Memasyarakatkan Senam Sleman Bangkit Melalui Lomba

Sleman – Dalam rangka memperingati Haornas (Hari Olahraga Nasional) ke-30, Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi) tingkat Kabupaten Sleman menyelenggarakan lomba Senam Sleman Bangkit (SSB), Sabtu (10/9/2022).

Lomba yang diselenggarakan di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman ini diikuti oleh 51 kelompok peserta yang merupakan Pamong dan Staf Kalurahan yang berada di Kabupaten Sleman. Dalam perlombaan, keluar sebagai Juara pertama dengan total nilai 496 adalah Kalurahan Minomartani, Kapanewon Ngaglik. Untuk juara kedua dengan total nilai 475 diraih Kalurahan Sidoluhur, Kapanewon Godean. Sedangkan juara ketiga dengan total nilai 463 diraih oleh Kalurahan Candibinangun, Kapanewon Pakem.

Dalam sambutannya, Siti Baroroh, sebagai Ketua Panitia Pelaksana Lomba menyampaikan bahwa lomba Senam Sleman Nangkit untuk pamong se-Kabupaten Sleman ini merupakan salah satu program Perwosi Kabupaten Sleman yang ditujukan untuk mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Sleman agar turut menyosialisasikan senam Sleman bangkit.

Ia juga menyampaikan bahwa kegiatan lomba SSB dapat terselenggara atas dukungan anggaran dari Kabupaten  Sleman, KONI Kabupaten Sleman, Dinas Pemuda dan Olahraga Sleman, PDAM Sleman, Bank Sleman, Bank BPD cabang Sleman, BRI Sleman, koperasi Aman Kabupaten Sleman, Sari Dewi catering, PT mitra karya /hotel Cristal lotus.

“Terima kasih kepada semua pihak  sehingga kegiatan dapat berjalan sukses dan lancar,” ungkapnya

Sementara itu Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo dalam sambutannya sebelum membuka acara lomba SSB menyampaikan kepada seluruh peserta bahwa menang kalah tidak menjadi masalah, yang penting tetap semangat.

“Acara lomba ini merupakan ajang silaturahmi Pamong se Kabupaten Sleman. Pamong Kalurahan  sibuk terus di depan komputer,  karena itu agar sehat dan semangat maka diselenggarakan lomba ini untuk mensosialisasikan SSB ke masyarakat. Bahwa Senam Sleman Bangkit adalah milik kita. Kalau pak Lurahnya bisa senam Sleman Bangkit, masyarakatnya pasti lebih bersemangat,” tandas Kustini. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Kampung KB Sinduharjo Adakan Orientasi Rumah Dataku

Sleman – Pengurus Kampung KB Kalurahan Sinduharjo mengadakan Orientasi Rumah Dataku di Kantor Kalurahan Sinduharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Jumat (9/9/2022).

Dalam kegiatan ini pengurus membuat data dinding berkaitan dengan Rumah Data Informasi kependudukan dan data Keluarga , di mana data tersebut menjadi salah satu sumber informasi layanan publik terkait untuk menyusun program di kalurahan atau instansi lainnya.

PLKB Kapanewon Ngaglik, Tanfiati Abidah mengatakan, berdasarkan hasil evaluasi dan monitoring dari BKKBN Daerah Istimewa Yogyakarta bulan Agustus 2022, Rumah Data di Kampung KB Sinduharjo berpredikat sempurna, di mana data-data yang diperlukan sudah lengkap dan perlu dipertahankan.

Prestasi tersebut mendapatkan apresiasi positif dari Lurah Sinduharjo, Sudarja. “Saya apresiasi atas kerja semua tim rumah dataku sehingga berpredikat sempurna, perlu ditingkatkan lagi data data perlu di update atau diperbaharui setiap saat,” kata Sudarja.

Tim Rumah Dataku Kampung Kb Sinduharjo sendiri terdiri dari 15 orang dan diketuai oleh Astadi yang juga merupakan Kaur Perencanaan Kalurahan Sinduharjo. (SPN/KIM Ngaglik)




Memberdayakan Kicau Burung Sebagai Potensi Wisata

Sleman – Sebanyak 700 peserta dan penggemar burung berkicau dari DIY dan Jawa Tengah memadati area Wisata Agro Bangunkerto Turi Sleman untuk mengikuti Lomba Burung Berkicau New Killer Bupati Sleman Cup 1, pada Minggu (11/9/2022). Acara ini dibuka secara resmi oleh Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo, ditandai dengan pemotongan pita dan pelepasan burung ke alam liar.

Ketua penyelenggara Mulyanto menandaskan bahwa acara ini digagas oleh Kicau Mania Lereng Merapi bekerja sama dengan Pantap Agro (Pengelola Desa wisata Agro Bangunkerto) guna memberikan wadah penggemar keunikan dan keindahan suara burung berkicau yang banyak dipelihara masyarakat dan melatihnya menjadi burung kontes yang berprestasi.

