Manfaatkan Sistem Drive Thru, Uji Kendaraan di Sleman Sekarang Hanya 30 Menit

Sleman – Dinas Perhubungan Kabupaten Sleman luncurkan layanan pengujian kendaraan secara drive thru 30. Layanan tersebut diresmikan langsung oleh Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo, pada Senin (21/11/2022) di Kantor Dinas Perhubungan Sleman.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Sleman Arip Pramana melaporkan, layanan pengujian kendaraan secara drive thru 30 merupakan inovasi untuk memberikan layanan yang lebih mudah, cepat, dan transparan. Dengan mengusung slogan Santun atau pemeriksaan tanpa mudhun, nantinya masyarakat tidak perlu turun dari kendaraan untuk mendapatkan layanan pemeriksanaan kendaraan.

“Pengguna tinggal mendaftar melalui aplikasi Sikresno, dan mendapat id billing. Kemudian bisa bayar secara online. Nantinya akan mendapatkan nomor antrian yang disampaikan melalui telepon genggam. Sehingga layanan ini tidak membuat tumpukan antrian di lokasi,” jelas Arip.

Dilanjutkan Arip, dengan mengusung konsep Drive Thru 30, ditargetkan layanan dapat diselesaikan selama 30 menit. Dengan begitu, masyarakat bisa mendapatkan pelayanan sesuai jadwal yang sudah ditentukan.

Sementara itu, Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo menyampaikan peluncuran layanan ini juga menjadi upaya untuk menemukan solusi atas keterbatasan lahan parkir di Dinas Perhubungan Kabupaten Sleman saat masyarakat akan melakukan uji berkala kendaraannya. Di samping itu, diharapkan layanan pemerikasaan kendaraan juga lebih disiplin dan membuat masyarakat lebih nyaman.

“Dengan slogan Santun yang sudah disampaikan tadi, sekaligus menjadi penyemangat bagi aparat pemeriksan uji kendaraan yang mengandung harapan Sopan, Akuntabel dan akurat, Netral, Transparan dan Tepat waktu, Unggul, Nyaman,” kata Kustini.

Bupati turut berharap, agar program pelayanan ujian berkala kendaraan bermotor drive thru 30 ini dapat terus berjalan dan semakin memberikan kemudahan kepada masyarakat.

Usai meresmikan dengan pemotongan buntalan bunga, Bupati dengan Didampingi Kepala Dinas Perhubungan sekaligus meninjau proses layanan ujian berkala kendaraan drive thru 30 menit. Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga meninjau langsung sistem yang digunakan dalam layanan drive thru 30.




Belajar Mengembangkan Desa Wisata dari Desa Brayut

Sleman – Salah satu nilai jual dari sebuah desa wisata adalah mindset dan perilaku masyarakatnya. Hal tersebut karena setiap pengunjung desa wisata, harus mendapatkan kesan mengapa sebuah desa tersebut terasa istimewa, sehingga layak menjadi desa wisata.

Hal tersebut yang melatarbelakangi Al Sudarmadi dalam mengembangakan Desa Wisata Brayut yang berada di Kalurahan Pandowoharjo, Kabupaten Sleman.

“Desa Wisata Brayut sendiri merupakan desa wisata berbasis budaya, pertanian dan cerita sejarah yang mengajak para wisatawan untuk mengikuti ritme hidup masyarakat setempat dalam kegiatan kearifan lokal seperti kegiatan pertanian dan budaya,” ujar Al Sudarmadi saat ditemui di sela pelaksanaan Upacara Adat Peringatan HUT Kalurahan Pandowoharjo, Minggu (20/11/2022) di Taman Pandawa, Pandowoharjo.

Ia menuturkan, ada banyak kegiatan berbasis budaya yang digelar di desa yang telah diresmikan sejak 14 Agustus 1999 tersebut. “Kegiatan yang disajikan meliputi karawitan, Seni tari, pertanian, pertanian, tangkap ikan, membatik, kerajinan janur, jelajah desa, permainan tradisional, memasak makanan tradisional,” terangnya.

Selain itu, para wisatawan juga dapat memanfaatkan fasilitas penginapan berupa homestay yang saat ini berjumlah 22.

