Pentingnya Memperhatikan Etika Bermedia Sosial

Sleman – Pemerintah Kapanewon Seyegan menggelar Rapat Koordinasi Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kapanewon Seyegan di Aula Lantai II Kantor Kapanewon Seyegan, Sleman, Rabu (22/2/2023). Rakor yang dihadiri langsung oleh Pembina KIM Seyegan sekaligus Plt. Panewu Seyegan, Siti Baroroh tersebut mendatangkan Pranata Hubungan Masyarakat Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman, Agastya Dedy Kusuma sebagai narasumber dengan tema Etika Bermedia Sosial,

Siti Baroroh, dalam sambutan dan pengarahannya menyampaikan bahwa setelah vakum kegiatan karena pandemi COVID-19, KIM Seyegan diharapkan untuk dapat berkiprah kembali dalam menjembatani penyebaran informasi dari pemerintah ke masyarakat dan sebaliknya.

“Kapanewon sendiri masih mempunyai keterbatasan dalam memfasilitasi pertemuan KIM, sehingga diharapkan ada pertemuan KIM yang dilaksanakan secara mandiri,” ujar Siti.

“Peran KIM yang sangat strategis dalam berkontribusi dalam tata kelola kemasyarakatan sangat diharapkan baik dalam tata kelola lingkungan, pembangunan dan kegiatan sosial,” imbuhnya.

Sementara itu, Agastya mengawali materinya dengan terlebih dahulu menyampaikan Peran KIM sebagai Kader Informasi yang memberi manfaat. Sebagai relawan informasi diharapkan KIM dapat me-supply berita kepada pemerintah atau sebagai kontributor berita. “Konsep ini diharapkan diduplikasi di tingkat kalurahan,” ujar Agastya.

Agas menekankan bahwa KIM juga dapat berperan sebagai sumber rujukan berita yang terpercaya yang akan meluruskan segala macam informasi yang rancu di masyarakat.

Dalam materi Etika bermedia sosial, Agas menerangkan berbagai perbuatan yang dilarang dalam UU payung hukum dalam bermedia sosial terdapat dalam UU no 11 tahun 2008 tentang ITE dan UU no. 19 tahun 2016 tetang ITE.

Adapun dalam etika bermedia sosial, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pergunakan bahasa yang baik yaitu Bahasa yang sopan dan menghindari penggunaan kata atau frasa multitafsir. Selain itu, dalam bermedia sosial juga harus menghindari penyebaran SARA, pornografi dan aksi kekerasan.

“Termasuk informasi yang menimbulkan konflik antar sesama, foto korban kekerasan dan foto korban kecelakaan lalu lintas,” tegas Agas.

Selain itu, sebelum menyebarkan informasi di media sosial, harus dipastikan bahwa berita tersebut benar, untuk meminimalisir terjadinya hoaks. Dalam bermedia sosial juga harus menghargai karya orang lain. “Berita yang disampaikan tidak sekedar di-copy paste tapi  mencantumkan sumber informasinya,” tukas Agas.

Terakhir adalah jangan salah mengumbar informasi pribadi seperti lokasi terkini, alamat rumah, nomor telepon, tanggal lahir, nama orang terdekat, tiket transportasi dokumen identitas, barang berharga, foto anak dan foto saat liburan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab dengan peserta. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Perkuat Karakter Siswa Lewat Berkemah

Sleman – Sebanyak 198 anak kelas X MAN 4 Sleman mengikuti perkemahan bertajuk Sardha Satya Scout Camp selama 3 hari yaitu Senin (20/2/2023) sampai Rabu (22/2/2023) di Bumi Perkemahan Jaka Garong Garongan, Wonokerto, Turi, Sleman, DIY. Kegiatan diisi dengan pemberian materi berupa pioneering, survival, kesehatan mental, outbound, character development, lomba, serta keagamaan.

Satria Perdana, Pembina perkemahan tersebut menuturkan kegiatan ini sangat bermanfaat bagi siswa, karena dengan mengikuti perkemahan, siswa bisa belajar banyak seperti bekerja sama dalam kelompok, problem solving, hingga unjuk kepercayaan diri dalam berbagai lomba. .  “Selama tiga hari dalam perkemahan ini kalian bisa mengenal watak asli dari teman di satu sangga.  Dibutuhkan pengertian, saling memahami untuk bisa bekerja sama,” ujarnya.

