Forum TBM Sleman Gelar Musyawarah Daerah

Sleman – Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Kabupaten Sleman gelar Musyawarah Daerah (Musda) ke-4 mengusung tema Semangat Kolaborasi Pegiat Literasi Mewujudkan Kecakapan Hidup Masyarakat di Tengah Pandemi.  Kegiatan yang diselenggarakan di Aula TBM Mata Aksara Sleman, Minggu (26/9/2021) ini dihadiri oleh perwakilan pengelola TBM se-Kabupaten Sleman, dengan jumlah peserta sekitar 25 orang.

Sidik Pratomo, Ketua Forum TBM Sleman Non-Aktif dalam sambutannya menyatakan kepemimpinan forum TBM saat ini harus memiliki kompetensi yang gesit, sesuai dengan perkembangan teknologi yang serba cepat dan terbarukan. “Agenda Musda ini diharapkan terpilih ketua forum yang sesuai dengan kriteria tersebut,” kata Sidik.

Sementara itu, Ketua Forum TBM DIY, Indra Suryanto mengatakan bahwa semangat Musda ini harus menjadi kekuatan untuk membuktikan kinerja literasi sesuai dengan semboyan Sleman Sembada. Indra, juga mengapresiasi kesigapan panitia dalam menyiapkan seluruh rangkaian kegiatan ini hingga dapat terselenggara dengan baik dan lancar.

Sri Muliani, Kepala Seksi Kurikulum dan Peserta Didik PAUD dan Pendidikan Masyarakat Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman menuturkan bahwa FTBM Sleman merupakan sebuah gerakan nyata dalam bidang literasi di Kabupaten Sleman. Meskipun bukan lembaga formal, para pegiat literasi yang tergabung di dalamnya memiliki peran penting bagi masyarakat.

“Terlebih di masa pandemi, saat anak-anak masih pembelajaran secara daring di rumah, banyak aksi penguatan literasi yang dilakukan masing-masing TBM,” ungkap Sri.

Sri juga mengatakan, sepak terjang FTBM Sleman juga mendapat dukungan dari Disdik Sleman melalui bantuan buku bacaan. Ia juga menekankan mengenai pentingnya kerja sama antar pihak dalam menjalan tugas pokok FTBM.

Hal senada juga diungkapkan oleh Sri Wantini, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman. Ia mengatakan, kolaborasi dalam menguatkan literasi merupakan hal yang penting untuk dilakukan.

“Forum TBM merupakan mitra dari Dinas Perpustakaan Sleman, sehingga diharapkan kolaborasi dapat terus dijalin untuk terus menumbuhkan serta menguatkan literasi masyarakat Sleman” ujar Sri Wantini.

Pada Musda juga dilakukan pemilihan Ketua Forum TBM yang baru secara musyawarah. Namun karena belum memperoleh kesepatakan, pemilihan dilanjutkan dengan proses pemungutan suara (voting). Dari hasil voting, Imam Syaiful Wicaksono terpilih sebagai Ketua Forum TBM Sleman untuk periode 2021-2026.

“Ketua Forum terpilih agar terus menjalin komunikasi yang baik dengan mengedepankan suasana jalinan guyup rukun antar TBM di Sleman,” tutup Sidik. (Nuradi/KIM Ngemplak)




DLH Sleman Gelar Program Kali Bersih

Gamping – Untuk menjaga Sungai Bedog agar tetap berfungsi sesuai dengan peruntukannya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman berkolaborasi dengan Komunitas Bedog Lestari dan Relawan Kekandhangan melaksanakan kegiatan Program Kali Bersih (Prokasih) bertempat di Bantaran Sungai Bedog, Padukuhan Kaliabu, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Minggu (26/9/2021).

Kegiatan dihadiri oleh Panewu Gamping Sarjono, Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup DLH Kabupaten Sleman, Purwoko Sasmoyo didampingi Kepala Seksi Pengendalian Pencemaran dan Pemulihan Lingkungan Hidup, Sasikirana, serta Lurah Banyuraden, Sudarisman.

Dalam sambutannya Panewu Gamping, Sarjono memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan Prokasih tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yang dilaksanakan di wilayah Rt 04 Rw 13 Kaliabu dengan tujuan membersihkan sampah, limbah rumah tangga, serta pepohonan yang roboh di badan sungai yang dapat mengotori, mencemari, dan menghambat aliran air.

