Petani Milenial Sleman Diharapkan Jadi Contoh bagi Daerah Lain

Ngaglik – Untuk menjadi petani milenial yang kuat, tidak harus dengan modal yang besar. Tapi dari usaha kecil yang terus menerus ditekuni, juga bisa menjadi usaha yang besar.
Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo menegaskan hal ini usai meninjau deretan kolam pembibitan, budidaya ikan, pembuatan pakan ternak mandiri, serta peternakan sapi dalam acara Pengukuhan Jaringan Petani Milenial Sleman Wilayah IV di Padukuhan Donolayan, Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Selasa (5/4/2022).
Pada kegiatan yang diselenggarakan UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) BP4 (Balai Penyuluhan Pertanian Pangan dan Perikanan) Sleman tersebut Kustini juga menjelaskan tentang pentingnya jejaring bagi petani milenial. “Jejaring diperlukan agar petani milenial bisa maju semua dan ketahanan pangan di Sleman bisa maju dan terjamin,” ujarnya.
Pada kesempatan itu Bambang Sudarmanto, Kepala Polbangtan Yoma (Politeknik Pembangunan Pertanian Yogya Magelang) ikut menjelaskan bahwa Kementerian Pertanian memiliki program 2,5 juta petani milenial dan di Sleman sudah 500 petani Milenial yang dikukuhkan.
“Luar biasa lagi, pengukuhan petani milenial di Sleman selalu dihadiri Ibu Bupati. Hal ini menunjukkan dukungan dan dorongan pemerintah yang luar biasa. Setiap tahun petani berkurang 50 ribu. Pada masa pandemi, yang mengalami PHK kalau tidak ke kuliner maka alternatifnya ke pertanian. Data BPS juga menunjukkan bahwa pada saat kritis maka sektor pertanian merupakan sektor yang paling tangguh. Dengan dukungan yang optimal, mudah-mudahan bisa menjadi mata pencaharian pokok,” harapnya.
Berkaitan dengan petani milenial ini Bambang menjelaskan, karena luas lahan sempit, jika tanpa inovasi dan teknologi maka produksi akan sedikit. “Kami ingin petani milenial Sleman bisa menjadi contoh bagi daerah lain. Yang perlu dipahami, jika ada teman pada komoditas yang sama bukan sebagai saingan tapi bagaimana bisa bermitra. Karena yang sering tidak terpenuhi kapasitas dan kuantitas maka perlu bermitra agar berdaya saing tinggi dan memiliki nilai tawar,” saran Bambang.
Petani di Kabupaten Sleman harus berusaha agar kolaborasi dan jejaring bisa terbentuk untuk tujuan orientasi pasar. Ketika pasar ada, maka produksi harus digenjot. Jika terbalik, maka yang terjadi justru harga akan turun.
Petani milenial adalah harapan bangsa, yang menurut Bambang juga merupakan pahlawan tanpa tanda jasa karena menyediakan kebutuhan pangan. “Apresiasi untuk Kabupaten Sleman yang luar biasa, dukungan pemerintah yang luar biasa, dan Insya Allah akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa,” tutupnya. (Endarwati/KIM Donoharjo)
