FLH Minggir Kulik Sistem Pengelolaan Sampah di FLH Berbah

Berbah – Forum Lingkungan Hidup (FLH) Kapanewon Minggir melakukan kunjungan ke FLH Kapanewon Berbah pada Kamis (11/11/2021) di Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) Klakah Elok, Padukuhan Klakah, Kalurahan Sendangtirto, Kapanewon Berbah.

Marsono, Ketua FLH Minggir menuturkan bahwa kunjungan ini dilakukan untuk saling berbagi pengalaman antar FLH dalam pengelolaan lingkungan, terutama dalam pengelolaan sampah.

Sementara itu, Kusnadi Priyono, Ketua FLH Berbah mengatakan bahwa FLH Berbah mendapatkan dukungan dari Kapanewon dalam menjalankan kegiatan. “Selain itu ada juga pendampingan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Sleman,” ujar Kusnadi.

Lebih lanjut, Kusnadi memaparkan beberapa kegiatan yang dilakukan oleh FLH Berbah seperti mengadakan sosialisasi pengelolaan sampah, edukasi ke masyarakat, pelatihan kerajinan daur ulang, dan pendampingan kelompok pengelola sampah.

“FLH Berbah juga bermitra denga 24 kelompok, yang terdiri dari 2 TPS3R, dan 22 kelompok lain berbentuk bank sampah dan sedekah sampah,” jelasnya lagi.

Selain itu, FLH Berbah juga pernah turut serta dalam kegiatan World Clean Up Day, yaitu kegiatan bersih-bersih yang serentak dilakukan bersama 113 negara di dunia, yang dilakukan pada September 2018 di Wisata Lava Bantal. “Selain itu ada juga kegiatan peringatan hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) di Dukuh Krikilan, Kalurahan Tegaltirto, Kapanewon Berbah yang difasilitasi DLHK Kabupaten Sleman,” ujar Kusnadi.

Kusnadi juga mengatakan bahwa FLH Berbah memiliki beberapa peralatan inovasi pengelolaan sampah berupa Reaktor Sampah Plastik yang merupakan alat untuk memproses plastik yang tidak berharga, untuk dijual dan diproses menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM), meski kapasitasnya masih bersifat edukasi. “Ada juga komposter berbahan batu paras yang dinamakan Pesona, yang berguna untuk mengolah bahan organik sisa dapur menjadi kompos yang bisa dipakai untuk memupuk tanaman,” jelas Kusnadi lagi. (Retno Andayani/KIM Kapanewon Berbah)




Satlantas Sleman Sosialisasikan Sistem ETLE in Hand

Sleman – Unit keamanan dan keselamatan (Kamsel) Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Sleman mengadakan Sosialisasi Mekanisme Penggunaan Perangkat Electrical Traffic Law Enforcement (ETLE) in Hand di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kabupaten Sleman, Jumat (12/11/2021)

Bripka Hana Hermawan, Dikyasa Satlantas Polres Sleman yang hadir memberikan sosialisasi menuturkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan informasi kepada para pelajar agar tertib berlalu lintas dan tidak melakukan pelanggaran lalu lintas,

”Melalui sosialisasi ini, diharapkan tidak banyak siswa yang melakukan pelanggaran lalu lintas dan tertib dalam berlalu lintas ketika ada petugas maupun sedang tidak ada petugas,” jelas Bripka Hana.

Ia juga mengatakan bahwa saat ini Satlantas Polres Sleman telah memanfaatkan ETLE untuk menindak para pelanggar lalu lintas.

“Melalui kamera ETLE ini petugas akan merekam semua pelanggaran lalu lintas yang ada di jalan dengan menggunakan kamera HP. Terdapat 4 titik kamera perangkat ETLE di yang dipasang di Yogyakarta.  Keempat lokasi itu adalah Tambak Wates Kulonprogo, Ngabean Kota Jogja, Maguwoharjo Sleman, dan terakhir di Gunungkidul yang mengarah ke Banguntapan, Ketandan, Bantul,” tambahnya.

