Bupati Sleman Apresiasi Peran Pekerja Sosial dalam Melayani Masyarakat

Sleman – Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo menghadiri gathering pekerja sosial yang diselenggarakan Dinas Sosial Kabupaten Sleman di Bumi Perkemahan Karang Pramuka Kaliurang, Selasa (25/10/2022). Peserta gathering diikuti pekerja sosial dari 17 Kapanewon se Kabupaten Sleman. Pada kesempatan tersebut juga diserahkan secara simbolis 100 paket sembako kepada masyarakat penerima manfaat dari 17 Kapanewon yang akan disalurkan melalui pekerja sosial masing-masing Kapanewon.

Dalam sambutannya, Kustini mengapresiasi para pekerja sosial atas partisipasi dan ketulusan rekan pekerja sosial dalam upaya penyelenggaraan kesejahteraan sosial. Ia berharap pemerintah dapat bersinergi dengan pekerja sosial dalam mengoptimalkan pelayanan sosial dan memberikan kontribusi maksimal bagi masyarakat.

“Saya berharap gathering ini bisa dimanfaatkan sebagai momentum evaluasi dan introspeksi guna peningkatan mutu Pekerja Sosial sebagai potensi dan sumber kesejahteraan sosial di masyarakat.” ujarnya

Lebih lanjut, Kustini juga mengajak pekerja sosial untuk terus meningkatkan kapasitas dan kompetensi diri mengingat permasalahan sosial di Kabupaten Sleman semakin kompleks. (Humas Sleman)




Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW, GP Ansor DIY Gelar Apel Siaga

Dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad 1444 Hijriyah sekaligus Hari Santri Nasional Tahun 2022, maka Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar kegiatan Apel Siaga Ansor dan Banser seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang dilaksanakan di Alun-Alun Selatan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Yogyakarta, Minggu (23/10/2022) sore.

Apel Siaga ‘Bela Agama Bangsa Negeri’ yang diikuti sebanyak 5000 kader Ansor Banser dan Rijalul Ansor dari Pimpinan Cabang Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Gunung Kidul, serta Kota Yogyakarta dipimpin oleh Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Kasatkornas) Banser, Hasan Basri Sagala selaku Pembina Apel, yang mendampingi Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, H. Yaqut Cholil Qoumas sebagai Pemegang Komando Tertinggi Banser.

Tampak hadir bersama H. Yaqut Cholil Qoumas yang juga menjabat Menteri Agama Republik Indonesia antara lain Rois Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), KH. Mas’ud Masduqi, Ketua Tanfidziyah PWNU DIY, Dr. K.H. A. Zuhdi Muhdlor, Gusti Bendara Pangeran Haryo Prabukusumo sebagai Penghageng Kawedanan Hageng Punokawan Nitya Budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Hilmy Muhammad, serta Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Masmin Afif  yang duduk di atas panggung kehormatan.

Amanat yang disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor yang akrab disapa Gus Yaqut ini menitikberatkan pada ketaatan dan kepatuhan seluruh Kader Ansor dan Banser terhadap perintah para kyai. Ia mengungkapkan bahwa sebagai anggota Ansor Banser harus melakukan perbuatan yang nyata dapat bermanfaat bagi masyarakat.

“Salah satu perintah Kyai yaitu tetap menjaga dan merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan melawan jika ada pihak yang berusaha mengganggu kedaulatan negara, karena Ansor dan Banser tidak akan luntur cintanya kepada Republik Indonesia,” ucap Gus Yaqut dihadapan ribuan kadernya.

Selanjutnya dikatakan Barisan Ansor Serbaguna tidak pernah lepas dari peristiwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia karena ikut berkontribusi terhadap perjuangan melawan penjajah demi merebut kemerdekaan negara Republik Indonesia, serta selalu mewarnai kondisi bangsa Indonesia menuju arah yang lebih baik lagi.

