Ansor Banser Gamping Galang Dana Bagi Korban Erupsi Semeru

Sleman – Sebagai wujud kepedulian terhadap para korban bencana alam akibat erupsi Gunung Semeru maka Keluarga Besar Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor bersama Satuan Koordinasi Rayon (Satkoryon) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kapanewon Gamping menggalang dana dari masyarakat di Perempatan Ringroad Barat Demakidjo, Gamping, Sleman, Minggu (12/12/2021).

Ketua Satkoryon Banser Gamping, M. Munif Hasim mengatakan aksi solidaritas sosial diikuti oleh 20 personil yang bertujuan untuk meringankan penderitaan warga yang terdampak erupsi Gunung Semeru.

“Sebagai bentuk rasa kepedulian dan solidaritas kepada saudara-saudara yang ada di daerah Lumajang dan sekitarnya yang terdampak erupsi Gunung Semeru maka keluarga GP Ansor dan Banser Kapanewon Gamping berupaya mengumpulkan dana bagi mereka yang dapat digunakan selama masa tanggap bencana,” kata Munif.

Menurut Munif, seluruh dana yang diperoleh dari aksi sosial tersebut akan diberikan kepada warga korban erupsi Gunung Semeru melalui Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Nahdlatul Uama Kabupaten Sleman. “Sedangkan dana yang terkumpul setelah 5 jam penggalangan dana sebanyak rupiah,” tutup Munif. KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping/Adnan Nurtjahjo




Seimbangkan Kesehatan Rohani dan Jasmani Lewat Pengajian Ahad Pagi

Gamping – Guna menyeimbangkan kesehatan rohani dan kesehatan jasmani di kalangan masyarakat sekitar maka Rumah Sehat Cokrowijayan Sleman (RSCS) menyelenggarakan pengajian ahad pagi dan konsultasi kesehatan gratis di Pendopo Kakandhangan, Banyuraden, Gamping, Sleman, Minggu (12/12/2021). Pengajian bertajuk “Sehat Rohani Jasmani” (Seroja) diikuti oleh Komunitas Kekandhangan Banyuraden bersama ibu-ibu yang berdomisili di wilayah Banyuraden.

Dalam tausiahnya, Pendiri RSCS, Bambang Edi Susyanto menyampaikan kesehatan rohani sama pentingnya dengan kesehatan jasmani. Dikarenakan keduanya saling berkaitan dan melengkapi, sehingga semua orang wajib menjaganya.

“Kita tidak cukup hanya hidup sehat secara fisik, melainkan perlu sehat rohani juga karena hal tersebut merupakan kunci kesehatan seseorang yang memiliki akal dan pikiran agar memiliki hati yang tenang dan nyaman dalam kehidupannya,” tutur  Bambang.

Bambang mengungkapkan bahwa untuk mencapai sehat rohani salah satunya dapat dilakukan dengan beramal saleh menolong orang lain tanpa mengharap imbalan apapun. Menurutnya, untuk melakukan perbuatan baik perlu adanya kreatifitas sesuai yang terkandung dalam Surat Al-Maidah ayat 35 yang menyatakan bahwa orang yang beriman agar bertakwa kepada Allah dan mencari wasilah atau jalan yang paling tepat untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjuang di jalan-Nya agar beruntung.

Bambang menjelaskan bahwa ayat tersebut memerintahkan orang mukmin untuk bertakwa dan melakukan perbuatan baik terhadap orang lain. Karena dengan melakukan kebaikan dan membantu orang yang membutuhkan akan menjadikan seorang mukmin lebih beruntung ketika di dunia maupun di akhirat nanti.

“Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengontrol diri dengan menjaga secara ketat terhadap segala hal yang berpotensi melanggar ketentuan agama, serta selalu kreatif mencari cara dalam berbuat kebaikan terhadap orang lain yang membutuhkan pertolongan kita,” pungkas Bambang. KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping/Adnan Nurtjahjo




Bupati Sleman: Alun-alun Sleman Akan Ditutup Saat Malam Tahun Baru

Sleman – Pemerintah resmi menerbitkan aturan terbaru terkait pengetatan libur Natal dan Tahun Baru 2022. Aturan tersebut dituangkan dalam Instruksi  Menteri Dalam Negeri Nomor 66 Tahun 2021.

Salah satu poin yang tertera dalam Inmendagri tersebut adalah menutup semua alun-alun pada 31 Desember 2021 sampai 1 Januari 2022.

Menanggapi hal itu, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo mengatakan pihaknya akan mengikuti arahan dalam Inmendagri. Menurutnya, dalam menghadapi momentum yang berpotensi menimbulkan kerumunan, harus mengedepankan prinsip kehati-hatian.

“Yang kita upayakan sampai saat ini kerangka besar dan jelas dalam upaya meniadakan kerumunan. Selain dengan pembatasan orang di suatu tempat, tentu keberadaan tempat umum yang berpotensi keramaian juga harus diatur, seperti alun-alun. Dan setiap tahun baru, alun-alun selalu jadi magnet untuk masyarakat berkumpul,” ucap Kustini saat dikonfirmasi, Sabtu (11/12/2021).

Kustini menegaskan akan menutup alun-alun sesuai dengan aturan yang ada. Langkah itu diambil agar tidak menjadi tempat berkumpulnya orang saat perayaan Tahun Baru.

“Alun-alun Sleman di Denggung, lapangan Pemda termasuk beberapa tempat yang berpotensi keramaian lainnya akan ditutup. Nanti akan diatur dalam Inbup dan akan ada pantauan petugas gabungan untuk memastikan tidak ada kerumunan,” kata Kustini.

Penutupan tersebut nantinya hanya dilakukan satu malam saja yakni pada saat pergantian tahun. Meski begitu, tidak ada larangan bagi pedagang kaki lima di kawasan Alun-alun Sleman untuk berjualan di lokasi tersebut.

“Ditutup hanya satu malam saja. Karena hari-hari biasa tidak akan begitu ramai, kecuali saat malam tahun baru. Pedagang yang biasanya berjualan di shelter tetap boleh buka,” terang Kustini.

Dilanjutkan Kustini, pihaknya juga menghimbau agar masyarakat menahan diri untuk tidak keluar rumah pada saat perayaan tahun baru.

“Kami imbau agar masyarakat tidak kemana-mana saat malam tahun baru. Rayakan malam pergantian tahun baru bersama keluarga saja,” tambah Kustini. (Humas Sleman)




Berikan Efek Jera, ‘Manusia Silver’ di Sleman Jalani Persidangan

Sleman – Sebanyak 21 orang anak jalanan dan gelandangan mengikuti sidang di Pengadilan Negeri Kabupaten Sleman pada Jumat (10/12/2021). Sidang tersebut merupakan tindak lanjut dari razia terhadap pengemis, pengamen, anak jalanan, gelandangan hingga manusia silver yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sleman pada 6 hingga 8 Desember 2021 lalu.

Mereka yang tertangkap dinilai melanggar pasal 34 Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 12 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ketentraman, Ketertiban Umum, dan Pelindungan Masyarakat. Secara umum, masing-masing didenda sebesar ,00, subsider tiga hari kurungan.

Sudarmanto, Kepala Seksi Operasional Ketentraman dan Ketertiban Satpol PP Sleman menyatakan bahwa telah dilakukan pembinaan dan penertiban secara rutin kepada pengemis, pengamen, anak jalanan, gelandangan, maupun manusia silver di Kabupaten Sleman selama dua bulan.

“Kami sudah memberi peringatan-peringatan secara lisan kepada yang bersangkutan, tapi karena tidak efektif dan belum bisa memberi efek jera, maka dilakukan penjangkauan atau razia untuk kemudian disidangkan,” lanjut Sudarmanto.

