Sambut HUT ke-77 RI, Paskibaraka Turi Jalani Penggodokan

Persiapan Pasukan Pengibaran Bendera Pusaka (Paskibraka) dalam rangka perayaan HUT ke-77 RI di Kapanewon Turi telah dimulai sejak bulan Juli 2022 ini. Hal tersebut terlihat dari telah dilakukannya penggodokan para paskibraka yang terdiri dari 80 siswa yang berasal dari SMK Muhammadiyah Turi 1, SMK Muhammadiyah Turi 2, SMA Negeri Turi, dan SMK Cendekia, bertempat di Lapangan Donokerto Kapanewon Turi.

“Latihan dilakukan setiap hari dengan pelatih yang berasal dari kapanewon sebanyak 4 orang, polses sebanyak 5 orang, koramil 3 orang, dan Puskesmas Turi,” terang Sajito, Kepala Jawatan Keamanan Turi yang juga sekaligus penanggungjawab pelaksana latihan saat ditemui pada Jumat (5/6/2022).

Para anggota paskibra, lanjut Sajito, nantinya juga akan dikukuhkan sebelum melaksanakan tugas sebagai pengibar bendera pada Upacara Kemerdekaan RI yang ke-77 pada 17 Agustus 2022 nanti.

Adapun yang bertugas sebagai komandan Paskibraka Turi adalah Shaffa, Siswa SMA Negeri Turi. (Suharno/KIM Kertomandiri Turi)




Kundha Kabudayan DIY Hibahkan Bantuan Gamelan untuk Kalurahan Wonokerto Turi

Sleman – Kelompok seni Badui Sinar Remaja Dusun Sempu, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman menerima bantuan gamelan dari Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY berupa Gamelan Gagrak Jogja 2 pangkon pada Sabtu (6/8/2022). Bantuan (hibah) berupa sarana prasarana tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan kebudayaan bagi desa budaya dan lembaga masyarakat yang menjadi salah program aspirasi oleh anggota DPRD FPAN Hanum Rais

“Kami berharap seni tradisi jangan sampai punah di tengah era digitalisasi. Dengan bantuan gamelan ini bisa digunakan untuk semua kalangan anak-anak, remaja dan orang tua dan ini juga untuk Siswa SD Muhammadiyah bisa memanfaatkan sebagai salah satu kegiatan ekstra karena berada dekat dengan sanggar dimana penempatan gamelan disimpan,” ujar Hanum saat menyerahan bantuan secara simbolis.

Ridwan selaku Dukuh Sempu mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan. “Harapannya dengan gamelan baru semangat generasi muda untuk terus melestarikan seni sebagai pewaris budaya berlanjut karena seni tradisi perlu dilestarikan karena Yogyakarta sebagai kota wisata seni tradisi,” imbuhnya. 

Sementara itu, Sutrisno dari Dinas Kebudayaan DIY menjelaskan bahwa pengadaan gamelan ini memanfaatkan Dana Keistimewaaan.

“(bantuan yang diberikan) merupakan gagrak Jogja dan diharapkan bisa digunakan semaksimal mungkin untuk kegiatan seni, rusak digunakan alangkah lebih baik daripada rusak mangkrak,” jelas Sutrisno. (Arief Hartanto)




Melihat Tradisi Suran Mbah Demang di Kalurahan Banyuraden

Sleman – Dalam rangka melestarikan tradisi leluhur dan mendorong tumbuh kembangnya beragam potensi budaya di Banyuraden, Pemerintah Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar kegiatan Upacara Adat Suran Mbah Demang dan Kirab Budaya yang terpusat di Pendapa Ki Demang Tjokro Dikromo Jalan Godean Km. 4,5 Banyuraden, Gamping, Sleman, Jumat (5/8/2022) malam.

Upacara adat menggunakan dana keistimewaan tersebut dihadiri oleh Panewu Gamping, Sarjono, Lurah Banyuraden, Sudarisman, Carik Banyuraden, Hendy Indra Utama, Pemangku Adat Banyuraden, Murdiyanto Murda Puspita, Perwakilan Trah Ki Demang Tjokro Dikromo, Titus Wijanarko, Kanit Binmas Polsek Gamping AKP Y Ponidi, serta Kanit Intel Polsek Gamping, Iptu Sigit Sudarmanto.

Dalam sambutan singkatnya, Pemangku Adat Banyuraden, Murdiyanto Murda Puspita menceritakan asal mula adanya tradisi ‘Suran Mbah Demang’ beserta biografi Ki Demang Tjokro Dikromo dihadapan masyarakat yang sangat antusias menyaksikan upacara adat yang mengalami kevakuman selama dua tahun karena pandemi Covid-19.

“Tradisi Suran Mbah Demang digelar setiap tahun pada malam kedelapan di bulan Sura dalam kalender jawa yang sejatinya untuk menghormati dan mengenang kedermawanan seorang Demang di Demak Ijo yang memiliki nama asli Asrah, dan telah menjadi warisan budaya tak benda yang ditetapkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2016,” tutur Murdiyanta.

Prosesi diawali dengan dua Satria Berkuda dan Pasukan Bregada Widya Premana yang mengawal sejumlah Pusaka, Kitab, Bendhe, Foto Mbah Demang, serta dua buah Gunungan yang diberangkatkan dari halaman kantor Pemerintah Kalurahan Banyuraden dan Sanggar Budaya Widya Premana Cokrowijayan secara simultan menuju Pendapa Ki Demang Tjokro Dikromo untuk diperebutkan warga masyarakat.

Adapun kirab budaya yang dipandu oleh Presenter, Raka Ratmiyanta dimeriahkan dengan iring-iringan pasukan Bregada Wirorejo Biru, Bregada Kademangan Modinan, Bregada Songsong Mangkubumi Mejing, Bregada Widya Premana, Bregada Pesanggrahan, Bregada  Ranu Wira Pathuk, Bregada Wira Ndhaga Kaliabu Lor, Bregada Puspa Arum Baturan, Bregada Putri Larasati Guyangan, Bregada Rukun Krida Muda Guyangan, Bregada Turangga Sumber Arum Sumberan, Bregada  Putra-Putri Wira Kramat Kramatan, Hadroh Sukunan, serta Ogoh-Ogoh Wiwiwu Modinan yang menambah semarak kegiatan.

Untuk menjaga keamanan dan mengatur lalu-lintas jalan raya yang dilewati peserta kirab budaya maka panitia melibatkan berbagai elemen masyarakat dari unsur Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Satkoryon Gamping, Jaga Warga Cokrojoyo, Jaga Warga Banyumeneng, Jaga Warga Benggolo Seto Modinan, Gebrak Rescue, Jagabaya Kademangan Demak Ijo, Komunitas Kekandhangan Banyuraden,  Tim Reaksi Cepat Gamping, Tim Kenanga Banyuraden, Satuan Linmas Banyuraden, Babinsa, serta Bhabinkamtibmas seKapanewon Gamping yang dipimpin oleh Kanit Sabhara Kepolisian Sektor Gamping, AKP Subilal.

“Kekuatan kita ada seratus personil dengan peserta kirab sebanyak seribu duaratus orang. Sasaran pengamanan upacara tradisi suran Mbah Demang ada tiga hal yaitu antisipasi pencurian sepeda motor, pencopetan barang berharga (handphone, perhiasan, uang), serta kelancaran arus lalu-lintas di jalan raya,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)