Karang Taruna Diharap Dapat Berikan Inovasi di Bidang Teknologi

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, hadir dalam Rapat Kerja Karang Taruna Bhaktiloka Condongcatur yang digelar selama 2 hari dari Sabtu (20/11/2021) dan Minggu (21/11/2021) di Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah.

Raker dimulai dengan pengukuhan pengurus baru Karang Taruna Bhaktiloka periode 2021-2024, yang dikukuhkan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Lurah Condongcatur Nomor 15.1/ tentang Penetapan Pengurus Karang Taruna Bhaktiloka Kalurahan Condongcatur masa Bakti 2021 – 2024.

Ketua Karang Taruna Bhaktiloka terpilih periode 2021-2024, Iswandaru mengapresiasi para anggota yang bersedia meluangkan waktu untuk mengikuti raker yang digelar di luar Yogyakarta ini. “Ini merupakan bentuk komitmen bersama untuk ikur membantu Pemerintah Kalurahan Condongcatur di bidang kepemudaan,” ujar Iswandaru.

Ia juga berharap agar ke depannya, Karang Taruna Bhaktiloka dapat lebih solida dan kompak dalam menyukseskan segala kegiatan dan program kerja yang telah disusun.

Ringga Sandra Admaja, Ketua Majelis Pertimbangan Karang Taruna (MPKT) mengatakan bahwa raker ini diadakan sebagai wadah koordinasi program antara bidang dan pemerintah kalurahan, agar tercipta keselarasan program kerja.

“(Selain itu) pengurus baru juga bisa saling belajar dengan para senior sehingga regenerasi dapat dipersiapkan dari sekarang untuk memegang estafet ke depan, bertugas bersama Pemerintah Kalurahan Condongcatur untuk menanggulangi berbagi masalah kesejahteraan sosial, terutama yang dihadapi generasi muda, baik yang bersifat preventif, rehabilatif, maupun pengembangan potensi generasi muda di lingkunganya,” jelas Ringga.

Sementara itu Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, berharap karang taruna dapat terus berkiprah melalu peran sebagai lembaga kalurahan untuk ikut membina kepemudaan dan memberikaan gagasan dan inovasi, terutama di bidang pemanfaatan tekonologi yang tengah berkembang saat ini.

“Semoga dalam raker ini, semua program-program kerja karang taruna dapat dirumuskan dengan baik, untuk dilaksanakan 3 tahun ke depan di Pemerintahan Condongcatur,” jelas Reno. (Wasana/KIM Depok)




Milad Muhammadiyah ke-109, PDM Sleman Gelar Groundbreaking RS PKU Muhammadiyah Sleman

Sleman – Dalam rangka memperingati Milad Muhammadiyah yang ke-109, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sleman mengadakan Groundbreaking Unit Rawat Inap Rumah Sakit (RS) PKU Muhammadiyah Sleman di Komplek PDM Sleman Sawahan, Pandowoharjo, Sleman, Sabtu (20/11/2021). Groundbreaking dilakukan secara simbolis oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo yang turut hadir dalam peringatan tersebut.

Kustini dalam kesempatan tersebut menyambut gembira pembangunan RS PKU Muhammdiyah ini, dan berharap untuk segera terwujud sehingga dapat memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

Ia juga berharap Muhammadiyah dapat terus menebar manfaat kepada bangsa dan negara, seiring dengan pertambahan usia yang ke 109 ini. “Serta terus memberi semangat dan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya bangkit di masa pandemi COVID-19,” imbuh Kustini.

Pembangunan RS PKU sendiri ditargetkan rampung pada Mei tahun 2022, dan mendapatkan dukungan dari RS PKU Muhammadiyah Gamping.

“Untuk pembangunan ini kami support dan back up sampai nantinya dapat berjalan secara mandiri,” kata dr. Faisol, Direktur RS PKU Muhammadiyah Gamping.

Sementara itu, Ketua PDM Sleman, Harjaka, dalam Pidato milad 109 menyampaikan komitmen Muhammadiyah dalam memajukan generasi penerus bangsa dan akan terus menjaga kerukunan antar manusia. (Arief Hartanto)




Tingkatkan Kemampuan Wirausaha Baru Melalui Pelatihan Pembuatan Brownies Motif Batik

Sebagai salah satu rangkaian kegiatan dalam Pelatihan Peningkatan Kemampuan dan Keterampilan bagi Wirausaha Baru, Dinas Koperasi dan UMKM Daerah Istimewa Yogyakarta dan Pemerintah Kalurahan Donoharjo memberi pelatihan pembuatan brownies motif batik di Embung Jetis Suruh, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, pada Minggu (21/11/2021).

