Propam Polda DIY Cek Kesiapan Posko PPKM Mikro di Gamping

Dalam rangka pengendalian COVID-19 pada masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro di Kabupaten Sleman, Propam Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Polsek Kapanewon Gamping melakukan kegiatan pengecekan dan pengawasan kesiapan Pos Komando PPKM Skala Mikro di Kapanewon Gamping, Kamis (25/2/2021). Lokasi pengecekan adalah posko kalurahan yang berada di Kapanewon Gamping, yaitu Posko Kalurahan Balecatur, Kalurahan Ambarketawang, Kalurahan Banyuraden, Kalurahan Nogotirto, dan Kalurahan Trihanggo,

Kegiatan yang dipimpin oleh AKP Sabdo dari Propam Polda DIY didampingi Kanit Provost Polsek Gamping, Ipda Sigit Sudaryanto dan Kanit Binmas Polsek Gamping, AKP Yakobus Ponidi ini bertujuan untuk memastikan kelengkapan instumen pendukung pelaksanaan penanganan COVID-19 yang dimiliki oleh Posko PPKM Mikro di masing-masing kalurahan agar program PPKM Mikro berjalan dengan optimal.

“Posko PPKM Mikro di tingkat kalurahan agar melakukan fungsi pencegahan, penanganan, pembinaan, dan pendukung pelaksanaan penanganan COVID-19 yang diawasi oleh posko di tingkat kapanewon. Posko tingkat kalurahan dipimpin oleh Lurah dibantu perangkatnya dan mitra kalurahan serta berkoordinasi dengan Satgas COVID-19 yang ada di tingkat atasnya atau TNI/Polri,” tegas AKP Sabdo.

Hal ini didukung oleh Kanit Provost Polsek Gamping, Ipda Sigit Sudaryanto yang menyebutkan bahwa tujuan dari pelaksanaan program PPKM Mikro adalah untuk menekan kasus positif dan melandaikan kurva sebagai tanda keberhasilan dalam penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi yang dilakukan dari level yang terkecil yaitu, RT, RW, dan kelurahan.

“Dalam pelaksanaannya, pemerintah membentuk posko atau pos jaga di tingkat kalurahan yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana berupa alat angkut, alat pelindung diri, sarana komunikasi, perlengkapan desinfektan, serta dilengkapi dengan standar operasional prosedur sesuai dengan regulasi yang berlaku,” ungkap Ipda Sigit.

Beberapa upaya yang harus  dilakukan oleh petugas Posko PPKM Mikro untuk memaksimalkan fungsinya antara lain melakukan monitoring kegiatan masyarakat agar selalu menerapkan protokol kesehatan, menghimbau warga melakukan pola hidup bersih dan sehat, melakukan dekontaminasi ke rumah warga, serta memberikan bantuan sembako pada warga yang sedang melakukan isolasi mandiri. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna kapanewon Gamping)




Vert Terre, Bisnis Ramah Lingkungan yang Berawal dari Gaya Hidup

Dewasa ini, generasi milenial telah banyak yang sadar akan pentingnya kelestarian lingkungan. Bahkan, tidak sedikit yang mengadopsi gaya hidup eco-friendly demi menjaga lingkungan disekitar tetap bersih tanpa menyisakan sampah, terutama dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Mengutip artikel Daniel Holzer yang berjudul ‘What Does Eco-Friendly mean’, eco-friendly atau ramah lingkungan secara harfiah adalah sesuatu yang tidak merusak lingkungan. Artinya, gaya hidup eco-friendly ini merupakan praktik keseharian seseorang yang tidak merusak lingkungan, seperti menggunakan peralatan ramah lingkungan yang tidak menyebabkan polusi.

Semangat akan pentingnya untuk hidup ramah lingkungan ini menjadi alasan Tiffani Rizki Putri Baihaqi (22 tahun) dalam merintis usaha berbasis eco-friendly. Bersama temannya, Ratri Sekar Wening (22 tahun) yang sama-sama terbiasa untuk hidup ramah lingkungan, Ia memulai bisnis eco-friendly untuk menyebarkan semangat hidup ramah lingkungan kepada orang lain.

“Awalnya aku dan Ratri sering bawa sedotan stainless gitu, teman-teman kita ngelihat gitu pada suka, jadi ingin beli tapi di Jogja belum ada yang jual,” ungkap Tifani ketika dihubungi pada Kamis (25/2/2021).