Selain itu, Sudarmanto juga menambahkan bahwa akan ada sanksi yang lebih berat bagi pelaku yang mengulangi perbuatannya setelah dilakukan sidang.

Ia menyebutkan bahwa masyarakat dapat memberikan peringatan apabila menemui gelandangan maupun pengemis di tempat umum. Masyarakat juga dilarang untuk memberikan uang apabila menemui gelandangan dan pengemis sesuai dengan pasal 35 dan dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak Rp50 juta.

“Kami berharap dengan adanya kejadian ini, gelandangan dan pengemis bisa berkurang atau sudah tidak ada sama sekali. Sebagai efek jera,” pungkasnya.




Motif Batik Jadi Peluang Bisnis di Bidang Kuliner

Sleman – Memutuskan untuk ikut suami pindah ke Yogyakarta, Olivia Ruminda melepaskan pekerjaannya sebagai pegawai bank di Palembang. Namun hal itu tidak membuat Olivia untuk berdiam diri saja di rumah. Dengan keterampilan yang dimilikinya, Olivia memiliki ide untuk mendirikan Home Industri di bidang kuliner. Pada tahun 2017, Dapur OliviaRu yang memproduksi kue bolu gulung, kue brownies, donat, dessert, dan kue kukus pun berdiri di Perumahan Dalem Maguwoharjo Asri no C5 Maguwoharjo Depok Sleman.

Keunikan dari Dapur OliviaRu ini adalah setiap kue yang dibuat mempunyai ciri khas yaitu memiliki ukiran batik, yang memang melekat kuat di Yogyakarta sebagai kota kebudayaan. Menurut Olivia, bisnis kuliner kue di Yogyakarta telah banyak bermunculan. Sehingga dibutuhkan kreativitas tersendiri untuk melihat peluang yang terbuka. Ia pun mengambil sisi kebudayaan sebagai peluang bisinis, yaitu motif batik.

“Jadi tidak hanya di kain, topi, tas serta kerajinan-kerajinan saja yang bermotifkan batik, tetapi kue pun bisa bermotif batik,” ujar Olivia ketika ditemui di rumah produksi Dapur OliviaRu, Kamis (9/12/2021).

Agar diketahui banyak orang, dalam memperkenalkan kue batik tersebut Olivia menghubungi teman-temannya yang di Jogja. Ia mengenalkan kue batiknya dengan cara promosi dari mulut ke mulut hingga orang-orang tertarik dengan kue batik milik Olivia. Selain itu, promosi juga dilakukan melalui media sosial milik Olivia, serta mengikuti berbagai macam komunitas.

Motif batik yang biasa digunakan oleh Olivia dalam pembuatan kue adalah motif batik Kawung dan Parang. “Motif Kawung dan Parang sudah menjadi ciri khas Jogja dan dimana-mana kita dapat menemukan motif tersebut,” kata Olivia

Tidak hanya kedua motif itu saja, terkadang Olivia menerima pesanan dari pelanggannya dengan motif batik yang lain, seperti Sidomukti, Sidoasih, Taruntung, hingga model Udan Riris.

Pelanggannya sendiri biasanya adalah wisatawan dari dalam negeri maupun luar negeri.

“Untuk kue dengan motif batik Parijoto khas Sleman sendiri, biasanya yang melakukan pemesanan dari Dinas Kabupaten Sleman,” katanya.

Selama pandemi ini, Olivia mengatakan pemesanan kue batik dilakukan dengan cara melakukaan pemesanan terlebih dahulu atau yang biasa disebut dengan pre-order.

Sama halnya dengan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lainnya, untuk penghasilan Dapur OliviaRu juga mengalami penurunan di masa pandemi. Sebelum pandemi biasanya Olivia meraup keuntungan 15 juta hingga 20 juta rupiah. Sementara pada masa pandemi, ia mengakui hanya bisa mengambil keuntungan hingga 10 juta rupiah. (Rep Tsaltsa)