“Ada juga fasilitas joglo untuk kegiatan yang berjumlah 4, yaitu Joglo Matorejo, JogloKartowiyogo kantor Kalurahan Brayut yang ke dua, Joglo Sastro Sumarjo mantan dukuh yang dulu menjabat 32 tahun serta Joglo Yohanes punya pasturan,” imbuhnya.

Hal yang paling membanggakan bagi Al Sumardi dalam mengelola Desa Wisata Brayut adalah penyerapan sumber daya manusianya, terutama bagi anak muda.

“Anak-anak muda semangat belajar untuk mengembangkan desanya sehingga tidak lagi berpikir untuk mencari pekerjaan di luar wilayah, meskipun tetap dilakukan dengan mengerjakan pekerjaan yang lain,” ungkap pria yang biasa disapa Momo ini.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa sejak dibuka, Desa Wisata Brayut ini berhasil menarik minat wisatawan untuk berkunjung.  Bahkan pada tahun 2019 pemasukan dari kegiatan Desa Wisata Brayut mencapai Rp ,-. Jumlah tersebut diluar penghasilan dari kerja sama dengan pihak lain seperti biro jasa, toko oleh-oleh dan lain-lain.

 “Jumlah tersebut seluruhnya hanya berputar di wilayah Desa Wisata yang terdiri dari 509 jiwa, 150 KK dengan luas wilayah, 4,5 ha, luas lahan pertanian 30 ha yang menghasilkan padi ton,” ungkap Al Sudarmadi.

“Dampak dari banyaknya wisatawan tersebut juga memberi manfaat yang bersifat ekonomis bagi banyak lapisan masyarakat baik petani, pegiat seni, pemilik homestay hingga ada istilah panen tamu dulu sebelum panen padi,” imbuhnya lagi.

Untuk memperoleh hasil seperti itu, Al Sudarmadi mengakui bahwa banyak langkah promosi yang dilakukan oleh pihaknya. Beberapa diantaranya adalah promosi di media cetak seperti majalah, kolaborasi dengan stakeholder seperti restoran, biro perjalanan, pemerintah, serta media sosial.

Atas promosi yang dilakukan tersebut, Desa Wisata Brayut berhasil menarik minat wisatawan, baik dalam maupun di luar Pulau Jawa, bahkan ada yang berasal dari luar negeri seperti Rusia dan Belgia.

Selain itu, Desa Wisata Brayut juga telah ditetapkan sebagai Kampung Tangguh Nusantara juga dikembangkan menjadi lokasi shooting serta studio alam.

“Desa wisata Brayut juga digunakan untuk shooting Miss universe internasional pada Iklan dengan sutradara dari Jepang, di mana orang Jepang sangat ketat seleksi dan konsennya pada masalah lingkungan,” terang Al Sudarmadi.

Prestasi lainnya adalah Desa wisata Brayut juga mendapat kehormatan untuk mendapatkan polisi pariwisata Kabupaten Sleman yaitu polisi dalam rangka pengamanan objek vital. “Bagi tamu yang menginap berulang  hingga 23 kali akan mendapatkan city tour yang dikawal secara free,” tutur Al Sudarmadi.

Mengembangkan sebuah desa wisata diakui Al Sudarmadi tidak lepas dari tantangan yang dihadapi. Tantangannya selain mempertahankan prestasi dan masalah regenerasi juga bagaimana mengajak masyarakat untuk melakukan managemen promosi, membangun paradigma baru tetapi tidak meninggalkan masalah  lingkungan, keluarga,  sampah dan  ekosistem dengan cara  naikkan kualitas pelayanan, memperpanjang masa tinggal serta Item kegiatan yang diperbanyak.

“Kendala yang dihadapi adalah setelah dikenal internasional justru banyak orang luar Sleman ingin beli tanah di Brayut. Padahal jika dipegang oleh investor maka kearifan lokal yang akan terancam. Untuk itu perlu kerja keras untuk menyadarkan masyarakat dan mengajak kembali pada kearifan lokal,” tutup Al Sudarmadi (Endarwati/KIM Donoharjo Ngaglik)




Pentingnya Menyamakan Visi untuk Mengembangkan FKIM

Sleman – Salah satu hal penting dalam sebuah lembaga, instansi, organisasi, maupun perusahaan adalah adanya sebuah visi, yaitu cita-cita atau nilai inti. Bisa dikatakan bahwa visi adalah tujuan masa depan suatu organisasi atau lembaga. Visi sangat menentukan arah , artinya akan dibawa kemana organisasi yang bersangkutan di masa depan.