Usai Apel Siaga, Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Daerah Istimewa Yogyakarta, M. Syaifudin mengatakan bahwa bertepatan dengan adanya hari santri yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober dan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, maka segenap kader Ansor di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta akan selalu mengawal perjuangan kebangsaan Indonesia seperti semangat perjuangan yang diberikan oleh para ulama dan pendahulu bangsa yang memiliki kontribusi nyata dalam memperjuangkan kemerdekaan termasuk merelakan kekayaannya demi terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Pentingnya Menyadari KDRT Sebagai Tindak Kejahatan

Sleman – Pemberitaan tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) akhir-akhir ini berhasil menyedot perhatian publik. Kejadian tersebut sekaligus memantik kesadaran masyarakat tentang betapa pentingnya menentang KDRT sebagai salah satu kekerasan yang terjadi di ranah personal, karena para pelaku adalah orang yang kenal baik dan berada dekat dengan korbannya bisa suami, istri, anak, orang tua, cucu atau anggota keluarga lainnya. Kejadian KDRT bisa terjadi pada keluarga siapapun tanpa memandang ras, usia, agama , gender, status sosial, bahkan tingkat edukasi atau pendidikan.

“Karena rumah tangga merupakan hal yang private, sulit bagi orang lain untuk mengetahui apa yang terjadi pada keluarga tersebut, sehingga KDRT bak fenomena gunung es, yang hanya sedikit terlihat pada permukaan saja,” ujar Trias Anita dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sleman saat menjadi pembicara pada pertemuan rutin PKK Kalurahan Donoharjo di Aula Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sabtu (22/10/2022).

Trias mengungkapkan, karena berkaitan dengan ranah privasi, banyak kasus KDRT yang tidak dilaporkan. “Alasannya pun beragam, seperti masih bergantung secara ekonomi, kekhawatiran terhadap status perkawinan, masih berharap pelaku bisa berubah, teror jika korban berani melapor ataupun perasaan malu dan tidak ingin mengungkapkan hal tersebut dan menganggapnya pengalaman itu sebagai aib yang harus ditutupi keberadaannya,” ungkap Trias.

Ada beberapa jenis KDRT yang terjadi di masyarakat, diantaranya kekerasan fisik, psikis, seksual ekonomi  maupun sosial. “Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit parahnya lagi bisa membuat nyawa korban terancam bahkan sampai meninggal dunia,” terang Trias.

Pun, kekerasan fisik mengakibatkan seseorang merasa takut, trauma, depresi, hilangnya rasa percaya diri dan merasa tidak  berdaya. “Mengucapkan kata kasar, menghina, mengancam, atau memaksa termasuk kekerasan psikis yang korbannya bisa mengalami gangguan kejiwaan,” imbuh Trias lagi.

Jenis lain dari KDRT adalah menelantarkan keluarga, melarang korban untuk bekerja tanpa alasan yang jelas, dan melarang korban untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Kabanyakan korban KDRT, lanjut Trias, tidak berani melaporkan kasus kekerasan, padahal semakin lama akan semakin membahayakan korban.

“Umumnya kekerasan dalam rumah tangga selalu terjadi dalam pola  berulang. Pelaku mengancam melakukan kekerasan, bahkan setelahnya pelaku tidak segan meminta maaf dan berjanji berubah,” ungkapnya.

“Akan tetapi kejadian KDRT tersebut kembali berulang seperti halnya sebuah siklus. Semakin lama bertahan dalam hubungan yang tidak sehat maka akan makin parah dampak fisik dan mental korban,” imbuh Trias.

Anita menambahkan, sebenarnya ada banyak hal yang bisa dilakukan bila seseorang menjadi korban KDRT. Seperti minta pertolongan orang terdekat misalnya tetangga, keluarga atau teman.

“Berpikirlah untuk melawan jangan menyalahkan diri sendiri. Simpan barang bukti, kemudian melapor ke pihak kepolisian atau lembaga layanan atau lembaga bantuan hukum terdekat untuk melindungi korban dan membantu menyelesaikan kasus KDRT,” ungkap Trias.

