Halalbihalal Sebagai Kekayaan Kultural untuk Saling Memaafkan

Sleman – Pimpinan Cabang Muhammadiyah Prambanan Sleman mengundang Ketua PWM Jawa Tengah dalam acara halalbihalal dan silaturahmi Idulfitri 1443 H PCM Prambanan. Kegiatan ini menghadirkan seluruh ortom dan keluarga besar Muhammadiyah yang ada di Kapanewon Prambanan, dengan total undangan berjumlah 750 orang. Bertempat di masjid ARF, Senin, (16/5/2022) kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Qori Kunta Ulinnuha.

Ketua PCM Prambanan, Muchson AR dalam sambutannya mengatakan moment syawalan ini sangat penting untuk bangkit kembali pasca pandemi.

“Dengan semangat Idulfitri, mari kita kembali ke fitrah Muhammadiyah. Kita jadikan lembaga amal usaha Muhammadiyah ini sebagai ladang ibadah. Motifnya macam-macam, misalnya menjadi guru, jadilah guru yang bisa mengaktualisasikan diri dengan mengeluarkan kemampuan terbaiknya, begitu juga dengan profesi lainnya,” ujarnya.

Acara yang dihadiri Pimpinan Cabang, Ranting, Kepala Sekolah dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP, SMA dan SMK serta guru karyawan Muhammadiyah ini juga dirangkai dengan pamitan haji warga Muhammadiyah Prambanan. “Ada tujuh jamaah calon haji dari warga Muhammadiyah Prambanan yang berangkat ke Baitullah tahun ini, sementara enam jamaah lainnya cadangan,” tutur Toto Suharto, selaku majelis Dikdasmen PCM.

Tausiyah pada halalbihalal kali ini diisi oleh Ketua PWM Jawa Tengah H. Tafsir yang mengulas seputar sejarah halal bihalal. “Halal bihalal merupakan tradisi masyarakat Indonesia yang dilakukan sesudah hari lebaran baik di kalangan instansi pemerintah, perusahaan dan dunia pendidikan,” jelasnya.

Kegiatan ini, lanjut Tafsir, menjadi tradisi tahunan yang unik dan tetap dipertahankan serta dilestarikan. “Ini adalah refleksi ajaran Islam yang menekankan sikap persaudaraan, persatuan, dan saling berbagi kasih sayang pasca lebaran,” ungkapnya.

Dalam kenyataannya, tambah Tafsir, perjalanan hidup manusia selalu tidak bisa luput dari dosa. Dosa yang paling sering dilakukan adalah kesalahan terhadap sesamanya, seperti iri hati, permusuhan dan saling menyakiti.

“Halalbihalal merupakan peristiwa penting untuk saling memaafkan, baik secara individu maupun kelompok. Dalam kacamata Islam, halalbihalal bertujuan untuk menghormati sesama manusia dalam bingkai silaturahmi,” tutur Tafsir.

Tafsir mengatakan bahwa halalbihalal dilihat dari sisi silaturahmi dapat menjadi perantara untuk memperluas rezeki dan memperpanjang umur, sebagaimana keterangan sebuah hadis dari Abu Hurairah Ram yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia bersilaturahmi”.

Pria asli Kebumen itu menambahkan, tradisi halalbihalal ini bisa dikatakan produk umat Islam Indonesia. Halal bihalal, tegasnya, tidak hanya menjadi fenomena syariah, akan tetapi juga budaya.

“Maka, tradisi halalbihalal ini harus tetap kita lestarikan terutama bagi kalangan warga persyarikatan Muhammadiyah sebagai salah satu kekayaan kultural Indonesia sekaligus sebagai salah satu media untuk mempererat persaudaraan bagi keluarga, tetangga, rekan kerja dan umat beragama,” terangnya.