Hal tersebut yang ditekankan oleh Sadhono Hadi, salah satu pegiat KIM Sleman saat menjadi narasumber dalam Workshop Visioning dengan Metode Technology of Participation pada Rapat Koordinasi Forum Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Sembada Kabupaten Sleman di Java Village Resort, Pandowoharjo, Sleman, Sabtu (19/11/2022).

Pada kesempatan tersebut, Sadhono mengajak seluruh anggota FKIM untuk dapat menyamakan visi untuk perkembangan FKIM Sembada di masa depan. Misalnya, dalam 3 tahun ke depan, artikel dari KIM Sembada Sleman dapat termuat di surat kabar harian ternama di Yogyakarta.

“Artikel tersebut menggambarkan cita cita atau tujuan KIM di masa mendatang” kata Sadhono Hadi yang juga seorang Doktor di bidang Politik Islam.

Dari tujuan tersebut peserta  diajak berdiskusi dalam kelompok kerja dan menentukan masalah apa yang dihadapi organisasi secara umum kemudian melakukan identifikasi dan klasifikasi masalah ke dalam berbagai sektor diantaranya infrastruktur, organisasi, sosialisasi, kapasitas sumber daya manusia,  support dari instansi terkait, pendanaan, dan  program kerja. Setelah menemukan permasalahan, kemudian peserta diajak untuk menemukan jalan keluar terbaik.

Beberapa langkah yang diambil adalah pada sektor infrastruktur akan melakukan koordinasi secara intens dengan Dinas Kominfo Sleman untuk mengusahakan pengadaan ruang sekretariat  KIM tingkat kapanewon. Di bidang organisasi dengan membuat program kerja yang jelas, membentuk seksi-seksi sesuai yg dibutuhkan dan bekerja sesuai tupoksi yang ditentukan dalam AD ART organisasi.

Di sektor sosialisasi dengan melibatkan diri melakukan peliputan  berita pada event di kapanewon atau kalurahan, membuat kartu identitas KIM Sembada yang seragam  baik di tingkat kabupaten,  kapanewon maupun kalurahan.

Sedangkan di sektor supporting  dan pendanaan dengan memasukkan kagiatan KIM pada RAB kalurahan, memperkuat hubungan  lintas sektoral termasuk kepada anggota Dewan, adanya koperasi, simpan pinjam, dan mengusahakan  dana dari sumber yang lain untuk menunjang kegiatan KIM.

Sektor Peningkatan kualitas Sumberdaya manusia dengan mengadakan pelatihan atau bimbingan teknis penulisan bagi para kontributor sehingga akan mencul bibit baru dengan jangkauan wilayah di setiap kapanewon atau kalurahan.

Setelah menemukan solusi kemudian dirumuskan action plan atau rencana tindak lanjut sekaligus target waktunya.

Di akhir workshop, Sadhono Hadi mengapresiasi antusiasme anggota KIM dalam menggali masalah, merumuskan solusi, sekaligus merencanakan tindak lanjut bagi kemajuan organisasi.

“Saya harap anggota KIM senantiasa kompak dan bersemangat  untuk menggerakkan dan memajukan organisasi sesuai visi misi yang telah ditetapkan dalam AD/ART organisasi,” (Upik Wahyuni /KIM Donoharjo)




Takmir Masjid Juga Harus Ikut Dalam Program BPJS Ketenangakerjaan

Sleman – Dewan Masjid Indonesia (DMI) Cabang Kapanewon Ngaglik bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan Kabupaten Sleman menggelar Sosialisasi Pentingnya BPJS Ketenangakerjaan bagi para takmir masjid di Kapanewon Ngaglik, bertempat di Masjid Besar Baiturrahman Klidon, Ngaglik Sleman, Minggu (20/11/2022).