Tri Aprilia selaku pemateri dalam pelatihan tersebut menjelaskan bahwa sebagian brownies kukus dengan motif batik yang kini sedang digemari masyarakat memiliki keunikan tersendiri karena terkesan, etnik, artistik, dan elegan. Terdapat beragam motif batik yang dipakai dalam pembuatan brownies, di antaranya kawung, parang, sidomukti, sekar jagad, dan jarik gendong.

“Kombinasi warna pun bisa dibuat dengan banyak variasi tergantung permintaan konsumen dan motif batik yang diinginkan. Sedangkan untuk motif batik klasik biasanya memakai kombinasi warna coklat, coklat tua, dan putih,” papar Tri yang memiliki usaha brownies di Bangunjiwo, Kasihan, Bantul tersebut.

Membuat brownies batik, lanjut Tri, membutuhkan ketrampilan dan ketelitian, karena harus memperhatikan nilai artistik tanpa meninggalkan cita rasa brownies itu sendiri.

“Langkah pertama yang dilakukan adalah membuat pola motif batik atau mal pada kertas dan ditempel di loyang. Mal tersebut dilapisi kertas kue dan motif dibuat mengikuti pola tersebut. Adonan yang sudah diberi warna dijadikan tinta untuk melukis di atas pola batik, kemudian dikukus selama 10 menit. Langkah selanjutnya membuat adonan brownies, tuangkan di atas motif batik dan kembali dikukus sampai matang,” jelas Tri.

Brownies batik pada umumnya bisa tahan hingga lima hari pada suhu ruangan dan lebih dari seminggu bila disimpan dalam kulkas.

Tri juga memberikan motivasi kepada para peserta pelatihan bahwa peluang usaha brownies batik masih terbuka lebar mengingat Yogyakarta yang merupakan destinasi wisata. Banyaknya wisatawan yang membeli oleh-oleh untuk keluarga, teman, atau tetangga menjadikan brownies batik memiliki potensi usaha yang cukup menjanjikan.

“Pesanan brownies batik biasanya meningkat pesat saat musim liburan tiba, hari raya, atau dipakai sebagai hantaran acara pernikahan,” ujarnya.

Selain itu, Anggota DPRD DIY, KPH Purbodiningrat, yang berkesempatan hadir menutup pelatihan tersebut berharap agar materi pelatihan bermanfaat bagi para peserta sebagai modal ilmu memulai wirausaha untuk meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Kalurahan Donoharjo Gelar Pelatihan Pewarnaan Kain dengan Teknik Shibori

Dinas Koperasi dan UMKM Daerah Istimewa Yogyakarta bekerja sama dengan Pemerintah Kalurahan Donoharjo menggelar Pelatihan Peningkatan Kemampuan dan Keterampilan bagi Wirausaha Baru, di Embung Jetis Suruh, Donoharjo, Ngaglik, Sleman pada Sabtu (19/11/2021).

Dalam kegiatan tersebut, para peserta berlatih mewarnai kain dengan menggunakan teknik Shibori, yaitu teknik pewarnaan kain yang berasal dari Jepang.

“Proses pembuatan Shibori sederhana, bahan yang dibutuhkan juga mudah didapatkan. Hal ini sangat cocok bagi para ibu dan remaja putri untuk belajar, mengasah ketrampilan, dan dapat dijadikan sebagai pilihan memulai wirausaha,” kata Dwi Djuwati selaku pemateri dalam kegiatan tersebut.

Dwi menjelaskan bahwa proses pembuatan Shibori dimulai dengan melipat kain putih menjadi bentuk segitiga atau segi empat sesuai pola yang diinginkan, kemudian diikat dengan karet.

“Proses selanjutnya adalah mencelupkan kain ke dalam larutan glossy untuk mengikat warna dan hasilnya lebih mengkilat,” papar Dwi yang memiliki usaha Shibori dan ecoprint di Kalurahan Triwidadi, Pajangan, Bantul tersebut.

Motif yang dihasilkan dari teknik pewarnaan Shibori sendiri dapat dikatakan sangat unik dan bernuansa etnik sehingga menarik banyak konsumen.

Menurut Dwi, ragam kain Shibori banyak dipilih untuk baju santai, namun banyak pula digunakan untuk busana resmi dan pesta. Sleain itu, dapat juga digunakan untuk membuat berbagai macam aksesoris dengan nilai ekonomi yang tinggi.

“Di Indonesia sendiri banyak dikenal kain dengan teknik menyerupai shibori, seperti misalnya di Jawa ada jumputan, Banjarmasin dinamakan sasirangan, atau Palembang yang dikenal dengan Pelangi,” lanjut Dwi. (Upik Wahyun/KIM Donoharjo)




Membuat Batik Ramah Lingkungan dengan Teknik Ecoprint

Ngaglik – Dinas Koperasi dan UMKM Daerah Istimewa Yogyakarta bekerja sama dengan pemerintah kalurahan Donoharjo menggelar Pelatihan Peningkatan Kemampuan dan Keterampilan Ecoprint bagi Wirausaha Baru di Embung Jetis Suruh, Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Jumat (19/11/2021). Pelatihan ini merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan selama 3 hari dengan materi pelatihan Shibori dan kreasi membuat kue dengan motif batik.

