Sleman – Gerak langkah Aisyiyah terus melaju seiring dengan dinamika organisasinya. Hal ini tampak pada pembangunan Pusat Rehabilitasi Fisik Aisyiyah (PRFA) yang dibuka Selasa (15/11/2022) yang berlokasi di Dusun Gendongan, Gg. Sadewa, , Sumberagung, Moyudan.
“PRFA ini adalah wujud nyata kerjasama tri patrit antara PCM Moyudan dengan UNISA Yogyakarta dan MPKU PWM DIY yang berkomitmen bersama mengemban amanah dakwah persyarikatan khususnya melalui bidang sosial dan kesehatan,” ungkap Rektor UNISA, Prof. Warsiti.
Ia mengatakan bahwa pembukaan gedung PRFA ini adalah wujud nyata Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta dalam upaya membangun seluruh manusia Indonesia yang berdaya, mampu bersaing dan tercerahkan. “PRFA ini juga merupakan wujud aksi nyata Unisa Yogyakarta untuk masyarakat dengan kemampuan yang berbeda,” tambahnya.
Tujuan dari Pusat Rehabilitasi Fisik ‘Aisyiyah (PRFA) ini adalah mengarahkan dan memberi dukungan kepada individu/pasien disabilitas fisik, dengan pendekatan melalui perspektif sport science terkini berbasis functional rehabilitation system, tanpa kondisi medis tertentu.
Functional Rehabilitation system ini, akan berfokus kepada pemberian dan pembentukan design latihan berbasis kemampuan fungsional, yaitu kondisi di mana seluruh pasien akan disiapkan dalam desain aktivitas fungsional menuju kesiapan untuk kembali ke aktivitas olahraga (untuk athlete), aktivitas kerja dan socsal masyarakat (non-athlete), dan bukan pada kondisi individu yang membutuhkan penanganan medis khusus.
Dengan teknik latihan berbasis functional ini, maka pasien diharapkan mendapat banyak supporting system dari fasilitas dan equipment sport yang ada di PRFA ini.
“Goal nya akan mengarah kepada peningkatan kemampuan musculoskeletal system, neuromuscular system, kardiovaskular and pulmonary system. Juga akan secara penuh membantu/mengarahkan seluruh pasien untuk kembali beraktifitas, bersosialisasi dan berbaur dengan masyarakat,” ungkap Warsiti lagi.
Sesuai dengan namanya, PRFA ini berfokus kepada seluruh pasien yang mengalami masalah pada body functional system/physically challenged seperti post amputasi pada area lengan (shoulder, elbow, maupun wrist and finger), area tungkai bawah/kaki (panggul, paha, lutut, ankle, maupun finger), pada tingkatkan functional yang tinggi.
“Disisi lain, dengan adanya gedung PRFA ini, maka kita dapat mengepakkan sayap, menjalin kerjasama dan berafiliasi pada seluruh stake holders yang berfokus pada disabilitas (pemerintah maupun non pemerintah) di dalam maupun luar negeri,” ujar Warsiti.
“Bentuk kerja sama yang dapat dilakukan bisa berupa transfer knowledge concerning disabilities, penelitian, sponsorship difable equipment dan kerjasama-kerjasama lain dalam bentuk peningkatan kualitas hidup bagi para individu dengan disabilitas fisik,” tambah Warsiti.
Sementara Hj. Soimah Kastolani PWA DIY berharap PRFA ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, dan saling menguatkan antara AUMA, sehingga terjalin sinergi yang kuat dalam menyukseskan dakwah perserikatan. (Arief Hartanto)