Cegah Stunting, 214 Anak PAUD di Kapanewon Depok Mendapat Bantuan Susu

Depok – Sebanyak 214 anak peserta didik lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kapanewon Depok mendapatkan bantuan susu dari Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman. Bantuan diserahkan langsung secara simbolis oleh Plt. Kepala Dinas Pertanian Sleman, Suparmono kepada Penewu Anom Kapanewon Depok, Joko Mulyanto, Senin (31/1/2022) di Gedung PKK Kapanewon Depok.

Selanjutnya oleh Forum PAUD Kapanewon Depok, bantuan tersebut akan didistribusikan kepada anak-anak PAUD melalui lembaga, di mana tercatat  sebanyak 15 lembaga yang menjadi sasaran.

Suparmono dalam sambutanya mengatakan bahwa bantuan dimaksudkan sebagai pemicu agar asupan gizi pada anak PAUD tetap dapat dijaga, bahkan harus ditingkatkan oleh para orang tua.

Sementara itu Penewu Anom Depok, Joko Mulyanto, mengapresiasi bantuan yang diberikan. Ia juga berharap ke depannya,  dalam rangka perbaikan gizi bagi anak PAUD di Depok, ada lagi program serupa, seperti bantuan protein.

“Hal semacam ini juga diharapkan dapat dijadikan program oleh masing-masing Kalurahan di Kapanewon Depok,” ujar Joko.

Dalam acara penerimaan susu, Ketua Forum PAUD Kapanewon Depok Ratna Hajar menuturkan, ketika Forum PAUD mendapatkan data anak katagori stunting di Kapanewon Depok, Forum menindaklanjuti dengan mengadakan musyawarah dengan agenda menentukan peran Forum PAUD terhadap upaya turut serta mengatasi stauting di Kapanewon Depok.

“Akhrinya disepakati untuk berkoordinasi dengan dinas pertanian Pangan dan Perikanan, dan kami bersyukur kami memperoleh bantuan susu sebanyak 644 cup susu yg berbentuk es krim,” imbuh Ratna.

Ratna mengatakan bahwa ini merupakan bentuk konkrit Forum PAUD berpartisipasi mengatasi masalah stunting.

“Dan ini pula merupakan pendorong bagi orang tua peserta didik PAUD untuk meningkatkan upaya kesehatan anak pada umumnya. Karena di usia dini adalah masa yang menentukan perkembangan anak berikutnya,” pungkas Ratna Hajar. (Resmi Widayati/KIM Depok)




Budi Daya Lele Mutiara yang Miliki Prospek Bisnis Meyakinkan

Budi daya Lele Mutiara sebagai salah satu varietas baru yang dikembangkan memiliki prospek bisnis yang menjanjikan.  Lele Mutiara sendiri berasal dari akronim kata mutu tinggi tiada tara, yang dibentuk dari persilangan strain ikan lele Mesir, Paiton, Sangkuriang dan Dumbo, yang diseleksi selama 3 generasi pada karakter pertumbuhan.

Hal inilah yang coba dikembangkan oleh kelompok ikan Mino Mulyo, yang barada di Plumbon Kidul, Mororejo, Kapanewon Tempel, Sleman. Bekerja sama dengan Panti Asuhan Baitul Qowwam Tempel, Mino Mulyo melakukan pengembangan entrepreneurship dengan pembelajaran berbagai bentuk bidang usaha, yang salah satunya adalah pemijahan Lele Mutiara. Program ini adalah sebagai sarana pembelajaran bagi santri sekaligus sebagai usaha yang dapat dikembangkan di dalam manajemen panti asuhan.

Menurut Muhtarom pengasuh Panti Baitul Qowwam ketika ditemui pada Minggu (30/1/2022) mengungkapkan bahwa program ini adalah salah satu rintisan usaha dari pihaknya dalam memanfaatkan sumber daya yang ada. “Yaitu kegiatan pembenihan lele dengan indukan jenis mutiara yang berserifikat, dengan harapan selain mengenalkan pada anak-anak dunia perikanan atau usaha, tentunya kami juga berharap benih dari kami berkualitas baik, sehingga dalam tahap pembesaran nanti meminimalisir kerugian,” ujarnya.