Seto Aji Kusumantoro, Ulu-Ulu Donoharjo mengatakan bahwa kegiatan ini diadakan dengan tujuan untuk memberdayakan, menumbuhkan kreativitas, dan meningkatkan keterampilan ibu-ibu dan remaja putri agar lebih terampil dan mandiri, sehingga dapat meningkatkan pendapatan keluarga.

“Apalagi ecoprint ini bahannya ada di sekitar kita, ramah lingkungan dan punya prospek ekonomi yang menjanjikan. Ke depan kita berharap agar ecoprint ini bisa menjadi ikon kalurahan Donoharjo,” kata Seto Aji Kusumantoro.

Dwi Djuwati pengrajin ecoprint dari merek Demaya, yang hadir sebagai narasumber mengatakan bahwa ecoprint berasal dari kata eco (ekosistem/alam) dan print yang artinya mencetak. “Ecoprint adalah teknik memberi pola dan warna pada kain atau bahan dengan menggunakan bahan alami dari tumbuhan seperti bunga, daun , akar, batang, dan bagian tumbuhan yang lain,” jelas Dwi.

Dwi menerangkan bahwa teknik ecoprint tidak menggunakan bahan kimiawi atau sintetis, jadi sangat ramah lingkungan dan tidak menimbulkan pencemaran. Untuk media pembuatan pola, ecoprint bisa menggunakan bahan dari kain katun, sutra, kanvas, atau bahan lain yang memiliki serat. Untuk pewarnaan dasar, ecoprint memanfaatkan bahan pewarna yang berasal dari Kayu Secang, Jolawe, Kulit Kayu Jambu, Kulit Jambu Tingi, dan Kulit Kayu Mahoni atau Manjakani.

“Sedangkan bahan untuk membuat pola biasanya menggunakan daun Jati Muda, Godong Lanang, Jimitri, Daun Afrika, Jarak Kepyar, Daun Kenikir, Randasemaya, dan lain-lain,” jelas wanita yang telah memulai usaha ecoprint sejak tahun 2013 ini.

Proses ecoprint sendiri terbilang sederhana jika dibandingkan dengan batik tulis. Pertama dilakukan pencucian kain mordan dengan menggunakan tawas, untuk mempertahankan warna dasar dan membuka pori-pori kain. Kemudian dilanjutkan dengan proses pewarnaan yang diawali dengan penempelan daun sesuai dengan pola yang telah dibuat sebagai proses blanket (transfer) warna. Kain yang telah ditempel daun tersebut kemudian digulung untuk mencegah terjadinya perubahan posisi daun. Kain yang telah digulung kemudian diikat agar air tidak masuk ke kain selama proses pengukusan. Kain yang telah diikat tersebut kemudian dikukus selama 2 jam, agar warna daun dapat keluar dan menempel dengan sempurna pada kain.

“Setelah itu kain dibuka dan dibersihkan dari daun yang menempel, sebelum dilakukan penjemuran dan penyimpanan selama 2 minggu. Setelah itu, dilakukan fiksasi atau penguncian warna agar warna tidak luntur dengan menggunakan tawas. Selanjutnya kain dicuci menggunakan lerak dan dijemur,” papar Dwi  yang memiliki usaha di Triwidadi Pajangan Bantul tersebut.

Pembuatan ecoprint terbilang unik dan eksklusif karena motif dan warna yang dihasilkan dalam setiap pembuatan tidak akan sama.

“Setiap pembuatan hasilnya berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh proses pencelupan warna dasar, teknik menggulung, lama pengukusan, dan intensitas sinar matahari saat menjemur kain meskipun bahan dan teknik yang digunakan sama. Selalu ada kejutan ketika proses pembuatan telah selesai karena hasil ecoprint kadang di luar perkiraan,” imbuh Dwi.

Di akhir kegiatan, Dwi berpesan untuk tidak bosan bereksperimen dan berinovasi agar dapat memperoleh hasil ecoprint yang diinginkan.

“Dengan banyak mencoba kita menjadi tau bahan dan teknik seperti apa untuk menghasilkan ecoprint yang berkualitas,” ujarnya.  Hal tersebut, lanjut Dwi, berguna untuk menyesuaikan selera pasar yang dinamis.

“Peluang bisnis ecoprint masih terbuka lebar apalagi masyarakat semakin sadar untuk menjaga kelestarian alam. Hal ini akan berpengaruh terhadap trend gaya hidup yang cenderung  menggunakan bahan alami ramah lingkungan agar terhindar dari pencemaran baik tanah, air, dan udara,” tutup Dwi. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)