Pengurus Pokdarwis Volcano Merapi Dikukuhkan

Cangkringan – Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Volcano Merapi jalani pelantikan dan pengukuhan anggota baru di Kalurahan Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, pada Senin (6/12/2021).

Pada periode kali ini, terpilih sabagai ketua adalah Naryono yang menggantikan ketua periode sebelumnya, Tri Sunaryo.

Lurah Umbulharjo, Danang Sulistya Haryana menyampaikan harapannya untuk kepengurusan pokdarwis yang baru mampu menjadikan lebih baik lagi ke depannya dan dapat merangkul seluruh wisata yang ada di Kalurahan Umbulharjo.

“Kepengurusan baru juga harus dapat menjadikan dan memberikan kemajuan untuk Pokdarwis kalurahan,” ujarnya.

Pengukuhan ini juga dihadiri dari Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman. (Nurul Istiqomah/KIM Cangkringan)




Peringatan Hari Jadi Kalurahan Umbulharjo

Cangkringan – Pemerintah Kalurahan Umbulharjo menggelar peringatan HUT Kalurahan Umbulharjo di Balai Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Sabtu (4/12/2021). Acara tersebut dihadiri langsung oleh Lurah Umbulharjo dan Panewu Anom Cangkringan.

Danang Sulistya Haryana selaku Lurah baru di Kalurahan Umbulharjo menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin yang diadakan setiap tahun.

“Acara ini merupakan acara hajatan Kalurahan Umbulharjo, yang setiap tahunnya akan selalu diperingati dan tetap menjaga adat istiadat di Kalurahan Umbulharjo,” ujarnya.

Sementara itu, Misman, selaku Kamituwa Kalurahan Umbulharjo, menyampaikan “kegiatan hari jadi ini di laksanakan lagi setelah 2 tahun tidak di laksanakan karena adanya pandemi covid dan di harap rekan rekan yang hadir tetap menjaga prokes sesuai anjuran pemerintah”.

Peringatan HUT Kalurahan Umbulharjo sendiri berlangsung selama 2 hari pada 4-5 Desember 2021, dengan rincian Sabtu (4/12/2021) kegiatan kenduri dan pada Minggu (5/12/2021) kegiatan jalan sehat yang diikuti oleh 500 peserta, dengan berbagai doorprize menarik. (Nurul Istiqomah/KIM Cangkringan)




Restorasi Sosial Berbasis Budaya Jawa

Sleman – Untuk menggali kearifan lokal berbasis budaya Jawa guna mewujudkan kesejahteraan sosial, Dinas Sosial DIY menggelar Sarasehan Restorasi Sosial di Balai Kalurahan Margokaton, Seyegan, Sabtu (4/12/2021).  Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Penghageng Parentah Hageng Keraton Yogyakarta Hadiningrat, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudhahadiningrat.

Pada kesempatan tersebut, KPH Yudhahadiningrat menggarisbawahi mengenai urgensi Kalurahan Mandiri Budaya.

“Ada 4 syarat untuk mendapatkan predikat Desa Mandiri Budaya, yaitu Sudah menjadi desa budaya, desa wisata, desa entrepreneur, dan sudah ditetapkan sebagai desa pemberdayaan perempuan,” jelas pria yang biasa dipanggil Romo Noer ini.

Romo Nur juga mengajak semua audien dalam sarasehan tersebut untuk dapat terus melestarikan budaya dan filosofi Jawa dengan melakukan koreksi terhadap kebiasaan yang kurang tepat, seperti penggunaan jari dalam menunjuk dan penggunaan kata bopo.

“Biasakan menggunakan jempol karena ibu jari simbol rendah hati dan menghargai orang lain, berbeda dengan jari telunjuk yang kerap digunakan secara kasar untuk memerintah.  Penggunaan kata “Bopo” yang sering digunakan untuk menghormati seseorang tidak pas karena makna Bopo adalah pembantu laki-laki, pelayan atau asisten sepadan dengan pembantu perempuan adalah biyung,” terang Romo Noer.

