Semangat Tak Kenal Lelah Suripto Dalam Memberdayakan Masyarakat

Sleman – Suripto (65 tahun) adalah salah satu sosok yang memiliki andil dalam perkembangan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) di Kabupaten Sleman. Lahir pada 19 Juli 1956, ia tumbuh kembang dan melewati masa kecil hingga masa kuliahnya di kawasan utara Sleman, tepatnya di daerah Ngaglik.
Suripto telah ditempa sebagai sosok yang memiliki kepedulian kepada masyarakat sejak masa mudanya. Lulus dari Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) pada tahun 1981, Suripto muda kemudian bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Badan Kependudukan (dulunya Badan Koordinasi) dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 1982. Saat itu, ia ditempatkan di kantor BKKBN Dili, ibu kota Provinsi Timor Timur yang sekarang telah menjadi negara Timor Leste.
“Sejak 1982 itulah saya mengabdi di sana, mulai dari staff, kepala seksi, kepala BKKBN kabupaten, sampai sekretaris BKKBN Timor Timur, sampai Timor Timur merdeka, dan melepaskan diri menjadi Timor Leste,” ujar Suripto saat ditemui di kediamannya di Kalurahan Sukoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Rabu (5/1/2022).
Pasca kemerdekaan Timor Timur tersebut, Suripto kemudian kembali ke tanah kelahirannya yaitu Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk mengabdi sebagai pelayan masyarakat di BKKBN DIY hingga dirinya pensiun pada tahun 2012. Pengabdiannya di BKKBN inilah yang menjadi salah satu alasan Suripto kemudian bergabung dan menjadi penggerak KIM di Kabupaten Sleman.
Selama bekerja di BKKBN, Suripto telah terbiasa melakukan publikasi dan sosialisasi mengenai program BKKBN kepada masyarkat. Ia sering memberikan motivasi kepada pasangan-pasangan muda untuk mengikuti program KB. Pengalaman itulah yang mempengaruhi Suripto untuk terus mengabdi kepada masyarakat, bahkan setelah ia pensiun pada tahun 2012.
“Sejak tahun 2012 (setelah pensiun) saya mengabdi di Komda Lansia (Komisi Daerah Lanjut Usia) DIY. Saat itu sebagai sekretaris, dan pada tahun 2014, saya ditugasi selaku Ketua Komda Lansia DIY,” aku Suripto.
Selain di tingkat provinsi, Suripto juga aktif sebagai anggota di lembaga-lembaga sosial yang ada di tingkat kalurahan maupun kapanewon tempat tinggalnya, seperti Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) dan Dewan Masji Indonesia (DMI). Keaktifan di lembaga sosial tingkat kapanewon inilah yang menjadi awal perkenalan Suripto dengan KIM.
Tahun 2016 merupakan awal mula Suripto berkenalan dengan KIM. Awalnya, ia tidak mengetahui apa KIM itu, dan bagaimana cara kerjanya. “Namun setelah mengetahui bahwa KIM adalah pengejawantahan dari kelompencapir, saya nangkep bahwa ini ada kaitannya dengan penerangan motivasi. Saya kebetulan dulu pernah menjadi kepala seksi tentang motivasi penerangan program KB, jadi berbanding lurus dengan KIM,” imbuh Suripto.
Suripto kemudian bergabung dengan KIM Kapanewon Ngaglik sebagai Wakil Ketua pada tahun 2016. Sejak bergabung, Suripto terlibat aktif dalam mengembangkan KIM Ngaglik agar dapat eksis sebagai penyebar informasi, dengan melakukan pendekatan agar KIM Kapanewon dapat didukung dengan pembentukan KIM Kalurahan.
“Saya kemudian berkoordinasi dengan kepala desa, dan melakukan pembinaan di setiap desa. Alhamdulillah dapat dukungan dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sleman. Akhirnya pada tahun 2018, seluruh desa di Ngaglik telah terbentuk KIM,” jelasnya.
Sepak terjangnya dalam mengembangkan KIM Ngaglik itulah yang mengantarkan Suripto terpilih menjadi Ketua Forum KIM Sembada Kabupaten Sleman, pada tahun 2019. Sejak saat itu, Suripto kemudian melebarkan sayapnya dalam mengembangkan KIM di setiap daerah yang ada di Kabupaten Sleman. Dimulai dari membuat AD/ART KIM Sleman untuk memastikan kelangsungan organisasi, serta mencetuskan terobosan-terobosan baru dalam hal memperkenalkan KIM kepada masyarakat, agar dapat aktif di setiap Kapanewon dan Kalurahan, dengan mengadakan pertemuan rutin bulanan.
Melihat kontribusinya dalam mengembangkan KIM di Sleman tersebutlah, Suripto kemudian juga dipercaya untuk terlibat di dalam keanggotaan KIM tingkat provinsi dan tingkat nasional
KIM sendiri menurut pandangan Suripto memiliki posisi penting di masyarkat, di mana KIM memiliki fungsi utama untuk mengoordinasikan, menyampaikan, dan menyebarluaskan informasi program kepada masyarakat. Selain itu, KIM juga memiliki peranan dalam pemberdayaan masyarakat, dengan memberikan solusi agar masalah di masyarakat dapat terselesaikan dengan sendirinya.
“KIM itu memberikan data yang akurat, tempatnya yang jelas, dan diinformasikan kepada masyarkat, sehingga masyarakat tahu, seperti kegiatan di desa ini, atau di kecamatan ini untuk diketahui oleh masyarkat. Tidak hanya memberitakan, tetapi KIM juga memberikan jembatan, memberikan solusi apa-apa yang dibutuhkan oleh masyarakat,” kata Suripto.
Suripto juga mengapresiasi perkembangan KIM di Kabupaten Sleman saat ini. Ia mengatakan bahwa KIM telah berkembang dengan pesat. Hal ini dibuktikan dengan jumlah berita dan informasi yang masuk ke laman Media Center Sleman dan Infopublik.
“Kalau menurut saya ini sudah luar biasa perkembangannya selama berapa tahun ini, sudah mulai diketahui mulai dikenal oleh masyarakat keberadaan KIM di desa-desa maupun di kecamatan,” ujarnya.
Ia berharap KIM Sleman dapat terus mempertahankan kualitasnya karena KIM telah dikenal oleh masyarkakat, dengan cara terus belajar dan memberikan bimbingan serta motivasi kepada para pengurus dan anggota agar dapat terus berkembang.
Suripto mengajak seluruh anggota KIM, terutama di Kabupaten Sleman untuk terus meningkatkan kemampuan masing-masing agar KIM dapat terus berjalan dan berperan dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.
“Tetap semangat supaya KIM di Kabupaten Sleman, tetap kita tingkatkan kemampuannya. Sekali KIM tetap KIM,” tutup Suripto. (Rep Qashmal)



