Marak Kasus Gagal Ginjal Akut pada Anak, Dinas Kesehatan Sleman Buka Suara

Sleman – Menyikapi banyaknya kasus penyakit Gagal Ginjal Akut pada anak, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman turut buka suara. Ditemui di Pendhapa Parasamya Sleman pada Jumat (21/10/2022), Cahya Purnama selaku Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Sleman tidak menutup kemungkinan bahwa Gagal Ginjal Akut ini akan berpotensi menjadi salah satu Kasus Luar Biasa (KLB). Namun, KLB disini berbeda dengan Covid-19 karena Gagal Ginjal Akut merupakan penyakit yang tidak menular. Meski tidak sebesar Covid-19, namun penyakit ini harus tetap diwaspadai.

Di Sleman sendiri terdapat 3 kasus Gagal Ginjal Akut pada anak. 1 pasien berhasil sembuh sementara 2 lainnya meninggal dunia. Menyikapi peningkatan kasus tersebut, Cahya meyakini bahwa fasilitas kesehatan di kabupaten Sleman dirasa cukup untuk menangani kasus Gagal ginjal akut apabila kedepannya terus terjadi peningkatan.

Cahya menjelaskan, terjadinya Gagal Ginjal Akut pada anak ini bukan disebabkan oleh komponen atau parasetamol yang terkandung dalam obat obatan. Namun ada di dalam zat pelarut yang mengandung Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG). Meski demikian, Dietilen Glikol dan Etilen Glikol hanya merupakan salah satu dari banyaknya kemungkinan.

“Belum tentu masyarakat yang mengkonsumsi zat tersebut akan positif terkena Gagal Ginjal Akut. Untuk penyebab pastinya masih dilakukan investigasi lebih lanjut oleh pihak terkait. Untuk itu, masyarakat saat ini diminta untuk tidak melakukan self-medicating dengan menggunakan obat sirup,” ungkap Cahya.

Dinkes Sleman mengimbau masyarakat untuk tidak menggunakan obat obatan dalam bentuk cair sampai investigasi terkait gagal ginjal akut pada anak selesai. Sebagai gantinya, obat cair yg biasa digunakan anak anak akan diganti dengan puyer atau jenis obat lainnya. “Apabila ada anak yang menggunakan obat cair secara rutin, dimohon untuk berkonsultasi pada dokter anak untuk mengetahui langkah lebih lanjut. Apakah harus mengganti obat tersebut dengan puyer atau tetap lanjut dengan obat cair,” lanjut Cahya.

Selain obat sirup, Yuli Kristyanto selaku Dokter Spesialis Anak RSUD Sleman turut mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menggunakan obat alternatif dan obat herbal yang tidak diketahui kandungannya secara detail.

“Banyak obat yang beredar bebas di masyarakat yang sebenarnya tidak diketahui kandungannya secara detail. Itu justru berpotensi lebih besar bahayanya karena kita tidak tahu kandungannya apa. Hal ini justru menjadi momentum kita untuk sangat berhati hati dalam menggunakan obat obatan,” ujar Yuli.

Pada kesempatan tersebut, Yuli juga mengingatkan para orang tua untuk tidak terpengaruh dan panik dengan pemberitaan media yang simpang siur. Apabila terjadi penurunan urin pada anak, mohon konsultasikan terlebih dahulu pada dokter terkait.

Selain itu, masyarakat juga ditekankan untuk senantiasa menjaga kebersihan lingkungan dan makanan terutama di musim penghujan ini. “Penyakit bisa dicegah dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat pada masyarakat,” tutup Yuli. (Rep Adis)




Dukung Kemandirian Pangan, Bupati Sleman Ajak Masyarakat Kembangkan Pangan Lokal

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman selenggarakan peringatan Hari Pangan Sedunia tingkat Kabupaten Sleman bertempat di wilayah Sumberarum, Kapanewon Moyudan, Kamis (20/10). Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo hadir dalam kegiatan peringatan tersebut.

Kepala DP3 Sleman, Suparmono menjelaskan bahwa penyelenggaraan peringatan Hari Pangan Sedunia tingkat Kabupaten Sleman tahun 2022 ini berlangsung di lingkungan masyarakat.

“Selama ini, penyelenggaraan Hari Pangan Sedunia selalu diadakan di wilayah Perkantoran Pemerintahan. Kali ini kita berkomitmen untuk menyelenggarakannya di masyarakat. Jadi kami yang turun ke masyarakat bukan masyarakat yang datang ke kami,” jelasnya.