Di akhir sesi, ustadz Tafsir menyimpulkan bahwa membangun kultur Idulfitri tidak hanya sebatas dari sisi syariah, tetapi juga fenomena budaya. Melalui tradisi halalbihalal yang merupakan bagian dari kreativitas budaya menjadi warna tersendiri bagi masyarakat muslim Indonesia. “Mengapa demikian? Karena agama akan kaya, agama akan mengakar dan agama akan mudah diterima masyarakat kalau agama telah menjadi budaya,” pungkasnya. (Arief Hartanto)




Rayakan Pancawarsa, Komunitas Sepeda Algojo Gelar Gowes Bareng ke Destinasi Wisata Sleman

Sleman – Komunitas Antar Lintas Gowes Jogja (Algojo) menyelenggarakan acara peringatan ulang tahun ke-5 tahun (pancawarsa) dengan melakukan gowes bareng yang mengambil start di halaman Kalurahan Condongcatur dan Finis di Objek Wisata Kali Opak Tujuh Bulan Tamanmartani Kalasan Sleman, Minggu (15/5/2022). Acara gowes bareng ini dihadiri pejabat pemerintah, pemilik usaha, tokoh masyarakat dan instansi lainya serta 68 Komunitas Gowes DIY

Sekda Kabupaten Sleman, Harda Kiswaya, sebelum pengibaran bendera start memberikan sambutan ucapan selamat ulang tahun kepada komunitas sepeda Algojo, yang ulang tahunnya berbarengan dengan hari jadi Kabupaten Sleman ke-106. Ia juga mengajak masyarakat senantiasa berolahraga untuk menjaga kesehatan.

“Salah satunya olahraga bersepeda yang praktis dan menyenangkan apalagi sambil berekreasi di objek wisata untuk refresing menikmati udara pagi dan pemandangan alam,” kata Harda.

Menempuh jarak sekitar 15 Km, peserta gowes dipandu Marshal yang mengarahkan dan menjaga setiap persimpangan jalan untuk memudahkan para peserta. Iring-iringan juga dikawal oleh mobil penjaring, dan Ambulans dari RS. Condongcatur, Pemerintah Condongcatur, dan Ambulans RCC, BNN Sleman dalam menyusuri jalanan persawahan menuju objek wisata Kali Opak tujuh bulan.

Pada garis finis, panitia membagikan kupon undian berhadiah 8 sepeda dan doorprize menarik lainnya. Para peserta juga bisa menikmati jajanan Snack ala pos pit pakem dan bakso pak bro, sambil menikmati hiburan organ tunggal.

Pembina Algojo, Reno Candra Sangaji menyampaikan bahwa tujuan digelarnya gowes bareng perayaan 5 tahun Algojo ini sebagai ajang silaturahmi para goweser DIY untuk nglumpuke balung pisah. “Mengambil finis di Kali Opak Tujuh Bulan untuk ikut mempromosikan destinasi wisata yang ada di Sleman, para Goweser mempunyai semangat yang sama selalu menjaga kekokampakan karena memiliki prinsip Sedularan Saklawase,” kata Reno.

Sementara itu, Mantan Bupati Sleman periode 2010-2021, Sri Purnomo, selaku tokoh masyarakat Sleman berharap di usia yang ke 5 ini, Komunitas Algojo dapat senantiasa menjaga kekompakan dan kebersamaan, serta dapat terus bermanfaat bagi anggota, masyarakat dan lingkunganya. Pada kesempatan ini Sri Purnomo, juga memberikan bantuan dana sebesar Rp. .

Pada kesempatan ini, Algojo juga melakukan kegiatan sosial dengan memberikan bingkisan dan amplop uang kepada 20 anak yatim/piatu/warga kurang mampu warga sekitar sebagai wujud ikut berbagi kebahagian kepada mereka. (Wasana/KIM Depok)




Berantas DBD Dengan Jumantik Kaget

Sleman – Tim Juru Pemantauan Jentik (Jumantik) Kalurahan Condongcatur melaksanakan kegiatan Jumantik Kaget di RW 20 dan RW 21 Padukuhan Ngringin, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok pada Sabtu (14/5/2022). Kegiatan tersebut didampingi langsung oleh Tim Puskesmas Depok II.

