Foxandbunny Hadirkan Buku dan Mainan untuk Bantu Anak Lepas dari Gadget

Ngaglik – Alunan musik menggelegar mengiringi gerak lincah dan riang bocah-bocah peserta dance competititon di Taman Anggur Floating Resto, Kabupaten Sleman, Minggu (31/7/2022).

Menurut Novia Chandra, pemilik sekaligus direktur utama Foxandbunny, kegiatan dance competititon ini merupakan rangkaian kegiatan Foxandbunny Sixperia Celebration, yaitu peringatan 6 tahun berdirinya Foxandbunny, sebuah toko buku anak dan mainan edukasi.

“Acara ini ditujukan untuk memperkenalkan bahwa Foxandbunny berada dan berproduksi di Jogja, di Sleman pada khususnya,” jelas Novia.

“Buku dan alat peraga edukasi foxandbunny selama ini masih dijual secara online dan para konsumen mengira Foxandbunny berasal dari Jakarta bahkan ada yang mengira dari luar negeri. Konsumen dari Sleman tidak masuk 10 besar penjualan kota di Indonesia dan konsumen terbanyak dari Jabodetabek. Jadi dengan sixperia celebration ini ditujukan untuk memperkenalkan bahwa produksi ada di sini, di Sleman,” terang Novia.

Novia berharap dengan produk mereka yang didesain untuk melepaskan ketergantungan anak terhadap gadget ini bisa membantu meringankan permasalahan orangtua masa kini. “Semoga semua bisa mengambil manfaat dari hadirnya Foxandbunny, dan misi bagi tumbuh kembang anak yang lebih dan lebih sehat bisa tersampaikan dengan baik kepada semua pelanggan.

Rangkaian acara 6 tahun Foxandbunny meliputi kegiatan lomba melukis kaos, play base learning talkshow (talkshow tentang bermain sekaligus belajar) dengan narasumber psikolog Arfikka Ahad Doni, clay creative atau kreativitas dengan media lumpur buatan, serta cooking class berupa menghias cupcake.

Kemudian ada lomba kids fashion show dengan tema garden party atau pesta kebun, mendongeng dari book for mountain, dan kids dance competititon.

Peserta lomba melebihi ekspektasi yang diharapkan karena terdiri dari 70 sampai lebih dari 100 peserta untuk setiap event lomba, serta diikuti bazar puluhan mitra UMKM.

Kegiatan ini juga ditujukan untuk mensosialisasikan bahwa akan dilakukan opening store pada bulan Agustus tahun ini di area kantor Foxandbunny Jalan Rajawali no 45B Ganjuran Condong Catur. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Gebyar Tahun Baru Islam Kapanewon Ngaglik

Sleman – Dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1444 Hijriah, Nahdlatul Ulama Kapanewon Ngaglik menggelar Gebyar Tahun Baru Islam. Kegiatan ini berlangsung di Masjid Pathoknegoro Plosokuning, Minomartani, Ngaglik, Sleman Yogyakarta. Rangkaian acara dimulai sejak Minggu 24 Juli 2022 sampai dengan Sabtu 30 Juli 2022, dengan berbagai macam agenda seperti Sarasehan Perlindungan anak dan perempuan yang diisi dari LKP3A, pelatihan pemulasaraan jenazah oleh Kemenag kabupaten Sleman, Festival Anak Sholeh yang diiringi dengan pemeriksaan kesehatan gratis, bazar, bakti sosial, dan ditutup dengan pengajian dan santunan anak yatim.

Pelaksanaan Gebyar Tahun Baru Islam ini mendapatkan reaktis positif dari masyrakat sekitar masjid, yang terlihat antusias untuk turut serta meramaikan pagelaran acara. Selain dari masyarakat, dukungan juga banyak berdatangan dari lembaga dan instansi yang memberikan wadah kerja sama guna menyukseskan acara gebyar tahun baru Islam.

“Kegiatan ini juga tidak hanya diikuti oleh masyarakat Kapanewon Ngaglik. Beberapa peserta pemulasaraan jenazah dan sarasehan  perlindungan anak, merupakan utusan dari pengurus Banom NU di beberapa Kapanewon Se Kabupaten Sleman,” ungkap Deni Iskandar selaku ketua Panitia Gebyar Tahun Baru Islam, Sabtu (30/7/2022)

Sementara itu, Kamaluddin Purnomo selaku Ketua Takmir Masjid Pathoknegoro sangat mengapresiasi kinerja panitia dan seluruh Banom Nahdlatul ulama, terutama PHBI NU Kapanewon Ngaglik, yang telah bahu membahu dan saling bekerjasama guna menyukseskan acara ini, meskipun dengan persiapan yang sangat terbatas.