Kegiatan peringatan hari pangan ini melibatkan puluhan Kelompok Wanita Tani ( KWT) dan gapoktan yang berada di wilayah Kabupaten Sleman untuk memamerkan potensi dan memasarkan produk olahan pertaniannya.

Sementara itu, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan momentum untuk meningkatkan kesadaran dan perhatian para pemangku kepentingan dan seluruh masyarakat akan pentingnya masalah pangan.

“Melalui peringatan hari pangan sedunia ini kita berupaya untuk mendorong sekaligus memotivasi seluruh masyarakat Sleman, terutama kelompok wanita tani, kelompok tani dan gapoktan dalam pemanfaatan pekarangan untuk menanam tanaman pangan atau hortikultura cepat panen bagi pemenuhan kebutuhan sendiri,” katanya.

Kustini menyebut, pada peringatan Hari Pangan Sedunia di Kabupaten Sleman kali ini bertajuk Pengembangan Pangan Lokal Menuju Kemandirian Pangan. Tema tersebut menurut Kustini tidak hanya sekedar tajuk, tetapi juga sebagai ajakan untuk peduli akan ketersediaan pangan.

“Tema tersebut (Pengembanban Pangan Lokal Menuju Kemandirian Pangan)  juga bermakna seruan akan solidaritas kita bersama untuk mengubah sistem pertanian dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif, mengatasi kesenjangan, meningkatkan ketahanan, serta mencapai pembangunan berkelanjutan,” jelas Kustini.

Pada kesempatan tersebut Kustini juga dorong masyarakat untuk memanfaatkan pekarangannya sebagai lumbung pangan mereka dengan menanam sayuran, buah-buahan, untuk ternak, untuk ikan dan lain sebagainya. “Mari kita nandur apa yang dipangan,” tambahnya.

Sejumlah penghargaan dan bantuan juga diserahkan dalam kegiatan tersebut. Diantaranya penyerahan sertifikat PSAT-PDUK sebanyak 13 sertifikat label putih untuk 4 pelaku usaha dan 7 sertifikat label hijau untuk 1 pelaku usaha. Dijelaskan oleh Suparmono bahwa Sleman merupakan satu satunya di Indonesia yang menerbitkan sertifikat label hijau.

Adapun penyerahan lainnya yaitu penyerahan penghargaan evaluasi kelembagaan petani, penyerahan bantuan kendaraan roda tiga, penyerahan bantuan alsintan, penyerahan bantuan bibit, pembagian buah/sayur untuk 200 warga, serta penandatanganan prasati IATD bidang peternakan dan bidang hortibun oleh Bupati Sleman.

Acara peringatan hari pangan ditutup dengan panen lele oleh Bupati Sleman hasil budidaya Gapoktan.




Restorasi Sosial Berbasis Budaya Jawa untuk Wujudkan Kesejahteraan Sosial

Sleman – Dalam rangka menumbuhkan kembali nilai-nilai luhur jati diri kepribadian bangsa yang terdiri dari solidaritas sosial, kesetiakawanan sosial, jiwa gotong royong, kebhinekaan, dan toleransi antar sesama, Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar acara Penguatan Nilai-nilai Kesetiakawanan sosial melalui Restorasi Sosial Berbasis Budaya Jawa Mewujudkan Kesejahteraan Sosial bersama Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) dan  Tokoh masyarakat, Kamis (20/10/2022). Acara yang digelar di Aula Kalurahan Sumberrejo, Kapanewon Tempel, Sleman ini merupakan kegiatan yang ke-49 kalinya digelar oleh Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sadar Narima, Anggota DPRD Sleman Fraksi PAN yang menjadi narasumber dalam kesempatan tersebut menggarisbawahi mengenai pentingnya posisi budaya sebagai dasar dalam penyelenggaraan hukum dan pemerintahan di DIY, sesuai dengan Perda Istimewa DIY 3 tahun 2017.

“Dengan Perdais ini diharapkan bisa menjadi perekat, budaya guyup rukun terutama untuk generasi muda bisa menjadi berdaya,” terangnya.

Perdais ini, lanjut Sadar, bisa menjadi bagian dalam membangun semangat kekeluargaan secara mandiri.  “Kegiatan Perdais tidak hanya bersifat budaya semata namun juga bisa diakses untuk kegiatan lain yang digunakan untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat DIY,” tambah Sadar.