“Semua itu membutuhkan kesungguhan, kedisiplinan dan sikap survive, belajar bertahan hidup,” imbuhnya.

Menurutnya, melalui kegiatan perkemahan ini dapat dijadikan wahana penguatan pendidikan karakter disiplin, kerja sama, kreatif, semangat juara, toleran hingga empati. 

“Kagiatan memberikan banyak pelajaran kepada kalian, utamanya kedisiplinan dan kerja keras. Kemah mengajarkan kepada kita untuk tidak bermalas-malasan, karena kemalasan akan menghasilkan kesia-siaan belaka,” ujarnya.

Sementara Kepala MAN 4 Sleman, Mohamad Yusuf berharap para peserta dapat menerapkan apa yang dipelajari dari kegiatan perkemahan ini di kehidupan sehari-hari, terutama kedisiplinan dan kerja sama.

“Dengan kegiatan ini diharapkan kedisiplinan dan kerja sama yang telah ditanamkan selama kemah dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar menjadi pribadi unggul, pantang menyerah,” kata Mohamad Yusuf. (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Peringati HPN, Bupati Sleman Apresiasi Peran Media Dalam Pembangunan

Sleman – Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2023, Pemerintah Kabupaten Sleman selenggarakan bakti sosial di pendopo Parasamya Kabupaten Sleman, Rabu (22/2).

Bekerjasama dengan Paguyuban Wartawan Pemkab Sleman (PWPS), peringatan HPN 2023 Kabupaten Sleman kali ini diisi dengan bakti sosial terdiri dari donor darah bagi masyarakat umum dan pembagian sembako kepada 100 warga prasejahtera di wilayah Tridadi, Sleman. Selain itu, dalam kegiatan tersebut juga diserahkan tali asih kepada dua keluarga wartawan Sleman yang meninggal.

Bakti sosial ini digelar dengan maksud untuk memberikan kontribusi positif dan manfaat nyata  bagi masyarakat. Donor darah juga secara khusus ditujukan untuk membantu mencukupi kebutuhan darah PMI Sleman.

Hadir dalam kesempatan tersebut Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo bersama Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa dan sejumlah Pejabat OPD di lingkungan Pemkab Sleman. Di samping itu turut hadir sejumlah wartawan Sleman dari berbagai media.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo dalam kesempatan tersebut menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada seluruh jajaran pers atas kerjasamanya selama ini dengan Pemerintah Kabupaten Sleman.

Menurut Kustini, pers memiliki peran penting baik bagi masyarakat maupun bagi pemerintah. Ia menilai kedudukan pers sebagai jembatan yang menghubungkan informasi dari Pemerintah ke masyarakat maupun sebaliknya.

“Pers menjadi mitra pemerintah untuk menginformasikan berbagai kebijakan dan langkah strategis yang ditetapkan pemerintah,” jelas Kustini.

Selain itu, pada kesempatan tersebut Kustini juga mendorong profesionalitas insan pers dalam menjalankan tugas yang sesuai dengan tema besar HPN 2023 yaitu ‘Pers Merdeka, Demokrasi Bermartabat’.

“Jurnalis harus profesional, memenuhi kode etik jurnalistik dan memiliki independensi yang kuat dalam menjalankan profesinya. Terlebih tahun ini merupakan tahun politik. Jurnalis diuntut untuk netral.” Ujar Kustini.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Panitia HPN 2023 Kabupaten Sleman, Subardi mengatakan bahwa dalam peringatan HPN 2023 ini, PWPS berkomitmen untuk memerangi hoax sebagai bentuk profesionalisme jurnalis. Menurutnya, selain merugikan masyarakat, berita hoax juga merugikan media massa.

“Wartawan Sleman siap berkarya yang bermanfaat bagi masyarakat dengan merdeka menyajikan berbagai berita yang bersifat informatif, promotif dan edukatif, sehingga berita yang ditulis wartawan sleman bisa memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Di samping itu, dalam penyelenggaraan kegiatan peringatan HPN 2023 ini, diserahkan juga berbagai doorprize bagi peserta donor darah. Adapun doorprize yang disediakan yaitu sepeda, dispenser, ricecooker dan kipas angin serta disediakan sejumlah voucher menginap di hotel. Seluruh hadiah diberika melalui pengundian yang dilakukan oleh Bupati Sleman, Wakil Bupati Sleman, Sekretaris Daerah Sleman dan sejumlah perwakilan BUMD Sleman.




