Mancing Geden di Embung Mororejo

Tempel – Ada banyak yang dapat dilakukan untuk memperkenalkan suatu destinasi wisata. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Kalurahan Mororejo dalam mempromosikan daerah wisata Embung Mororejo, yaitu dengan menggelar acara dengan tema ‘Mancing Geden di Embung Mororejo’ selama 3 hari, dari Sabtu (1/1/2022) hingga Senin (3/1/2022).

Embung Mororejo sendiri merupakan sebuah destinasi wisata yang berlokasi di sebelah Dusun Pringapus, dan berbatasan langsung dengan Padukuhan Domba. Embung yang pada awalnya dimanfaatkan untuk sarana irigasi ini dibangun pada tahun 2019, dan digunakan sebagai tempat cadangan air selama musim kemarau.

Landskap pemandangan yang ditawarkan oleh embung ini yang membuat Pemerintah Kalurahan Mororejo untuk mengembangkan Embung Mororejo sebagai salah satu rintisan destinasi wisata, dan memperkenalkannya melalui acara Mancing Geden.

“Selain destinasi wisata embung, gelaran acara (mincing geden) ini sekaligus menjadi ajang untuk bangkitnya para pelaku UMKM yang terdampak pandemi. Harapannya, perekonomian warga bisa bergerak lagi,” ujar Jaka Ristanta, Lurah Mororejo, Senin (3/1/2022).

Embung Mororejo berada sekitar 10 menit dari perempatan Tempel di Jalan Magelang, Sleman. Di sana, selain menikmati pemandangan dari embung, para pengunjung juga dapat memanfaatkan fasilitas olahraga yang telah dibangun, berupa jogging track yang dikelola oleh BUMDes Mororejo. Selain itu, embung tersebut juga telah dilengkapi oleh fasilitas pendukung lain seperti toilet, gazebo, serta lapak UMKM yang menawarkan produk dari para pelaku usaha yang tergabung dalam Forkom UMKM Mororejo.

Pagelaran Mancing Geden sendiri mendapatkan reaksi positif dari warga sekitar Embung Mororejo. Wahyu Taufik, salah satu warga Pringapus mengatakan bahwa acara ini dapat membuat Embung Mororejo untuk lebih maju lagi.

“Semoga ke depan bisa terus berbenah dan berkembang jadi tujuan wisata,” kata Wahyu. (Arief Hartanto)




Seni dan Budaya Donoharjo Menggeliat Kembali

Ngaglik – Pandemi COVID-19 yang berlangsung sejak Maret 2020 membawa banyak efek negatif bagi masyarakat. Adanya pembatasan-pembatasan aktivitas untuk mencegah penularan memberi dampak yang sangat terasa. Salah satu sektor yang paling terdampak adalah seni dan budaya.

“Banyak kegiatan terhenti.  Pementasan dan latihan tidak bisa dilakukan sehingga pengembangan seni budaya menjadi terhambat. Setelah vakum sekitar 2 tahun kita akan bangkitkan kembali kegiatan  tersebut,” ujar Sudarmin Kertodikromo, pemilik sanggar seni Kertodikromo saat berbicara di Sarasehan Seni  Budaya dan Nembang Panembromo di Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Senin (3/1/2022).

Purnawirawan TNI AL ini mengaku senang dengan digelarnya sarasehan seni budaya ini. “Membuktikan bahwa pemerintah kalurahan sangat responsif untuk menggali dan mendukung seluruh bentuk aktivitas seni budaya,” ungkapnya.

Sudarmin mengatakan sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan seni budaya, Sanggar Seni Kertodikromo sangat terbuka kepada siapa saja untuk berlatih seni peran, ketoprak, karawitan, wayang orang, gejog lesung, tari, menulis naskah, belajar makeup, tata busana, tata panggung untuk pementasan dan lain-lain.

“Sanggar kami terbuka untuk belajar seni budaya tanpa dipungut biaya. Silahkan datang bersama komunitas baik itu para pemuda, ibu-ibu, bapak-bapak, pamong kalurahan, atau siapa saja bisa latihan di sanggar kami,” ajak Sudarmin.

Hadi Rintoko, Lurah Donoharjo menyampaikan bahwa seni budaya adalah salah satu potensi unggulan di wilayahnya. “Hari ini kita gelar sarasehan untuk menggali seni dan budaya yang sejak dahulu Donoharjo dikenal sebagai gudangnya para seniman. Kita akan bangkitkan kembali kejayaan itu agar membawa banyak manfaat ke depannya. Dengan sarasehan ini diharapkan menjadi terobosan untuk menggugah kesadaran terutama generasi muda akan pentingnya budaya dan budi pekerti bangsa yang merupakan warisan para leluhur dan jati diri bangsa. Selain itu dengan acara ini akan menciptakan kebersamaan dalam melestarikan seni  budaya di Donoharjo. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan melestarikan warisan yang adiluhung ini,” tegas Hadi Rintoko.

Sarasehan diakhiri dengan lantunan Panembrama Sekar Ageng Kenya Kediri Ketawang Kinanti Soba Kastawa Slendro 9 ciptaan Sudarmin Kertodikromo sendiri. Tembang ini menceritakan sejarah awal berdirinya Kalurahan Donoharjo dan gambaran kemakmuran warganya yang senantiasa hidup rukun di bawah lindungan Tuhan. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)