Sleman – Guna membantu masyarakat nonpetutur maupun petutur bahasa Jawa, terutama generasi milenial dalam memahami kosakata bahasa Jawa agar mudah dipelajari dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari, Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (BBY) menerbitkan Kamus Dwibahasa Jawa-Indonesia yang diluncurkan pada hari Sabtu (22/1/2022) di Kampung Literasi Pakem (Kalipa) Jalan Cilikan, Pakembinangun, Sleman oleh Putri Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Gusti Kanjeng Ratu Bendara.
Kegiatan peluncuran Kamus Jawa-Indonesia diawali dengan pembacaan geguritan oleh anggota Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Kabupaten Sleman dibarengi dengan diskusi bertajuk ‘urgensi kamus dalam literasi’.
Kegiatan dihadiri langsung oleh Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, Sukron Arif Muttaqien selaku Panitia Khusus pembuatan Peraturan Daerah Tentang Pemeliharaan Dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa, serta Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Faruk, S.U bersama Penulis Sastra Jawa-Indonesia, Budi Sardjono selaku narasumber, serta Dr. Ratun Untoro dari Balai Bahasa Yogyakarta sebagai Moderator.
Dalam sambutan pembukanya, Ketua Yayasan Kampung Literasi Pakem, Dr. Aprinus Salam menyampaikan informasi kepada tamu undangan tentang latar belakang Kampung Literasi Pakem yang merupakan kawasan sebagai rujukan budaya literasi di wilayah Yogyakarta dengan membawa misi pengembangan ekosistem literasi yang berpihak pada masyarakat serta penguatan jejaring komunitas literasi di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
“Kampung yang memiliki lahan seluas 3,4 hektar ini dihuni oleh pegiat literasi yang berprofesi sebagai penulis, editor, pengusaha penerbit dan percetakan, akademisi, serta pekerja seni sejumlah 30 orang dan mempunyai rencana besar membangun museum sepeda dan permainan anak tradisional, balai literasi, perpustakaan, dan rumah warga dari kalangan pegiat literasi di tempat ini,” terang Dr. Aprinus.
Sebagai penanda peluncuran kamus dwibahasa secara simbolis Kepala Balai Bahasa Yogyakarta, Imam Budi Utomo menyerahkan kamus kepada Putri Bungsu Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Gusti Kanjeng Ratu Bendara yang sangat mendukung kegiatan ini dalam melestarikan Bahasa jawa.
“Saya berharap kamus dwibahasa Jawa-Indonesia dapat bermanfaat untuk orang banyak dan menjadi titik kemajuan literasi, khususnya dalam penggunaan Bahasa jawa di kehidupan sehari-hari,” ucap GKR Bendara.
Sebagai kata pengantar diskusi, Kepala Balai Bahasa Yogyakarta, Imam Budi Utomo menuturkan bahwa Balai Bahasa merupakan instansi pelayanan dalam hal kebahasaan dan kesusasteraan yang salah satunya memberikan pelayanan penyediaan bahan dukungan pembelajaran bahasa berupa kamus umum dwibahasa Jawa-Indonesia yang disusun berdasarkan babon dari Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa) edisi kedua oleh Tim Penyusun Balai Bahasa Yogyakarta tahun 2011.
“Kehadiran kamus dwibahasa ini merupakan suatu kebutuhan masyarakat. Hal inilah yang memunculkan gagasan awal disusunnya kamus setebal 900 halaman dan berisi lema (kata/frasa) yang diharapkan dapat membantu masyarakat nonpetutur bahasa jawa dalam memahami kosakata bahasa jawa,” tutur Imam. Ia menambahkan bahwa sasaran pemakai kamus umum dwibahasa Jawa-Indonesia adalah masyarakat umum yang dapat dipergunakan secara umum di berbagai lapisan masyarakat pengguna. Selain itu, sebagai sarana bahan pendukung dalam pengajaran bahasa jawa pada anak didik nonpetutur bahasa jawa yang menjadi kebutuhan masyarakat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping