Tunjukan Potensi Lokal, Bangukerto Gelar Merti Desa

Bangunkerto – Kalurahan Bangunkerto menggelar Merti Desa dan Gelar Potensi Desa Mandiri Budaya pada Minggu (7/11/2021) di Balai Kalurahan Bangunkerto, Kapanewon Turi. Kegiatan tersebut menampilkan berbagai potensi budaya, UMKM, dan pentas kesenian dari 17 padukuhan yang ada di Kalurahan Bangunkerto.

Bangunkerto sendiri termasuk salah satu Desa Mandiri Budaya di Kabupaten Sleman. Carik Bangunkerto, Priyo Purnomo menuturkan bahwa Desa Mandiri Budaya merupakan desa (kalurahan) yang mengakomodasi potensi-potensi lokal yang ada di kalurahan, dan mengintegrasikan dan menyinergikan keempat hal pilar yaitu Desa Budaya, Desa Wisata, Desea Preneur, dan Desa Prima.

“Keempat pilar tersebut diintegrasikan dalam rangka Desa Mandiri Budaya,” ujarnya.

Sementara itu, Pj Lurah Bangunkerto, Rahman Widyanto berharap kegiatan yang digelar memanfaatkan dana keistimewaan ini dapat mendatangkan manfaat bagi masyarakat Bangunkerto. “Sehingga masyarakat Bangunkerto dapat lebih sejahtera maju dan mandiri,” imbuh Rahman.

Kegiata Merti Desa dan Gelar Desa Mandiri Budaya sendiri ditandai dengan kirab bregodo dan pentas seni yang juga disiarkan langsung secara live streaming di kanal Youtube Kalurahan Bangunkerto. (Arief Hartanto)  




Jaga Kesehatan Pamong, Kalurahan Condongcatur Rutin Gelar Posbindu

Condongcatur – Sebagai bentuk Monitoring dan Deteksi Dini Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) Terintegrasi, Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Depok II menggelar Pos Binaan Terpadu (Posbindu) di Ruang Wacana Loka Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Sleman, Senin (8/11/2021).

Kegiatan yang diikuti oleh para Pamong dan Staf Kalurahan Condongcatur ini menyediakan pelayanan kesehatan berupa pengecekan tekanan darah, gula darah, kolesterol, timbang berat badan, dan pengukuran lingkar perut.

Kepala Puskesmas Depok II, Sri Mujianto mengatakan bahwa Posbindu ini dilakukan sebagai skrining PTM yang dimulai dari diri sendiri, untuk mengetahui faktor risiko penyakint agar nantinya dapat diintervensi.

“Melalui modifikasi perilaku, konseling, dan edukasi, serta melakukan rujukan bagi individu beresiko tinggi yang memerlukan layanan pengobatan lebih lanjut,” ujar Sri Mujianto.

Sementara itu, Kamituwa Condongcatur, Al Thouvik Sofisalam menuturkan bahwa Posbindu ini rutin dilakukan setiap 3 bulan agar para pamong kalurahan dapat memberikan pelayanan yang maksimal untuk masyarakat. “Pengecekan kesehatan rutin perlu dilakukan, dan Posbindu ini dilakukan bekerja sama dengan Puskesmas Depok II,” ungkapnya. (Wasana/KIM Depok)




Gelar Budaya Sleman Sembada

Sleman – Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo resmi membuka Gelar Budaya Sleman Sembada pada Minggu (7/11/2021), yang bertempat di Desa Wisata Garongan, Wonokerto, Turi. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Komunitas Pajero Indonesia Bersatu Chapter Ranting Mataram Yogyakarta.

Pada acara tersebut ditampilkan kesenian tradisional Kabupaten Sleman yakni seni jathilan dan tari rampak buto. Adapun jumlah penari dibatasi 50 orang saja, demi menjalankan protokol kesehatan yang ada. 

Dalam sambutannya, Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengapresiasi pihak penyelenggara yang telah mengangkat tema kesenian dan kebudayaan tradisional Kabupaten Sleman. Ia berharap gelaran ini dapat menjadi sarana pelestarian dan pengembangan budaya di Kabupaten Sleman, sekaligus bisa merajut persatuan dan kesatuan melalui apresiasi karya budaya tradisional yang adiluhung.

“Melalui Gebyar Budaya Sleman Sembada ini saya mengajak seluruh masyarakat untuk mengapresiasi dan menghargai ragam seni budaya warisan leluhur yang harus terus kita lestarikan,” ujar Kustini.

Lebih lanjut Kustini menjelaskan bahwa tantangan dalam upaya pelestarian kebudayaan khususnya budaya tradisional tersebut semakin berat karena berkembangnya zaman serta adanya arus globalisasi pada masa sekarang ini. Perkembangan zaman serta adanya arus globalisasi ini mengakibatkan banyak perubahan-perubahan yang terjadi di dalam pola kehidupan masyarakat, yang juga berpengaruh pada kebudayaan masyarakat itu sendiri. 

“Upaya untuk mengembangkan dan melestarikan keberlangsungan nilai luhur dan budaya lokal daerah senantiasa terus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sleman. Hal ini dilakukan dengan mengedepankan potensi nilai luhur yang dimiliki oleh Kabupaten Sleman,” imbuhnya.

