Disbud Sleman Gelar Bedah Buku Sejarah Padukuhan Tapak Pangeran di Bumi Merapi

Sleman – Dinas Kebudayaan Kabupatan Sleman mengadakan acara bedah buku pada Kamis, (11/11/2021), bertempat di Puri Mataram Tridadi, Kabupaten Sleman. Buku yang dibedah berjudul Tapak Pangeran di Bumi Merapi, berisikan 30 sejarah atau asal-usul  padukuhan di Sleman. Buku tersebut ditulis oleh 30 penulis asal Sleman yang tergabung  dalam Paguyuban Sastra dan Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi. Acara bedah buku diikuti oleh 40 peserta yang terdiri unsur pemerintah, pendamping desa budaya dan komunitas budaya serta perwakilan penulis.

Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan Laporan Penyelenggaraan oleh Kepala Seksi Warisan Budaya Tak Benda, Dekhi Nugroho. Dalam laporannya Dekhi menyampaikan latar belakang, maksud dan tujuan, serta anggaran kegiatan tersebut yang dibeayai dari BKK Keistimewaan tahun 2021.

“Maksud dan tujuan kegiatan penulisan buku asal-usul toponimi  padukuhan ini  adalah untuk  menggali nilai-nilai luhur  yang terkandung dalam sejarah toponimi padukuhan sehingga dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” paparnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kebudayaan Sleman, Edy Winarya, menyatakan bahwa  pemerintah mendukung dan memfasilitasi adanya penulisan buku sejarah pedukuhan tersebut dan diharapkan kerja sama yang baik antara pemerintah, pendampng desa budaya dan para penulis.

Adapun narasumber yang dihadirkan pada acara tersebut adalah pendamping penulisan sejarah pedukuhan, Budi Sardjono dan Sutopo Sugihartono.

Dalam kesempatan tersebut, Budi Sardjono mengemukakan bahwa saat ini, padukuhan di Kabupaten Sleman yang telah ditulis sejarahnya baru berjumlah 30 padukuhan, dari total 1212 padukuhan.

“Semuanya memiliki sejarah yang berkaitan dengan kerajaan-kerajaan, perang Diponegoro, Sunan Kalijaga, dan sebagainya. Maka harus ditelusuri jejak sejarah dari padukuhan-padukuhan tersebut dan ditulis agar tidak kehilangan jejak sejarahnya,” ujar Budi.

Sedangkan narasumber kedua, Sutopo Sugihartono mengulas secara gamblang kisah-kisah bersejarah dari beberapa padukuhan yang termuat dalam buku Tapak Pangeran di Bumi Merapi.

Pada kesempatan itu, Sabatina Rukmi Widiasih, penulis Toponimi  juga berbagi pengalaman dan rintangan yang dihadapinya ketika menelusuri sejarah padukuhan

“(Rintangan) yang tidak mudah mencari narasumber, karena dukuhnya masih muda, maka harus mencari nara sumber lainnya,” imbuh Sabatina. (Eny Ms/KIM Sumber Biwara Moyudan)




JDIH sebagai Upaya Publikasi Informasi Hukum yang Lengkap, Akurat, dan Terintegrasi

Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) Nasional yang terpadu dan terintegrasi menjadi penting dalam upaya memberikan informasi produk hukum yang bisa diakses dengan cepat, lengkap, dan akurat.

Hal tersebut disampaikan Yasmon, Kepala Pusat Dokumentasi dan Jaringan Informasi Hukum Nasional dalam acara Pembinaan Anggota JDIH Kabupaten Sleman dan Sosialisasi Perbup Nomor 8 Tahun 2014 tentang Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum pada Rabu (10/11/21) di Ruang Sembada, Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman.

Dijelaskan oleh Yasmon bahwa JDIHN merupakan wadah pendayagunaan bersama atas dokumen hukum secara tertib, terpadu, dan berkesinambungan serta merupakan sarana pemberian pelayanan informasi hukum secara lengkap, akurat, mudah, dan cepat.

“Pengelolaan JDIH memiliki banyak manfaat di antaranya pengelolaan dokumen hukum berbasis TIK yang terintegrasi, peningkatan layanan publik terkait dokumentasi dan informasi hukum, website JDIH dan JDIHN sebagai sumber dokumen hukum yang terpercaya serta mendukung pelaksanaan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE),” jelas Yasmon lagi.

