Cegah Stunting, Kalurahan Margorejo Gelar Pelatihan dan Pembinaan Kader Kesehatan

Sleman – Kalurahan Margorejo bersama Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Kapanewon Tempel menyelenggarakan kegiatan pelatihan dan pembinaan Kader kesehatan untuk seluruh perwakilan padukuhan Se-Margorejo, Senin (26/12/2022) di Kantor Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Sleman.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kader jiwa dalam memberikan pelayanan kesehatan jiwa kepada masyarakat dengan menggunakan anggaran bersumber dari APBKal.

“Pelatihan Kader kesehatan merupakan kegiatan dalam rangka mempersiapkan kader kesehatan agar mau dan mampu berperan serta dalam mengembangkan program kesehatan di desanya,” ungkap Yoga Kuswara dari Balai KB Kapanewon Tempel.

Ia menuturkan bahwa kader kesehatan merupakan tenaga sukarela yang direkrut dari dan untuk masyarakat yang bertugas membantu kelancaran pelayanan kesehatan masyarakat.

“Dengan adanya pelatihan kader kesehatan ini diharapkan semua peserta dapat mengambil ilmunya dan mewujudkan tujuan dari kegiatan ini yaitu meningkatkan pengetahuan dalam menangani berbagai permasalahan kesehatan masyarakat di lingkungannya masing-masing,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut ia juga menjelaskan tentang beberapa program yang menjadi urgensi seperti penggunaan elsimil, yaiut aplikasi online dalam rangka pencegahan stunting bagi pasangan yang siap nikah dan hamil.

“Masalah kesehatan masyarakat dan masa depan bangsa ditentukan oleh kondisi kesehatan anak usia dini, pada saat lahir sampai kepada pola pengasuhan, asah dan asih. Hal ini menjadi penting karena masalah kesehatan masyarakat yang cukup besar,” terangnya.

“Banyak kasus mulai dari sikap, perilaku yang tidak sehat, penyakit, kurang gizi pada anak usia dini, anak usia sekolah maupun remaja, wanita usia subur dan wanita hamil,” tambahnya lagi. (Arief Hartanto)




Pentingnya Pengenalan Alat Keselamatan Bencana Sejak Dini

Sleman – Bencana alam seperti gempa bumi, banjir, angin kencang, letusan gunung berapi sering terjadi di sekitar kita. Maka dari itu sebagai orang yang tinggal di daerah rawan bencana harus mengetahui dan memahami pentingnya pengetahuan pertolongan dan penyelamatan pada saat terjadi kedaruratan. Kesiapsiagaan menghadapi bencana merupakan hal penting yang tidak boleh diabaikan

“Edukasi  menyiapkan diri baik secara fisik dan mental menghadapi bencana harus dilakukan sejak dini karena kita tidak pernah tahu kapan bencana akan terjadi,” tegas Agus Hardiyo Pancoro ketua Tim Destana Donoharjo.

Untuk itulah dilakukan upaya edukasi menghadapi bencana dilakukanTim Destana (Desa Tanggap Bencana) Donoharjo dan Rajawali Comunity dengan mengadakan pengenalan alat-alat penyelamatan kepada siswa SD Negeri Donoharjo di sela sela acara Gelar Kreasi dan Pameran Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang berlangsung di halaman SDN Donoharjo Ngaglik Sleman pada Kamis (22/12/2022).

Agus  mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut sebagai sebagai upaya untuk memberikan pengetahuan sejak dini kepada anak-anak terhadap alat yang digunakan saat  bencana terjadi. Kegiatan dikemas dengan menarik yaitu dengan pameran alat-alat keselataman dan juga flying fox menggunakan tali. 

“Kalau anak sudah tertarik maka dia akan bertanya dan mencoba mengobati rasa keingintahuannya,” Agus meyakini.

Pada kesempatan tersebut ditampilkan berbagai peralatan keselamatan yang sederhana seperti alat mitigasi bencana  angin puting beliung yang meliputi tali tambang besar, gergaji mesin, sepatu boot, pelindung kepala beserta kacamata.

“Alat ini diperlukan untuk mengantisipasi saat terjadi angin besar, terutama gergaji mesin  untuk memotong batang dan  cabang  pohon yang tumbang dan membuka akses jalan seandainya terhalangi oleh pohon tumbang. Sepatu boot, pelindung kepala dan kacamata juga sangat diperlukan untuk menjamin agar operator tetap safety,” kata Agus.

Dikenalkan juga Alat penyelamatan bencana air meliputi jaket/rompi pelampung dan tali tambang besar. “Tali harus berwarna mencolok agar terlihat oleh korban dan mempunyai daya apung yang tinggi,” kata Agus.

Ada juga vertical rescue  yaitu alat untuk penyelamatan menggunakan tali menuju ke tempat yang lebih aman dari titik yang rendah menuju titik yang tinggi maupun sebaliknya misalnya pada tempat dengan kontur tebing atau jurang. Alat ini berguna juga untuk pengiriman logistik ke lokasi bencana yang tidak mudah dijangkau baik oleh orang maupun kendaraan menggunakan  jalan darat.