Ia berharap acara yang digelar dengan bekerja sama pengurus takmir Masjid Pathoknegoro ini bisa memberikan manfaat, baik untuk jemaah Pathoknegoro maupun masyarakat secara luas. (Ajeng/KIM Ngaglik)




Pemkab Sleman Pastikan Para Relawan Dapat Jaminan Kesehatan

Sleman – Pemerintah kabupaten Sleman melalui Peraturan Bupati Sleman No 10.1 Tahun 2020 tentang Jaminan Kesejahteraan Sosial telah mengamanahkan, agar para relawan beserta keluarga intinya mendapatkan penghargaan dalam bentuk jaminan kesehatan. Penghargaan tersebut diberikan karena peran dan tugas para relawan sangat rentan terhadap ancaman kesehatan.

Hal itulah yang ditekankan oleh Anang Suyoto, Analis Penanggulangan Krisis Kesehatan pada Kelompok Substansi Kesehatan Khusus dan Penjaminan Kesehatan Bidang Pelayanan Medis Dinas Kesehatan Kabupaten dalam acara Pelatihan Relawan tentang Pengurangan Resiko Bencana Minggu (31/7/2022) di RM Manyung Sukoharjo Ngaglik.

Selain untuk relawan, lanjut Anang, penghargaan tersebut juga diberikan  kepada Ketua Rukun Tetangga, Rukun Warga, Badan Permusyawaratan Kalurahan, petugas perlindungan masyarakat, kader kesehatan, kader keluarga berencana, kader sosial, relawan bencana, Ro’is, pengurus dan/atau penjaga rumah ibadah, peserta lainnya yang ditetapkan oleh Pemerintah.

“Bedanya, jika bayar sendiri bisa naik kelas dengan menambah biaya sendiri sementara jika dana dari Pemerintah tidak bisa naik kelas. Jika naik kelas maka fasilitas akan gugur dan dihitung sebagai pasien umum. Pelayanan berjenjang karena jika tidak berjenjang maka Rumah Sakit besar seperti RSUD maupun Sarjito pasien akan menumpuk,” terang Anang.

Bagi kader atau relawan yang keluarga intinya belum terdaftar, dapat membawa surat  keterangan dari Kalurahan dilampiri FC KK yang lengkap dibawa ke dinas kesehatan.

“Pendaftaran diusulkan setiap tanggal 20, jika tidak ada kendala akan aktif pada tanggal 15 bulan berikutnya. Mulai 1 Juli 2022, periksa tidak harus tunjukkan kartu BPJS. Cukup tunjukkan KTP atau KK yang ada NIK-nya,” jelas Anang lagi. (Endarwati/KIM Ngaglik)




Porsadin, Ajang Pengembangan Minat dan Bakat Santri Madrasah Diniyah

Sleman – Pekan Olahraga dan Seni antar Diniyah (Porsadin) menjadi ajang pengembangan dan peningkatan bakat dan minat santri Madrasah Diniyah (Madin) kembali digelar di Kabupaten Sleman. Kegiatan ini merupakan ajang perlombaan bagi Madin se-Kabupaten Sleman yang telah dilaksanakan sebanyak 5 kali.

Porsadin tingkat Kabupaten Sleman ini diikuti oleh seluruh Madin yang terdata dalam Kementrian Agama Kabupaten Sleman. Perlombaan yang digelar di Pondok Pesantren Ki Hajar Dewantara yang beralamatkan di Jaten, Bimomartani, Ngemplak, Sleman Yogyakarta pada hari Minggu (31/7/2022). Sebanyak 198 peserta lomba terlihat antusias mengikuti dan menyaksikan lomba tersebut sampai selesai acara.

Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Kemenag Kabupaten Sleman, Kepala BAZNAS, Panewu Kapanewon Ngemplak, Kepala Kantor Urusan Agama Kapanewon Ngemplak dan sederet tamu undangan lainnya.

“Porsadin di Kabupaten Sleman merupakan seleksi awal  yang selanjutnya bagi yang juara berhak untuk mengikuti seleksi tingkat Provinsi dan berlanjut  pada tingkat Nasional,” demikian disampaikan oleh Mardiansyah selaku  FKDT Kabupaten Sleman, Minggu (31/7/2022).