Sementara itu, Danang Maharsa, Wakil Bupati Sleman, menyampaikan bahwa Kabupaten Sleman mendapat penghargaan sebagai pengelola JDIH terbaik se-Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2021. Kabupaten Sleman masuk ke dalam peringkat 10 besar pengelola JDIH terbaik dari 416 kabupaten/kota seluruh Indonesia.

“Satu hal yang menjadi perhatian, Kabupaten Sleman harus bisa mempunyai ruang pengelolaan JDIH sampai tingkat kalurahan. Setiap kalurahan harus punya ruang pojok JDIH. Untuk itu, kepada seluruh Lurah yang hadir agar menindaklanjuti supaya semua produk peraturan desa bisa diakses oleh JDIH Kabupaten sehingga seluruh peraturan bisa lengkap dan dimanfaatkan. Dalam hal ini, kalurahan juga sangat membutuhkan peraturan di tingkat lebih tinggi,” pungkas Danang. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Depok Raih Predikat Kapanewon dengan Keterbukaan Informasi Terbaik Tingkat DIY

Sleman – Penerapan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) yang menjadi tugas Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) di Kapanewon Depok berbuah penghargaan dari Komisi Informasi Daerah (KID) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kapanewon Depok berhasil memperoleh predikat sebagai PPID terbaik untuk kategori Kapanewon/Kemantren di DIY.

Apresiasi tersebut diberikan oleh KID DIY di The Alana Hotel, Ngaglik, Sleman, pada Rabu, (10/11/2021) dan diterima langsung oleh Panewu Depok Subagya, selaku atasan PPID Pelaksana Depok.

Penganugerahan ini merupakan puncak acara dari rangkaian proses monitoring dan evaluasi (monev) KIP bagi Badan Publik (BP) se-DIY yang dimulai sejak Maret 2021. Pelaksanaan monev sendiri meliputi tahapan pengisian kuesioner secara mandiri atau Self-Assessment Questionare (SAQ), uji akses, dan verifikasi website.

Dari ketiga tahapan tersebut, diambil BP yang masuk klaster informatif dengan nilai di atas 90 untuk pemeringkatan, sedangkan untuk kejuaraan kemudian diambil 3 BP tertinggi untuk masing-masing kategori. Tim Monev kemudian melakukan visitasi ke BP yang masuk 3 besar dan mendengar paparan langsung dari ketiga BP tersebut. Hasilnya, Kapanewon Depok menjadi yang terbaik untuk kategori Kapanewon/Kemantren. Sementara terbaik kedua diraih oleh Kemantren Mantrijeron Kota Yogyakarta dan terbaik ketiga diraih oleh Kapanewon Ngaglik Kabupaten Sleman.

“Maksud dari kegiatan ini adalah sebagai upaya untuk memantau dan mengevaluasi dalam mengimplementasikan UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang KIP,” terang Moh. Hasyim, Ketua KID DIY ketika memberi sambutan pada saat penghargaan.

Menurut Hasyim, hasil monev tahun 2021 mengalami peningkatan dari sisi pemeringkatan BP yang mendapatkan klaster informatif.

“Jika tahun 2020 baru ada 31 BP (Badan Publik) se-DIY yang masuk klaster informatif, tahun 2021 ini naik menjadi 89 BP,” terang Hasyim

Peningkatan jumlah yang signifikan ini mendapatkan apresiasi dari Komisioner Bidang Penelitian dan Dokumentasi Komisi Informasi Pusat, Romanus Ndau. Menurutnya hal tersebut patut dijadikan contoh oleh daerah lainnya.

“Pemda DIY selama dua tahun berturut-turut meraih klaster Informatif, ini merupakan wujud nyata komitmen BP untuk membuka diri. DIY patut menjadi panutan bagi provinsi lain,” jelas Romanus Ndau.

Merespon hal tersebut, Wakil Gubernur DIY, Paku Alam X menyampaikan bahwa KIP ini merupakan acuan badan publik untuk menuju Pemerintahan Berkelas Dunia.