Jumantik Kaget merupakan salah satu program dari Puskesmas Depok II untuk mencegah penyakit DBD, dengan melakukan sidak berkeliling di rumah warga untuk memeriksa keberadaan jentik nyamuk. Pemeriksaan dilakukan di tempat tampungan air maupun genangan air seperti bak mandi, bejana, pot bunga, serta barang-barang bekas yang dibiarkan di lingkungan tersebut.

Angka Bebas Jentik (ABJ) merupakan ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik dengan cara menghitung rumah yang tidak ditemukan jentik dibagi dengan jumlah rumah yang diperiksa. Suatu wilayah dikatakan bebas dari jentik nyamuk jika diperoleh ABJ di atas 95%.

Kepala Puskesmas Depok II, Sri Mujiyanto, menyampaikan hasil sidak jumantik kaget kali ini, ada 53 rumah yang terdapat jentik nyamuk. Sedangkan 35 rumah lainnya tidak ditemukan adanya jentik nyamuk.

“Perhitungan Angka Bebas Jentik (ABJ) yang diperoleh sebesar 40%, hal ini menunjukkan bahwa kesadaran warga dalam memberantas jentik nyamuk masih sangat rendah, meskipun program Si Wolly sudah dilaksanakan, akan tetapi pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk harus tetap dilakukan,” kata Sri.

Ia juga menyarankan warga untuk melakukan hal-hal yang dapat mencegah munculnya jentik nyamuk, di antaranya adalah melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (psn) dan jentik seminggu 2kali, menutup penampungan air, menguras penampungan air minimal 2 kali seminggu, menjaga kebersihan lingkungan, dan mengamankan dan mendaur ulang barang bekas, plus melakukan abatisasi dan ikanisasi

“Jika kesadaran masyarakat sudah tinggi dan dilakukan bersama sama, kita dapat melakukan pencegahan DBD sejak dini sehingga tidak muncul kasus demam berdarah di lingkungan kita masing-masing,” ungkap Sri. (Wasana/KIM Depok)




Tingkatkan Kompetensi Pendidik PAUD, Kalurahan Condongcatur Gelar Workshop TIK

Sleman – Dalam rangka meningkatkan kemampuan Pendidik PAUD dalam bidang Teknologi Informasi, Paguyuban PAUD Kalurahan Condongcatur dan Pemerintah Kalurahan Condongcatur bekerja sama dengan Himpaudi Kapanewon Depok dan Himpaudi Kabupaten Sleman, mengadakan Workshop TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) bertempat di Kalurahan Condongcatur, Sabtu (14/5/2022)

Workshop TIK ini dibagi dalam 2 kelas, yaitu Kelas Pemula/Dasar untuk yang belajar mengenal dan mengetahui bagian bagian dari suatu perangkat komputer/laptop dan Kelas Lanjutan untuk pengoperasoan aplikasi yang dibutuhkan dalam pengelolaan berkas serta arsip di lembaga.

Kaur Tata Laksana, Fernandya Riski Hartantri, mewakili Pemerintah Kalurahan Condongcatur dalam sambutan pembukaanya menyampaikan dukungan penuh dalam kegiatan ini guna memberikan bekal dan meningkatkan kompetisi PAUD, Harapannya, dengan dukungan dan fasilitas yang telah diberikan oleh Pemerintah Kalurahan Condongcatur, dapat menjadikan pemacu semangat para pendidik PAUD dalam melaksanakan ketugasanya di lembaganya masing-masing.

