Percepat Terciptanya Kekebalan Komunal, MWCNU Gamping Gelar Vaksinasi COVID-19 Massal

Gamping – Guna mendorong terciptanya Herd Immunity (kekebalan komunal) di kalangan santri dan masyarakat sekitar di wilayah Kapanewon Gamping maka Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC-NU) Gamping bersinergi dengan Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta serta SMP Ma’arif Nogotirto menggelar kegiatan vaksinasi masal yang dilaksanakan di halaman SMP Ma’arif, Kalurahan Nogotirto, Kapanewon Gamping, Sabtu (16/10/2021).

Sebelum dimulai kegiatan vaksinasi, Panewu Gamping, Sarjono sekaligus sebagai Ketua Gugus Tugas COVID-19 Kapanewon Gamping yang didampingi Pj Lurah Nogotirto, Hery Subagio dan Ketua Tanfidziyah MWC-NU Gamping, H. Saliman memberikan apresiasi kepada seluruh komponen atas terlaksananya kegiatan dalam rangka membantu Pemerintah untuk mempercepat terbentuknya kekebalan kelompok atau Herd Immunity khususnya di wilayah Kapanewon Gamping agar terhindar dari penularan COVID-19 yang masih ada.

“Kami merasa terbantu dengan adanya vaksinasi masal disini. Di akhir bulan Oktober 2021 Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman menargetkan capaian vaksinasi sebesar 80 persen. Hal ini perlu didorong terus sehingga terjadi penurunan status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang masih level 3 saat ini menjadi Level 2. Walaupun sudah divaksinasi kita harus tetap mematuhi protokol kesehatan COVID-19 secara disiplin agar tetap sehat,” tutur Sarjono.

Berdasarkan keterangan Kepala Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta, Sugiharto, MPH bahwa jumlah vaksin yang disediakan ada 500 kuota. Adapun jumlah peserta vaksinasi yang hadir di lokasi sejumlah 367 orang dari pendaftar yang berjumlah 400 orang. Dari jumlah yang hadir tersebut yang berhasil lolos screening dan layak menerima vaksin sebanyak 352 orang dengan rincian 105 mendapat vaksin Sinovac, dan 247 orang mendapat vaksin Astrazeneca, sisanya 15 orang harus mengalami penundaan vaksinasi karena berbagai pertimbangan kesehatan seperti hipertensi.

“Kegiatan vaksinasi kali ini menggunakan 2 jenis vaksin yaitu Sinovac yang diperuntukkan peserta berusia 12 hingga 16 tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui. Sedangkan vaksin Astrazeneca bagi peserta yang berusia diatas 17 tahun,” terang Sugiharto.

Ia menambahkan bahwa untuk kelancaran proses vaksinasi pihaknya mengerahkan 3 orang dokter, 4 orang vaksinator, 6 orang pencatat vital sign, 10 orang petugas observasi dan pencatatan vaksinasi COVID-19 menggunakan aplikasi P-Care versi Covid-19, serta 5 orang petugas sebagai pengarah sehingga pelaksanaan vaksinasi bisa berjalan cepat tanpa menimbulkan kerumunan.

Di akhir kegiatan, Sugiharto juga menjelaskan bahwa vaksinasi dosis 2 rencananya akan dilakukan pada tanggal 21 Desember 2021 bagi penerima vaksin Astrazeneca dan tanggal 13 November 2021 bagi penerima vaksin Sinovac. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Kasus COVID-19 Mulai Menurun, Posyandu Dahlia Kembali Berikan Pelayanan untuk Balita

Cangkringan – Setelah sempat terkendala dalam memberikan pelayanan ketika kasus COVID-19 meningkat, Posyandu Balita Dahlia yang berada di Padukuhan Kebur Kidul, Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Cangkringan kembali membuka pelayanan kesehatan untuk para balita, Senin (18/10/2021). Pelayanan diberikan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, seperti para balita yang hadir harus menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak dengan pelayanan secara bergantian.

Marmansyah, Dukuh Kebur Kidul menyambut baik pelayanan yang kembali diberikan oleh Posyandu Dahlia ini. “Karena sebelumnya, sewaktu PPKM seluruh kegiatan yang menimbulkan kerumunan harus ditunda, bahkan diliburkan, termasuk kegiatan Posyandu Balita, maupun Posyandu Lansia, sehingga terlihat para orang tua dan bailta yang hadir bersemangat,” ungkap Marmansyah.