“Badan publik diharapakn berinovasi dalam menyediakan informasi, karena merupakan sebuah kewajiban dalam rangka menuju World Class Government,” jelas Paku Alam X. (Andri Afriyanto/KIM Depok)




Peringati Hari Pahlawan, Kundha Kabudayan Sleman Gelar Sarasehan Sejarah Lokal

Guna mengenalkan sejarah kepada masyarakat khususnya generasi muda, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman menggelar kegiatan Pengembangan Kesejarahan. Kegiatan yang dikemas dalam bentuk Sarasehan Kajian Sejarah Lokal tersebut digelar Selasa (9/11/2021) di Ruang Wacana Loka, Kompleks Kantor Kalurahan Condongcatur, Depok, Sleman.

Sarasehan tersebut dihadiri oleh Pamong Kalurahan Condongcatur, Dukuh Kentungan, Tokoh Agama, Anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kapanewon Depok, dan Tokoh Masyarakat Padukuhan Kentungan.

“Wilayah Kentungan ini memiliki Markas Batalyon L atau yang sekarang menjadi Batalyon Yonif 403 Wirasada Pratista Kentungan, merupakan tempat bersejarah,” terang Muhammad Asyrafi selaku narasumber saat menyampaikan materi paparan dalam sarasehan tersebut.

“Kami ingin sejarah ini bisa lebih dikenal oleh generasi muda, makanya dalam penulisan buku ini, akan kita kemas dengan bahasa yang popular, mudah dicerna, dan tidak berbau akademis,” terang Muhammad Asyrafi.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Seksi Sejarah dan Permuseuman Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman, Mei Hartini menyampaikan tujuan sarasehan ini juga dalam rangka menyambut Hari Pahlawan yang jatuh setiap tanggal 10 November.

“Selain dalam rangka penyusunan buku, sarasehan ini untuk memperingati Hari Pahlawan,” terang Mei Hartini.

Mengundang tokoh masyarakat Padukuhan Kentungan dan para veteran, sarasehan tersebut penting dalam rangka klarifikasi terkait kronologi sejarah, juga dalam rangka menggali informasi, sehingga ada pertukaran informasi yang bernilai sejarah.

“Masyarakat pun jadi lebih tahu akan berbagai kejadian di masa lampau, dan mengetahui keberadaan Museum Pancasila Kentungan,” imbuh Mei Hartini. (Andri Afriyanto/KIM Depok)




Siskamling Sidoharjo Turi Bentuk Kelompok Musik Perkusi

Bangunkerto – Salah satu kebiasaan yang berkembang di masyarkat dalam rangka pengamanan lingkungan adalah pemberlakuan Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) dengan melakukan ronda setiap malam. Bahkan bisa dibilang bahwa siskamling telah menjadi salah satu budaya dalam masyarakat di Indonesia.

Namun ada yang hal menarik yang dilakukan oleh warga Sidoharjo, Dusun Kendal, Bangunkerto, Kapanewon Turi. Dari kelompok siskamling yang rutin dilakukan, tercipta sebuah kelompok musik dengan nama Sinar Muda.

“Kelompok ini menggunakan alat musik yang didominasi oleh penggunaan kentongan bambu, dan dimainkan layaknya grup marching band dengan tambahan bedug dan ecek ecek,” ujar Nurkasri, salah satu anggota perintis terciptanya grup musik Sinar Muda ketika ditemui pasca Gelar Potensi Mandiri Budaya Bangunkerto Turi, Senin (8/11/2021).

Nurkasri mengatakan bahwa lagu yang dibawakan oleh Kelompok Sinar Muda mayoritas berisikan misi tentang keamanan dan pembangunan dengan aransemen yang dinamis, menggunakan alat musik perkusi. “Nada yang ditampilkan sederhana, dinamis, ceria, dan mengundang untuk bergoyang karena larut dalam alunan musiknya,” ujar pria yang juga merupakan penulis lagu di Kelompok Musik Sinar Muda.

Kelompok Musik Sinar Muda sendiri telah sering tampil dalam berbagai acara, di antaranya acara kalurahan, pemerintah daerah, dan kepolisian, serta telah sering berpartisipasi dalam lomba, baik tingkat daerah, maupun provinsi. (Arief Hartanto)