Empat Padukuhan Ikuti Lomba Wajah Padukuhan Tingkat Kapanewon Depok

Sebanyak empat padukuhan perwakilan dari Kalurahan Condongcatur dan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Sleman mengikuti Lomba Wajah Padukuhan Tingkat Kapanewon Depok yang digelar pada Selasa (23/11) dan Rabu (24/11). Keempat Padukuhan tersebut adalah Padukuhan Dero dan Dabag dari Kalurahan Condongcatur serta Padukuhan Denokan dan Ringinsari dari Kalurahan Maguwoharjo.

Tim Penilai yang dipimpin oleh Panewu Anom Depok, Djoko Muljanto, menilai sejumlah indikator yang meliputi administrasi, infrastruktur fisik, kesehatan lingkungan, penghijauan, persampahan, keamanan dan ketertiban serta penerapan protokol kesehatan COVID-19.

Panewu Depok, Subagya, menuturkan bahwa selain untuk mengevaluasi ke wilayah padukuhan terkait pembangunan fisik, kegiatan ini juga bertujuan untuk memberikan pembinaan kepada perangkat padukuhan seperti Dukuh, pengurus RT dan RW, kelompok kesenian, kelompok wanita tani, kelompok petani, kelompok ikan, kepemudaan, maupun kelompok pemberdayaan perempuan seperti PKK dan Dasa Wisma.

“Tak hanya itu, kami juga ini melihat administrasinya. Biasanya hal ini sering terlewatkan. Kegiatannya ada, tapi bukti administrasi ini sering kali ketinggalan,” tutur Subagya.

Selain dari Kapanewon Depok, kegiatan tersebut melibatkan berbagai pihak eksternal, yaitu TP PKK, UPTD Puskesmas Depok I dan 2, Koramil 11 Depok,  Polsek Depok Timur, UPTD BP4 Wilayah VII Depok Berbah, Kelompok Paguyuban Jejaring Sampah, dan Kelompok Paguyuban Pengelola Sampah Mandiri.

“Adapun RW yang dijadikan sampel penilaian yaitu RW 14 Dero, RW 26 Kampung Pringgolayan dari Padukuhan Dabag, RW 1 Denokan, dan RW 50 Kampung Gondangan Padukuhan Ringinsari,” imbuh Isti Fajaroh, Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Depok.

Nantinya akan diambil 2 kategori kejuaraan, yaitu kategori fisik dan kategori non fisik dengan masing-masing diambil 3 pemenang. Pengumuman dan penyerahan hadiah lomba akan dilaksanakan berbarengan dengan Festival Produk Unggulan KWT yang akan digelar pada Rabu (8/12/2021). (Andri Afriyanto/KIM Depok)




Pertanian Organik untuk Pangan Sehat

Sleman – Sektor pertanian saat ini masih belum bisa terlepas dari penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia dalam mengembangkan dan menjaga tanaman. Padahal, penggunaan bahan-bahan kimia tersebut memiliki efek negatif jika digunakan dalam jangka panjang, seperti dapat memperburuk kesuburan tanah, dan membuat tanaman menjadi rentan terhadap serangan hama dan penyakit.

Untuk meminimalisir tersebut, maka para petani dianjurkan untuk menggunakan metode organik, yang memang lebih mengedepankan keamanan jangka panjang.

“Pertanian organik memang tidak memberikan hasil instan, namun akan membawa kejayaan pertanian dalam jangka panjang dan memberikan solusi bagi tersedianya bahan pangan yang sehat dan berkualitas,” ujar Nurcahyo, perwakilan Majelis Pemberdayaan Masyarakat Perwakilan Daerah Muhammadiyah Sleman saat menghadiri Diskusi dan Pelatihan Pertanian Organik, Pelestarian Sumber Daya Air, Petani Milenial, dan Masa Depan Pertanian di Balai Kalurahan Donokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, Rabu (24/11/2021).

Hal senada juga disampaikan oleh Lurah Donokerto, Waluyo Jati. Menurutnya, Donokerto memiliki potensi untuk mengoptimalkan pertanian secara organik. “(Pertanian organik) juga dapat dikemas dengan kegiatan wisata,” imbuhnya di depan para peserta yang terdiri dari organisasi masyarakat, kelompok tani, kelompok wanita tani, dukuh, penyuluh pertanian, dan petani di wilayan Turi.

Diskusi sendiri diisi oleh Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Suparmono yang memberikan materi mengenai kebijakan pemerintah dalam pengembangan pertanian organik. Selain itu, hadir pula Sri Wahyuningsih dari Komunitas Banyu Bening dan Ahamd Syawaludin, seorang praktisi pertanian. Masing-masing memberikan materi yang membahas Urgensi Pelestarian Sumber Daya Air dalam Pengembangan Pertanian Organik dan Prospek Pertanian Organik. (Arief Hartanto)