Tetap Bugar dan Produktif di Usia Senja dengan Senam Lansia

Sleman – Warga Lanjut Usia (Lansia) di Padukuhan Kendal, Kalurahan Bangunkertao, Kapanewon Turi memperingati Ulang Tahun Kegiatan Senam Lansia yang ke-4 pada Minggu (31/7/2022). Acara ditandai dengan pemotongan tumpeng yang dilakukan oleh Lurah Bangunkerto, Anas Makruf. Selain itu, pada acara tersebut juga disediakan pemeriksaan kesehatan untuk seluruh peserta yang berjumlah 125 orang.

Senam lansia sendiri adalah kegiatan dan aktivitas fisik bagi lanjut usia yang terbukti bisa meningkatkan kesehatannya secara fisik maupun mental. Sebegaimana dilansir dari , senam lansia terdiri dari serangkaian gerak atau latihan fisik yang dilakukan oleh orang lanjut usia untuk meningkatkan kemampuan fungsionalnya dengan memiliki gerakan yang teratur, terarah, dan terencana, yang disesuaikan dengan berbagai kondisi fisiknya.

“Kegiatan senam lansia sendiri sudah berlangsung sejak 2018,” kata Mei Lisayani, Koordinator Senam Lansia.

Kegiatan juga diisi dengan penyuluhan kesehatan, menghadirkan pembicara dr Evy Anastasia dari RSA UGM yang membahas dan menyampaikan bagaimana agar lansia di dusun Kendal tetap sehat dan dapat beraktivitas sesuai kemampuannya.

“Tidak bisa dipungkiri usia merupakan faktor risiko yang signifikan pada hadirnya sebuah penyakit khususnya penyakit dalam pada lansia. Ini yang harus dikenali dan diupayakan untuk menanggulangi atau meminimalisir dampak,” terangnya. (Arief Hartanto)




Pakembinangun Gandeng SIGAB Wujudkan Kalurahan Wisata Ramah Difabel

Sleman – Kebutuhan akan desa wisata inklusif yang ramah difabel, menjadi alasan Alexander Farrel, Mahasiswa UGM penyandang Difabel netra yang juga merupakan anggota Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) mengunjungi Lurah Pakembinangun, Suranto pada Sabtu (30/7/2022). Ia bersama bersama rekannya yaitu Kuni Fatonah, Asisten Program SIGAB, Muhammad Karim Amrullah, seorang Dosen UNY, Tio Tegar, Advokasi dan Penelitian Umum Sigab berkunjung ke Kalurahan Pakembinangun untuk bekerja sama menyosialisasikan tentang kebutuhan akan desa wisata yang ramah terhadap penyandang difabel.

“Karena biasanya kaum-kaum difabel jarang diperhatikan, karena tidak semua orang bisa menerimanya. Antara takut dan khawatir tidak bisa optimal menolong. Monggo nanti teman-teman (dari SIGAB) yang hadir di sini agar bisa mengungkapkan, apa yang harus kami perbuat dan apa yang harus kami kerjakan sebagai pemangku wilayah agar segala fasilitas di Pakembinangun mampu mendukung aksesibilitas para difabel,” papar Suranto mengenai rencana membuat Pakembinangun sebagai Healing Tourism yang akan dilakukan bekerja sama dengan KKN PPM UGM ini.

Kuni Fatonah, menuturkan bahwa SIGAB telah berupaya untuk memperhatikan dan mebeberikan advokasi untuk para difabel dalam ranah desa yang inklusif, agar tetap berdaya di tengah masyarakat, sehingga tercapai kesetaraan dengan orang non-difabel.

“Jika ada teman-teman difabel yang terkena kasus seperti bullying dan lain-lain, akan kami dampingi. Kita datangkan ahli-ahli di bidangnya seperti contohnya para ahli hukum yang hadir ini. Contohnya orang yang tuli dianggap tidak dapat menjadi saksi di depan hukum. Maka kami ciptakan trik dan cara untuk menggalang advokasi itu, yaitu penyetaraan dalam bidang hukum, advokasi difabel di ranah hukum, dan desa inklusi,” terangnya.

Ia berharap dengan apa yang dilakukannya ini, dapat lebih membuat masyarakat untuk melek terhadap difabel. “Karena difabel pun ada dan banyak yang berdaya yang menjadi dosen seperti Mas Karim ini. Jadi kami harap ada masyarakat yang inklusif agar para teman-teman difabel ini setara dengan masyarakat lain,” ungkap Kuni.