Senada dengan hal tersebut, Yuniar Rizaldi selaku Ketua Pajero Indonesia Bersatu Chapter Ranting Mataram Yogyakarta mengaku pihaknya melalui kegiatan tersebut bermaksud untuk kembali menampilkan seni dan budaya tradisional yang mulai ditinggalkan oleh masyarakat, khususnya generasi muda. 

“Harapannya jathilan bisa lebih banyak diminati oleh kaum muda, terutama oleh masyarakat di wilayah Sleman,” tuturnya. (Humas Sleman)




Sahular Berikan Pelatihan Penanganan Gigitan Ular Bagi Santri Insan Utama

Gamping – Guna menambah wawasan tentang identifikasi dan penanganan gigitan ular bagi para santri, Pengurus Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Insan Utama Internasional Islamic Boarding School yang terletak di Mancasan, Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping berkolaborasi dengan Bulan Sabit Merah Remaja Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar Pelatihan Penanganan Gigitan Ular. Kegiatan tersebut menghadirkan langsung Komunitas Relawan Sahabat Ular (Sahular) untuk memberikan pelatihan yang berlangsung di Ruang Kelas Pondok Pesantren Insan Utama, Sabtu (6/11/2021).

Menurut Penanggung Jawab Bulan Sabit Merah Remaja DIY sekaligus Pengajar di Pondok Pesantren Insan Utama, Yulian Bayu Rini bahwa pelatihan diikuti sebanyak 37 santri yang masih duduk di kelas 7 dan kelas persiapan atau i’dad dengan instruktur Braso Reticulus, Dafa Maula, dan Almo Febri Agriyanto dari Komunitas Sahular Banyuraden sesuai bidangnya masing-masing.

“Kegiatan ini sangat diperlukan karena kondisi geografis pondok pesantren Insan Utama ini dikelilingi pepohonan yang rimbun dan penuh banyak rumput. Bersebelahan juga dengan sungai yang udaranya lembab dan disukai ular,” ungkap Yulian.

Dalam paparan materinya, Dafa Maula dan Almo Febri Agriyanto memberikan penjelasan tentang identifikasi jenis ular berbisa dan tidak berbisa, ular berbisa rendah, menengah, maupun tinggi melalui slide proyektor dan membawa jenis-jenis ular tersebut secara langsung agar para santri dapat melihatnya secara nyata bahkan dapat memegang jenis ular yang tidak berbisa di bawah pengawasan instrukrur.

“Dengan mengetahui biologi ular, habitar ular, bahaya ular, dan bagaimana menangani ular yang masuk ke dalam rumah atau ruang kelas maka para santri dapat mengambil tindakan yang tepat tanpa membahayakan keselamatan dirinya sendiri maupun ularnya,” ujar Dafa.

Ia juga mempraktikkan cara penanganan awal pada gigitan ular yang harus dilakukan secara cepat dan tepat oleh korban maupun orang lain yang ada di sekitar lokasi kejadian menggunakan teknik bidai sebelum mendapatkan pertolongan lanjutan di rumah sakit. Penanganan pertama yang diberikan dengan cepat dan tepat, dapat mengurangi rasa sakit dan angka kematian pada korban.

“Gigitan ular tidak berbisa sama bahayanya dengan gigitan ular berbisa jika tidak ditangani secara benar karena akibat gigitan ular tidak berbisa dapat menyebabkan perdarahan hebat. Perdarahan yang tidak ditangani dengan benar dapat mengakibatkan kekurangan darah pada korban, bahkan kematian,” tegasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Peduli Sesama, Dharma Laku Bagikan Paket Sembako

Gamping – Sebagai wujud kepedulian terhadap sesama, Komunitas Relawan (Komrel) Dharma Laku Banyuraden menyelenggarakan bakti sosial berupa pembagian 100 paket sembako dan nasi box bagi warga kurang mampu sekitarnya yang digelar di Lapak Kuliner Embung Serut, Padukuhan Cokrowijayan, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Sabtu (6/11/2021).

Kegiatan yang dipimpin oleh Ketua Komrel Dharma Laku, Sri Purwanti bersinergi dengan Koordinator Pemberdayaan Ekonomi Kekandhangan, Rini Puspitasari berlangsung dengan tertib dan mentaati protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19 yakni memakai masker dengan benar, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir atau hand sanitiser, serta menjaga jarak antrian.

Dalam keterangannya Koordinator Pemberdayaan Ekonomi Kekandhangan, Rini Puspitasari menerangkan bahwa kegiatan sosial bertajuk ‘Lapak Berkah Embung Serut’ yang sudah berjalan selama setahun lebih ini dilakukan bersama komrel Dharma Laku guna meringankan kebutuhan kehidupan sehari-hari masyarakat yang kurang mampu akibat adanya pandemi Covid-19 dengan sumber pendanaan mandiri.

“Secara mandiri kami menghimpun dana dari teman-teman alumni sekolah dan perguruan tinggi yang memiliki kelebihan rejeki dan rela untuk berbagi yang selanjutnya dibelanjakan barang berupa beras, gula pasir, minyak goreng, mie instan, ikan, tahu, tempe, sayuran, maupun buah-buahan,” terang Rini.

Usai pelaksanaan pembagian paket sembako, dilakukan evaluasi terhadap teknis pelaksanaannya agar ke depan dapat berjalan lebih baik dan bertambah banyak penerima manfaatnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)