Labih lanjut, ditegaskan pula oleh Sangaji selaku Kasi PD Pontren Kemenag Kabupaten Sleman menegaskan bahwa peran Madin dalam mencerdaskan kehidupan  bangsa adalah hal yang  sangat nyata terutama dalam meningkatkan akhlak generasi penerus perjuangan agama. “Oleh karena itu, guna mencetak generasi Islam yang paripurna dan memiliki akhlak baik, ini merupakan  prioritas juga tugas utama Madrasah Diniyah,” ungkapnya.

Sakhirin, selaku Panitia PORSADIN  menyampaikan, bahwa kegiatan ini terdiri dari 10 cabang lomba, yakni Lomba Tahfidz Juz amma, Cerdas cermat Diniyah, Pidato Bahasa Indonesia, Pidato Bahasa Arab, MTQ Murrotal wal Imla, Kaligrafi, Puisi Islami, Lari Sprint 60 meter, Lari Sprint 60 meter.

“Tentunya kegiatan ini diharapkan dapat memacu semangat santri   untuk senantiasa belajar ilmu agama di madin,” ujar Sakhirin. (Ajeng/KIM Ngaglik)




Melihat Tradisi Wiwitan di Kalasan

Sleman – Tradisi Wiwitan (Wiwit) masih ditemukan di hamparan sawah Bulak Lor Ngablak, Padukuhan Tamanan, Kalurahan Tamanmartani, Kalasan, Minggu (31/7/2022). Tradisi tersebut dilaksanakan oleh Keluarga Sarno seorang petani Padukuhan setrmpat. Uborampe (perlengkapan)-nya pun lengkap, seperti batang tebu, batang dan daun Dadap Seret, kendi isi air, ani-ani, katul, sambel gepeng, kotosan, Ingkung ayam kampung, sambel pecel, bubuk, Sega Golong, Sega Putih, rempeyek, thontho, dan gerih pethek.

Menurut cerita turun temurun dari para leluhur, tradisi yang kini sudah jarang ditemui ini adalah jenis upacara tradisi masyarakat Jawa, terutama kaum tani sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kesuburan tanah sawah dan karena kesuburannya itu menjadikan tanaman padi bisa tumbuh berkembang menghasilkan padi yang siap dipanen. Selain itu juga ungkapan rasa syukur atas perlindungan Tuhan dari berbagai hama tanaman yang biasa menyerang padi.

Tradisi Wiwit biasanya dilakukan ketika tanaman padi sudah siap untuk dipanen. Oleh karena itu pada saat ritual Wiwit juga dilaksanakan mulai methik padi. Padi yang dipetik lalu diselimuti jarik dan kemudian digendong dibawa pulang dengan istilah mboyong mbok srisadonon dari Padang Kepanasan ke Gedong/bagian rumah yang diperuntukkan menyimpan hasil bumi. Wiwit artinya mulai, karenanya setelah upacara tradisi Wiwit hari berikutnya mulai memanen. Maka tak heran bila tradisi wiwitan juga diartikan permohonan ijin untuk memanen padi.

Sarno sebagai pemangku hajad menuturkan, dulu ketika masih kecil sering ikut Wiwit, tetapi sekarang sudah jarang. “Oleh karena itu sebagai kaum tani ia akan tetap melestarikan. Karena di  tradisi Wiwit itu terkandung banyak ajaran para leluhur,” ujarnya.

Sementara itu, Ruri staf pengajar fakultas Filsafat UGM bersama dua orang mahasiswa S2 berkesempatan hadir dan mendokumentasikan upacara wiwitan itu. Menurutnya, dokumentasi itu sebagai bahan kuliah jurusan Filsafat.

Lebih lanjut dikatakan, ia ingin melihat sejauh mana tradisi itu berjalan ditengah kemajuan teknologi. “Wiwit berjalan dalam kemasan asli seperti dahulu atau terdapat perubahan yang dipengaruhi oleh teknologi. Tentu sebarapa jauh teknologi mempengaruhi filosofi rangkaian dan uborampe tradisi juga menjadi bahan telaah,” imbuhnya.

Acara wiwitan-pun menarik bagi kebanyakan orang yang kebetulan lewat di jalan tengah hamparan itu. Tak pelak merekapun ikut wiwitan bersama  para petani setempat yang memang ikut acara Wiwit, termasuk Pendamping Kalurahan Budaya Tamanmartani. (Tri Joko S/KIM Kalasan)