“Mari jaga dan rawat bantaran Sungai Bedog ini agar tidak tercemar oleh limbah rumah tangga. Jangan membuang sampah secara sembarangan di Sungai Bedog agar kualitas airnya tetap baik dan alirannya lancar, sehingga dapat mencegah bahaya banjir karena saat ini sudah memasuki musim penghujan,” pesan Sarjono kepada warga RW 13 Kaliabu.

Sebelum dimulai pembersihan sungai, secara simbolis Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup, Purwoko Sasmoyo menyerahkan peralatan pendukung yang digunakan untuk membersihkan bantaran Sungai kepada Ketua Komunitas Bedog Lestari, Iskandar disaksikan oleh Panewu Gamping dan Lurah Banyuraden dilanjutkan eksekusi pengambilan sampah yang menghambat aliran air sungai.

Di sela-sela kegiatan, Purwoko mengatakan bahwa tujuan kegiatan Prokasih agar tercapai kualitas air sungai yang baik sehingga dapat meningkatkan fungsi sungai dalam menunjang pembangunan yang berkelanjutan, dan terciptanya sistem kelembagaan yang mampu melaksanakan pengendalian pencemaran air secara efektif dan efisien.

“Yang tidak kalah penting adalah jika kegiatan ini dilakukan secara berkala dapat menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat dalam pengendalian pencemaran air sungai, serta sungai terbebas dari sampah sehingga aliran air di musim penghujan tetap lancar terhindar dari bahaya banjir,” pungkas Purwoko. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Membuat Motif Batik Ramah Lingkungan Menggunakan Teknik Ecoprint

Cangkringan – Pemerintah Kalurahan Argomulyo menggelar Pelatihan Ecoprint di Pendopok Bowik, Padukuhan Jiwan, Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Cangkringan, selama dua hari yaitu pada Rabu (22/9/2021) dan Kamis (23/9/2021). Pelatihan diikuti oleh anggota Karang Taruna Manggala Laga dan PKK Padukuhan Jiwan.

Haryadi, Kamituwo Argomulyo menuturkan, pelatihan ini terselenggara dengan memanfaatkan Dana Desa untuk pemberdayaan masyarakat, bekerja sama dengan Pendamping Desa Budaya.

“Saya berharap semua peserta yang berjumlah 30 orang ini mampu membuat batik dengan teknik Ecoprint, serta dapat mendukung Kalurahan Argomulyo untuk menjadi Desa Mandiri Budaya,” ujar Haryadi.

Pelatihan sendiri mendatangkan langsung Hastin Sholikhah, seorang Desainer Batik yang memanfaatkan teknik Ecoprint. Dalam pemaparannya, Hastin menjelaskan bahwa Ecoprint adalah sebuah teknik pengolahan kain menggunakan bahan alami seperti daun, bunga, kulit kayu, dan batang untuk membuat sebuah motif.

Bahan alami tersebut diproses dengan cara contact printing (diproses dengan media tertentu) dan dipanaskan (dikukus atau direbus) dalam durasi tertentu untuk mengeluarkan zat warna yang akan tercetak di media.

“Media yang digunakan bisa berupa kain, kertas, kulit, maupun permukaan yang memungkinkan lainnya,” ujar Hastin.

Teknik Ecoprint sendiri pertama kali dikembangkan oleh seorang seniman Australia bernama India Flint. “Ia (India Flint) kemudian membuat buku, yang kemudian disebarluaskan dan dipelajari oleh seniman dari berbagai negara, hingga sampai ke Indonesia tahun 2015,” terang wanita lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.

Hastin mengatakan, di Indonesia sendiri pengetahuan tentang Ecoprint berkembang menyesuaikan iklim, vegetasi, corak, dan kombinasi warna khas Indonesia. Sehingga, teknik tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah gaya tersendiri.

Pada kesempatan tersebut Hastin juga mempraktikkan langsung bagaimana cara penerapan Ecoprint dengan teknik steaming, yang diawali dengan pengenalan bahan yang akan digunakan, dan praktik tata cara penggunaan Ecoprint.

