Sleman – Tradisi Nyadran adalah suatu kegiatan budaya yang masih lestari dilaksanakan masyarakat Jawa khususnya Jogja dan Jawa Tengah. Tujuan dilaksanakannya tradisi ini adalah untuk mendoakan arwah para leluhur yang sudah meninggal. Dalam perkembangannya tradisi Nyadran memuat berbagai kesenian dan budaya lain yang dikemas sesuai dengan kondisi yang ada.
Sedangkan tradisi Nyadran Agung Wot Galeh merupakan tradisi yang setiap tahunan dilaksanakan pada bulan Ruwah menjelang pelaksanaan bulan Suci Ramadan. Tradisi ini digelar di Wot Galeh, tepatnya di Masjid Sulthoni yang merupakan bangunan Cagar Budaya Kabupaten Sleman. Selain itu, Wot Galeh juga tempat makam Pangeran Purbaya, Putra Panembahan Senopati Raja Mataram Islam pertama.
Untuk itulah, Tradisi Nyadran Agung Wot Galeh termasuk salah satu Calender of Event Upacara Adat Kabupaten Sleman tahun 2023, dan diselenggarakan pada hari Minggu (12/3/2023 bertempat di komplek Masjid Sulthoni Wot Galeh, Sendangtirto, Berbah, Sleman, DIY.
Kegiatan ini dihadiri Bupati Sleman, Utusan Kraton Ngayogyakarta, Dinas Pariwisata DIY, Dinas Kebudayaan DIY, anggota DPR DIY, Danlanud Adisucipto, Gubernur AAU Adisucipto, Dinas Pariwisata Sleman, Dinas Kebudayaan Sleman, Panewu Berbah, kapolsek danramil Berbah, Takmir Masjid Wot Galeh, pengageng pasarean Wot Galeh, Lurah Empat kelurahan beserta pamong, dukuh se kapanewon Berbah, pelaku budaya dan warga masyarakat kapanewon Berbah.
Kegiatan Nyadran Agung dimulai dengan kirab budaya dari kantor Kapenewon Berbah menuju Komplek Masjid Sulthoni Wot Galeh. Kirab budaya diiringi oleh bregodo Purboyo, disusul empat Lurah Berbah (Sendang tirto, Kalitirto, Tegal tirto, Jogotirto) di mana masing-masing mengendarai kuda mengenakan pakaian keprajuritan.
Berikutnya adalah panewu berbah beserta staf kapanewon dan pamong dari empat kalurahan mengenakan pakaian adat Jawa jangkep mengendarai 11 kereta kuda yang disusul bregodo dari padukuhan yang ada di kalurahan Sendangtirto. Setiap bregodo membawa gunungan berupa hasil bumi yang nantinya akan dibawa ke komplek Masjid Sulthoni Wot Galeh untuk dibagikan sebagai sedekah untuk warga masyarakat.
Sebelum memasuki komplek Masjid Sulthoni Wot Galeh dilakukan upacara UJUB menyerahkan uborampe sarapan berupa gunungan hasil pertanian, jajanan pasar dan lainnya dari pejabat kabupaten Sleman, kapanewon Berbah, kalurahan Sendangtirto dan kalurahan lain untuk di serahkan kepada pengageng upacara nyadran untuk didoakan dan dibagikan kepada warga masyarakat.
Lurah Sendangtirto, Amir Junawan menuturkan, tradisi Nyadran Agung Wot Galeh adalah event tradisi kabupaten Sleman yang bertempat di Sendangtirto.
“Penyelenggaraannya dilakukan bersama-sama dari pemerintah kabupaten Sleman, kapanewon Berbah, semu kalurahan di kapanewon Berbah kedepan semoga lebih baik lagi,” ujar Amir.
Dirinya juga berharap agar ke depannya, Masjid Wot Galeh dapat menggelar tradisi ini sesuai dengan kapasitasnya.
Sementara itu, Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo memberikan apresiasi yang tinggi kepada masyarakat Berbah yang masih menjaga tradisi Nyadran yang diakui merupakan warisan budaya tak benda milik masyarakat.
“Adapun upacara tradisi Nyadran merupakan bentuk rasa syukur kepada Pencipta atas semua karunia yang diberikan serta sebagai sarana mendoakan arwah leluhur pepunden yang telah mendahului, terutama doa dikhususkan kepada arwah Pangeran Purbaya dan keluarganya yang di makamkan di pemakaman Wot Galeh, semoga diberi ampunan mendapatkan surga yang abadi,” ungkap Kustini.
Menurut Kustini, selain mendoakan leluhur, Nyadran juga sebagai permohonan doa kepada Pencipta untuk senantiasa diberi kesehatan keberkahan dalam menjalankan roda kehidupan.
“Tidak lupa mohon ketika dalam berdoa salah satunya permohonan agar erupsi merapi yang baru kemaren sampe hari ini tidak menimbulkan banyak bencana, harapanya malah sebalik erupsi merapi memberi keberkahan buat masyarakat sekitar merapi umumnya buat warga Sleman, Jogjakarta,” pungkas Kustini. (Kusnadi/KIM Berbah)