Lele Mutiara sendiri memiliki berbaga macam keunggulan jika dibandingkan dengan lele lainnya. Beberapa di antaranya adalah laju pertumbuhan yang mencapai 10-40% lebih tinggi daripada benih lainnya. Selain itu, pemeliharaan Lele Mutiara cenderung lebih singkat yaitu lama pembesaran benih tebar berukuran 5-7 cm atau 7-9 cm dengan padat tebar 100 ekor/m2 berkisar 40-50 hari, sedangkan pada padat tebar 200-300 ekor/m2 berkisar 60-80 hari.

Keseragaman ukuran yang dihasilkan juga relatif tinggi, di mana tahap produksi benih diperoleh 80-90% benih siap jual dan pemanenan pertama pada tahap pembesaran tanpa sortir diperoleh ikan lele ukuran konsumsi sebanyak 70-80%. Rasio konversi pakan (FCR = Feed Conversion Ratio) relatif rendah yaitu di angka 0,6-0,8 pada pendederan dan 0,8-1,0 pada pembesaran. Daya tahan terhadap penyakit relatif tinggi dengan sintasan (SR = Survival Rate) pendederan benih berkisar 60-70% pada infeksi bakteri Aeromonas hydrophila (tanpa antibiotik).

Toleransi lingkungan relatif tinggi yaitu pada suhu 15-35 oC, pH 5-10, amoniak <3 mg/L, nitrit < 0,3 mg/L, salinitas 0-10 %. Selain itu, produktivitas relatif tinggi, di mana pada tahap pembesaran mencapai 20-70% lebih tinggi daripada benih-benih strain lain. (Arief Hartanto)




DLH Gandeng PKK Kelola Sampah Organik

Sleman – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman bekerja sama dengan pengurus Ecoenzym Nusantara mengadakan sosialisasi pengelolaan sampah organik dengan teknologi ecoenzym pada hari Jumat (28/1/2022).

Kegiatan yang digelar di ruang rapat UPTD Pelayanan Persampahan DLH Kabupaten Sleman ini dimulai pukul wib dan diikuti oleh pengurus JPSM, PKK dan Pegawai UPTD persampahan.

Kegiatan dipimpin langsung oleh Epiphana Kristiyani, selaku Kepala DLH Sleman yang memberikan ulasan tentang latar belakang kegiatan sosialisasi tersebut yang berasal dari permasalahan persampahan di Sleman.

“Dengan Armada Dump truk sebanyak 34, 28 TPS3R dan 247 Bank Sampah perlu dievaluasi dari segi kemanfaatannya yang baru bisa menyelesaikan sampah organik sebesar 3 ton per hari. Adapun yang belum tertangani sebanyak 200 ton per hari. Demikian juga dengan sampah anorganik, data yang diperoleh menunjukkan besaran 29 ton per hari sampah yang tertangani sementara yang belum tertangani sebesar 200 ton per hari,” jelas Epiphana.

Epiphana menambahkan, kalau asumsi setiap orang buang sampah sebanyak 0,65 kg orang/hari dan menghasilkan 6 ton/hari, maka kemana sampah yang lain. Perda no 1/ 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan lingkungan Hidup tidak berjalan dengan baik artinya pengelolaan sampah belum dilakukan secara serius.

“Saya sengaja mengundang PKK dengan harapan ibu-ibu lebih aktif berpartisipasi dalam pengelolaan sampah karena perubahan pola pikir dan perilaku dalam pengelolaan sampah belum secara masif dilakukan yaitu sampah tidak biasa dipilah,” tandas Epiphana.

Melalui PKK, Ephipana berharapa ibu-ibu dapat ikut membantu pengelolaan lingkungan, dimulai dari lingkup keluarga dengan melakukan edukasi kepada anak. “Sehingga ke depannya kegiatan keluarga dapat berimbas pada pembiasaan masyarakat memilah sampah,” harap Epiphana.

Hijrah Purnama, Ketua JPSM Sehati Kabupaten Sleman menyambut baik kegiatan dari DLH berkaitan dengan pengelolaan sampah organik, meskipun basic dari Bank Sampah memang bertumpu pada pengelolaan sampah anorganik, dan sampai saat ini, ia mengatakan bahwa sudah ada sekitar 50 Bank Sampah yang bergerak di pengelolaan sampah organik.