“Lokasi Agro wisata merupakan lokasi yang sangat strategis baik dan segi letak maupun kondisi lokasinya dan hal tersebut menggugah keinginan penyelenggara acara untuk mengadakan Latihan Bersama (Latber) dan Latihan Prestas (Latpres) yang akan dilaksanakan rutin tiap hari Minggu sore.  Agenda ini sangat cocok digunakan sebagai media promosi dan kerjasama untuk kemajuan bersama,” terangnya.

Kustini mengatakan bahwa dirinya menyambut positif gelaran acara ini. “Kabupaten Sleman merupakan suatu daerah yang memiliki keanekaragaman hayati, salah satunnya yaitu Burung Berkicau yang banyak digemari oleh masyarakat dan potensi ini harus dikembangkan dan menjadi wahana untuk memajukan kegiatan masyarakat dan potensi wisata di Kawasan Agro Wisata Desa Bangunkerto,” ungkapnya.

Ada banyak jenis burung yang dilombakan dalam Burung Berkicau New Killer Bupati Sleman Cup 1, salah satunya adalah Burung Anis Merah. Burung Anis Merah atau disebut juga sebagai Manuk Cacing Kalung memiliki nama pasar yang sangat terkenal, yaitu Burung Punglor. Burung ini termasuk burung yang mempunyai kicauan yang sangat indah dan mempunyai daya pikat atau pesona yang sangat tinggi karena suaranya. (Arief Hartanto)




Perangi Narkoba, Kekandhangan Banyuraden dan BNNK Sleman Gelar Sanja Pasinaon

Sleman – Sebagai bentuk kerja sama antara Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sleman dengan Komunitas Relawan Kekandhangan Banyuraden dalam memerangi penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan obat-obatan terlarang (Narkoba) di lingkungan kelompok dan seluruh elemen masyarakat utamanya di wilayah rawan Narkoba, maka digelar kegiatan sanja dan pasinaon tentang Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) yang berlangsung di Pendapa Kekandhangan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Jumat (9/9/2022).

Kegiatan yang dipandu Sekretaris Kekandhangan, Adnan Iman Nurtjahjo dihadiri secara langsung  oleh ketua Kekandhangan, drh. I Komang Tri Kumara dan Penanggung Jawab Seksi Pencegahan dan pemberdayaan Masyarakat BNN Kabupaten Sleman, Irindra Septy Wahyuningrum sebagai narasumber, yang diikuti sebanyak 20 orang relawan kemanusiaan dari lingkungan setempat.

Turut hadir dalam sanja pasinaon, Bhabinkamtibmas Kalurahan Banyuraden, Aiptu Ifanudin bersama Bintara Tinggi Tata Urusan Dalam (Batituud) Koramil 17/GP, Serka Suharno, dan Babinsa Kalurahan Banyuraden, Serda Suratmadi selaku pengampu ketertiban dan keamanan masyarakat.

Dalam sambutan pembukanya, Ketua Kekandhangan Banyuraden, drh. I Komang Tri Kumara menyampaikan apresiasi kepada BNN Kabupaten Sleman yang telah merespon dengan cepat sehingga dapat terlaksana kegiatan sosialisasi P4GN guna membekali pengetahuan dan informasi tentang bahaya Narkoba bagi para relawan.

Sementara itu,  Penanggung Jawab Seksi Pencegahan dan pemberdayaan Masyarakat BNN Kabupaten Sleman, Irindra Septy Wahyuningrum mengungkapkan bahwa Pemerintah terus berupaya memerangi peredaran dan penyalahgunaan narkoba dengan berbagai cara. Termasuk dengan menggandeng Komunitas Relawan untuk ikut terlibat langsung dalam Program Pencegahan Pemberantasan Peredaran Gelap Narkoba karena Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini dalam kondisi darurat Narkoba.

“Kami harap setelah usai kegiatan ini, para relawan menjadi semakin paham tentang bahaya dan dampak penyalahgunaan Narkoba dan menjadi agen pencegah penyalahgunaan Narkoba dengan menyuarakan hidup sehat tanpa Narkoba minimal di lingkungan tempat tinggalnya seperti keluarga,  teman,  tetangga dan komunitas lainnya,” tutur Irin panggilan akrabnya.

Ia menambahkan, bahaya penyalahgunaan Narkoba selain berpengaruh pada bentuk fisik tubuh seseorang juga dapat mengganggu jiwa ataupun mental pecandu, sehingga berdampak pada keluarga yang disayangi karena mempunyai kemampuan daya rusak yang sangat tinggi yang disebabkan kandungan senyawanya dapat menimbulkan efek kecanduan bagi penggunanya.

“Apabila seseorang sudah kecanduan, maka dapat melakukan tindakan negatif yang di luar kesadarannya sehingga melakukan tindakan kriminalitas guna memperoleh uang yang kemudian digunakan untuk membeli barang haram tersebut,” lanjut Irin.