Atas alasan itulah, Ia dan Ratri pada tahun 2018 berinisiatif untuk membuka usaha berbasis gaya hidup ramah lingkungan, yang ia beri nama Vert Terre. Vert Terre merupakan toko curah yang menawarkan barang-barang keseharian yang ramah lingkungan, seperti sedotan stainless steel.

Vert Terre sendiri diambil dari Bahasa Perancis yang artinya bumi hijau, yang menurut Tifani sesuai dengan tujuan dari bisnis yang dirintisnya, yaitu menghadirkan barang-barang ramah lingkungan.

Awal merintis usahanya, Tifani dan Ratri mengaku hanya menawarkan dagangannya melalui sistem online. Para pelanggan hanya bisa melihat dan memesan barang-barang yang mereka tawarkan melalui akun Instagram @. “Pelanggan awal itu ya teman-teman kita, mereka beli ke kita, terus mereka update gitu ke teman-teman yang lain, jadi banyak yang tertarik,”ujar Tifani.

Karena banyaknya pesanan, akhirnya pada tahun 2019, Tifani dan Ratri memutuskan untuk membuka toko offline untuk memudahkan para pelanggan mereka. Toko offline Vert Terre berlokasi di Purwosari, Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Sleman. Di toko offline ini selain berbelanja, para pelanggan juga dapat mengedukasi diri mengenai konsep hidup eco-friendly.

Saat ini, Vert Terre telah menjual berbagai macam barang untuk kebutuhan sehari-hari. Selain sedotan stainless, Vert Terre juga menawarkan berbagai macam kebutuhan harian seperti sampo, sabun mandi, sabun cuci muka, deodorant, body care, sikat gigi kayu, dan sebagainya. Harganya pun cukup tejangkau, dari yang paling murah di kisaran Rp. , – hingga yang paling mahal seharga Rp. , -.

“Best seller-nya itu produk kecantikan seperti body care, masker muka, lulur, sabun muka, deodorant, dan sabun mandi,” terang Tifani.

Untuk menarik pasarnya yaitu para anak muda dan mahasiswa, Vert Terre melakukan beberapa hal. Selain ragam produk yang ditawarkan, mereka juga membuat konsep toko mereka se-aesthetic mungkin. “Konsep toko kita buat aesthetic supaya menarik anak muda dan mahasiswa untuk datang ke storem apalagi kan sekarag zamannya pada suka foto-foto, terus posting di Instagram,” imbuh Tifani.

Segala aktivitas perbelanjaan di Vert Terre ini juga menggunakan konsep zero waste, untuk meminimalisir limbah bisnis mereka. Semua barang yang ditawarkan Vert Terre bebas pemakaian plastik, artinya tidak ada plastik kemasan. Misalnya untuk membeli sampo, para pembeli diminta untuk membawa wadah sendiri karena dari Vert Terre tidak menyediakan botol plastik. “Pelanggan dapat merefil botol yang mereka bawa dari rumah sendiri,” jelas Tifani lagi.

Untuk memenuhi kebutuhan dagangannya, Vert Terre bekerja sama dengan produsen lokal yang berada di Yogyakarta dan Magelang. Seperti sabun mandi yang di produksi oleh Inbentala dan Annanovinopx, sampo dari Sedapursalam, sabun cuci dari Sekartaji Pawonstudio, dan lainnya. Tifani mengungkapkan bahwa pihaknya menilai bahwa kualitas produk lokal tersebut tidak kalah bagusnya dari produk non lokal. Selain itu, ia mengakui bahwa produk lokal tersebut lebih ramah lingkungan pada saat proses produksinya.

“Karena kan mereka hanya produsen kecil, bukan produksi masal, jadi sampah yang dihasilkan pasti lebih kecil dari pada sampah pabrik,” katanya.

Selain itu, dengan memanfaatkan produk lokal, diakui Tifani merupakan usaha Vert Terre untuk ikut membangkitkan dan mengembangkan UKM lokal yang ada di masyarakat, sehingga usaha tersebut dapat meningkatkan produksinya.

