Baznas Sleman Gelar Vaksinasi COVID-19 untuk 1000 Kyai dan Santri

Sleman – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sleman kembali menggelar vaksinasi massal untuk Kyai dan Santri di MTs Pamulangan yang terletak di Jetis, Kapanewon Mlati, Sleman, Rabu (6/10/2021). Vaksinasi dosis pertama tersebut diberikan kepada 1000 Kyai dan Santri Yayasan Pamulangan Jetis Yogyakarta.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo yang meninjau langsung vaksinasi mengapresiasi kepada pihak penyelenggara yang telah bahu membahu untuk mendukung program vaksinasi Pemerintah khususnya Baznas pada kesempatan ini

“Tanpa dukungan dari elemen masyarakat seperti ini. Vaksinasi tidak akan berjalan cepat dengan hanya mengandalkan pemerintah saja,” ucapnya.

Lebih lanjut Kustini menyampaikan vaksinasi di Kabupaten Sleman telah dosis pertama mencapai 76%, dan dosis kedua mencapai 44%. Sedangkan dosis ketiga bagi tenaga kesehatan dan pelayanan umum telah mencapai 90%. “Capaian target vaksinasi ini sangat berdampak kepada penurunan status PPKM di wilayah Sleman,” ungkapnya.

Kustini juga menyebut meskipun capaian vaksinasi di Sleman terus meningkat sesuai dengan target, dan tetap harus terus diiringi dengan upaya lain seperti tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Vaksinasi ini sendiri merupakan bagian dari program Kita Jaga Kyai Baznas yang diluncurkan secara resmi oleh Wakil Presiden RI, K.H. Ma’ruf Amin. Program ini juga didukung oleh Kementerian Agama (Kemenag) Kementerian Kesehatan, TNI/Polri, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU). Muhammadiyah, Persis, PUI, serta berbagai ormas Islam lain.

Banyaknya ulama yang wafat akibat terpapar COVID-19 menjadi salah satu pendorong diluncurkan program Kita Jaga Kyai, yang terdiri dari dukungan vaksinasi. Program ini menjadi salah satu upaya membantu pemerintah dalam menanggulangi pandemi COVID-19, khususnya di lingkungan pondok pesantren.

Baznas Kabupaten Sleman ikut mendukung program “Kita Jaga Kyai” yang diluncurkan oleh Baznas Pusat. Program vaksinasi kali ini di targetkan untuk 1000 orang Kyai dan Santri Yayasan Pamulangan Jetis Yogyakarta, vaksinasi dilaksanakan di MTs Pamulangan, Jetis 04/32 Rejek Lor, Tirtoadi, Mlati, Sleman.

Kriswanto, Ketua Baznas Sleman menuturkan bahwa pihaknya telah mengalokasikan dana sebesar 1 Milyar Rupiah untuk membantu Pemerintah Kabupaten dalam menangani pandemi COVID-19.

“Dana ini bersumber dari Zakat, Infak dan Sedekah ASN Pemerintah Kabupaten Sleman, pengusaha dan warga Kabupaten Sleman yang dihimpun oleh Baznas Kabupaten Sleman. Semoga dengan program ini dapat memberikan kemanfaatan bagi warga masyarakat Kabupaten Sleman yang membutuhkan,” imbuh Kriswanto.




Pemkab Sleman Gelar Operasi Barang Kena Cukai Hasil Tembakau Ilegal

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah, Satpol PP, Disperindang Kabupaten Sleman bersama Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Yogyakarta lakukan Operasi Bersama Barang Kena Cukai (BKC) Hasil Tembakau Ilegal, Rabu (6/10/2021). Operasi ini menyasar Pasar STAN, toko kelontong, tembakau dan vapour di wilayah Kapanewon Depok serta Kapanewon Kalasan.

Yusron Asrofi selaku selaku Pemeriksa Bea dan Cukai pada Kantor Bea dan Cukai Yogyakarta menjelaskan bahwa sasaran objek dari kegiatan operasi bersama adalah hasil tembakau ilegal seperti rokok (sigaret), cerutu, rokok daun, HTPL, dan tembakau iris dengan sasaran tempat operasi distributor dan pengecer.

Menurutnya, indikator BKC hasil tembakau ilegal antara lain tanpa pita cukai, pita cukai bekas, pita cukai palsu, salah peruntukan dan personalisasi (tidak sesuai kode pita cukai). “Operasi bersama Barang Kena Cukai (BKC) iIegal merupakan operasi gabungan antara Pemerintah Kabupaten Sleman dengan Bea Cukai dalam rangka pengendalian peredaran BKC hasil tembakau ilegal di Kabupaten Sleman,” jelas Yusron.