Di samping pelayanan normal seperti pengecekan berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, lengan dan kaki, pelayanan Posyandu kali ini juga menyediakan pelayanan pemberian obat cacing untuk anak balita.

Sunarni, Kader Posyandu Kebur Kidul menuturkan bahwa pemberian obat cacing ini merupakan kegiatan rutin setiap 6 bulan sekali, setelah pemberian Vitamin A. “Diharapkan agar setiap anak yang menerima obat cacing ini dapat tumbuh dengan baik, sehat tanpa gangguan nutrisi, sehingga dapat untuk mencegah stunting pada anak,” ujar Sunarni. (Marman/KIM Cangkringan)




Upaya Pemuda Ngemplak Lestarikan Budaya Jawa

Geliat pemuda Kapanewon Ngemplak untuk mulai melestarikan budaya Jawa nampak bersemi kembali, salah satunya dengan mulai mencoba belajar tembang macapat. Berkaitan dengan hal tersebut, Pelatihan Tembang Taruna Budaya Kapanewon Ngemplak diadakan pada Sabtu (16/10/2021) di Pendopo Kapanewon Ngemplak (16/10/2021).

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Kapanewon Ngemplak bersama Forum Budaya Kapanewon Ngemplak dengan peserta pelatihan dari pemuda yang ada di wilayah Ngemplak.

“Kami memberikan fasilitas dalam pelatihan ini agar pemuda di Ngemplak dapat terwadahi keinginannya untuk belajar tembang macapat sekaligus mendukung kesenian ketoprak yang mulai digandrungi oleh pemuda-pemudi di sini,” ujar Sumiyati dari Jawatan Sosial Kapanewon Ngemplak.

Taruna Budaya sendiri merupakan kelompok pemuda yang juga tergabung dalam kesenian ketoprak yang sebagian besar anggotanya merupakan pegiat di Karang Taruna Ngemplak.

“Pelatihan tembang dengan belajar teknik dasar macapat ini merupakan latihan perdana. Jumlah peserta saat ini baru sekitar 15 orang, semuanya pemuda yang mencakup 5 kalurahan yang ada di Kapanewon Ngemplak,” jelas Wagiman selaku Ketua Forum Budaya Kapanewon Ngemplak.

Wagiman menyampaikan latihan ini guna mendukung penguasaan peran dalam seni ketoprak sehingga lebih mematangkan persiapan saat mengikuti festival ketoprak.

Menurutnya, kegiatan seperti ini hendaknya dilakukan secara berkesinambungan dengan mengajak seluruh pemuda melalui karang taruna di setiap kalurahan. Tidak hanya pelatihan tembang, tetapi juga bisa mengadakan pelatihan pembawa acara berbahasa Jawa maupun pelatihan seni peran dan aksara Jawa. 

Wagiman juga menyampaikan bahwa penguasaan tembang seperti macapat wajib dimiliki dalam seni ketoprak. Oleh karena itu, jenis-jenis tembang macapat seperti Sinom, Pangkur, Kinanthi, dan Asmarandana menjadi materi yang akan dipelajari ke depannya.

Pada kesempatan tersebut juga diajarkan bagaimana menyiapkan tembang dengan teknik vokal dengan tanpa iringan gamelan.

“Saat ini kita berlatih tanpa diiringi gamelan, agar siap dulu dengan penguasaan guru lagu serta guru wilangan sehingga ketukan serta nada yang dihasilkan sesuai dengan pakemnya,” urai Tuwuh Bahroni yang merupakan sutradara ketoprak.

Tuwuh juga mengajak para pemuda yang ada di Kapanewon Ngemplak untuk menggencarkan budaya lokal sehingga bisa mengangkat kearifan lokal yang dimiliki agar dapat menguatkan Desa Mandiri Budaya yang disandang oleh Kalurahan Wedomartani di Kapanewon Ngemplak.

Bagi pemuda, belajar tembang macapat serta ketoprak secara langsung tentunya bisa mendukung pelestarian budaya.

“Mengikuti seni budaya Jawa seperti ketoprak banyak memberikan pengalaman tentang bagaimana menerapkan unggah-ungguh, tata krama, serta mengolah rasa dengan melantunkan tembang macapat seperti saat ini,” terang Gatot, salah satu pemuda yang mengikuti pelatihan. (Nuradi-KIM Ngemplak)




Mengenalkan Wisata di Sleman dengan Fam Trip Sekolah Wisata

Sleman – Forum Komunikasi Duta Keistimewaan (FKDK) DIY gelar Fam Trip bertajuk Sekolah Wisata Sleman Ke-2, Minggu (17/10/2021). Kegiatan ini dilaksanakan di tiga lokasi wisata di Kabupaten Sleman, yaitu Ledok Sambi, Embung Kaliaji, dan Watu Purbo.