Sadar Narima anggota DPRD DIY dalam kesempatan tersebut mengajak setiap peserta untuk bangga karena Jogja ditetapkan sebagai warisan budaya dunia.

“Jogja adalah city of phylosophy karena DIY merupakan satu-satunya daerah yang membangun daerahnya dengan meletakkan filosofinya terlebih dahulu, yaitu Sangkan Paraning Dumadi. Lung tinulung atau sinergisitas merupakan modal sosial untuk mencukupi kebutuhan bersama adalah kekayaan berharga untuk meraih kemakmuran,” ungkap Sadar

Sementara itu, Irdhon Hidayah, Carik Margokaton mengapresiasi sarasehan restorasi sosial yang diselenggarakan Dinas Sosial DIY ini. Menurutnya kegiatan ini merupakan wadah merekonstruksi pembangunan manusia seutuhnya dengan menggali kearifan lokal, keserasian sosial dan tidak melupakan akar sebagai manusia jawa.

“Usulan Program atau kegiatan harus proaktif dimunculkan dalam musrenbang padukuhan sehingga sebuah kegiatan akan mengakar di masyarakat. Banyak potensi di Margokaton yang bisa dioptimalkan untuk meraih predikat Desa Mandiri Budaya,” ujar Irdhon. (HRH91)




RAPI Sleman Tingkatkan Kompetensi Anggota dalam Komunikasi Bencana

Sleman – Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Wilayah Sleman, sebagai organisasi dalam bidang komunikasi, terus meningkatkan kompetensi anggotanya, terutama dalam hal komunikasi kebencanaan. Mengingat secara geografis, di Kabupaten Sleman terdapat Gunung Merapi yang merupakan salah satu gunung api teraktif di dunia. Saat ini Gunung Merapi menjadi perhatiaan terkait potensi bencana yang mungkin terjadi, antara lain banjir lahar dingin yang berpeluang melewati sungai hingga ke laut selatan Pulau Jawa. Kondisi ini menjadi perhatian tersendiri karena beberapa aliran sungai juga melewati lingkungan pemukiman padat penduduk.

Atas dasar itulah RAPI Sleman yang beranggotakan lebih dari 800 orang, memperkuat lini sumber daya manusianya dengan mengadakan Bimbingan Organisasi RAPI pada Minggu (5/12/2021), di Bumi Perkemahan Taman Tunas Wiguna Babarsari, Kabupaten Sleman.

Sekretaris Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman, Harda Kiswaya, yang hadir dalam kegiatan tersebut memberikan dukungan terhadap peningkatan kompetensi ini.

”Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman sangat mendukung acara peningkatan Kompetensi Relawan RAPI ini. Sekaligus memberikan dukungan prasarana, jika dibutuhkan bisa menggunakan fasilitas Gedung Pertemuan di lingkungan kantor Pemda Sleman,” ujar Harda kepada 150 peserta yang hadir.

Ketua RAPI Sleman, Untung Sukaryadi menegaskan bahwa kegiatan ini terlaksana atas dukungan Pemerintah Kabupaten Sleman dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman.

Untung menambahkan, RAPI saat ini tidak hanya berfokus pada komunikasi saja, melainkan telah merambah bidang sosial dan kebencanaan, sehingga siap bekerja sama dengan BPBD.

“Targetnya (peningkatan kompetensi ini) menjadikan anggota tidak saja mahir berkomunikasi, tapi juga multikompetensi dan multifungsi dalam kebencanaan,” tambah Untung.

Untung berharap para relawan nantinya dapat terlibat dan melaporkan kondisi kebencanaan yang terjadi, sesuai dengan fakta di lapangan dengan tata cara dan etika yang sesuai dengan kebutuhan informasi yang diperlukan

“Kegiatan Bimbingan Organisasi RAPI hari ini, akan dilanjutkan dengan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Team Reaksi Cepat Tanggap Bencana pada minggu depan, tepatnya 12 Desember 2021,” ungkap Untung, masih dalam kaitan meningkatkan kompetensi berjenjang.  