Pada operasi ini petugas menegah/menyita 20 bungkus rokok dan 39 tembakau iris yang di bungkus kemasan 50 Gram dan tidak dilekati pita cukai dari dua toko kelontong yang berada di wilayah Kapanewon Kalasan. Pemilik toko dalam operasi ini diberikan edukasi oleh petugas tentang cukai tembakau.

“Pemilik toko hanya dititipi rokok tanpa cukai tersebut oleh sales, dan kami menyitanya kemudian memberikan edukasi untuk tidak menjual rokok tanpa cukai,” tambah Yusron.

Kasubbag Perekonomian Bagian Perekonomian dan SDA Setda Kabupaten Sleman, Citra Makkia Azmiati menjelaskan operasi bersama BKC hasil tembakau ilegal ini dimaksudkan untuk melakukan pengendalian atas barang kena cukai hasil tembakau illegal.

“Barang kena cukai (BKC) hasil tembakau yang beredar di Kabupaten Sleman perlu dilakukan pengawasan untuk memastikan BKC hasil tembakau yang beredar merupakan barang kena cukai yang legal,” ujarnya.

Citra menambahkan, tujuan dari kegiatan operasi bersama BKC hasil tembakau ilegal adalah untuk melakukan pengawasan dan mendukung penegakan hukum atas barang kena cukai hasil tembakau ilegal oleh Bea Cukai. Selain itu juga untuk memberikan pemahaman terkait ketentuan di bidang cukai hasil tembakau kepada masyarakat.




Kalurahan Margomulyo Gelar Rembug Stunting

Margomulyo – Pemerintah Kalurahan Margomulyo mengadakan Rembug Stunting dan Rumah Desa Sehat pada Selasa (5/10/2021) di Balai Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan. Kamituwo Margomulyo, Prasetyo Sujanarko mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan untuk memastikan terjadinya integrasi pelaksanaan intervensi dalam pencegahan dan penurunan stunting di Kalurahan Margomulyo.

“Agar dapat secara bersama-sama melakukan konvergensi percepatan pencegahan stunting,” ujar Prasetyo.

Selain itu, Prasetyo berharap kesepatakan yang didapat dalam rembug stunting ini dapat menjadi program prioritas dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Kalurahan. “Karena itu rembug stunting ini dilakukan sebelum pelaksanaan Musrenbangkal,” tambahnya.

Ia juga menggarisbawahi peran BPKal dalam rembug stunting ini sebagai penentu dalam skala prioritas yang dituangkan dalam RKP. “Semoga anggota BPKal dapat memperjuangkan alokasi dana untuk penanganan stunting,” harap Prasetyo.

Heniasih, Tenaga Ahli Pendamping Masyarakat Kabupaten Sleman menyatakan bahwa usulan kebutuhan untuk pencegahan dan penanganan stunting diputuskan berdasarkan kesepatakan atas pihak terkait, seperti OPD, masyarakat, maupun pemangku kepentingan lainnya. “Karena banyak hal yang bisa dihasilkan dalam konvergensi stunting ini, seperti kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Konseling Gizi Remaja, Air Bersih dan Sanitasi, serta PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini),” jelas Heni.

Ia juga mengingatkan agar Kalurahan dapat melakukan pembinaan sosial dengan kegiatan inovatif yang berkaitan dengan pencegahan stunting. “Dengan indikator cakupan balita gizi buruk dan cakupan balita dengan ASI eksklusif,” tambah Heni.

Sementara itu, Rini Indarti, Pendamping Desa Kapanewon Seyegan menyoroti mengenai pentingnya kerja sama antar sektor untuk mengatasi stunting. Ia juga berharap Margomulyo tidak menjadi lokus stunting, meskipun jumlah penderita stunting di atas rata-rata. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Gerakan Stop Boros Pangan Demi Kecukupan Pangan di Massa Depan

Sleman – Memperingati Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober, Pemerintah Kabupaten Sleman menginisiasi gerakan Stop Boros Pangan Mulai dari Piring Kita. Plt Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Sleman mengatakan gerakan yang dicetuskan oleh Bupati Sleman ini bertujuan agar masyarakat tidak melakukan pemborosan terhadap bahan pangan.

Menurut Suparmono, produksi pangan di Kabupaten Sleman saat ini terus mengalami penurunan yang signifikan, dan tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat yang terus meningkat. Hal ini disebabkan oleh tingginya pengalihan lahan pertanian yang mengakibatkan jumlah produksi tidak stabil.

“Bulan ini, Bupati mencoba gerakan ini agar masyarakat tidak boros pangan,” ujar Suparmono saat memberikan keterangan dalam Jumpa Pers yang dilakukan di Pendopo Parasamya Sekretariat Daerah Sleman, Selasa (5/10/2021).