Fernandya menambahkan bahwa selain digunakan untuk media pembelajaran, Teknologi Informasi juga dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan “Dengan pemanfaatan yang baik dapat mempermudah proses pembelajaran,  membantu siswa dalam memahami materi pembelajaran, dapat menarik perhatian siswa dan dapat meningkatkan mutu pembelajaran,” kata Fernandya.

Narasumber untuk kelas pemula adalah R. Fatukhurrahaman Masykit, Ketua Himpaudi Kapanewon Depok dan pendamping Narsumber Reni Lestari, Ketua paguyuban PAUD Condongcatur. Sedangkan untuk kelas lanjutan, narasumbernya adalah Anang Setyawan Ketua Himpaudi Berbah, didampingi Arum Ariningsih. (Wasana/KIM Depok)




Puncak Peringatan Hari Jadi Ke-106 Kabupaten Sleman, Bupati Ajak Masyarakat Gumregah

Sleman – Puncak peringatan hari jadi Kabupaten Sleman ke-106 telah dilaksanakan pada Minggu (15/5/2022), di Lapangan Pemerintah Daerah Sleman. Setelah melalui peringatan yang berbeda pada dua tahun terakhir karena pandemi COVID-19, tahun ini upacara hari jadi dapat kembali dilaksanakan dengan suasana sederhana namun tetap khidmat. Sebelumnya rangkaian kegiatan diawali dengan pelaksanaan sidang paripurna istimewa di gedung DPRD Kabupaten Sleman.

Dalam kesempatan itu, salah satu yang disampaikan Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo adalah perkembangan capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM), kabupaten Sleman. Pada tahun 2020, IPM kabupaten Sleman tercatat sebesar 83,84, meningkat menjadi 84,00 pada tahun 2021. Selain itu juga disampaikan terkait prestasi Akuntabilitas kinerja pemerintah dan Indeks Reformasi birokrasi Kabupaten Sleman.

“Dalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Pemerintah, tahun 2020 Pemerintah Kabupaten Sleman berhasil mempertahankan predikat A dengan skor 81,42. Selain itu Sleman juga meraih indeks Reformasi Birokrasi 2020 dengan peringkat BB,” kata Kustini.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan upacara peringatan Hari Jadi Kabupaten Sleman ke-106 di lapangan Pemda Sleman. Momen tersebut, diawali dengan prosesi serah terima Pusaka tombak kyai turun sih di pendopo Parasamya Sleman, oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman Hardo Kiswoyo kepada Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat H.Y. Aji Wulantara selaku ketua Panitia Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sleman. Kemudian pusaka dikirab menuju lapangan pemda oleh bregodo pembawa pusaka.

Dalam pelaksanaan upacara Hari Jadi ke-106 Kabupaten Sleman, Kustini Sri Purnomo menyampaikan peringatan hari jadi menjadi momen bagi aparat pemerintah dan seluruh masyarakat untuk merefleksi dan mengevaluasi berbagai capaian yang diraih kabupaten Sleman. Selain itu, Kustini juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama gumregah, atau bangkit dan bersemangat untuk membangun Sleman menjadi lebih baik, sesuai tema peringatan hari jadi tahun ini yaitu “Sesarengan Mbangun Sleman, Sleman Gumregah”.

“Semangat guyup rukun, greget, golong gilig Sesarengan Mbangun Sleman ini lah yang menjiwai  seluruh warga Sleman, karena sejatinya pembangunan Sleman dilakukan dan ditujukan bagi masyarakat Sleman itu sendiri. Mewujudkan visi Sleman Sebagai Rumah Bersama membutuhkan kerja komunal,upaya gotong royong, gugur gunung tandang gawe amrih becike. Monggo sami gumregah, sesarengan mbangun Sleman,” begitu amanat Kustini.

Upacara diakhiri dengan pelepasan burung perkutut dan trotokan sejumlah 106 yang melambangkan usia Kabupaten Sleman tahun ini sekaligus bertujuan agar lingkungan perkantoran Pemkab Sleman semakin lestari. (Humas Sleman)