Sleman – Salah satu nilai jual dari sebuah desa wisata adalah mindset dan perilaku masyarakatnya. Hal tersebut karena setiap pengunjung desa wisata, harus mendapatkan kesan mengapa sebuah desa tersebut terasa istimewa, sehingga layak menjadi desa wisata.
Hal tersebut yang melatarbelakangi Al Sudarmadi dalam mengembangakan Desa Wisata Brayut yang berada di Kalurahan Pandowoharjo, Kabupaten Sleman.
“Desa Wisata Brayut sendiri merupakan desa wisata berbasis budaya, pertanian dan cerita sejarah yang mengajak para wisatawan untuk mengikuti ritme hidup masyarakat setempat dalam kegiatan kearifan lokal seperti kegiatan pertanian dan budaya,” ujar Al Sudarmadi saat ditemui di sela pelaksanaan Upacara Adat Peringatan HUT Kalurahan Pandowoharjo, Minggu (20/11/2022) di Taman Pandawa, Pandowoharjo.
Ia menuturkan, ada banyak kegiatan berbasis budaya yang digelar di desa yang telah diresmikan sejak 14 Agustus 1999 tersebut. “Kegiatan yang disajikan meliputi karawitan, Seni tari, pertanian, pertanian, tangkap ikan, membatik, kerajinan janur, jelajah desa, permainan tradisional, memasak makanan tradisional,” terangnya.
Selain itu, para wisatawan juga dapat memanfaatkan fasilitas penginapan berupa homestay yang saat ini berjumlah 22.
“Ada juga fasilitas joglo untuk kegiatan yang berjumlah 4, yaitu Joglo Matorejo, JogloKartowiyogo kantor Kalurahan Brayut yang ke dua, Joglo Sastro Sumarjo mantan dukuh yang dulu menjabat 32 tahun serta Joglo Yohanes punya pasturan,” imbuhnya.
Hal yang paling membanggakan bagi Al Sumardi dalam mengelola Desa Wisata Brayut adalah penyerapan sumber daya manusianya, terutama bagi anak muda.
“Anak-anak muda semangat belajar untuk mengembangkan desanya sehingga tidak lagi berpikir untuk mencari pekerjaan di luar wilayah, meskipun tetap dilakukan dengan mengerjakan pekerjaan yang lain,” ungkap pria yang biasa disapa Momo ini.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa sejak dibuka, Desa Wisata Brayut ini berhasil menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Bahkan pada tahun 2019 pemasukan dari kegiatan Desa Wisata Brayut mencapai Rp ,-. Jumlah tersebut diluar penghasilan dari kerja sama dengan pihak lain seperti biro jasa, toko oleh-oleh dan lain-lain.
“Jumlah tersebut seluruhnya hanya berputar di wilayah Desa Wisata yang terdiri dari 509 jiwa, 150 KK dengan luas wilayah, 4,5 ha, luas lahan pertanian 30 ha yang menghasilkan padi ton,” ungkap Al Sudarmadi.
“Dampak dari banyaknya wisatawan tersebut juga memberi manfaat yang bersifat ekonomis bagi banyak lapisan masyarakat baik petani, pegiat seni, pemilik homestay hingga ada istilah panen tamu dulu sebelum panen padi,” imbuhnya lagi.
Untuk memperoleh hasil seperti itu, Al Sudarmadi mengakui bahwa banyak langkah promosi yang dilakukan oleh pihaknya. Beberapa diantaranya adalah promosi di media cetak seperti majalah, kolaborasi dengan stakeholder seperti restoran, biro perjalanan, pemerintah, serta media sosial.
Atas promosi yang dilakukan tersebut, Desa Wisata Brayut berhasil menarik minat wisatawan, baik dalam maupun di luar Pulau Jawa, bahkan ada yang berasal dari luar negeri seperti Rusia dan Belgia.
Selain itu, Desa Wisata Brayut juga telah ditetapkan sebagai Kampung Tangguh Nusantara juga dikembangkan menjadi lokasi shooting serta studio alam.
“Desa wisata Brayut juga digunakan untuk shooting Miss universe internasional pada Iklan dengan sutradara dari Jepang, di mana orang Jepang sangat ketat seleksi dan konsennya pada masalah lingkungan,” terang Al Sudarmadi.
Prestasi lainnya adalah Desa wisata Brayut juga mendapat kehormatan untuk mendapatkan polisi pariwisata Kabupaten Sleman yaitu polisi dalam rangka pengamanan objek vital. “Bagi tamu yang menginap berulang hingga 23 kali akan mendapatkan city tour yang dikawal secara free,” tutur Al Sudarmadi.
Mengembangkan sebuah desa wisata diakui Al Sudarmadi tidak lepas dari tantangan yang dihadapi. Tantangannya selain mempertahankan prestasi dan masalah regenerasi juga bagaimana mengajak masyarakat untuk melakukan managemen promosi, membangun paradigma baru tetapi tidak meninggalkan masalah lingkungan, keluarga, sampah dan ekosistem dengan cara naikkan kualitas pelayanan, memperpanjang masa tinggal serta Item kegiatan yang diperbanyak.
“Kendala yang dihadapi adalah setelah dikenal internasional justru banyak orang luar Sleman ingin beli tanah di Brayut. Padahal jika dipegang oleh investor maka kearifan lokal yang akan terancam. Untuk itu perlu kerja keras untuk menyadarkan masyarakat dan mengajak kembali pada kearifan lokal,” tutup Al Sudarmadi (Endarwati/KIM Donoharjo Ngaglik)