Walaupun telah berjalan hampir 3 tahun, Tifani dan Ratri masih terus berusaha mengembangkan bisnis mereka. Ia mengakui meskipun Vert Terre sering ikut serta dalam beberapa pameran produk baik dari pemerintah maupun di acara-acara kampus, ia masih belum mendaftarkan toko mereka secara resmi. “Pengen daftarin, tapi tidak tahu gimana caranya, info-infonya juga belum ketemu,” ucap Tifani.

Bisnis ramah lingkungan Vert Terre ini mengantarkan kesenangan tersendiri kepada Tifani. Ia mengakui, selain dalam sisi bisnis, Vert Terre juga ia manfaatkan sebagai media untuk mengajak orang-orang untuk dapat hidup ramah lingkungan. “Bisa dimulai dari yang kecil-kecil dulu, seperti mengajak untuk mengganti sedotan plastik dengan sedotan stainless, kemudian sampai alat mandi juga menggunakan yang ramah lingkungan,” katanya.

Sementara Ratri berharap agar usaha yang Ia rintis bersama Tifani ini dapat terus lebih berkembang untuk kedepannya. “Semoga Vert Terre semakin berkembang dan jadi tempat belajar yang nyaman buat kami sebagai owner dan teman-teman semua termasuk anak muda,” ungkap Ratri. (Hidayatun Nafiah/Ilmu Komunikasi UII, Foto: Vert Terre)




KUD “Seyegan” Gelar RAT Tutup Buku tahun 2020

Koperasi Unit Desa “Seyegan” adakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tutup Buku tahun 2020 pada Rabu (24/2/2021) di Balai Kalurahan Margomulyo Seyegan. RAT tersebut dilaksanakan sebagai bentuk Laporan Pertanggungjawaban Pengurus dan Badan Pengawas dihadapan Anggota KUD.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, RAT kali ini hanya dihadiri 40 anggota KUD, mengingat peraturan pemerintah untuk membatasi peserta rapat di masa pandemi COVID-19. Hadir dalam kegiatan tersebut Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sleman, Pengurus KUD, Badan Pengawas KUD, Muspika, dan Kepala Puskud Mataram Yogyakarta.

Sebagai pembuka, Suhardjono, Ketua KUD Seyegan memberikan sambutan berkaitan dengan usaha yang dilakukan oleh KUD Seyegan di masa pandemi yang banyak sekali mengalami perubahan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

“Meskipun penjualan pupuk masih berjalan dengan baik, namun unit usaha lain banyak sekali mengalami pengurangan berkaitan dengan kebijakan pemerintah, contohnya adalah listrik yang hanya memberikan pemasukan 30 % dikarenakan ada kebijakan pemerintah yang menggratiskan biaya bulanan listrik yang berdaya 450 watt,” ungkapnya.

Suhardjono juga menyinggung tentang berakhirnya masa jabatan Pengurus KUD Seyegan dan berharap pemilihan pengurus baru segera diadakan.

Sementara Kapolsek Seyegan, Darmono, dalam sambutannya mewakili Muspika, berpesan kepada pengurus untuk menjalankan koperasi dengan transparasi dan akuntabel sebagai bentuk dari tanggung jawab. Diingatkan pula oleh Darmono bahwa pengurus yang baik akan memberikan keputusan keputusan yang baik pula.

Pada kesempatan yang lain, Pengadministrasi Izin Usaha pada Seksi Kelembagaan Koperasi Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sleman, Edi Rohadi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa RAT merupakan bagian yang penting dalam tahapan pengelolaan keuangan KUD.

“Karena KUD diharapkan berjalan sesuai dengan keinginan anggota, karena kalau KUD berjalan baik berdampak pada kesejahteraan anggota,” ujarnya.

Menurutnya, Dinas Koperasi dan UKM Sleman akan selalu memberikan pembinaan kepada koperasi mengingat koperasi adalah soko guru perekonomian Nasional. “Pendampingan pun akan dilaksanakan bila mana diperlukan,” tambahnya lagi.

Sementara itu, Kepala Pusat KUD (Puskud) Mataram Yogyakarta, Purwadi berpendapat bahwa RAT merupakan kewajiban untuk pertanggungjawaban pengurus dan Badan Pengawas. Purwadi juga menambahkan agar keputusan yang diambil menjadikan KUD lebih baik.