“Teknik Ecoprint tidak hanya steaming, akan tetapi juga bisa dengan teknik pounding (pemukulan) untuk mengeluarkan warna. Semua bahan yang digunakan juga sangat ramah lingkungan karena alami,” tambah Hastin. (Mujiyanta/KIM Cangkringan)




Koordinator PPL Kapanewon Depok Kunjungi KWT Tuwuh Makmur Santren

Depok – Koordinator PPL Kapanewon Depok, Saiful Hadi, berkunjung di Kelompok Wanita Tani (KWT) Tuwuh Makmur, yang berada di RT 06 Padukuhan Santren, Sabtu (25/09/2021) sore. 

Kegiatan kunjungan tersebut bertujuan untuk silaturahmi serta sharing, membagikan informasi dan ilmu pengetahuan ke wilayah binaannya, khususnya di KWT Tuwuh Makmur Santren. 

Selain itu dalam kegiatan kunjungan ini, koordinator PPL Kapanewon Depok dan PPL Caturtunggal ingin meninjau kegiatan penanaman sayuran di kebun KWT, seperti sawi, cabe, tomat, sawi, kembang kol, dan lain-lain. 

Setelah dikukuhkan menjadi KWT kelas pemula pada 21 Juni lalu, KWT Tuwuh Makmur mulai bergerak memulai budidaya tanaman sayuran di kebun/demplot dan pemanfaatan lahan terbatas di tiap RW.

Ketua KWT Tuwuh Mamur, Tri Sumiyati, menyampaikan bersama dengan KKN UNY, KWT Tuwuh Makmur juga mendapat pelatihan pembuatan pot dari kain bekas pada beberapa bulan lalu. Selain itu, Tri juga menyebutkan bahwa KWT Tuwuh Makmur mendapat bantuan bibit tanaman, seperti alpukat, kelengkeng, dan jambu dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman.

Dalam kunjungan ini, disampaikan bahwa KWT Tuwuh Makmur Santren mendapat pendampingan materi pembenihan, pemupukan, dan penanggulangan hama pada tanaman.

Daryono, PPL Caturtunggal, menyampaikan apresiasi terhadap beberapa KWT yg walau belum lama dikukuhkan namun sudah semangat untuk memulai dan berkembang.

“Nantinya bersama kita akan dampingi KWT yang ada, harapannya tiap KWT mempunyai sesuatu yang khas serta berpotensi nilai jual,” harapnya. (Danang/KIM Depok)




KWT Mekar Janti Gelar Pertemuan Rutin

Depok – KWT Mekar Janti, Kalurahan Caturtunggal, Depok, mengadakan pertemuan rutin di rumah Dukuh Janti, Sabtu (25/09/2021) sore.

Pertemuan dihadiri oleh pengurus dan anggota yang aktif serta kegiatan dilakukan dengan standar penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Ketua KWT Mekar Janti, Khusnul Khatimah, menjelaskan bahwa kegiatan budidaya bawang merah yang telah dilakukan KWT Mekar Janti berjalan dengan lancar. Meski ada beberapa hal yang perlu dievaluasi serta dikembangkan, hasil panen bawang merah ini tidak begitu mengecewakan.

Untuk selanjutnya, KWT Mekar Janti menargetkan untuk melakukan budidaya jamur tiram di tempat yang beberapa hari lalu telah disiapkan.

“Kami harap kebersamaan para anggota untuk senantiasa bertumbuh bersama untuk belajar serta praktek budidaya jamur tiram,” jelas Khusnul Khatimah.

Sementara itu, penyuluh pertanian Kapanewon Depok, Fitri Isnaini, memberikan motivasi serta arahan tentang teknis budidaya jamur tiram.

“Meskipun KWT Mekar Janti mempunyai tanaman serta produk unggulan dari bunga telang yang telah diproduksi, tidak ada salahnya untuk mengembangkan berbagai macam tanaman alternatif selain padi,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut juga dibahas mengenai pengurusan PIRT untuk produk minuman bunga telang.

“Bersama kita tanamkan, semangat belajar, tidak merasa lelah dan pantang menyerah mengembangkan KWT meskipun dilihat dari segi hasil belum begitu besar. Akan tetapi dari segi pengetahuan tentang bercocok tanam dan silaturahmi yang begitu besar mereka rasakan,” pungkas Khusnul Khatimah. (Danang/KIM Depok)