Adapun pemicu terjadinya penyalahgunaan Narkoba di masyarakat adalah dalam bentuk tekanan terhadap seseorang yang mengakibatkan mentalnya tidak stabil kemudian mencari cara dengan mengonsumsi obat terlarang untuk mengurangi stress. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Mengupas Kebencanaan Gunung Merapi Bersama Mantan Kepala BPPTKG DIY

Sleman – Pembahasan mengenai kebencanaan di Kabupaten Sleman selalu menjadi topik penting bagi masyarakat, khususnya yang berada di daerah rawan bencana seperi Kabupaten Sleman. Salah satunya yang dilakukan di Rumah Lurah Pakembinangun, Pakem, Suranto yang dihadiri oleh Subandriyo, Mantan Kepala BPPTKG DIY, Sabtu (10/9/2022) yang membicarakan seluk beluk tentang bencana, seperti aktivitas merapi, dan status kebencanaannya.

Subandriyo dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa tipe letusan Merapi itu berubah-ubah, tidak bisa ditentukan dengan pasti.

“Tanda-tanda bahwa Merapi mau meletus tidak bisa diinterpretasikan hanya dari seismiknya saja. Tetapi juga harus disinkronkan dengan data gas vulkanis yang meningkat, deformasi, survey micro gravity, serta parameter lainnya yang sebanding dengan itu. Deformasi inilah yg menjadi penentu kemana arah luncuran lava akan terjadi. Maka sejak itu saya memasang Electronic Distance Measurement (EDM),” terang Subandriyo.

Ia juga menceritakan mengenai pengalamannya ketika menentukan status suatu gunung, karena berhubungan langsung dengan berbagai sektor. Salah satunya adalah ketika menentukan status Gunyng Agung di Bali.

“Pada bulan September saat itu, aktivitas seismik naik luar biasa. Sehingga kami naikkan menjadi Awas. Dan di bulan Desember baru terjadi letusan dan itu kecil ternyata. Namun selama tiga bulan itu, pemerintah provinsi Bali merugi sekitar sebelas trilyun, karena semua sektor pariwisata di Bali ditutup karena tingginya aktivitas gunung Agung yang kami tetapkan menjadi berstatus Awas. Pemerintah harus menanggung hidup para pengungsi Gunung Agung saat itu. Itu faktanya,” kata Subandriyo.

Namun sebagai aparat yang ditunjuk oleh negara untuk bekerja menyelamatkan nyawa manusia, ia lebih memilih keselamatan nyawa manusia, daripada terpuruknya perekonomian di saat terjadi bencana.

Subandriyo juga memberikan gambaran mengenai bagaimana proses gempa vulkanik yang sering meningkat di beberapa waktu terakhir. Menurutnya, aktivitas yang terjadi dibagi menjadi proses intrusi dan ekstrusi magma.

“Jadi ada yang disebut proses Intrusi dan Ekstrusi magma. Proses intrusi adalah masuknya magma ke kantong-kantong magma di bawah puncak. Seperti diketahui bahwa setelah gunung berapi itu meletus besar, maka perut gunung akan jadi kosong. Dan gunung api itu tidak perlu waktu lama untuk mengisi kantong-kantong magma yang kosong tadi,” terangnya.

Material magma baru itu, lanjutnya, kaya akan gas vulkanis, sehingga hembusan yang dihasilkan akan besar. “Makanya beberapa saat lalu sering terjadi freatik, karena itu magma baru yang kaya akan gas vulkanis,” ungkap Subandriyo.

Adapun gempa vulkanik dalam ini menjadi sering terjadi karena proses intrusi magma, di mana jumlah magma yang tercatat ada 3 juta meter kubik, namun gas yang ada hanya sedikit, sehingga banyak menghasilkan gempa.

“Jadi nanti diperkirakan hanya akan menjadi erupsi efusif, tidak eksplosif. Dan karena magma ini miskin gas, lajunya menjadi lambat sekali. Sehingga gempa VTA terjadi banyak sekali,” tambah Subandriyo.

“Nah, kemudian setelah kantong magma terisi, terjadilah proses keluarnya magma dari kantong-kantong tersebut, menjadi guguran dan hembusan. Itulah yang dinamakan proses esktrusi magma. Namun masih banyak gugurannya daripada DeGassing atau hembusan. Maka dipastikan erupsi eskplosif sulit terjadi,” tambahnya lagi.

Pada kesempatan tersebut, Subandriyo juga memberikan kiat agar penduduk tidak menjadi korban dari bencana gunung berapi. Hal utama yang digarisbawahi olehnya adalah harus sering diadakan pelatihan tanggap darurat bencana.

“Karena dengan begitu, otak kita akan mudah merekam bagaimana tindakan jika benar-benar terjadi bencana. Karena penanggulangan bencana itu menggunakan otak emosi, bukan ilmu pengetahuan. Semakin banyak pelatihan, akan semakin banyak emosi ini terlatih. Maka ketika terjadi bencana, otak kita akan me-recall rekaman pelatihan penanggulangan bencana tersebut agar menjadi efektif dan kita bisa tahu apa yang kita lakukan agar terindar dari bencana tersebut,” tutupnya. (Asrori Wardan/KIM Pakembinangun)