Tingkatkan Keterampilan Berbahasa Jawa, Pasbuja Gelar Gladhen Cerkak

Untuk dapat menikmati dan memanfaatkan karya sastra guna mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan dalam kehidupan, meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan dalam berbahasa Jawa, Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Kabupaten Sleman menggelar gladhen nulis cerita cekak (cerkak) yang dilaksanakan di Aula Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman, Minggu (22/5/2022).
Pelatihan penulisan cerkak hasil kerja sama Pasbuja Kawi Merapi dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada tersebut diikuti oleh 25 peserta dibimbing oleh Novelis Senior, Budi Sardjono dan Ketua Pasbuja Kawi Merapi, Sutopo Sugihartono yang kesehariannya sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Memetri Kundha Kabudayan Sleman, serta Pemimpin Umum Majalah Basa Jawa Digital Belik.
Dalam paparan materinya terkait teknis penulisan cerkak, Sutopo Sugihartono menegaskan bahwa dalam penulisan cerkak seyogyanya harus memenuhi struktur yang meliputi eksposisi, komplikasi, krisis, klimaks, serta solusi agar karya yang dihasilkan alur ceritanya mengalir dengan indah dan enak dibaca.
“Unsur cerkak umume dumadi saka tema, papan kedadeyan, wektu, kahanan, tokoh sarta ana pesan moral lan sapanunggalane, senajan mung adhapur fiktif,” tutur Sutopo di hadapan peserta gladhen cerkak.
Dirinya menambahkan bahwa cerkak termasuk karangan fiksi yang merupakan salah satu karya sastra seperti geguritan, esai, dan lain sebagainya. Di dalam cerkak, penulis dapat menceriterakan tentang kehidupan untuk mengedukasi masyarakat dan mendukung terlaksananya program pemerintah.
Hal senada disampaikan oleh Novelis senior, Budi Sardjono yang mengupas tentang bagaimana menemukan ide, mengembangkan ide, serta mengolah ide menjadi sebuah karya sastra berupa cerkak maupun pengalaman pribadi atau kejadian nyata di masyarakat yang dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi penulisan cerkak.
“Guna memperoleh ide sebagai bahan penulisan cerkak, seorang penulis harus terjun ke lapangan langsung untuk memperkaya wawasannya. Mencari ide cerita tidak dapat dilakukan hanya berdiam diri di dalam rumah,” tegas Sastrawan yang akrab disapa Budsar.
Di ujung kegiatan pelatihan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Wiwien Widya Rahayu mengemukakan bahwa seluruh peserta diharapkan dapat menghasilkan sebuah karya cerkak yang akan disusun oleh para mentor menjadi sebuah buku antologi berjudul ‘Nagari Sewu Candi’ sebagai ikon Kabupaten Sleman sekaligus sebagai ajang komunikasi antara peserta senior dengan yunior untuk saling belajar. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)



