Kalurahan Sukoharjo Fokus Perbaiki Ekonomi dan Ketahanan Pangan di Tahun 2023

Dalam rangka penyusunan Rencana Kerja (Renja) Tahun Anggaran 2023, Pemerintah Kalurahan Sukoharjo menggelar Musyawarah Kalurahan (Muskal) pada Selasa (19/07/2022). Beberapa hal yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut meliputi beberapa pembinaan dan pelatihan, terutama di bidang ketahanan pangan sebagai langkah untuk penumbuhan dan perbaikan ekonomi di Kalurahan Sukoharjo.

Muthohar selaku Ketua BPKal Sukoharjo menjelaskan mengenai peningkatan ketahanan pangan dengan dana desa, menjadikan Sukoharjo sebagai Desa Rintisan Budaya, serta pemeliharaan status jalan desa menjadi jalan kabupaten, dan jalan kabupaten menjadi jalan provinsi, sehingga bisa mengurangi kemacetan arus lalu lintas di Jalan Kaliurang.

Sementara Hadi Subronto, Lurah Sukoharjo memaparkan bahwa ada banyak program yang akan dilaksanakan di tahun 2023 yang bersumberkan dari dana desa, di antaranya adalah pembinaan untuk PAUD, penyelenggaraan pos kesehatan desa (PKD)/polindes milik desa, penyelenggaraan posyandu, penyuluhan dan pelatihan bidang kesehatan, hingga BLT DD.

“Ketahanan pangan menjadi skala prioritas dalam rencana kerja tahun 2023. Selain penanganan stunting yang mengarah pada pemberian makanan sehat, pemberian vitamin dan sebagainya, dengan harapan jumlah stunting di Kalurahan Sukoharjo bisa segera dikecilkan dan bahkan dihilangkan. (ESWE/KIM Sukoharjo)




Batik Colet, Eksotis dalam Kombinasi Warna

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Pemerintah Kalurahan Donoharjo menggelar Bimbingan Teknik (Bimtek) Batik di Pendopo Embung Jetis Suruh selama 7 kali pertemuan mulai 18 hingga 26 Juli 2022.

Acara yang merupakan pokok pikir dari Timbul Saptowo, Anggota DPRD Kabupaten Sleman tersebut dibuka oleh Dwi Wulandari, Kepala Bidang Perindustrian Disperindag Sleman.

Ia menyampaikan bahwa batik merupakan salah satu warisan budaya bangsa Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO (United Nations Educational Scientific Organisation) dan diharapkan semakin dikenal oleh masyarakat baik tingkat nasional maupun internasional.

Salah satu dukungan pemerintah dalam pengembangan batik adalah dengan menggelar pelatihan di lingkungan masyarakat yang bertujuan untuk menciptakan wirausaha baru.

“Seni batik tidak lekang oleh waktu, oleh karenanya harus selalu dijaga dan dilestarikan dengan terus berinovasi menggali dan mendesain motif-motif baru sehingga batik terus berkembang menurut zamannya, memiliki daya saing sehingga laku dijual di pasar,” imbuhnya.

Dwi menambahkan bahwa saat ini Kabupaten Sleman memiliki andalan Batik Sinom Parijoto Salak dengan motif utama terdiri dari elemen tangkai, daun, bunga Parijoto, daun salak dan bunga salak. Dengan pelatihan ini Dwi berharap akan muncul motif khas dari Donoharjo yang tidak dimiliki oleh daerah lain.

Sejalan dengan hal tersebut, Anang Patri Widiyantoro, Carik Donoharjo pada kesempatan tersebut sangat mengapresiasi atas terselenggaranya Bimtek Batik yang diharapkan sebagai langkah positif menuju desa mandiri melalui pengembangan kewirausahaan.

Selaku narasumber, Bambang Sumaryoto, pemilik Rumah Batik Nakula Sadewa memaparkan proses pewarnaan batik menggunakan teknik colet, yaitu teknik menorehkan warna pada kain secara langsung menggunakan kuas.

“Dibandingkan dengan batik tulis yang dibuat dengan canting, batik cap prosesnya lebih cepat dan warna yang dihasilkan lebih bervariasi dan menarik. Namun perlu diketahui bahwa pembuatan canting capnya sendiri terbilang rumit dan membutuhkan ketelitian yang jauh lebih tinggi dibandingkan canting tulis. Selain itu, dengan teknik coletan memerlukan ketelitian dan ketelatenan dalam pengerjaannya,” papar Bambang. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Jaga Warga untuk Keamanan Ketertiban Warga

Kelompok Jaga Warga dibentuk berdasarkan Peraturan Gubernur DIY Nomor 28 Tahun 2021 sebagai lembaga kemasyarakatan yang ditetapkan oleh kalurahan atas inisiatif masyarakat yang berada di tingkat padukuhan, rukun warga, atau kampung yang berperan sebagai mitra pemerintah dalam mewujudkan partisipasi aktif masyarakat.

Demikian disampaikan Tugiman, Kepala Jawatan Keamanan Kapanewon Ngaglik dalam acara pengukuhan Kelompok Jaga Warga Kapanewon Ngaglik 2022, Rabu (20/7/22) di Aula Kapanewon Ngaglik.

Sementara Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo menyampaikan pesan agar jangan sampai ada warga yang memiliki ideologi berbeda karena kita adalah NKRI.