Mengakhiri acara sosialisasi Bripka Hana kemudian memberikan sebuah helm kepada salah satu siswa MAN 1 Sleman. Galuh P, Siswa Kelas XII IPS 2 yang menerima helm tersebut mengaku senang dan mengucapkan terrim kasih. Galuh juga akan  mengajak teman-temannya yang lain untuk menjaga keamanan dan keselamatan berlalu lintas dengan menggunakan helm. (smn)




Mendibudristek RI Kunjungi Unisa Yogyakarta

Sleman – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) RI Nadiem Anwar Makariem melakukan kunjungan ke Universitas Aisyiyah Yogyakarta (Unisa) yang terletak di Kalurahan Nogotirto, Gamping, Kabupaten Sleman, pada Kamis (11/11/2021). Kunjungan dilakukan untuk mendiskusikan beberapa permasalahan pendidikan yang berkualitas dan perempuan.

“Karena pendidikan dan emansipasi perempuan menjadi salah satu pilar utama gerakan Aisyiyah,” ujar Nadiem.

Hal ini juga memiliki keterkaitan dengan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI Nomor 30 tahun 2021, tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.

Ia juga menilai, kesetaraan gender, nilai akhlak, dan agama memiliki peran penting dalam pendidikan di perguruan tinggi.

Pada pertemuan tersebut, Nadiem juga diajak untuk melihat fasilitas dan layanan yang dimiliki oleh Unisa Yogyakarta, salah satunya adalah fasilitas skrining di laboratorium fisioterapi. (Berita: Arief Hartanto/Foto: Unisa)




Disbud Sleman Gelar Bedah Buku Sejarah Padukuhan Tapak Pangeran di Bumi Merapi

Sleman – Dinas Kebudayaan Kabupatan Sleman mengadakan acara bedah buku pada Kamis, (11/11/2021), bertempat di Puri Mataram Tridadi, Kabupaten Sleman. Buku yang dibedah berjudul Tapak Pangeran di Bumi Merapi, berisikan 30 sejarah atau asal-usul  padukuhan di Sleman. Buku tersebut ditulis oleh 30 penulis asal Sleman yang tergabung  dalam Paguyuban Sastra dan Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi. Acara bedah buku diikuti oleh 40 peserta yang terdiri unsur pemerintah, pendamping desa budaya dan komunitas budaya serta perwakilan penulis.

Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan Laporan Penyelenggaraan oleh Kepala Seksi Warisan Budaya Tak Benda, Dekhi Nugroho. Dalam laporannya Dekhi menyampaikan latar belakang, maksud dan tujuan, serta anggaran kegiatan tersebut yang dibeayai dari BKK Keistimewaan tahun 2021.

“Maksud dan tujuan kegiatan penulisan buku asal-usul toponimi  padukuhan ini  adalah untuk  menggali nilai-nilai luhur  yang terkandung dalam sejarah toponimi padukuhan sehingga dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” paparnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kebudayaan Sleman, Edy Winarya, menyatakan bahwa  pemerintah mendukung dan memfasilitasi adanya penulisan buku sejarah pedukuhan tersebut dan diharapkan kerja sama yang baik antara pemerintah, pendampng desa budaya dan para penulis.

Adapun narasumber yang dihadirkan pada acara tersebut adalah pendamping penulisan sejarah pedukuhan, Budi Sardjono dan Sutopo Sugihartono.

Dalam kesempatan tersebut, Budi Sardjono mengemukakan bahwa saat ini, padukuhan di Kabupaten Sleman yang telah ditulis sejarahnya baru berjumlah 30 padukuhan, dari total 1212 padukuhan.

“Semuanya memiliki sejarah yang berkaitan dengan kerajaan-kerajaan, perang Diponegoro, Sunan Kalijaga, dan sebagainya. Maka harus ditelusuri jejak sejarah dari padukuhan-padukuhan tersebut dan ditulis agar tidak kehilangan jejak sejarahnya,” ujar Budi.

Sedangkan narasumber kedua, Sutopo Sugihartono mengulas secara gamblang kisah-kisah bersejarah dari beberapa padukuhan yang termuat dalam buku Tapak Pangeran di Bumi Merapi.

Pada kesempatan itu, Sabatina Rukmi Widiasih, penulis Toponimi  juga berbagi pengalaman dan rintangan yang dihadapinya ketika menelusuri sejarah padukuhan

“(Rintangan) yang tidak mudah mencari narasumber, karena dukuhnya masih muda, maka harus mencari nara sumber lainnya,” imbuh Sabatina. (Eny Ms/KIM Sumber Biwara Moyudan)