Ketua Takmir Masjid Baiturrahman, Totok Suparwoto menuturkan bahwa sosialisasi ini diikuti oleh 70 Takmir Masjid se-Kapanewon Ngaglik. Dirinya berharap, dengan adanya sosialisasi ini, seluruh takmir masjid yang ada di Kapanewon Ngaglik dapat terdaftar di BPJS Ketenangakerjaan.

“Semoga pertemuan ini banyak manfaat utamanya para takmir yang nantinya bisa mendapatkan jaminan dari BPJS Ketenagakerjaan Kabupaten Sleman,” ungkap Totok.

Sementara itu, Suripto, Wakil Ketua DMI Ngaglik mengatakan bahwa sosialisasi ini merupakan program DMI hasil kerja sama dengan BPJS Ketenangakerjaan.

“Ini merupakan realisasi program DMI. Kerjasama antara DMI dan BPJS Ketenagakerjaan segera direalisasikan dengan pengumpulan data awal calon penerima mafaat yaitu para takmir mssjid dan musala,” ungkap Suripto.

Sosialisasi sendiri disampaikan langsung oleh Seno Setiyo Nugroho, perwakilan BPJS Ketenagakerjaan Sleman. Dalam kesempatan tersebut, Seno memaparkan tentang apa itu program BPJS Ketenangakerjaan, dan bagaimana sistem keanggotaan dan pembayarannya.

“Prinsipnya lebih luas dan menyeluruh dan dalam iuran tujuannya adalah gotong royong  ditanggung bersama baik yang mampu membantu yang tidak mampu. Sehingga pemerintah melalui BPJS Ketenagakerjaan akan menjamin beberapa jaminan yang akan ditanggung khususnya kecelakaan kerja dan kematian dalam rangka melaksanakan pekerjaaanya,” ungkap Seno.

Salah satu yang ditekankan oleh Seno adalah Takmir Masjid diharap dapat ikut serta didata dan didaftarkan dalam BPJS Ketenagakerjaan.

Sebagai acara pamungkas Sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan Kabupaten Sleman yang disampaikan Seno Setiyo Nugroho sebagai Wakil dari BPJS Ketenagakerjaan Kabupaten Sleman.

“Karena Pemerintah memandang bahwa Marbot,Imam dan Muazin masjid dan musala itu harus dijamin karena para relawan masjid ini bekerja untuk kemakmuran masjid, maka penerintah membantu mengupayakan Marbot dan Imam masjid untuk mendapatkan layanan BPJS Ketenagakerjaan . Untuk itu pertemuan ini sosialisasi sekaligus Pendataan Calon Penerima Kartu BPJS Ketenagakerjaan bagi Marbot dan Imam atau Muadzin,” ungkap Seno. (Suripto/KIM Ngaglik)




Pemkab Sleman Kenalkan Pahlawan Pada Anak Lewat Lomba Mewarnai

Sleman – Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2022, Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Sosial Kabupaten Sleman mengadakan lomba mewarnai tingkat TK se-Kabupaten Sleman. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu (20/11/2022) di pendopo Parasamya Kabupaten Sleman.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Eko Suhargono, menerangkan kegiatan yang baru pertama kali diadakan ini diikuti oleh sebanyak 120 anak. Kegiatan ini dimaksudkan agar anak memahami nilai perjuangan para pahlawan yang rela berkorban demi tanah air yang kita cintai bersama.

“Ini baru pertama kali diadakan, ternyata antusias orang tua banyak sekali, tapi kita batasi 120 peserta. Semoga tahun depan bisa meningkat sampai 300 peserta,” kata Eko.

Sementara itu Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengatakan sangat menyambut baik kegiatan yang digelar oleh Dinas Sosial Sleman tersebut. Melalui lomba mewarnai ini, diharapkan anak-anak dapat lebih mengenal para pahlawan yang telah berjuang demi meraih kemerdekaan Indonesia di masa lalu.

“Dengan begitu, para generasi penerus ini akan terus mengenang jasa para pahlawan, serta bisa mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang positif,” ujarnya.

Di samping itu, menurutnya lomba mewarnai ini juga dapat mendorong budaya literasi kepada anak melalui kegiatan yang menyenangkan. Sehingga diharapkan nantinya dapat menjadi generasi hebat dan berprestasi sesuai minat dan ketrampilannya masing-masing. (Humas Sleman)