Sleman – Dalam rangka melestarikan tradisi leluhur dan mendorong tumbuh kembangnya beragam potensi budaya di Banyuraden, Pemerintah Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar kegiatan Upacara Adat Suran Mbah Demang dan Kirab Budaya yang terpusat di Pendapa Ki Demang Tjokro Dikromo Jalan Godean Km. 4,5 Banyuraden, Gamping, Sleman, Jumat (5/8/2022) malam.
Upacara adat menggunakan dana keistimewaan tersebut dihadiri oleh Panewu Gamping, Sarjono, Lurah Banyuraden, Sudarisman, Carik Banyuraden, Hendy Indra Utama, Pemangku Adat Banyuraden, Murdiyanto Murda Puspita, Perwakilan Trah Ki Demang Tjokro Dikromo, Titus Wijanarko, Kanit Binmas Polsek Gamping AKP Y Ponidi, serta Kanit Intel Polsek Gamping, Iptu Sigit Sudarmanto.
Dalam sambutan singkatnya, Pemangku Adat Banyuraden, Murdiyanto Murda Puspita menceritakan asal mula adanya tradisi ‘Suran Mbah Demang’ beserta biografi Ki Demang Tjokro Dikromo dihadapan masyarakat yang sangat antusias menyaksikan upacara adat yang mengalami kevakuman selama dua tahun karena pandemi Covid-19.
“Tradisi Suran Mbah Demang digelar setiap tahun pada malam kedelapan di bulan Sura dalam kalender jawa yang sejatinya untuk menghormati dan mengenang kedermawanan seorang Demang di Demak Ijo yang memiliki nama asli Asrah, dan telah menjadi warisan budaya tak benda yang ditetapkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2016,” tutur Murdiyanta.
Prosesi diawali dengan dua Satria Berkuda dan Pasukan Bregada Widya Premana yang mengawal sejumlah Pusaka, Kitab, Bendhe, Foto Mbah Demang, serta dua buah Gunungan yang diberangkatkan dari halaman kantor Pemerintah Kalurahan Banyuraden dan Sanggar Budaya Widya Premana Cokrowijayan secara simultan menuju Pendapa Ki Demang Tjokro Dikromo untuk diperebutkan warga masyarakat.
Adapun kirab budaya yang dipandu oleh Presenter, Raka Ratmiyanta dimeriahkan dengan iring-iringan pasukan Bregada Wirorejo Biru, Bregada Kademangan Modinan, Bregada Songsong Mangkubumi Mejing, Bregada Widya Premana, Bregada Pesanggrahan, Bregada Ranu Wira Pathuk, Bregada Wira Ndhaga Kaliabu Lor, Bregada Puspa Arum Baturan, Bregada Putri Larasati Guyangan, Bregada Rukun Krida Muda Guyangan, Bregada Turangga Sumber Arum Sumberan, Bregada Putra-Putri Wira Kramat Kramatan, Hadroh Sukunan, serta Ogoh-Ogoh Wiwiwu Modinan yang menambah semarak kegiatan.
Untuk menjaga keamanan dan mengatur lalu-lintas jalan raya yang dilewati peserta kirab budaya maka panitia melibatkan berbagai elemen masyarakat dari unsur Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Satkoryon Gamping, Jaga Warga Cokrojoyo, Jaga Warga Banyumeneng, Jaga Warga Benggolo Seto Modinan, Gebrak Rescue, Jagabaya Kademangan Demak Ijo, Komunitas Kekandhangan Banyuraden, Tim Reaksi Cepat Gamping, Tim Kenanga Banyuraden, Satuan Linmas Banyuraden, Babinsa, serta Bhabinkamtibmas seKapanewon Gamping yang dipimpin oleh Kanit Sabhara Kepolisian Sektor Gamping, AKP Subilal.
“Kekuatan kita ada seratus personil dengan peserta kirab sebanyak seribu duaratus orang. Sasaran pengamanan upacara tradisi suran Mbah Demang ada tiga hal yaitu antisipasi pencurian sepeda motor, pencopetan barang berharga (handphone, perhiasan, uang), serta kelancaran arus lalu-lintas di jalan raya,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)