Kalurahan Sidoluhur Terima Bantuan Gamelan dari DIY

Sleman – Kalurahan Budaya Sidoluhur Kapanewon Godean menerima bantuan seperangkat gamelan pelog dan slendro dari Pemerintah Provinsi DIY. Serah terima dilakukan oleh Kasi Pembinaan Adat Tradisi, Lembaga dan Seni Budaya (ATLAS) Kundha Kabudayan DIY Endang Widuri kepada Lurah Sidoluhur Hernawan Zudanto, Selasa (13/9/2022) di Pendapa Kalurahan Sidoluhur, disaksikan langsung oleh Ketua Kalurahan Budaya, BP Kal dan Tim Monitoring Pendamping Kalurahan Budaya.

Dalam sambutannya, Endang Widuri mengatakan bahwa bantuan ini merupakan komitmen Pemerintah Provinsi DIY dalam upaya pelestarian kebudayaan bersama dengan masyarakat. Dengan bantuan gamelan perunggu itu diharapkan masyarakat semakin semangat dibawah koordinasi pemerintah Kalurahan dan lembaga.

“Kami berharap gamelan dirawat dan dipergunakan dengan sebaik-baiknya, dan akan lebih baik perangkat Kalurahan menjadi pelopor memulai latihan,” tutur Endang Widuri.

Sementara itu Lurah Sidoluhur Haenawan Zudanto dalam sambutan penerimaan mengucapkan terima kasih kepada Gubernur DIY, Kepada Kundha Kabudayan DIY yang telah memberikan bantuan gamelan perunggu, bahkan diberikan pada kesempatan pertama masa periode penyaluran tahun 2022 ini. Lebih lanjut Hernawan mengatakan, masyarakat sudah tidak sabar menunggu bantuan gamelan, karena banyak masyarakat yang mencintai dan bisa berkesenian karawitan, tetapi tidak memiliki alat yang representatif.

“Selanjutnya Pemerintah Kalurahan bersama pengurus Kalurahan Budaya akan merumuskan ketententuan penggunaan dan penjadwalan agar semua berjalan baik dan tetap terawat,” ujar Hernawan.

Kalurahan Sidoluhur merupakan Kalurahan Budaya sejak akhir tahun2021 bersama 19 Kalurahan Budaya di Kabupaten Sleman baik yang sudah katagori Rintisan Mandiri Budaya maupun Mandiri Budaya.(Tri Joko S/KIM Kalasan)




Pemkab Sleman Berkomitmen Kembangkan Pertanian Sehat Manfaatkan Agen Hayati

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen untuk mengembangkan pertanian cabai secara sehat dengan meminimalisir penggunaan bahan kimia. Hal tersebut ditegaskan oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo ketika Panen Cabai dan Temu Lapang terkait Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PPHT) bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Trimulyo di Padukuhan Kalirase, Trimulyo, Sleman (13/9/2022).

Menurut Kustini, hal tersebut perlu dilakukan karena Kabupaten Sleman merupakan salah satu sentra cabai nasional, sehingga penting untuk memperhatikan penanganan dan pengendalian hama secara optimal dan sehat. Salah satu caranya dengan memanfaatkan agen hayati serta pestisida nabati.

Dalam hal tersebut, Pemkab Sleman memiliki  14 Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (PPOPT) dan 24 Regu Pengendali Tanaman (RPT) yang merupakan sukarelawan petani.

“Saya berharap dengan adanya petugas PPOPT dan RPT maka dapat mengedukasi para petani untuk mengantisipasi hama dan penyakit tanaman dengan cara yang sehat dan tepat,” jelas Kustini.

Direktorat Perlindungan Hortikultura Kementrian Pertanian RI, Ginting Tri Pamungkas, menyampaikan tujuan program PPHT adalah untuk mensosialisasikan mengenai cara pengendalian hama tanaman Hortikultura khususnya cabai. Ia menyampaikan bahwa PPHT menggunakan cara yang terpadu dan ramah lingkungan.