“Jika ada warga datang, tujuannya apa agar dipantau. Jangan sampai ada gesekan masyarakat atau teroris yang masuk di masyarakat,” ujar Kustini.

Ia menambahkan bahwa Kabupaten Sleman adalah Indonesia mini dan Ngaglik tempat berbaurnya berbagai macam suku, agama, dan golongan sehingga potensi timbul perbedaan sangat besar.

“Laporkan jika ada gerakan yang dicurigai, namun jika tidak ada juga jangan dibuat buat. Baik terorisme, narkoba, bahkan masalah kecil yang bisa memecah belah warga, selesaikan di tingkat padukuhan dengan bimbingan Pak Lurah,” lanjutnya.

Selanjutnya, Kustini juga berpesan agar masyarakat dapat menjaga gotong royong dan kerukunan warga serta keamanan, terutama menjaga anak-anak dari kejahatan jalanan.

“Jaga anak kita dari kejahatan jalanan. Jika ada potensi kenakalan anak atau remaja, kita arahkan dan kita fasilitasi  ke kegiatan positif misal ke tinju,” tegas Kustini.

Sementara itu, Maya Syla Swagerina sebagai narasumber menyampaikan bahwa tugas masyarakat adalah menyelaraskan dengan visi misi bangsa ini, yang berwawasan kebangsaan, karena tugas jaga warga adalah menjaga keamanan, ketenteraman, ketertiban, dan kesejahteraan.

“Dalam konteks kebinekaan, perbedaan merupakan keniscayaan. Plural itu pemantik konflik,  sehingga harus menghilangkan ke-aku-an,” tegas Maya.

Lebih lanjut, Maya menegaskan bahwa Kabupaten Sleman merupakan rumah bersama yang beragam memiliki potensi konflik.

“Harus dikelola dengan nilai nilai kearifan lokal serta tata nilai perilaku masyarakat yang welas asih, prasojo, sembada, selaras, dan dilaksanakan dengan tembayatan atau gotong royong,” pungkasnya (Endarwati/KIM Donoharjo)




Cegah Kekerasan di Sekolah melalui Pembuatan Poster Kampanye Anti Bullying

Sleman (MAN 1 Sleman) – Guna mengampanyekan anti bullying di kalangan siswa, peserta didik baru MAN 1 Seman diwajibkan membuat poster. Hal itu dikatakan Ihwanuri, Staf Kesiswaan saat menyampaikan materi “Stop Bullying” pada Masa Taaruf Siswa Madrasah (Matsama) tahun ajaran 2022/2023 di masjid Al Himmah, Senin (19/7/2022).

“Setiap peserta wajib membuat poster kemudian dikumpulkan. Hal ini juga untuk mewujudkan madrasah ramah anak yang telah dideklarasikan beberapa bulan yang lalu. Selain itu, untuk memastikan bahwa di MAN 1 Sleman tidak ada bullying. Oleh karena itu, peserta didik baru perlu mengetahui dampak negatif dari bullying atau perundungan ini,” kata Ihwan.

Menurut Ihwan, bullying merupakan bagian dari bentuk penindasan atau risak, yaitu  bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan oleh seseorang maupun kelompok dengan sengaja. Tujuannya untuk menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain, bahkan  dilakukan secara terus menerus.

“Adapun bentuk-bentuk bullying itu bermacam-macam. Bullying fisik, misalnya  ada siswa yang memukul,  mendorong, meninju, menjegal, menghancurkan barang orang lain, atau berupa mengancam secara fisik, memelototi, mencuri barang. Bullying psikologis, misalnya ada siswa yang sengaja menyebarkan gosip, mengolok, mengancam, atau sengaja mengasingkan temannya.  Dan bullying verbal, seperti menghina,  meneriaki/menertawakan dengan kasar, menyindir, memanggil dengan julukan tertentu, kecacatan, dan bentuk lainnya,” pungkas Ihwan. (smn)




Pemerintah Kalurahan Merdikorejo Laksanakan Pembinaan bagi WKSBM

Merdikorejo – Pemerintah Kalurahan Merdikorejo melaksanakan kegiatan pembinaan kepada 11 Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) di Kalurahan Merdikorejo pada Rabu (20/07/2022). Kegiatan tersebut adalah bagian dari program pemberdayaan/pembinaan dan pemberian stimulan kegiatan warga masyarakat desa yang diampu oleh Kamituwa.

Sebanyak 33 wakil dari WKSBM Kalurahan Merdikorejo, Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Tempel Aris Wibawa, Lurah Merdikorejo, Kamituwa dan tim pelaksana kegiatan menghadiri kegiatan tersebut.

Aris Wibawa selaku narasumber menyampaikan seputar kegiatan WKSBM yang ada di Kapanewon Tempel. Ia menjelaskan bahwa dari 16 WKSBM yang ada di Kapanewon Tempel, 11 WKSBM berada di Kalurahan Merdikorejo.

Aris mengapresiasi banyaknya WKSBM yang ada di Kalurahan Merdikorejo dan mengimbau agar pengurus WKSBM untuk tetap semangat dalam kegiatan sosial tersebut.

“Saya mengimbau agar WKSBM yang lahir dari kesadaran dan kebutuhan masyarakat ini akan lebih aktif dalam membantu masyarakat Merdikorejo yang membutuhkan bantuan,” pungkasnya. (sbd/KIM Tempel)