Hijrah juga menjelaskan tentang kegiatan inovasi yang dapat dilakuan yaitu dengan mendirikan Sekolah Sampah. “Sekolah sampah udah berdiri rintisannya dan ke depannya materi yang disampaikan di sekolah sampah dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, termasuk pengelolaan sampah organik dengan teknologi Skala rumah tangga,” ungkap Hijrah.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi ecoenzym (EE) yang disampaikan oleh relawan ecoenzym Nusantara dengan menyampaikan materi tentang modul belajar EE, manfaat EE dalam kehidupan sehari hari dan praktek langsung pembuatan EE.

Istiaji dari relawan EE Nusantara menyampaikan filosofi kegiatan EE yang tidak sekedar mengurangi sampah organik sehingga beban TPA berkurang tapi lebih dari itu ikut serta dalam merawat bumi. “Harapannya kegiatan yang dilakukan dapat menginspirasi masyarakat luas untuk berbuat serupa,” ungkap Istiaji.

Setelah dilakukan praktek pembuatan EE dilanjutkan tanya jawab dan duskusi dan diakhiri dengan pemberian 1 botol EE kepada peserta oleh EE Nusantara. Kegiatan berjalan dengan lancar dan ditutup pukul wib (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Rejosari Sosialisasikan Proses Tahapan Pengisian Dukuh

Jogotirto – Padukuhan Rejosari, Kalurahan Jogotirto menggelar Sosialisasi Pengisian Jabatan Dukuh di Gedung Muhammadiyah Jogotirto, Kapanewon Berbah, Sabtu (29/1/2022) malam. Kegiatan yang dilandasi dengan Perda Kabupaten Sleman Nomor 10 tahun 2020 tentang Tata Cara Pengisian dan Pemberhentian Perangkat Desa tersebut dihadiri langsung oleh Lurah Jogotirto, PLT Dukuh Rejosari, serta warga Padukuhan Rejosari.

Lurah Jogotirto, Mitha Mayasari menyampaikan bahwa pengisian kekosongan dukuh akan diselenggarakan dengan terbuka dan transparan. “Diharapkan banyak masyarakat yang memenuhi kriteria persyaratan untuk ikut berpartisipasi mendaftar sebagai bakal calon pengisian dukuh Rejosari, dan siapapun nantinya yang terpilih itu yang terbaik bagi pedukuhan Rejosari,” jelas Mitha.

Ketua Panitia Pengisian Dukuh Rejosari, Maryadi yang juga merupakan Ulu-ulu Jogotirto berkeyakinan bahwa sumber daya manusia pedukuhan Rejosari sangat potensial untuk mengisi kekosongan pemangku wilayah Rejosari. “Harapannya nanti dukuh yang terpilih bisa membangun Rejosari menjadi lebih baik,” ujar Maryadi.

Ali Rozikin, Sekretaris Panitia Pengisian Dukuh menuturkan bahwa panitia pemilihan dukuh telah dibentuk dari 4 unsur, yaitu pemerintah kalurahan, BPK, lembaga kalurahan, dan tokoh masyarakat. “Panitia berjumlah 11 orang,” ujar Ali.

Sementara untuk susunan jadwal, Ali mengatakan bahwa proses akan dibuka dengan sosialisasi yang akan berlangsung dari 29 Januari 2022 sampai dengan 1 Februari 2022. Kemudian akan dilanjutkan dengan periode pendaftaran dari tanggal 2-14 Februari 2022. Para calon juga akan melewati serangkaian seleksi yaitu ujian tertulis akademik, ujian keterampilan, tes psikologi, dan tes wawancara.

“Untuk ujian tertulis dan ketrampilan pihak panitia akan bekerja sama dengan universitas yang terakreditasi sebagai cerminan keterbukaan dan transparansi,” tambah Ali.

Ali kemudian menjelaskan apa saja persyaratan yang dibutuhkan warga Padukuhan Rejosari yang berniat mendaftarkan dirinya menjadi bakal calon dukuh. Persyaratannya adalah harus merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) dengan usia 20 sampe 42 tahun serta mendapat dukungan dari masyarakat sebanyak 15 persen dari jumlah warga yang mempunyai hak pilih. Untuk padukuhan Rejosari diperlukan minimal 111 dukungan yang diwujudkan dengan tanda tangan dan pengisian formulir dukungan, serta melampirkan foto copy kartu tanda penduduk.