“PPHT yang dilaksanakan oleh Gapoktan Trimulyo ini berdasar pemantauan kami berjalan dengan baik dan kedepannya Trimulyo bisa menjadi kampung hortikultura yang nantinya akan kami fasilitasi dari pra hingga pasca panen,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Sekolah Lapang PPHT Gapoktan Trimulyo, Parjono menyampaikan komoditi hortikultura khususnya cabai menjadi salah satu penopang kehidupan petani Gapoktan Trimulyo. Penggunaan agen pengendali hayati dalam pertanian hortikultura di Trimulyo memberikan hasil positif yakni mengurangi 90 persen layu dan busuk batang.

“Kami berharap kedepannya dapat diberikan dukungan dan kolaborasi dalam rangka mengoptimalkan pertanian hortikultura di Gapoktan Trimulyo ini demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Sleman melaksanakan potong tumpeng sebagai wujud syukur masyarakat atas hasil panen cabai yang sehat dan melimpah serta memberikan sertifikat kepada Gapoktan Trimulyo. (Humas Sleman)




Festival KWT untuk Mendukung Bisnis Pertanian di Depok

Sleman – Kapanewon Depok melakukan inovasi kegiatan untuk mendukung pertanian dan UMKM dengan menyelenggarakan acara Festival Pontensi Kelompok Wanita Tani (KWT) Kapanewon Depok Tahun 2022, Selasa (13/9/2022). Kegiatan ini diikuti oleh 3 Paguyuban KWT dari Kalurahan Caturtunggal, Condongcatur dan Maguwoharjo.

Menurut Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Depok, Isti Fajaroh, konsep acara Festival potensi KWT ini adalah Gelar Potensi Urban Farming dan Produk Olahan Berbasis Komoditas Unggulan Wilayah di Kapanewon Depok.

“Selain itu, ada juga Talkshow dengan tema Meningkatkan Peran Petani Milenial dalam mendukung pengembangan Agribisnis di Kapanewon Depok dengan peserta Talkshow dari perwakilan KWT, Kelompok Tani, Kelompok Ternak dan Kelompok Perikanan,” ujar Isti.

Isti menambahkan bahwa, pada Festival Potensi KWT ini disediakan 3 stand untuk masing-masing kelompok KWT Kalurahan yang menampilkan potensi KWT, baik tanaman budi daya sayur dan tanaman pangan lainnya, serta produk-produk olahan dari bahan-bahan yang dihasilkan KWT.

Untuk penilaian Festival Potensi KWT ini, lanjut Isti, berasal dari berbagai unsur yaitu dari Akademisi (Dosen UPN, UNY), Dinas Koperasi dan UKM Kab. Sleman, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman dan dari UPTD BP4 Wilayah VII.

“Dengan indikator penilaian meliputi Kegiatan Urban Farming dan Komoditas Unggulan, Produk Olahan (basah dan kering), Penataan Stand,  Penguasaan Stand dan Inovasi Agribisnis,” tambahnya.

Dari hasil lomba dalam festival potensi KWT ini adalah Juara 1 dari Paguyuban KWT Caturtunggal “Wijaya Kusuma”,  Juara 2, Paguyuban KWT Condongcatur “Tani Makmur” dan Juara 3, Paguyuban KWT Maguwoharjo masing masing memperoleh Tropy, Piagam Penghargaan dan uang pembinaan dari Kapanewon Depok

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo yang berkesempatan hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi diadakannya festival KWT ini. Ia mendukung penuh kegiatan tersebut karena di Kapanewon Depok sendiri, jumlah lahan pertanian terbatas dan sempit, sehingga harus dapat dimaksimalkan dengan inovasi yang tepat.

“Dengan adanya kegiatan ini, seperti talkshow, para petani milenial mendapat pengetahuan untuk memaksimalkan potensi yang ada,” kata Kustini.

“Banyak ibu-ibu muda milineal apabila diarahkan untuk menggeluti agribisnis dengan potensi dan inovasinya maka akan membuka peluang-peluang ekonomi,” tambah Kustini.

Selain itu, ia mengimbau agar pertanian Depok dapat dimanfaatkan dengan memanfaatkan kerja sama yang bisa dijalin dengan hotel dan resto yang banyak menjamur di Kapanewon Depok.

“Ini merupakan potensi pasar yang sangat besar untuk dikolaborasikan, dengan penyediaan makanan olahan yang sesuai dengan tren dan menu masa kini,” ujarnya lagi.