Selain itu ada juga alat penyelamatan terhadap Covid-19, yaitu peralatan yang digunakan untuk mencegah dan mengendalikan infeksi virus covid, yang terdiri dari Alat Pelindung Diri (APD) meliputi baju hazmat, pelindung kepala dan kacamata, masker, topeng/pelindung wajah, hand sanitizer, desinfektan, sepatu boot karet, sarung tangan, serta desinfektan

“Perlengkapan yang digunakan harus menjamin keamanan   karena alat ini selain melindungi diri dari resiko penularan virus Covid-19 juga untuk menolong pengidap covid dan mengevakuasi korban  termasuk memakamkan jika korban sampai meninggal dunia,” lanjut Agus.  (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Peringati HUT ke-45, RSUD Sleman Gelar Operasi Bibir Sumbing Gratis

Sleman – Menyambut Hari Ulang Tahun ke-45, RSUD Sleman bekerja sama dengan Yayasan Cahaya Senyum Nusantara menyelenggarakan bakti sosial operasi bibir sumbing dan langit-langit gratis. Kegiatan ini dimulai dengan pemeriksaan awal yang sudah dilaksanakan pada tanggal 24 Desember 2022. Peserta yang diperbolehkan untuk mengikuti operasi bibir sumbing dan langit-langit  adalah peserta yang sudah lolos pemeriksaan tahap awal sejumlah 9 peserta. Operasi dilakukan di Instalasi Bedah Sentral, Lantai 2 Gedung Pelayanan Terpadu RSUD Sleman, Minggu (25/12/2022)

Wakil Direktur Pelayanan RSUD Sleman, dr. Choolis Noor Mutaslimah, mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Cahaya Senyum Nusantara dan seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam acara kegiatan bakti sosial operasi bibir sumbing dan langit-langit. Ia menambahkan, Bakti Sosial ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan memperingati Hari Ulang Tahun ke-45 RSUD Sleman dengan mengusung tema “Bagas Waras Sesarengan RSUD Sleman”.

“Dengan adanya bakti sosial operasi bibir sumbing dan langit-langit  ini diharapkan dapat membantu masyarakat yang kurang mampu dan dapat mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif serta memberikan kontribusi kesehatan nyata kepada masyarakat,” imbuhnya.

Sementara itu dr. Betty Juliastuti Soeharsono, selaku Dokter Spesialis Anestesi RSUD Sleman dan sekaligus Koordinator Bakti Sosial ini menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan sebagai salah satu bentuk nyata pengabdian masyarakat dari RSUD Sleman.

“Sebagai wujud rasa terima kasih rumah sakit karena sudah 45 tahun diperkenankan berkiprah dalam bidang kesehatan di Sleman dan sekitarnya. Sasaran kegiatan ini tidak terbatas pada warga Sleman saja tetapi siapapun bisa walaupun domisili diluar Sleman bahkan diluar DIY sekalipun, asalkan  memenuhi syarat untuk dilaksanakan operasi rekonstruksi sumbing tersebut,” ujarnya.

Adapun syarat awal peserta operasi bibir sumbing ini adalah berusia minimal 3 bulan dengan berat badan minimal 5 kg. Untuk peserta operasi langit-langit sumbing adalah berusia minimal 1 tahun dengan berat 10 kg.

Pada kegiatan kali ini, peserta bakti sosial sebagian peserta berdomisili di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Magelang.

“Karena keadaan sumbing ini masih banyak dijumpai di sekitar kita. Harapannya kegiatan ini bisa berkesinambungan dan dapat diadakan lagi pada kesempatan lain. Supaya dapat menjangkau masyarakat yang memang masih sangat membutuhkan dan mendapatkan pelayanan yang tepat. Agar anak Indonesia bisa tersenyum bahagia tanpa merasa rendah diri akan kondisi diri yang tidak dia inginkan,” tutup Betty.




Pantau Sejumlah Gereja, Bupati Sleman Pastikan Perayaan Natal Tetap Kondusif

Sleman – Menyambut Hari Raya Natal 2022, Bupati dan Wakil Bupati Sleman, beserta jajaran Forkompinda Kabupaten Sleman melakukan pantauan misa malam Natal di sejumlah Gereja di Kabupaten Sleman pada Sabtu (24/12).

Kegiatan pantauan ini dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok pantauan wilayah Sleman barat yang dipimpin oleh Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, dan kelompok wilayah Sleman timur yang dipimpin oleh Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa.

Bupati Sleman beserta rombongan melakukan pantauan di dua gereja, yaitu Gereja St. Yohanes Crystosomus Pojok, Kapanewon Minggir, dan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Rewulu. Sedangkan rombongan Wakil Bupati Sleman mengunjungi empat gereja, yaitu gereja Katolik Santo Yusup, Tambakrejo, Sariharjo, Ngaglik, gereja Katolik Maria Marganingsih, Tirtomartani, Kalasan, GKJ Maguwoharjo, Depok, dan gereja Katolik Santo Petrus dan Paulus, Babadan, Wedomartani, Ngemplak.