Dukung Partisipasi Perempuan dalam Pembangunan, Dinas P3AP2KB Sleman Gelar Musrenbang Perempuan

Sleman – Sebagai upaya untuk memberikan ruang dan waktu khusus pada perempuan untuk berpartisipasi dalam perencanaan pembangunan, Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) menggelar Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Bagi Perempuan Tingkat Kabupaten, bertempat di Hall Rumah Makan Pringsewu, Sleman, DIY, Kamis (23/2/2023).

Kegiatan ini diikuti oleh 122 peserta perempuan terdiri dari 105 orang perwakilan berbagai organisasi seperti perangkat kalurahan, BPKal, karang taruna, HWDI, forum PUG bidang agama, dan mitra binaan perangkat daerah Sleman, serta 17 perwakilan Perangkat Daerah Sleman.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Dinas P3AP2KB Sleman, Mahmudah Arfiyati menuturkan, musrenbang ini diadakan sebagai upaya Pemkab Sleman untuk mengupayakan melaksanakan pengarusutamaan gender dalam setiap rencana pembangunan yang akan dilakukan di Kabupaten Sleman.

Menurut wanita yang biasai disapa Arfi ini, keberhasilan pembangunan ditentukan oleh kemampuan dalam mengoptimalkan sumberdaya manusia yang dimiliki, termasuk perempuan untuk memajukan wilayah Kabupaten Sleman. Hal tersebut sesuai dengan visi Bupati Sleman tahun 2021-2026 Terwujudnya Sleman sebagai rumah Bersama yang cerdas, sejahtera, berdaya saing, menghargai perbedaan dan memiliki jiwa gotong-royong.

“Partisipasi perempuan harusnya dapat mewarnai  berbagai bidang pembangunan antara lain Bidang Politik, Hukum, Sosial dan Ekonomi, sehingga diharapkan tidak ada lagi kesenjangan  gender,” ujar Arfi.

Untuk itu, dengan adanya musrenmbang ini, Arfi berharap nantinya para perempuan di Sleman dapat membaca isu gender di wilayah mereka yang kemudian dikemas dalam usulan perencanaan anggaran tahun 2024. Nantinya usulan tersebut akan dituangkan dalam berita acara yang akan menjadi bahan usulan rencana kerja perangkat daerah di Kabupaten Sleman.

“Dengan begitu, diharapkan nantinya dapat terwujud akses, partisipasi, kontrol dan manfa’at (APKM) masyarakat laki-laki dan perempuan secara adil dalam pembangunan,” tambah Arfi.

Pelaksanaan musrenbang ini mendapatkan dukungan penuh dari Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo. Dalam sambutannya yang disampaikan oleh Staf Ahli Bupati Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Mafilindati Nuraini, Kustini berharap musrenbang ini dapat mengawal program pembangunan di Sleman yang responsif bagi perempuan, sehingga dapat mengurangi kesenjangan dalam berbagai dimensi pembangunan.

“Saya berharap melalui forum musrenbang bagi perempuan  ini partisipasi aktif semua pemangku kepentingan di lingkungan Kabupaten Sleman dapat berembug bersama dalam memformulasikan rencana pembangunan bagi perempuan, sehingga kegiatan pembangunan bagi perempuan benar-benar sesuai kebutuhan, permasalahan, potensi  dan aspirasi masyarakat,” ujar Kustini.

Kustini mengajak agar semua pemangku kepentingan untuk turut serta berpartisipasi dan mendukung upaya Pemkab Sleman dalam mewujudkan pembangunan bagi perempuan.

“Saya berharap partisipasi  nyata dari pemangku kepentingan, bukan partisipasi yang sekadar simbolis, tetapi dapat memberikan kepastian bahwa program yang diusulkan dapat terakomodasi,” tutup Kustini.

Musrenbang ini sendiri menghadirkan 2 narasumber yaitu Yuni Hastuti, Perencana Ahli Muda pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sleman, dan Wasingatu Zakiyah dari Caksana Institut.

Dalam kesempatan tersebut, Yuni menjabarkan beberapa kebijakan Pemkab Sleman, baik yang telah maupun yang akan dilakukan untuk mengakomodir kepentingan dan partisipasi perempuan. Sedangkan Wasingatu Zakiyah memaparkan mengenai tentang urgensi musrenbang ini untuk menyuarakan hak perempuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan.   