“Harapannya semua tahapan lancar sehingga tanggal 2 Maret sudah didapatkan satu calon terpilih,” pungkas Ali Rozikin. (Kusnadi/KIM Tirto Gumregah Berbah)




Menyejahterakan dan Menyehatkan Anggota Bank Difabel Ngaglik

Ngaglik – Ada yang berbeda pada pertemuan bulanan yang rutin dilakukan antar anggota KSP (Koperasi Simpan Pinjam) Bank Difabel Ngaglik kali ini. Apabila biasanya hanya berupa kegiatan simpan pinjam, pada edisi pertama di tahun 2022 ini ada petugas kesehatan yang melakukan pemeriksaan kesehatan para anggota.

Posbindu (pos binaan terpadu) berupa pemeriksaan kesehatan ini diselenggarakan dengan tujuan untuk memantau dan meningkatkan kesehatan anggota yang mayoritas adalah penyandang difabel. Sejak dimulai sekitar tahun 2007, kegiatan posbindu ini sempat terhenti selama 2 tahun karena pandemi COVID-19 dan baru kali ini dilaksanakan lagi.

Hal ini dijelaskan oleh Kuni Fatonah, Ketua KSP Difabel yang juga sekretaris Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kapanewon Ngaglik saat mengikuti kegiatan ini di Padukuhan Panggungsari RT 09/RW 23, Kalurahan Sariharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Minggu (30/1/2022).

“Rangkaian kegiatan diselenggarakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, di mana para peserta setelah menandatangani daftar hadir, melakukan pemeriksaan  kesehatan, membayar simpan pinjam, lalu dipersilahkan pulang untuk mengurangi kerumunan,” jelas Mbak Kuni, panggilan akrabnya.

Lebih lanjut Mbak Kuni menjelaskan bahwa Posbindu diselenggarakan atas kerjasama antara KSP Difabel dan PPDI dengan Bapel Jamkesos (Badan Pelaksana Jaminan Kesehatan Sosial) dan Puskesmas Ngaglik 1. Adapun pelaksana kegiatannya juga dibantu pendamping dan anggota KSP.

Untuk meningkatkan kapasitas pelayanan Posbindu, akan diselenggarakan pelatihan penanganan Posbindu bagi beberapa anggota KSP yang akan berperan juga sebagai relawan kegiatan Posbindu. Pelatihan akan diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Sleman pada tanggal 5 Februari 2022 mendatang.

“Usai pelatihan sebagai kader posbindu nanti, KSP Difabel Ngaglik akan melakukan evaluasi, persiapan, dan perencanaan kegiatan Posbindu difabel untuk kegiatan yang akan datang,” jelas Mbak Kuni lagi.

Sementara itu Sakir, salah seorang pendamping KSP Difabel Ngaglik menjelaskan bahwa jumlah anggota KSP ada 92 orang yang berasal dari 10 wilayah kapanewon di Kabupaten Sleman. “Dengan penyelenggaraan posbindu yang diikutkan dalam kegiatan simpan pinjam, diharapkan akan lebih banyak peserta yang hadir dalam pelayanan Posbindu,” jelas Sakir.

Dalam rapat evaluasi dan koordinasi antara KSP Difabel dengan Bapel Jamkesos dan Petugas Puskesmas Ngaglik 1 usai acara posbindu, ditemukan perbedaan cakupan kegiatan. Bapel Jamkesos hanya memfasilitasi difabel saja padahal dalam kegiatan posbindu ini pesertanya termasuk istri atau suami sebagai pendamping yang selalu membersamai difabel.

Selain itu, masalah lainnya adalah Puskesmas Ngaglik 1 cakupan wilayah pelayanan kesehatannya hanya pada wilayah Ngaglik saja, sementara anggota KSP yang menjadi peserta posbindu juga berasal dari kapanewon lain di wilayah kabupaten Sleman. “Ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengurus PPDI dalam upaya memberikan pelayanan terbaik. Semoga akan ada solusinya,” tandas Mbak Kuni. (Endarwati/KIM Ngaglik)