Ribuan Peserta Lari Bersama di Stadion Maguwoharjo

Sleman – Lebih dari 1000 peserta mengikuti acara penutupan HVR (Hybrid Virtual Run) yang diselenggarakan di Stadion Maguwoharjo, Kabupaten Sleman, Minggu (24/7/2022).

Penutupan HVR ini diisi dengan senam Sleman Bangkit dilanjutkan lari bersama mengitari Stadion Maguwoharjo. Para peserta berasal dari berbagai kalangan baik dari pemerintah, lembaga pemerintah maupun non pemerintah, civitas akademika, pelaku UMKM, maupun masyarakat umum.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan Hybrid Virtual Run yang diinisiasi oleh Profesor Suhono sebagai Ketua Pembina Komunitas Pecinta Sleman Sejati. “Kebersamaan antara pemerintah, lembaga, civitas akademika, pelaku usaha, dan seluruh lapisan masyarakat akan membawa Sleman menjadi semakin maju lagi,” kata Kustini.

Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono dalam sambutan virtualnya menyampaikan sangat mendukung kegiatan Sleman Bangkit sebagai langkah nyata untuk menghadapi kondisi dunia yang sedang menghadapi tantangan baik kesehatan ekonomi hingga lingkungan.

“Pendigitalan dan pencerdasan di segala bidang merupakan hikmah Covid-19 yang sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan berbangsa. Kementerian Kelautan dan Perikanan mengapresiasi gerakan digitalisasi dan pencerdasan pada program Sleman Bangkit khususnya untuk sektor UKM, pariwisata, dan olahraga seperti lari, yang dapat tercatat dan tersimpan dengan aplikasi yang ada pada telepon genggam,” jelas Sakti Wahyu Trenggono lagi.

Usai dilaksanakan lari bersama, juga dilakukan penyerahan trofi, piala, dan uang pembinaan untuk para pemenang lomba. Sebagai Best Runner individual male 21 K atas nama I Arif Pusdika dengan jarak 46,12 km waktu tempuh menit kecepatan 27,28 km.

Best Runner Individual Female 21 K atas nama Tri Cahyani B dengan jarak tempuh 134,76 km waktu menit kecepatan 15,29 km. Best Runner Team Male @21 K Tim Cooldown dengan jarak 102,9 km, waktu tempuh menit kecepatan 6,9 km. Adapun Best Tim of Female 21 K diraih Tim Run48 dengan jarak km waktu m3nit dan kecepatan 12,68 km (Endarwati/KIM Donoharjo)




Bakesbangpol DIY Gelar Rakor Pemulihan Wisata di Kalurahan Pakembinangun

Bertumpu dari semangat pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) DIY menggelar acara Rapat Koordinasi (Rakor) Pengembangan Tata Kelola Kolaborasi Ketahanan Ekonomi Daerah Berbasis Pariwisata, Budaya dan Pendidikan di DIY, Jumat (22/07/2022) bertempat di Aula Kalurahan Pakembinangun, Kapanewon Pakem. Rakor ini bertajuk “Memperkuat Peran Desa Sebagai Agregator Kolaborasi dalam Pemulihan Pariwisata di DIY”.

Acara tersebut dibuka oleh sambutan Suranto selaku Lurah Kalurahan Pakembinangun. Dalam sambutannya, ia memaparkan apa saja potensi ekonomi Kalurahan Pakembinangun seperti cokelat tempe Pawiro dari Sukunan, abon lele Nayaru dari Wonogiri, beras sembada merah dan sembada hitam dari Duwetsari, Kawasan Wisata Ledok Sambi dan jeep-nya, serta Lembah Balong yang sedang direncanakan.

“Sementara dari sektor wisata, Pakembinangun adalah daerah pariwisata yang berdampingan dengan kawasan rawan bencana, yaitu gunung Merapi yang saat ini masih berstatus siaga karena aktivitasnya masih tinggi. Namun itu tidak menyurutkan semangat para pelaku wisata di Pakembinangun. Malah sebaliknya, mereka menggunakan kesempatan ini sebagai tantangan dalam berwisata alam. Ketika gunung Merapi mengeluarkan lelehan lava pijar, ini adalah panorama eksotis tersendiri yang unik dan layak didokumentasikan,” papar Suranto.

Wijaya, seorang peneliti dari Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada, Wijaya selaku narasumber memaparkan bahwa desa wisata harus memiliki konsep yang nyata. Paling tidak memiliki 4A, yaitu yang pertama adalah attraction atau daya tarik wisata. Ada atraksi dan pertunjukan yang unik dan berciri khas di tempat pariwisata itu agar menjadi menarik.

Kedua adalah amenitas, yaitu fasilitas pariwisata seperti rumah makan, tempat ibadah, homestay, toilet, parkir, dan sebagainya. Selanjutnya yang ketiga adalah akesibilitas, yaitu keterjangkauan tempat seperti sarana dan prasarana jalan, moda transportasi, dan papan petunjuk arah yang optimal. Keempat yaitu ancillary atau fasilitas pendukung yang mencakup keberadaan berbagai organisasi yang memfasilitasi dan mendorong pengembangan serta pemasaran dari suatu destinasi wisata.

“Seperti BumKal misalnya. BumKal bisa menjadi organisasi penting sebagai pengelola wisata di suatu desa. Sehingga tempat pariwisata itu optimal dan menarik banyak pengunjung. Kalau perlu silakan kolaborasikan antara kebijakan pemerintah daerah, akademisi, komunitas atau masyarakat, media komunikasi baik medsos maupun media elektronik, dan juga pihak swasta,” pungkas Wijaya. (Asrori Wardan/KIM Ceria Pakem)