Sementara itu, Ketua RAPI DIY Nurdi Antoro mengimbau para anggota RAPI untuk dapat memiliki jiwa relawan. ”Tidak berpikir adanya kompensasi atas partisipasinya di masyarakat,” kata Nurdi.

Ia juga menyatakan kesiapan RAPI DIY dalam memberikan bantuan jika pada kondisi tertentu terjadi bencana, baik itu dampak Gunung Merapi atau lainnya. RAPI DIY siap bekerja sama dengan pengurus wilayah untuk mendirikan kembali Posko Tangap Bencana, yang dapat mempermudah koordinasi relawan kebencanaan. Hal ini memang sudah ditegaskannya saat Apel Rapi Siaga Bencana, pada tahun 2020 silam.

Ketegasan Ketua RAPI DIY, juga diamini oleh Sekretaris RAPI Lokal Sleman Timur, Tukijo yang pada acara ini mengirim peserta dengan jumlah terbanyak yaitu 14 peserta yang merupakan gabungan dari anggota di Kapanewon Kalasan dan Prambanan.

“Pada acara bimbingan organisasi kali ini, kami mengirim pengurus lokal untuk mempertegas bahwanya semua siap kerja dan tanggap, tanpa berpikir kompensasinya, mengingat kondisi Kapanewon Kalasan dan Prambanan bisa saja menjadi penyangga relawan untuk bencana di seputaran Gunung Merapi. Prinsipnya siap kerja ikhlas dahulu,” ujar Tukijo. (Iswara/RAPI DIY)




Optimalkan Kapasitas Lahan, Warga Kanoman Pugar Makam Gepluk

Guna mengatasi permasalahan kekurangan lahan untuk Tempat Permakaman Umum (TPU), dan memudahkan warga saat proses pemakaman berlangsung maka segenap warga RW. 5 Padukuhan Kanoman melakukan gotong royong pemugaran Makam Sasonoloyo Gepluk yang terletak di wilayah Padukuhan Kanoman, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Minggu (5/12/2021).

Kegiatan yang sudah direncanakan sejak 4 bulan lalu tersebut dihadiri oleh Panewu Gamping, Sarjono, didampingi Kamituwa Kalurahan Banyuraden, Muhajir yang memantau langsung kegiatan pembongkaran batu nisan dan pembuatan jalan utama di area permakaman.

Dalam keterangannya, Panewu Gamping, Sarjono menjelaskan bahwa revitalisasi TPU Gepluk merupakan hasil musyawarah warga di wilayah Padukuhan Kanoman yang bertujuan untuk mengoptimalkan kapasitas lahan pemakaman, memudahkan dalam pengangkutan dan proses pemakaman apabila ada warga yang meninggal dunia, serta menata makam lebih asri dan bersih.

“Melihat kondisi TPU Gepluk sekarang yang kurang dalam penataan ruangnya sehingga menyulitkan warga saat melakukan pemakaman maka saya mengapresiasi inisiatif warga padukuhan Kanoman yang telah melakukan revitalisasi makam ini menggunakan dana swadaya masyarakat,” tutur Sarjono.

Hal senada diungkapkan oleh Kamituwa Kalurahan Banyuraden, Muhajir yang juga merupakan warga Padukuhan Kanoman mengatakan bahwa terdapat 190 makam yang akan ditata dan dirapikan dengan menghabiskan biaya sekitar 12 juta rupiah dan diperkirakan selesai selama sebulan.

“Seluruh warga Padukuhan Kanoman melakukan patungan guna membiayai pemugaran TPU Gepluk secara mandiri yang akan digunakan untuk pelebaran dan pengecoran jalan utama di dalam makam, pembuatan pagar keliling makam, serta pembuatan batu nisan yang diseragamkan agar mengefisienkan kapasitas lahan,” ungkap Muhajir.

Ia berharap dengan penataan ulang makam di TPU Gepluk Banyuraden dapat mengatasi kebutuhan lahan untuk pemakaman dan memperbaiki saluran air (drainase, red.) sehingga saat hujan tiba lokasi permakaman tidak lagi tergenang air hujan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)