Sementara Prof. Suwarno Djiwo Nagoro, dari UNY yang juga bertindak sebagai narasumber membahas mengenai bagaimana budaya jawa dapat dikaitkan dengan restorasi sebuah nilai. Ia mengatakan Budaya Jawa sangat kental dengan nuansa Islam, dilihat dari penggunaan simbolnya. Semuanya dapat ditelusuri dari masa Mataram Islam dimana salah satunya ada dalam sosok Panembahan Senopati sebagai sosok yang  sangat keras berusaha mengurangi hawa dan nafsu dengan memaksa diri menjalai laku prihatin, siang dan malam, berbuat kebijakan agar rakyatnya hidup nyaman tanpa rasa takut. 

“Nilai-nilai baik itu sepertinya sekarang tergerus oleh modernitas, padahal jika orang Jawa kehilangan akarnya, maka akan menjadi sosok yang tidak punya pondasi  yang kokoh dalam menghadapi jaman, itulah perlunya menggali kembali nilai-nilai tersebut atau dikenal dengan istilah restorasi,” ujar Suwarno.

Konsep Restorasi Sosial dikatakan Suwarno muncul karena suatu kelompok mengakui bahwa posisi kehidupan sosialnya sedang mengalami degradasi. “Dengan demikian kita akan mendapatkan pijakan untuk melakukan perbaikan,” terangnya.

Restorasi Sosial menurut Suwarno memiliki semangat untuk memperbaiki kondisi sebuah bangsa yang mengalami degradasi, baik itu degradasi sosial, moral, dan kultural. Degradasi nilai sosial adalah penurunan terhadap sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat, degradasi moral berarti penurunan budi pekerti, sedangkan degradasi kultural adalah penurunan nilai-nilai kultural dalam suatu kelompok masyarakat.

“Degradasi yang dialami bangsa ini tidak terlepas dari pengaruh globalisasi dan modernisasi yang melanda hampir seluruh negara di dunia,” paparnya.

Pada satu sisi, moderenisasi tersebyt membawa perubahan positif pada sistem kehidupan manusia, baik aspek ekonomi, kesehatan, pendidikan, politik, maupun pola kehidupan sosial budaya, Namun di sisi lain juga membawa perubahan negatif pada sistem interaksi sosial bangsa ini.

“Hal ini ditandai dengan makin menurunnya rasa solidaritas sosial, kepedulian sosial, dan makin memudarnya rasa kesetiakawanan sosial,” tuturnya lagi.

Restorasi Sosial, lanjutnya, memiliki nilai-nilai yang terkandung di dalam jiwa dan semangat Bangsa Indonesia. Beberapa nilai tersebut yaitu nilai-nilai kepahlawanan, seperti saling menolong dengan ikhlas, berani membela kebenaran dan keadilan, rela berkorban, dan bertindak terpuji dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu ada juga nilai-nilai Keperintisan, seperti menjadi suri teladan, mau melakukan inovasi-inovasi, dan pantang menyerah. Terakhir, nilai-nilai Kesetiakawanan Sosial, seperti peduli, mau berbagi, toleransi, gotong royong, dan tanpa pamrih. (Arief Hartanto)




Mudahkan Pelayanan Kependudukan, Ngaglik Luncurkan Layanan Koper Paman

Sleman – Perubahan status kependudukan dari masyarakat perlu dilaporkan kepada instansi terkait, agar data yang dimiliki dapat diperbaharui. Namun, kenyataan di lapangan berbeda, di mana masyarakat banyak yang alpa untuk melaporkan perubahan status kependudukannya, misalnya perkawinan, sehingga data diri mereka tidak diperbaharui.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemerintah Kapanewon Ngaglik meluncurkan pelayanan Koper Paman, yaitu Kado Perkawinan Pertama Masyarakat Ngaglik di Pendopo Kapanewon Ngaglik, Kamis (20/10/2022).

“Perubahan status e-KTP sangat penting berkaitkan dengan timbulnya hak kewajiban baru. Inovasi Koper Aman merupakan upaya mendekatkan layanan update bagi warga Ngaglik yang mengalami perubahan status perkawinan,” ungkap Panewu Ngaglik, Agung Endarto.