Ia berharap dengan adanya acara ini dapat mendukung perkembangan bisnis pertanian di Kapanewon Depok.

Senada, Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, mendukung penuh kegiatan yang diselenggarakan oleh Kapanewon Depok ini untuk memberikan ruang bagi para kelompok tani maupun ternak.

Ia juga menuturkan bahwa Pemerintah Kalurahan Condongcatur secara konkrit telah memberikan pembinaan, pelatihan dan dana stimulan setiap tahunya kepada kelompok wanita tani (KWT) yang saat ini sudah ada 16 KWT juga ada Kolompok Tani (POKTAN) dan Kelompok Ternak. (Wasana/KIM Depok)




Hibah Air dan Sanitasi dari Australia, 2.387 Sanitasi Sleman Telah Dibangun Pada Periode 2016-2021

Sleman – Duta Besar Australia untuk Indonesia, Penny Williams beserta rombongan melakukan kunjungan ke Kabupaten Sleman dalam rangka monitoring dan evaluasi program hibah air minum dan sanitasi dari Pemerintah Australia. Rombongan Dubes dan Bupati Sleman melakukan kunjungan ke rumah warga penerima manfaat hibah air minum pada Senin, (12/9/2022) di Mudal, Sariharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman.

Dalam keterangan tertulisnya, Penny Williams mengatakan bahwa Pemerintah Australia telah beberapa kali menyalurkan bantuan hibah air minum dan sanitasi ke Pemerintah Kabupaten Sleman. 

Pertama, Program Hibah Air Minum Perkotaan dari Pemerintah Australia (AusAID) yang dilaksanakan pada tahun 2013 dan 2014 untuk membangun sebanyak sambungan rumah (SR) bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Telah mendapatkan reimburse sebesar ,- (empat miliar rupiah).

Kedua, Program Hibah Air Minum Berbasis Kinerja (AMBK) pada tahun 2021 hingga 2024 dengan dana hibah yang akan diterima setinggi-tingginya ,- (enam miliar sembilan ratus sembilan puluh enam juta rupiah).

“Kedua program tersebut dilaksanakan secara teknis oleh PDAM Kabupaten Sleman,” ujarnya.

Pada tahun 2021 Pemkab Sleman sudah mendapatkan reimburse dana hibah AMBK sebesar ,- (tujuh ratus dua belas juta lima ratus ribu rupiah). Sisanya akan dimintakan reimburse secara bertahap.

Ketiga, Program Hibah sAIIG pada tahun 2016 s.d. 2020 untuk pembangunan sanitasi sebanyak sambungan rumah air limbah sistem pengolahan terpusat dan telah mendapatkan reimburse sebesar ,- (sepuluh miliar delapan ratus dua puluh satu juta rupiah).

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas bantuan hibah yang telah diberikan dan berharap melalui upaya ini masyarakat Sleman dapat semakin sejahtera.

“Pada tahun 2021 akses air minum telah mencapai 100 persen, dimana 20,60 persen merupakan jaringan perpipaan sementara 79,40 persen merupakan jaringan non-perpipaan,” kata Kustini. 

Jaringan perpipaan perkotaan, lanjutnya, dikelola oleh PDAM Tirta Sembada, sementara jaringan perpipaan perdesaan dikelola oleh Masyarakat melalui Sistem Penyediaan Air Minum Perpipaan Pedesaan (SPAMDES) dan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS). 

Hingga 2022 Sleman telah memiliki 63 Desa PAMSIMAS yang tersebar di 16 kapanewon. Sementara Jaringan non perpipaan berupa sumur gali dimiliki masyarakat secara mandiri. 

Untuk sanitasi Pemkab Sleman fokus pada penyediaan akses layak dan aman air limbah domestik. Pada tahun 2021 akses layak dan aman air limbah di Kabupaten Sleman telah mencapai 98%. Terdiri dari, akses sanitasi layak sebesar 76,23% dan akses sanitasi aman sebesar 21,77 %. Sementara 2% lainnya merupakan sanitasi belum layak.

”Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen untuk menyelesaikan 2% sanitasi belum layak menjadi layak dan aman,” tutup Kustini. 




Beri Edukasi Kelola Air Hujan, Banyu Bening Sleman Gelar Kenduri Banyu Udan Ke-7

Sebagai upaya mengkampanyekan dan mengedukasi masyarakat terkait pemanfaatan serta pengelolaan air hujan sebagai sumber kehidupan dan mitigasi bencana berbasis masyarakat, maka Komunitas Banyu Bening Sleman dan masyarakat sekitar menggelar Kenduri Banyu Udan ke-7 sekaligus memperingati hari ulang tahun Ke-3 Sekolah Air Hujan Banyu Bening yang berlangsung di Joglo Banyu Bening, Tempursari, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Jumat (9/9/2022) sore.

Prosesi Kenduri Banyu Udan Ke-7 di awali  dengan tarian Riris Mangenjali yang dibawakan oleh Sanggar Banyu Bening dan pemotongan tumpeng yang dilakukan Ketua Komunitas Banyu Bening, Sri Wahyuningsih yang diberikan kepada Anggota Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Hj. Sri Wulan disaksikan Sekretariat Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Dr. Lilik Kurniawan.

Dalam sambutan pembukanya, Ketua Komunitas Banyu Bening, Sri Wahyuningsih menjelaskan bahwa Komunitas Banyu Bening berdiri pada tanggal 12 Maret 2012 bergerak untuk memanfaatkan dan mengelola air hujan sebagai salah satu upaya mencegah dampak negatif yang diperkirakan akan terjadi dan menanggulangi dampak negatif yang timbul sebagai akibat adanya bencana kekeringan menggunakan budaya kearifan lokal.

“Banyu Bening memiliki visi mengelola dengan sepenuh hati air hujan untuk kebutuhan sehari-hari, melalui perubahan cara pandang masyarakat terhadap air hujan, dan membentuk kemandirian masyarakat untuk mendapatkan akses air minum yang mudah. Air hujan adalah air bersih yang bisa menjadi solusi berbagai masalah yang timbul akibat eksploitasi air tanah,” tutur Wahyuningsih dihadapan tamu undangan.

Adapun upaya yang telah dilakukan Sekolah Banyu Bening dalam menyosialisasikan air hujan antara lain mengedukasi masyarakat tentang air hujan sebagai salah satu solusi memperoleh air bersih yang dengan mudah didapatkan saat ini, serta membangun kesadaran masyarakat untuk menginjeksi atau memasukkan kembali air hujan ke dalam tanah menggunakan konsep 5M yakni memanen, mengelola, meminum, menampung secara mandiri.

“Sekolah air hujan dapat dijadikan tempat pendidikan karakter bagi generasi penerus, khususnya dalam hal memelihara lingkungan. Jika kita dapat bersahabat baik dengan alam di sekitar kita, maka alam juga akan memberikan banyak manfaat kepada kita semua,” urai Yu Ning panggilan akrabnya.

Di sisi lain, Anggota Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Hj. Sri Wulan mengutarakan bahwa Komunitas Banyu Bening sudah memberikan contoh yang baik dan mengajak masyarakat agar selalu memanfaatkan air hujan. Dan dapat dijadikan inspirasi menuju perubahan guna mengantisipasi kekhawatiran terhadap keberlanjutan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. Seiring dengan perubahan jumlah penduduk yang terus meningkat dari tahun ke tahun di Negara Indonesia yang diikuti dengan peningkatan salah satu kebutuhan dasar hidup manusia.

“Kenduri Banyu Udan merupakan salah satu kegiatan untuk mengedukasi masyarakat tentang potensi air hujan yang belum termanfaatkan dengan baik. Hal ini akan kami sampaikan kepada pemerintah pusat dari aspirasi rakyat sebagai pertimbangan perlu adanya anggaran guna pengelolaan air hujan sebagai mitigasi bencana kekeringan,” ujar Hj. Wulan.

Diinformasikan juga untuk saat ini jaringan Komunitas Banyu Bening sudah tersebar di berbagai wilayah Indonesia antara lain di Jawa, Bali, Lombok, Lampung, Bangka Belitung, Balikpapan, Samarinda, Pontianak, Papua Barat, dan Merauke. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)