 Menanggapi rencana healing tourism, Alexander Farrel menuturkan bahwa langkah awal yang harus dilakukan adalah menyosialisasikan tentang seluk-beluk disabilitas, seperti maknanya, bagaimana penanganan dan interaksi kepada penyandang disabilitas, dan apa saja fasilitas yang diperlukan penyandang disabilitas untuk menggunakan fasilitas umum.

“Paradigma lama bahwa difabel itu harus dikasihani. Ini harus dirubah. Kita jadikan paradigma itu menjadi paradigma penyetaraan dan pemenuhan hak difabel karena mereka dan kita itu setara. Ketika disinggungkan dengan pariwisata, semua orang berhak berpariwisata, termasuk juga difabel. Maka dalam pariwisata tersebut harus disediakan fasilitas yang dapat menunjang penyandang disabilitas yang inklusif bagi para penyandang disabilitas itu,” ungkapnya.

Selain itu, Farrel juga menjabarkan tentang kebutuhan fasilitas untuk difabel, seperti tempat parker, toilet, akses mobilitas, serta kebutuhan interaksi dengan para petugas.

“Kami mengharap agar Bapak Suranto bersama jajarannya dapat membangun kebijakan untuk membuat desa pariwisata yang inklusif untuk penyandang difabel,” pungkasnya. (Asrori Wardan/KIM Pakembinangun)




211 Siswa MAN 1 Sleman Ikuti PPBN di Rindam IV Diponegoro.

Sleman – Dalam upaya pembinaan mental, penguatan karakter cinta tanah air, dan pendahuluan bela negara, MAN 1 Sleman bekerja sama dengan Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) IV/Diponegoro  menyelenggarakan Pendidikan Pendahuluan Bela Negera (PPBN). PPBN  diikuti 211 peserta didik kelas X dilaksanakan selama tiga hari, dari Rabu (27/7/2022) sampai Jumat (29/7/2022) di Rindam IV/Diponegoro Jalan Dr Koesen Hirohusodo Selatan No. 1 Magelang.

Komandan Depo Pendidikan dan Kejuruan (Dodikjur), Letnal Kolonel Inf. Asep Muhamad Nurjawali mengatakan Indonesia membutuhkan pemuda-pemudi unggul yang memiliki kualitas dan visi yang besar dalam menghadapi tantangan yang semakin berat. Komandan juga menyebutkan bahwa banyak tantangan yang harus dihadapi.

“Tantangan yang harus dihadapi seperti Fashion (mengumbar aurat), Food (melupakan makan lokal memilih makan tidak sehat, Fun (hiburan). Oleh karena itu, untuk menghadapi tantangan tersebut butuh pemuda, generasi penerus yang memiliki kedisiplinan yang tinggi,” kata Letkol Asep.

Sedangkan Kepala MAN 1 Sleman, H. Soir, mengatakan bela negara adalah cerminan dari sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya terhadap  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berlandaskan pancasila dan undang undang dasar 1945. 

“Kegiatan   ini bertujuan untuk membentuk karakter siswa agar memiliki sikap mental yang kuat, disiplin tinggi, cinta tanah air, peduli, rela berkorban, bertanggung jawab, dan bertakwa,” ungkapnya.(smn)




Condongcatur Gelar Musrenbangkal Penyusunan RKPKal Condongcatur Tahun Anggaran 2023

Sleman – Pemerintah Kalurahan Condongcatur melaksanakan Musrenbang Kalurahan Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Kalurahan (RKPKal) Condongcatur Tahun Anggaran 2023 bertempat di Ruang Wacana Loka Kantor Kalurahan Condongcatur, Jumat (29/7/2022).

Ketua penyelenggara Musrenbangkal, Rusmanto, menyampaikan Rencana Kerja Kalurahan Condongcatur meliputi 5 bidang yaitu bidang penyelenggaraan pemerintah kalurahan, bidang pelaksanaan pembangunan kalurahan, bidang pembinaan kemasyarakatan, bidang pemberdayaan masyarakat dan bidang penanggulangan bencana, darurat dan mendesak

“Bahwa kebijakan pemerintah kalurahan saat ini dengan pendekatan button up planning yaitu perencanaan yang disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat dan pemerintah hanya sebagai fasilitator, pendekatan ini merupakan upaya melibatkan semua pihak dari awal sehingga setiap keputusan yang diambil dalam perencanaan adalah keputusan bersama dan mendorong keterlibatan sepenuhnya untuk melaksanakanya,” terang Rusmanto.

Panewu Anom Kapanewon Depok, Djoko Muljanto yang berkesempatan hadir menyampaikan Musrenbangkal ini merupakan tindaklanjut dari pelaksanaan Musduk dan Muskal, untuk mempertimbangkan rencana program pembangunan telah diverifikasi oleh tim.