Tim inovasi Koper aman terdiri dari Panewu, Panewu Anom, Kepala KUA, Kepala Jawatan umum, Kepala Jawatan Praja, Kepala Jawatan Sosial,  Kasubag Keamanan, Kasubag Kepegawaian, Kasubag Perencanaan, Lurah dan Dukuh se-Kapanewon Ngaglik serta staf yang ditunjuk.

Agung menambahkan bahwa inovasi Koper Paman ditujukan untuk mendukung gerakan Indonesia sadar Adminduk. Sementara sasaran inovasi adalah warga masyarakat Kapanewon Ngaglik yang melaksanakan perkawinan pertama dengan sesama warga masyarakat Ngaglik.

“Untuk pengantin dari luar Ngaglik harus melakukan pindah penduduk Ngaglik terlebih dahulu,” imbuhnya.

Agung mengharapkan, Koper Aman ini dapat menciptakan tertib administrasi menuju masyarakat bahagia sejahtera.

“Mohon dukungan dan bantuan bapak ibu dukuh, untuk sampaikan ke warga yang akan melakukan pernikahan sesama warga Ngaglik agar saat buku nikah disampaikan, status di Kartu Keluarga dan KTP sudah berubah,” pesan Agung lagi.

Senada dengan Agung, Herawati dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Sleman menyampaikan bahwa untuk mendekatkan pelayanan, Dinas Dukcapil bekerjasama dengan Kalurahan telah membentuk pos pelayanan kependudukan untuk melayani akte kelahiran, akte kematian dan sinkronisasi data kependudukan.

“Karena data penduduk dalam pelayanan publik sering NIK tidak sinkron. Untuk mendekatkan pelayanan, maka dukcapil membuka pelayanan di Kalurahan,” ujar Herawati.

Untuk menjalakan pos adminduk tersebut, Herawati menyebutkan bahwa yang harus dipersiapkan oleh Kalurahan adalah penyediaan tempat,  mengajukan surat permohonan pos pelayanan kependudukan ke Catatan Sipil, menyiapkan anggarannya, menyiapkan  sarana prasarananya, serta menunjuk petugas pelayanan dokumen kependudukan. (Endarwati/KIM Donoharjo Ngaglik)




Meriahkan Hari Santri, 22 Pesantren di Kabupaten Sleman Ikuti Festival Hadroh Santri

Sleman – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional Tahun 2022, sebanyak 22 pesantren dari Kabupaten Sleman mengikuti Festival Hadroh Santri di Gedung Kesenian Kabupaten Sleman pada Kamis (20/10/2022). Festival hadroh ini merupakan salah satu kegiatan dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2022, dengan mengangkat tema “Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan”.

Mustadi, Ketua Umum Peringatan Hari Santri Sleman, sekaligus Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah menyampaikan bahwa hadroh memiliki arti penting bagi umat islam.

“Kita tidak bisa melupakan sejarah musik hadroh yang ada sebelum Nabi Muhammad di Arab. Kemudian di Indonesia juga sebelum kemerdekaan pun sudah dibawa oleh para Habaib dalam rangka mensyiarkan Islam. Lantunan sholawat yang diiringi dengan musik hadroh itulah yang harus kita ingat-ingat, dan tentunya bagaimana kita selalu mendengungkan sholawat Nabi kepada Rasulullah kita. Inilah nilai yang harus kita ingat-ingat terus, sehingga dalam rangka peringatan hari santri ini tentunya kita semua ingin menguatkan ruhnya, bahwa kita selaku umat Beliau selalu mengagungkan nama Beliau dan mengagungkan sholawat-sholawat Nabi,” ujar Mustadi.

Sehingga ia mengapresiasi partisipasi santriwan dan santriwati yang hadir memeriahkan festival hadroh ini.

“Kami atas nama panitia penyelenggara merasa bangga, bahagia, dan memberikan apresiasi kepada pondok pesantren yang hadir pada kesempatan hari ini sudah dapat hadir. Pondok pesantren memberikan peran dalam bermasyarakat dan berbangsa. Kami ucapkan terima kasih atas semangatnya hari ini dengan berbagai seragam dari santriwan santriwati,” ungkap Mustadi.

Mustadi berharap agar kedepannya pondok pesantren dapat semakin meningkatkan perannya, menguatkan kerja sama dengan Kementerian Agama, agar para santriwan dan santriwati dapat menjadi penerus para pejuang, para ulama, dan para kyai dalam menguatkan nilai-nilai agama Islam dalam kehidupan. (Rep Nesya)