Trias mengatakan bahwa bagi korban KDRT, ada beberapa tempat di mana mereka bisa meminta pertolongan, diantaranya Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang berada di 34 provinsi seluruh Indonesia atau melapor ke kepolisian terdekat maupan melapor ke unit perlindungan perempuan dan anak seperti PKBI Sleman. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Wapres Makruf: Hari Santri, Bukti Pengakuan Negara Atas Kiprah Santri

Sleman – Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui LP2M menggelar Apel Akbar Nasional Hari Santri 2022 yang dipusatkan di Pondok Pesantren Muhammadiyah Boarding School, Prambanan, Sleman Yogyakarta, pada Senin (24/10/2022). Wakil Presiden RI, KH. Makruf Amin hadir menjadi pembina apel dan memberikan amanat dalam gelaran acara tersebut.

Acara diawali dengan penampilan dari para santri MBS. Ragam penampilan baik tari dan kesenian lainnya dipertunjukkan dalam apel akbar tersebut.

Dalam kesempatan itu, Wakil Presiden Maruf Amin memaparkan tiga poin peran santri dalam merebut kemerdekaan dan membangun negeri. Mantan Ketua MUI itu mengatakan bahwa peran serta kiprah santri sangat diakui oleh negara. Salah satu bentuk pengakuan atas kiprah santri yang dilakukan bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka adalah adanya Peringatan Hari Santri.

“Alhamdulillah memang peran santri di Indonesia ini diakui oleh Negara, yaitu dengan ditetapkannya Hari Santri. Santri terus berkiprah, bahkan sejak sebelum kemerdekaan,” kata Makruf.

Wapres menuturkan, peran santri tidak hanya sampai mengusir penjajah dari bumi Indonesia, tetapi santri juga terlibat dalam menyusun konstitusi negara.

“Santri terus berkiprah hingga hari ini dalam mengisi kemerdekaan Indonesia dan mengisi pembangunan menuju Indonesia maju,” ungkap Makruf.

Menurutnya, terdapat tiga doktrin yang dipegang teguh oleh santri sehingga dapat terus berperan dalam sejarah bangsa Indonesia.

Pertama, hubbul wathan minal iman, Cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Karena doktrin tersebut, santri siap melakukan apa saja untuk membela, memperjuangkan, mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Ini karena hubbul wathan minal iman terus ditanamkan. Itu saya kira yang membuat santri siap bahkan mengorbankan nyawanya untuk bangsa dan negara,” ujar Makruf.

Kedua, masih menurut Makruf, adalah hifdzul mitsaq atau menjaga kesepakatan. Terbentuknya NKRI dan Pancasila adalah merupakan kesepakatan yang disebut kesepakatan nasional.

“Kalau santri mengatakan NKRI harga mati, itu artinya memegang teguh kesepakatan nasional. Karena itu kita menolak segala bentuk ideologi lain, bentuk negara yang lain, karena apa, karena itu menyalahi kesepakatan,” ujarnya.

Ketiga, semangat memakmurkan bumi. Ini adalah perintah Allah. Terutama oleh karena jabatan manusia sebagai khalifah fil ardh. Untuk mengemban tugas itu butuh ilmu pengetahuan. “Maka, santri harus dan wajib semangat menuntut ilmu,” tambah Makruf.

Pada peringatan kali ini juga dilaunching peluncuran Buku Panduan Budaya Pesantren Muhammadiyah dan Best Practice Pesantren Muhammadiyah oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Busyro Muqoddas.

Selain itu ada juga pemberian penghargaan kepada tujuh pesantren berprestasi tingkat nasional dan internasional oleh LP2M, diantaranya, Pesantren Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, Pesantren Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta, Pesantren MBS Muhammadiyah Prambanan Yogyakarta, Pesantren Sains TrenSains Muhammadiyah Sragen, Pesantren Al Mujahidin Gunungkidul, Pesantren Imam Syuhodo Sukoharjo, dan Pesantren Ibnu Juraimi Yogyakarta. (Arief Hartanto)