“Program kerja Pemerintah Kalurahan Condongcatur tahun 2023 ini merupakan hasil dari penyaringan keinginan dari padukuhan yang telah dianalisis oleh pamong kalurahan dan ditetapkan menjadi program kebutuhan masyarakat. Harapannya, program-program tersebut dapat menjawab permasalahan permasalahan yang ada,” ungkap Djoko.

Ia juga meminta BPKal Condongcatur untuk dapat mengawal dan mengarahkan Kalurahan Condongcatur menjadi Kalurahan yang Smart.

Sementara Plt. Lurah Condongcatur, Sugiyanto, menyampaikan sesuai Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Masyarakat diberikan kewenangan dan ikut berpartisipasi menyusun program-program pemerintah kalurahan selama 6 tahun ke depan, sesuai visi misi lurah terpilih yang dituangkan dalam RPJMKAL 2022 – 2027 yang pada setiap tahunya dijabarkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Kalurahan (RKPKal) tahun berjalan

“Program-program pemerintah kalurahan berupa fisik maupun non fisik. Selain lembaga kalurahan juga program untuk pemberdayaan masyarkat seperti KWT, Bank Sampah dan sebagainya. Mohon dukungan dari masyarakat akan program-program yang telah direncanakan dapat berjalan sesuai dengan rencana, maksimal dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Sugiyanto. (Wasana/KIM Depok)




Pemprov DKI Jakarta Kunjungi Kalurahan Budaya Wedomartani

Sleman – Dinas Kebudayaan dan Bappeda Provinsi DKI Jakarta berkunjung ke Desa/Kalurahan Budaya Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kamis (28/7/2022). Kunjungan tersebut didampingi langsung oleh Kasi Atlas Kundha Kabudayan Provinsi DIY Endang Widuri, dan diterima oleh Lurah Wedomartani Teguh Budiyanto beserta Ketua Kalurahan Budaya Munjid Nur Alamsyah serta Pangripta dan Pendamping Budaya.

Menurut Diyya dari Dinas Kebudayaan DKI, kunjungannya ke Wedomartani bertujuan ingin mengetahui dari dekat tentang pengelolaan aktivitas kebudayaan yang ada di masyarakat. Baik dari sisi perencanaan, implementasi, pengganggaran, penganggaran, maupun upaya pelestarian kebudayaan. “Selain itu juga ingin mengetahui ragam budaya yang masih ada baik dari sisi jumlah maupun sebarannya,” katanya.

Sementara itu Lurah Wedomartani Teguh Budiyanto dalam penjelasan awal sebelum paparan global menuturkan, pemerintah Kalurahan Wedomartani berkomitmen terhadap pelestarian kebudayaan yang telah ada, untuk itu memerlukan perjuangan yang tidak ringan. Sebab wilayah Wedomartani berdampingan dengan wilayah Kapanewon Depok yang heterogen, dan itu berpotensi terhadap kelestarian kebudayaan yang telah ada, termasuk terkait dengan upacara adat dan tradisi.

“Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah Kalurahan mengoptimalkan peran masyarakat dan lembaga untuk mencegah tergerusnya tata nilai dan budaya Jogja dari pengaruh kebudayaan asing yang belum tentu cocok dengan masyarakat,” jelas Teguh.

Dibagian lain Ketua Desa/Kalurahan Budaya Munjid Nur Alamsya menjelaskan, di Wedomartani terdapat ragam kebudayaan yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat, termasuk seni.

”Wedomartani memiliki potensi seni dimasing-masing Padukuhan. Ada Hadroh, Sholawat, Rodad, Berjanjen, maupun Kubro Siswa dan Badui sebagai kesenian religius. Sementara itu juga hampir dimasing-masing padukuhan terdapat kelompok karawitan. Kethoprak, Wayang Orang, Dhalang Wayang Kulit pun masih ada dan mendapatkan apresiasi,” jelas Munjid.

Selain itu, lanjut Munjid, upacara adat dan tradisi yang bersifat perorangan masih ada, yang menyangkut daur hidup seperti peringatan kematian, kelahiran Bayi, pernikahan dan sebagainya. “Termasuk Merti Desa, Merti Kali, Ngruwat Umbul pun masih ada,” imbuhnya

Munjid menambahkan, dalam upaya pelestarian dan konservasi itu, Desa/Kalurahan Budaya melibatkan banyak fihak, termasuk Generasi Muda Karang Taruna. Mereka mendirikan sanggar seni, sanggar kebudayaan. “Itu semua sebagai benteng agar budaya lokal, tradisi maupun kearifan lokal tidak tergerus,” tegas Munjid Nur Alamsyah. (Tri Joko S/KIM Kalasan)