RAT KUD Seyegan dapat berjalan lancar dengan pembacaan tata tertib RAT, notulen RAT, LPJ pengurus, program kerja, dan RAPBK dilakukan oleh Suhardjono selaku Ketua KUD. Sedangkan LPJ pengawas dibacakan oleh Ketua Badan Pengawas KUD, Sunaryo.

Acara dilanjutkan dengan pemilihan pengurus KUD yang didahului dengan penunjukkan formatur 5 orang yang terdiri dari 2 pengurus lama, 1 badan pengawas dan 2 dari anggota KUD. Hasil musyawarah tim formatur akhirnya memutuskan Suhardjono yang terpilih sebagai Ketua KUD, Suharto sebagai Sekretaris, dan Ahmad Dwi Harsanto sebagai Bendahara. Sedangkan untuk Badan Pengawas, tetap mempercayakan kepada Pengurus lama yaitu Sunaryo sebagai Ketua, Jalmo Susilodiprojo dan Suwono sebagai anggota.

Dalam RAT juga dilakukan pembahasan mengenai Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja KUD Seyegan tahun 2021 yang menargetkan pendapatan penghasilan sebesar Rp , -. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Pembentukan Forkom Bumdes Sleman Periode 2021-2026

Forum Komunikasi (Forkom) Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) se-Kabupaten Sleman periode 2021-2026 berhasil terbentuk dalam Rapat Kerja Bumdes se-Kabupaten Sleman pada Selasa (23/2/2021). Acara yang diadakan di Puri Mataram, Tridadi, Sleman ini dihadiri oleh perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (PMK) Sleman, perwakilan Institute for Research and Empowerment (IRE), dan juga 40 Direktur Bumdes yang ada di Kabupaten Sleman.

Secara aklamasi, Ketua Forkom Bumdes Sleman Periode 2021-2026 masih dipercayakan kepada Agus Setyanta.  Ia kemudian menunjuk Ismi dari Sendangagung sebagai Sekretaris, dan Bendahara dijabat oleh Akib dari Bokoharjo.

Sedangkan hal yang baru dalam kepengurusan forkom kali ini adalah adanya komisariat di tingkat kapanewon. Untuk wilayah Sleman, ada 15 komisariat yang sudah terbentuk.

Didik Daru Suryo Suparto, Kepala Seksi Pengembangan Potensi Masyarakat Dinas PMK Sleman dalam pengarahannya menyatakan bahwa proses pembaharuan di Forkom Bumdes sangat penting untuk dilakukan. “Hal ini berkaitan untuk menjaga dinamika organisasi,” jelasnya.

Sementara, Agus Setyanta selaku Ketua Forkom Bumdes Sleman terpilih untuk periode 2021-2026 dalam sambutannya menyampaikan bahwa Forkom Bumdes merupakan wadah pengembangan semua Bumdes yang ada di Kabupaten Sleman.

“Menjadi sebuah tantangan tersendiri ketika menghadapi banyaknya tantangan di desa yang kemudian menjadikan Bumdes sebagai sumber daya dalam memberi layanan masyarakat yang muaranya pada kesejahteraan,” jelas Agus yang juga merupakan Ketua Forkom Bumdes Sleman pada periode sebelumnya.

Ia juga menyampaikan bahwa Bumdes memiliki potensi untuk menaikkan PAD. “Dalam artian mampu memberi kontribusi positif, baik secara sosial maupun ekonomi,” tambahnya.

Sedangkan Sukasmanto dari IRE Yogyakarta, yang hadir selaku narasumber dalam rapat menyampaikan bahwa Bumdes mempunyai peluang untuk bekerja sama dengan perguruan tinggi atau akademisi. Menurutnya, Bumdes dapat memanfaatkan tugas wajib dari perguruan tinggi sebagai sumber daya akademik dalam penelitian maupun pengabdian masyarakat untuk pengembangan Bumdes.

“Paling tidak Perguruan Tinggi dapat menginisiasi terbentuknya market place Bumdes sehingga dapat memasarkan hasil/produk dari masing-masing desa,” jelas Sukasmanto.

Sementara pada kesempatan tersebut, Yulianto, Tenaga Ahli Pendamping Desa menyampaikan bahwa Bumdes di Kabupaten Sleman termasuk dalam kategori Bumdes yang berhasil dan sudah digunakan sebagai rujukan dari Bumdes dari wilayah kain.

“Bahkan dijadikan pendamping di Bumdes pemula di Kabupaten lain,” imbuh Yulianto.