Dalam pidatonya, Bupati Sleman menyampaikan selamat kepada seluruh umat Kristen dan Katolik yang tengah merayakan Natal tahun 2022. Dikatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Sleman terus berupaya untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman bagi seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang apa pun. Hal ini menurutnya sesuai dengan visi misi Bupati dan Wakil Bupati Sleman untuk menjadikan Sleman sebagai rumah bersama tanpa membeda-bedakan suku, ras, agama dan kelompok.

“Sleman adalah Indonesia mini. Banyak orang berdatangan dengan latar belakang, suku, dan agama yang berbeda. Sleman menjadi rumah bersama bagi kita semua. Maka dari itu, mari kita bangun Sleman rumah kita secara bersama-sama. Mari, sesarengan mbangun Sleman,” ujar Kustini

Sementara itu, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, juga mengapresiasi seluruh elemen masyarakat yang telah bergotong royong menjaga keamanan dan ketertiban natal tahun ini. Menurutnya hal ini merupakan bentuk toleransi serta rasa saling menghargai antar umat beragama di tengah masyarakat.

Ini berarti menunjukkan adanya gotong royong dan keberaamaan dari semua umat beragama dan seluruh elemen untuk menghargai sesama pemeluk umat beragama dalam merayakn hari besar masing-masing.

“Disampaikan dari pengurus gereja tadi ada Karang Taruna yang ikut untuk bisa mendampingi membantu parkir. Kemudian dari Pemerindah Desa juga menjaga dengan para relawannya, dari Danramil, Kapolsek, dan dari dusun di sini terlibat dalam perayaan natal ini. Ini berarti menunjukkan adanya gotong royong dan keberaamaan dari semua umat beragama dan seluruh elemen,” ujarnya.

Ketua bidang litbang Gereja St. Yohanes Crystosomus Pojok, Heribertus Joko Warwanto, turut menyampaikan terima kasih atas perhatian Bupati beserta jajaran yang berkenan hadir memantau kegiatan misa natal pada tahun ini. Menurutnya ini adalah bentuk pemerintah hadir di setiap lini masyarakat yang ada di Kabupaten Sleman.

“Kami ucapkan terima kasih atas perhatian dan kasih yang diberikan ibu Bupati dan jajaran pada perayaan natal ini. Tentu menjadi kebanggaan dan rasa syukur bagi kami jemaat Gereja St. Yohanes Crystosomus Pojok,” ungkapnya. (Humas Sleman)




Lestarikan Seni Budaya, Pemkab Sleman Hibahkan Alat Musik Tradisional

Sleman – Sebagai upaya mendukung pelestarian seni dan budaya di Kabupaten Sleman, Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman hibahkan alat musik tradisional kepada Kelompok Seni dan Budaya yang berada di Kabupaten Sleman.

Hibah tersebut diserahkan secara langsung oleh Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo kepada 35 perwakilan kelompok seni budaya bertempat di Pendopo Kantor Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Sabtu (24/11/2022) malam.

Kepala Dinas Kebudayaan Sleman, Edy Winarya dalam laporannya menyampaikan hibah yang dberikan oleh Dinas Kebudayaan Sleman ini merupakan salah satu upaya Pemerintah dalam peningkatan ketahanan budaya melalui pemenuhan sarana prasarana kelompok seni budaya.

Edy menuturkan sementara ini terdapat 35 kelompok seni budaya yang memenuhi syarat untuk menerima hibah alat musik tradisional dari Dinas Kebudayaan Sleman melalui Dana Keistimewaan. Adapun alat musik tradisional yang dihibahkan diantaranya gamelan, alat musik jathilan, alat musik hadroh, alat musik baduy, dan lainnya.

Sementara itu, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa pemberian bantuan hibah gamelan dan alat kesenian ini merupakan wujud kepedulian sekaligus dukungan Pemkab Sleman kepada para komunitas atau kelompok budaya.

“Saya berhap hibah gamelan dan alat kesenian yang diberikan ini dapat menjadi motivasi untuk memajukan dan mengembangkan seni budaya di Sleman,” katanya.

Lebih lanjut, Kustini mengingatkan para penerima hibah tersebut memiliki tanggungjawab untuk melestarikan seni budaya tradisional yang ada di Sleman. Tidak hanya itu, Kustini juga mendorong para pelaku seni budaya ini juga terus berinovasi dalam memperkenalkan seni budaya di berbagai kesempatan. Ia mencontohkan seni budaya Sleman dapat dikenalkan di berbagai tempat wisata yang ada di Sleman. Wisata seni dan budaya ini bukan hal baru, namun dinilai perlu terus dikembangkan.

Selain itu, dalam kesempatan tersebut juga Kustini mengajak kepada masyarakat untuk terlibat dan berpartisipasi secara aktif dalam pelestarian seni budaya yang ada di Kabupaten Sleman. (Humas Sleman)