Hadiri Peresmian Gedung Trauma Healing, Bupati Sleman Dukung Peningkatan Kesehatan Jiwa dan Psikis

Sleman – Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kesehatan jiwa dan psikis, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menyatakan bahwa di Kabupaten Sleman telah menyiapkan kader hingga di tingkat kapanewon. Hal ini disampaikan bupati saat hadir mendampingi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, saat meresmikan Unit Pelayanan Trauma Healing dan Visum Et Repertum. Gedung yang diberi nama Pringgodani itu bertempat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grhasia dan diresmikan Gubernur secara simbolis dengan pemotongan buntal pada Rabu (22/2/2023) pagi.

Bupati Kustini menyampaikan ucapan selamat kepada Rumah Sakit Jiwa Grhasia atas diresmikannya Unit Pelayanan Trauma Healing dan Visum Et Repertum. Bupati menyampaikan harapan, dengan  bertambahnya fasilitas layanan kesehatan di RSJ Grhasia dapat menambah daya dukung layanan kepada masyarakat di sekitar Kabupaten Sleman.

“Unit Pelayanan Trauma Healing dan Visum Et Repertum ini diharapkan dapat menjadi unit yang terbaik dan bisa menjadi rujukan kerjasama Pemerintah Kabupaten Sleman. Sehingga dalam menyelesaikan masalah psikis yang berdampak khususnya pada kekerasan perempuan dan anak, dapat segera diselesaikan bersama-sama,” kata Bupati.

Bupati menambahkan, hingga saat ini Pemerintah Kabupaten Sleman terus melaksanakan pelatihan mediasi bagi para kader dan jejaring yang ada di Kabupaten Sleman. Pelatihan tersebut dimaksudkan agar kader  dapat melakukan tindakan mediasi pada kasus yang terjadi sampai di tingkat Kapanewon.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X juga memberikan respons positif terhadap peresmian Unit Pelayanan Trauma Healing dan Visum Et Repertum. Menurut Gubernur, pelayanan trauma healing menjadi sebuah urgensi, seiring dengan terjadinya kecelakaan, bencana alam,  kekerasan seks dan kekerasan dalam rumah tangga.

Begitu juga dengan layanan Visum Et Repertum yang berperan strategis dalam mendukung implementasi regulasi seperti pemerikasaan kerjadian tindak kekerasan. Terkait dengan hal itu, Gubernur mengimbau agar fasilitas tersebut dapat didukung dengan pelayanan ramah tanpa membedakan status sosial pasien.

“Harus mengadaptasi sistim menajemen dengan standar pelayanan yang sama bagi setiap pasien di berbagai kelas. Untuk itu layanan baru di Gedung Pringgodani harus dijiwai dengan moto Rumah Sakit Grhasia yaitu melayani dengan senyum,” jelas Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Kepala Dinas Kesehatan DIY, drg. Pembajun Setyaningastutie melaporkan, pada semester pertama tahun 2022, tercatat sebanyak 654 kasus keskerasan yang terjadi pada perempuan dan anak. Hal itulah yang menjadi salah satu latar belakang lahirnya Unit Pelayanan Trauma Healing dan Visum Et Repertum RSJ Grhasia. Sehingga dengan adanya fasilitas tersebut dapat menjadi penanganan yang tepat bagi para korban.

“Unit Pelayanan Trauma Healing dan Visum Et Repertum dibangun agar Rumah Sakit Jiwa Grhasia memberikan pelayanan trauma healing bagi korban kekerasan khususnya perempuan dan anak dengan memenuhi standar profesi dan standar prosedur operasional. Dengan gedung baru ini, diharapkan dapat diberikan oleh Rumah Sakit Jiwa Grhasia dengan pelayanan yang berkualitas bermutu dan memperhatikan aspek keselamatan pasien,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur RSJ Grhasia, Akhmad Akhadi, menjelaskan, gedung baru itu telah di lengkapi dengan beberapa fasilitas lengkap, seperti ruang perawatan masa krisis, ruang observasi anak, ruang terapi keluarga, ruang dokter, ruang psikolog, hingga ruang observasi visum et repertum.

“Harapannya Rumah Sakit Jiwa Grhasia ini dapat berperan lebih besar pada penanggulangan korban kekerasan, sehingga korban hanya berhenti pada peristiwa kekerasan saja, tidak sampai menimbulkan post trauma stress disorder dan tidak mengakibatkan gangguan jiwa yang lebih berat,” tambahnya.