Gerakan ini menurut Suparmono sangat penting dilakukan, karena menurut Data Ekonomis tahun 2018, Indonesia berada di posisi kedua setelah Arab Saudi sebagai negara pengumpul sampah pangan terbanyak. Dari data tersebut, dikhawatirkan pada tahun 2032/2033 Indonesia, termasuk Kabupaten Sleman akan mengalami defisit bahan pangan.

“Kita sekarang pertahun masih surplus 70 ribu Ton, beberapa waktu yang lalu kita surplus-nya 100 ribu Ton, terun terus karena kita boros banget nyampah makanan,” kata Suparmono.

Suparmono memberikan gambaran fakta pola konsumtif masyarakat Sleman yang boros terhadap bahan pangan. “Gambarannya 1 Kilo beras itu ada 50 ribu butir, kalau orang Sleman sehari menyisahkan 1 butir dengan tiga kali makan, itu sudah membuang pangan kira-kira 24,7 Ton per tahun. Itu kalau kamu buang 1, faktanya kan lebih toh,” katanya.

Untuk itu, Suparmono mengingatkan agar masyarakat Sleman untuk tidak boros pangan, dimulai dari piring sendiri dengan mengambil makanan secukupnya dan tidak membuang makanan.

“Karena itu unsur yang memboroskan, jadi saya minta tolong teman-teman untuk disosialisasikan ke masyarakat agar kemudian ada kesadaran, ada perubahan pola pikir untuk ketahanan pangan itu. Tidak boros pangan itu penting, bisa dilakukan oleh kita semua. Biar Pak Tani meningkatkan produksinya yang luar biasa. Kita sebagai konsumen bisa menahan agar tidak boros pangan,” pungkas Suparmono. (Rep Rahayu)




Tindaklajuti Program Padukuhan Bersinar, Satgas P4GN Padukuhan Kayen Rutin Gelar Koordinasi

Condongcatur – Sebagai tindak lanjut dari inisiasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sleman dan Pemerintah Kalurahan Condongcatur untuk merintis Padukuhan Bersinar (Bersih Narkoba) di Padukuhan Kayen dan Padukuhan Gondok, Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) Padukuhan Kayen rutin melaksanakan Pertemuan Koordinasi sebagai langkah untuk pencegahan pengaruh narkoba di padukuhan.

Salah satunya yang dilakukan pada Selasa (5/10/2021) di Balai Padukuhan Kayen, Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, yang dihadiri oleh perwakilan bidang Rehabilitasi BNN Kabupaten Sleman, Kamituwa Condongcatur, Dukuh Kayen, Dukuh Gandok juga sebagai Satgas P4GN Gandok dan Satgas P4GN Padukuhan Kayen.

Dalam pertemuan tersebut, Kamituwa Condongcatur, Al Thouvik Sofisalam memberikan pengarahan agar anggota Satgas P4GN diisi dari berbagai unsur, seperti orang tua dan pemuda. “Hal tersebut bertujuan untuk mempermudah sosialisasi pencegahan pengaruh narkoba,” ujar Al Thouvik.

Sementara Nurhayati, Konselor Adiksi Klinik Pratama Rehabilitasi Napza Sembada Bersinar berharap program yang dibuat oleh Satgas P4GN dapat mencegah peredaran narkoba di Kabupaten Sleman, sehingga tidak bertambah lagi korban ketergantungan narkoba.

BNN Sleman, lanjut Nurhayati, saat ini juga terus aktif dalam memberikan pendampingan bagi para pecandu narkoba di Klinik Pratama Sembada Bersinar. “Saat ini ada 62 orang pasien yang mengikuti program rehabilitas narkoba,” jelas Nurhayati.

Klinik Pratama sendiri merupakan klinik institusi pemerintah yang dikelola oleh BNN Kabupaten Sleman khusus bagi para penyalahguna dan pecandu narkoba melalui rehabilitasi medis rawat jalan. Beberapa fasilitas layanan di Klinik Pratama antara lain pelayanan asesmen, rawat jalan, pelayanan Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan Narkoba (SKHPN), pelayanan promotif dan pelayanan kuratif yang ditangani langsung oleh tenaga kesehatan terlatih di bidang adiksi

Untuk diketahui, Kalurahan Condongcatur telah dicanangkan sebagai Desa Bersih Narkoba (Bersinar) oleh Badan Narkotika Nasional RI sejak tahun 2018 lalu. Berbagai macam program diantaranya melalui kegiatan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) yang masif dilakukan, membuat status penyebaran narkoba di wilyah Condongcatur mengalami penurunan.

Berdasarkan hasil pemetaan Kawasan Rawan Narkoba di DIY oleh BNNP DIY, per 16 Februari 2021 Kalurahan Condongcatur yang sebelumnya berstatus Waspada saat ini turun menjadi status Siaga. (Wasana/KIM Depok)