Koordinator Acara, Rony Arya mengatakan acara yang bertema ‘Hargai Air Untuk Pariwisata Sleman’ ini diikuti oleh 24 peserta dari FKDK. Adapun peserta tersebut merupakan perwakilan dari Duta Bahasa, HIV, Genre, Mister Grand Tourism, Budaya, Damai DIY, Dimas Diajeng Sleman, Kota Yogyakarya dan Kulonprogo, Miss Bantul, serta Hakka Ako Amoi DIY.

 “Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengenalkan obyek wisata di Kabupaten Sleman, dengan harapan para peserta dapat mempromosikan pariwisata Sleman lebih jauh,” jelas Roni.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, pariwisata di Kabupaten Sleman merupakan salah satu sektor yang dikembangkan dan diandalkan sebagai salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi.

“Mengingat sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang memiliki multiplier effect bagi sektor lainnya, seperti tranportasi, kuliner, kerajinan serta produk UMKM lainnya,” kata Kustini.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan di sektor pariwisata menjadi tumpuan bagi pertumbuhan sektor lainnya sepertinya UMKM, transportasi, lapangan kerja serta sektor lainnya. Untuk dapat berkembang dengan optimal di masa pandemi ini, pengelola desa wisata dituntut untuk mampu mengikuti dinamika yang terjadi di masyarakat.

“Pada saat ini jika berkunjung ke satu obyek wisata menginginkan adanya jaminan kesehatan yang bisa dilakukan dengan penerapan CHOSE dan QR code peduli lindungi untuk memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan,” ujarnya.

Kustini  berharap dengan kegiatan Fam Trip Sekolah Wisata ini para peserta dapat mengenali potensi  wisata yang ada di Sleman. “Potensi Wisata yg dimiliki Sleman ini saya harapkan kemudian dapat disebarluaskan,” pungkasnya. (Humas Sleman)




Bupati Sleman Harap Sekolah dapat Cegah Paham Radikal

Sleman – Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengatakan pendidikan di sekolah harus dapat menangkal dan menekan benih-benih ekstremisme, karena tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila yang disepakati pendiri bangsa sebagai dasar negara.

Hal tersebut disampaikannya saat meresmikan Gedung SMP Islam Terpadu Baitussalam Cangkringan, pada Sabtu (16/10/2021) yang terletak di Wukirsari, Kapanewon Cangkringan, Sleman. SMP IT tersebut merupakan cabang dari SDIT Baitussalam yang terletak di Kapanewon Prambanan.

“Pendidikan di sekolah haruslah dapat menangkal paham – paham radikal yang dapat memecah persatuan,” kata Kustini.

Sehingga, Kustini berharap dengan kehadiran SMP IT Baitussalam Cangkringan tersebut bisa meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Sleman dan pada akhirnya menghadirkan SDM yang unggul di Yogyakarta, bahkan di Indonesia.

Di akhir sambutan, Kustini berpesan agar seluruh warga SMP IT Baitussalam dapat merawat dan menjaga bangunan tersebut.

Sementara itu Ketua Yayasan Pondok Pesantren Baitussalam KH. Abdul Hakim mengatakan pihaknya menjamin akan menerapkan pola pendidikan agama yang kuat sehingga mampu berakhlak dan berbudaya yang baik dan menjaga NKRI.

“Seuai dengan visi kami melahirkan generasi yang ahli Al-quran, berakhlak mulia, dan menjaga NKRI,” katanya.

Pembangunan SMP IT ini merupakan harapan untuk mendirikan sekolah islam terpadu yang berjenjang. “Alhmdullah di Prambanan sudah TK IT Baitussalam, SMP IT, dan SMA IT, dan kami berharap bisa mendirikan Universitas Baitussalam,” tambahnya.

SMP IT Cangkringan ini merupakan cabang dari SD IT Baitussalam Prambanan yang saat ini sudah memiliki jenjang Pendidikan PAUD IT, SD IT dan SMP IT yang baru saja diresmikan. Gedung SMP IT Baitussalam Cangkringan yang terdiri dari 2 lantai dengan total biaya pembangunan 844 juta rupiah. (Humas Sleman)