Yulianto berpendapat bahwa kelebihan Bumdes di Sleman adalah variasi usahanya. “Mulai dari desa wisata, pengelolaan sampah, kuliner, budidaya perikanan, sampai pengelolaan internet desa ada di Sleman,” jelasnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Sosialisasi Vaksinasi Tahap Dua di Kabupaten Sleman

Pelaksanaan vaksinasi tahap dua untuk petugas pelayanan publik baik di tingkat pusat maupun daerah mulai dilaksanakan. Demi mensukseskan vaksinasi tahap dua tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mengadakan Sosialisasi Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Bagi Petugas Publik pada Senin (22/2/2021) di Smart Room Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman. Acara sosialisasi juga disiarkan secara virtual melalui kanal Youtube Sleman TV.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr. Joko Hastaryo pada acara sosialisi menyatakan bahwa proses vaksinasi tahap kedua merupakan rangkaian tahapan program vaksinasi yang diperuntukkan untuk para petugas pelayanan publik, baik di tingkat pusat, sampai ke tingkat kalurahan. “Tahapan pertama sendiri untuk tenaga kesehatan, sampai saat ini sudah mencapai angka 89% total nakes yang sudah divaksin dosis pertama, dan 85% untuk dosis kedua,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa proses vaksinasi tetap harus diiringi dengan penerapan protokol kesehatan.

“Penerapan protokol kesehatan  CITAMASJAJAR (Cuci Tangan Pakai Sabun, Pakai Masker dan tetap jaga jarak) dan vaksinasi saling melengkapi untuk memutus rantai penularan dan penyebaran protokol kesehatan. Sehingga, kami berharap bahwa sebelum mendapatkan vaksin COVID-19 harus tetap mematuhi protokol kesehatan yang ada, apalagi target vaksinasi diperkirakan baru akan selesai akhir desember 2021,” ujar Joko.

Joko mengakui bahwa tantangan proses vaksinasi tahap kedua ini lebih berat dari pada vaksinasi tahapan pertama. “ Karena untuk masyarakat pelayanan publik, terutama dalam hal pendataan. Mudah-mudahan semuanya bisa tercover melalui link pendaftaran yang sudah dipersiapkan,” tambah Joko.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Sleman, dr. Novita Krisnaeni menyampaikan bahwa sasaran vaksinasi tahap kedua ini merupakan petugas publik yang bekerja di wilayah Seman.

“Sasarannya adalah guru, dosen, dan tenaga pendidik termasuk yang bekerja di sektor pendidikan, pedagang pasar, tokoh agama, wakil rakyat, pejabat negara, menteri, pegawai pemerintah, keamanan seperti TNI, Polri, Satpol PP, pelayanan publik seperti transportasi publik, atlet, wartawan, pekerja media, pertugas pariwisata, hotel, dan restoran,” jelas Novi.

Ia berharap proses vaksinasi ini dapat dilaksanakan dengan lancar, tanpa ada halangan seperti penolakan vaksinasi.

Untuk tata cara pendaftaran vaksinasi dijelaskan langsung oleh Plt. Kepala Seksi Survim Bidang P2P Dinkes Sleman, dr. Dyah Arum Retnaningtyas. Ia menyampaikan bahwa masyarakat yang termasuk kedalam kategori penerima vaksin tahap kedua dapat mendaftar melalui laman .

“Semuanya bisa mengakses laman tersebut hingga batas pendaftaran tanggal 28 Februari 2021 jam . Pastikan bapak ibu fokus dalam mengisi data karena hanya dapat mendaftar sekali dan tidak dapat diganti-ganti lagi,” jelasnya.

Arum menjelaskan bahwa masyarakat mendaftar dengan mengisi data diri dengan menginput Nomor Induk Kependudukan (NIK), dilanjutkan dengan pengisian nama, tanggal lahir, dan jenis kelamin. Pada lembar pendaftaran, masyarakat juga diminta untuk memilih lokasi fasilitas kesehatan untuk proses vaksinasi.

“Nanti akan diinformasikan lebih lanjut melalui web dan sosmed Dinas Kesehatan, jadi sering-sering dipantau. Lewat SMS juga, oleh karena itu silahkan menginput nomor yang aktif, yang dapat menerima SMS,” terang Arum. (Rep Hida)