisik atau mental masing-masing.

Mengenai sekolah inklusi ini, Karjana, praktisi pendidikan sekaligus anggota Dewan Kebudayaan Sleman mengungkapkan beberapa kendala yaitu minimnya jumlah guru pendamping dan tidak semua guru memahami cara mengajar bagi anak berkebutuhan khusus. “Solusinya sekolah inklusi bisa menggunakan pengajaran kolaboratif atau co-teaching dimana satu kelas ada 2 guru. Satu orang guru fokus mengajar anak-anak lain, dan satu lagi fokus pada anak berkebutuhan khusus,” papar Karjana.

Adapun resiko bullying atau perundungan dari siswa reguler pada anak berkebutuhan khusus bagi Karjana adalah relasi sosial yang hampir mungkin terjadi, sehingga solusinya adalah memasang CCTV pada sekolah inklusif dan penanaman budi pekerti pada anak didik.

“Salah satu konsep pendidikan inklusif adalah mengakui keunikan setiap anak. Tidak ada anak yang sama, bahkan jenis kecerdasan yang mereka miliki pun bisa berbeda. Di sekolah inklusi, hal ini mendapat validasi tertinggi. Guru tidak akan memaksa setiap anak memiliki perkembangan akademik yang sama baiknya, namun disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak didik,” tambah Karjana.

Sedangkan Elinovita, aktivis perempuan pendamping disabilitas dari Moyudan menambahkan stigma terhadap kaum difabel seyogyanya dihilangkan. Misalnya istilah ‘tidak normal’, diksi ‘cacat’ yang kalau sebuah barang adalah barang yang tidak bisa digunakan lagi, demikian juga penggunaan kata ‘tuna’ dalam bahasa Jawa artinya rugi. Padahal banyak orang besar dilahirkan sebagai difabel misalnya Beethoven, Hellen Keller,” ungkap Elin.

Elin menambahkan landasan pendidikan inklusif yang sangat penting adalah memandang perbedaan sebagai hal yang normal. “Dalam sekolah inklusi, semua orang yang terlibat akan melihat perbedaan sebagai hal yang normal dan bukan masalah besar. Lambat laun, anak akan mengerti bahwa kondisi teman mereka ada yang berkebutuhan khusus dan itu adalah bagian normal dalam hidup dan kehidupan,” pungkas Elin. (HRH91/KIM Moyudan)